Cari Kategori

UPAYA MENINGKATKAN KEMAMPUAN BELAJAR ANAK DISLEKSIA DENGAN PENDEKATAN SAVI PADA BIDANG STUDI PAI

SKRIPSI UPAYA MENINGKATKAN KEMAMPUAN BELAJAR ANAK DISLEKSIA DENGAN PENDEKATAN SAVI PADA BIDANG STUDI PAI

A. Latar Belakang
Perkembangan ilmu pengetahuan teknologi menuntut terciptanya masyarakat yang gemar belajar. Proses belajar yang efektif antara lain dilakukan melalui membaca. Membaca merupakan proses yang kompleks, proses ini melibatkan sejumlah kegiatan fisik dan mental. Masyarakat yang gemar membaca memperoleh pengetahuan dan wawasan baru yang akan semakin meningkat kecerdasannya sehingga mereka lebih mampu menjawab tantangan hidup pada masa-masa mendatang.

Belajar membaca bukanlah hal yang mudah. Bagi sebagian anak yang mempunyai kecerdasan (IQ) diatas rata-rata itu adalah mudah, akan tetapi bagi anak yang mempunyai IQ di bawah rata-rata semua itu merupakan hambatan dalam belajar, terutama dalam hal gangguan belajar membaca (Disleksia).

Mengenali dan menangani ganguan membaca pada anak-anak sebenarnya bukanlah persoalan yang tidak bisa dipecahkan, akan tetapi untuk melakukan membutuhkan kesabaran. Para orang tua seharusnya memperhatikan dan mengamati secara cermat untuk bisa memahami kesulitan-kesulitan yang dihadapi oleh anak-anak yang memiliki gangguan belajar.

Dalam kehidupan kita di era serba sibuk seperti sekarang ini, waktu barang kali sudah menjadi sebuah komoditas langka yang sulit kita dapatkan. Dampaknya adalah masalah yang sedang dialami oleh anak penderita disklesia akan semakin bertambah buruk. Hal ini dikarenakan tidak ada seorangpun yang memiliki waktu untuk memberikan perhatian khusus pada sang anak, maupun dikarenakan orang tua tersebut lebih percaya pada terapi-terapi alternatif tertentu yang menjanjikan hasil-hasil instant tanpa memakan waktu yang lama.

Kebanyakan orang tua menuntut anak agar gemar membaca, tetapi mereka seakan-akan tidak tahu bahwa minat membaca itu tidaklah tumbuh dengan sendirinya. Lingkungan amat berpengaruh dalam memunculkan minat membaca pada anak. Untuk itulah, peran orang tua sejak sedini mungkin amat penting dalam membentuk lingkungan yang mengundang minta membaca pada anak.

Kesulitan dalam hal belajar membaca (disleksia) terjadi pada 5-10% dari seluruh anak di dunia. Gangguan belajar jenis ini pertama kali ditemukan pada akhir abad sembilan belas, ketika itu ia disebut dengan istilah "word blindness" buta huruf. Penyebab disleksia adalah faktor genetik yaitu diturunkan oleh salah satu atau kedua orang tua nak yang menderita.

Beberapa peneliti berhasil menemukan disleksia cenderung dialami oleh anak laki-laki dibandingkan anak perempuan, penderita disleksia mengalami kesulitan menulis apa yang ia inginkan ke dalam kalimat-kalimat panjang secara akurat.

Demikian pula ketika belajar membaca, pertama kali mereka akan belajar untuk mencoba memahami kosakata dari kalimat-kalimat yang pernah ia dengarkan, kata-kata yang sudah mulai terdengar akrab di telinga inilah yang kemudian akan selalu mereka cocokkan setiap kali mendengar atau menyimak kalimat yang diucapkan oleh seseorang.

Kebanyakan anak mulai belajar membaca ketika berumur lima atau enam tahun. Memang beberapa anak belajar lebih cepat dibandingkan dengan dengan anak-anak lainnya, anak baru bisa dikatakan mengalami kesulitan membaca ketika mereka berusia tujuh atau delapan tahun, karena biasanya pada umur-umur tersebut anak sudah bisa membaca secara mandiri, tanpa bantuan orang lain. Tanda-tanda disleksia tidaklah terlalu sulit apabila pada orang tua dan guru memperhatikan mereka secara cermat. Misalnya, apabila anda memberikan sebuah buku yang tidak mungkin akan membuat cerita berdasarkan gambar-gambar yang ada di buku tersebut yang mana antara gambar dan ceritanya tidak ada memiliki kaitan.

Dari penjelasan tentang anak yang mengalami gangguan belajar membaca di atas maka di bawah ini akan dijelaskan tentang suatu pendekatan yang digunakan oleh seorang guru agar dapat meningkatkan kemampuan belajar anak disleksia.

Pembelajaran tidak otomatis meningkat dengan menyuruh orang berdiri dan bergerak kesana kemari. Akan tetapi menggabungkan gerakan fisik dengan gerakan aktivitas intelektual dan penggunaan panca indera yang berpengaruh besar pada pembelajaran, pendekatan yang digunakan ini dinamakan pendekatan SAVI. Unsur-unsur dari SAVI, yaitu :
1. Somatic (belajar dengan bergerak dan berbuat)
Belajar somatic berarti belajar dengan indera peraba, kinestis, praktis, melibatkan fisik dan menggunakan serta menggerakkan tubuh sewaktu belajar.
2. Auditori (belajar dengan berbicara dan mendengar)
Pikiran auditori kita lebih kuat daripada yang kita sadari tetapi telinga kita terus menerus menangkap dan menyimpan informasi auditori, bahkan tanpa kita sadari, ketika kita membuat suara sendiri dengan berbicara, beberapa area penting di otak kita menjadi aktif.
3. Visual (belajar mengamati dan menggambarkan)
Pembelajaran visual belajar paling baik jika mereka dapat melihat contoh dari dunia nyata, diagram, peta gagasan, ikon, gambar dan gambaran dari segala macam hal ketika mereka sedang belajar.
4. Intelektual (belajar dengan memecahkan masalah dan merenung)
Meier mengatakan intelektual menunjukkan apa yang dilakukan pembelajaran dalam pikiran mereka secara internal ketika mereka menggunakan kecerdasan untuk merenungkan suatu pengalaman dan menciptakan hubungan, makna, dan nilai dari pengalaman tersebut.
Keempat cara belajar ini harus ada agar belajar berlangsung optimal, karena unsur-unsurnya terpadu, belajar yang paling baik bisa berlangsung jika semuanya itu digunakan secara simultan.
Untuk mengetahui lebih jauh bagaimana upaya meningkatkan kemampuan belajar pada anak disleksia. Maka dari itu, penulis mengadakan penelitian di salah satu sekolah dasar negeri yang sudah menggunakan pendekatan SAVI dalam pembelajarannya. Oleh karena itu, sesuai dengan latar belakang tersebut penulis mengangkat judul :
"UPAYA MENINGKATKAN KEMAMPUAN BELAJAR ANAK DISLEKSIA DENGAN PENDEKATAN SAVI PADA BIDANG STUDI PAI DI SDN X".

B. Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah pada penelitian ini adalah :
1. Bagaimana kemampuan anak disleksia di SDN X?
2. Bagaimana pendekatan SAVI dalam proses pembelajaran PAI?
3. Bagaimana upaya meningkatkan kemampuan belajar anak disleksia dengan pendekatan SAVI di SDN X?

C. Tujuan dan Manfaat Penelitian
1. Tujuan penelitian
Adapun tujuan dari penelitian yang ditulis dalam skripsi ini adalah :
1) Untuk mengetahui dan mendeskripsikan kemampuan anak disleksia di SDN X
2) Untuk mengetahui dan mendeskripsikan pendekatan SAVI dalam proses pembelajaran PAI di SDN X
3) Untuk mengetahui dan mendeskripsikan upaya meningkatkan kemampuan belajar anak disleksia dengan pendekatan SAVI di SDN X.
2. Manfaat penelitian
Adapun manfaat yang diharapkan dari hasil penelitian in adalah :
1) Manfaat teoritis bahwa hasil penelitian ini diharapkan dapat menambah wawasan dalam bidang pendidikan dan dapat menyumbang bangunan khazanah perkembangan ilmu pengetahuan.
2) Manfaat sosial praktis, maksudnya hasil penelitian ini dapat dipakai sebagai bahan pertimbangan atau masukan bagi semua pihak yang
berkepentingan terutama bagi institusi pendidikan Islam.

D. Definisi Operasional
1. Upaya meningkatkan
Akal, ikhtiyar, daya upaya menaikkan (derajat, taraf, dan sebagainya). Maksudnya adalah usaha meningkatkan kemampuan belajar Pendidikan Agama Islam (PAI) anak disleksia.
2. Kemampuan belajar
Kesanggupan pada suatu proses aktivitas yang dapat menghasilkan perubahan tingkah laku, baik berupa pengetahuan, keterampilan kemampuan, maupun sikap pada diri siswa.
3. Anak disleksia
Seorang anak yang menderita gangguan pada penglihatan dan pendengaran yang disebabkan oleh kelainan saraf pada otak sehingga anak mengalami kesulitan membaca.
4. Pendekatan SAVI
Suatu pendekatan yang menggabungkan gerakan fisik dengan aktivitas intelektual serta penggunaan semua indera yang berpengaruh besar pada proses pembelajaran.
5. Bidang Studi PAI
Suatu bidang studi sebagai usaha sadar untuk menyiapkan peserta didik dalam meyakini, memahami, menghayati dan mengamalkan agama Islam melalui kegiatan bimbingan pengajaran atau latihan dengan memperhatikan tuntutan untuk menghormati agama lain dalam hubungan kerukunan antara umat beragama dalam masyarakat untuk mewujudkan persatuan nasional.
Berdasarkan definisi istilah-istilah di atas, maka yang dimaksud dengan "UPAYA MENINGKATKAN KEMAMPUAN BELAJAR ANAK DISLEKSIA DENGAN PENDEKATAN SAVI PADA BIDANG STUDI PAI DI SDN X" adalah suatu usaha guru PAI dalam meningkatkan kemampuan belajar pada anak yang mengalami kesulitan membaca (disleksia) dengan pendekatan SAVI untuk mencapai hasil yang optimal di SDN X.

E. Metode Penelitian
Metode penelitian adalah suatu pengkajian dalam mempelajari peraturan-peraturan yang terhadap penelitian.
1. Jenis data
Jenis data dalam penelitian ini adalah kualitatif deskriptif. Deskriptif adalah catatan yang menyajikan rincian kajian daripada ringkasan dan bukan evaluasi. Sedangkan metode kualitatif adalah kata-kata dan tindakan selebihnya adalah data tambahan seperti dokumen.
Metode kualitatif lebih berdasarkan pada filsafat fenomenologi yang mengutamakan penghayatan. Metode kualitatif berusaha memahami dan menafsirkan makna suatu peristiwa, interaksi, tingkah laku manusia dalam situasi tertentu perspektif atau pandangan penelitian sendiri.
Responden dalam penelitian kualitatif berkembang secara terus menerus dan bertujuan sampai data yang dikumpulkan dianggap memuaskan.
Dalam penelitian ini penulis menggunakan jenis penelitian kualitatif deskriptif yaitu prosedur yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis/ lisan dari orang-orang dan perilaku yang dapat diamati.
2. Sumber data
Adalah subyek darimana data dapat diperoleh. Adapun sumber data penelitian sesuai dengan cara memperolehnya dibagi menjadi dua, yaitu : a. Data primer : data langsung yang dikumpulkan oleh dari sumber pertamanya.
Adapun data dari penelitian ini adalah semua komponen yang terlibat atau data yang diperoleh langsung dari lapangan melalui observasi, interview dari guru PAI, catatan serta dokumen yang diperoleh dari sekolah SDN X.
b. Data sekunder : data yang dikumpulkan oleh sebagai penunjang dari sumber pertama.
Berkaitan dengan topik pembahasan. Adapun yang dimaksud dengan subyek penelitian adalah subyek yang dituju untuk diteliti oleh peneliti. Dalam penelitian ini yang menjadi subyek penelitian adalah siswa penderita disleksia. oleh sebab itu, pada penelitian kualitatif ini tidak ada sampel acak tetapi sampel bertujuan (purposive sampling). Teknik ini digunakan apabila anggota sampel yang dipilih secara khusus berdasarkan penelitiannya. Yang dimaksud sampel bertujuan adalah sampel yang dipilih dengan cermat sesuai dengan desain penelitian.
Maksudnya dalam penelitian ini, peneliti mengambil sampel berdasarkan tujuan tertentu, sehingga yang dijadikan sampel adalah mereka-mereka yang berkomitmen dan terlibat langsung dalam menangani anak penderita disleksia yang meliputi guru agama, kepala sekolah dan guru-guru yang lain.
Mengenai jumlah dan banyaknya sampel yang diambil dalam penelitian ini tidak ditetapkan secara kuantitatif, tetapi berdasarkan pertimbangan-pertimbangan informasi yang diperlukan, peneliti berusaha menjaring sebanyak mungkin informasi dari berbagai sumber yang relevan dengan jenis data yang dibutuhkan dan penarikan sampel dihentikan jika terjadi pengulangan informasi.
3. Teknik pengumpulan data
a. Observasi
Yaitu suatu cara pengambilan data melalui pengamatan dan pencatatan dengan sistematis fenomena-fenomena yang diselidiki secara langsung ataupun tidak langsung.
Teknik ini digunakan penulis untuk mengetahui secara langsung gambaran utuh tentang proses pembelajaran PAI pada anak Disleksia, bagaimana kemampuan belajar anak disleksia, serta bagaimana usaha seorang guru dalam meningkatkan kemampuan belajar anak disleksia dengan pendekatan SAVI pada proses pembelajaran PAI.
Selain itu juga teknik ini juga penulis gunakan untuk memperoleh data tentang sejarah berdirinya sekolah SDN X, letak geografisnya, dan lain sebagainya.
b. Interview
Adalah suatu proses tanya jawab yang berlangsung secara lisan dalam mana dua orang atau lebih bertatap muka atau mendengar secara langsung informasi-informasi atau keterangan-keterangan.
Sebagai informan dalam penelitian ini adalah kepala sekolah, guru bidang studi Pendidikan Agama Islam, wali kelas I dan ibu wali murid kelas I SDN X.
Teknik ini penulis gunakan untuk memperoleh informasi tentang bagaimana kemampuan belajar anak disleksia di SDN tersebut, bagaimana implementasi pendekatan SAVI dalam proses pembelajaran PAI serta bagaimana upaya guru dalam meningkatkan kemampuan belajar anak disleksia dengan pendekatan SAVI pada bidang studi PAI di SDN X,
c. Dokumentasi
Adalah mencari data mengenai hal-hal atau variabel atau catatan transkrip, buku-buku, surat kabar, majalah, prasasti, notulen rapat, legenda, dan lain-lain.
Teknik ini penulis gunakan untuk memperoleh informasi tentang hasil tes kemampuan membaca siswa kelas I SDN X serta data-data guru yang diperlukan oleh penulis.

F. Teknik Analisis Data
Analisis data adalah suatu proses mengorganisasikan dan mengurutkan data kedalam pola, kategori dan satuan uraian dasar sehingga dapat ditemukan tema dan dirumuskan seperti yang disarankan oleh data.
Data dalam penelitian ini pada hakikatnya berwujud kata-kata, kalimat atau paragraf-paragraf yang dinyatakan dalam bentuk narasi yang bersifat deskripsi mengenai peristiwa-peristiwa nyata yang terjadi dan dialami oleh subyek. Berdasarkan wujud dan sifat data tersebut, maka teknik analisis data yang digunakan oleh peneliti adalah teknik deskriptif.
Data yang diperoleh melalui observasi, wawancara dan dokumentasi diolah dan dianalisis melalui beberapa langkah, diantaranya :
1. Reduksi data
Adalah proses seleksi, pemfokusan, penyederhanaan dan abstraksi data dari field note. Abstraksi merupakan usaha membuat rangkuman yang inti, proses dan pernyataan yang perlu dijaga sehingga tetap berada didalamnya. Data yang diperoleh dari lapangan ditulis dalam bentuk uraian atau laporan terinci. Data dalam bentuk laporan tersebut perlu direduksi, dirangkum, dipilih hal-hal yang pokok, difokuskan pada hal-hal yang penting dan dicari tema atau polanya. Data-data yang dimaksud adalah data yang diperoleh penulis melalui observasi, wawancara dan dokumentasi yang masih berupa tulisan-tulisan yang belum baku atau data mentah. Dimana data-data tersebut direduksi dan dirangkum, dicari hal-hal yang fokus pada materi penelitian yaitu tentang :
a) Bagaimana kemampuan belajar pada anak disleksia di SDN X.
b) Bagaimana implementasi pendekatan SAVI pada proses pembelajaran di SDN X
c) Bagaimana upaya guru PAI dalam meningkatkan kemampuan belajar pada anak disleksia dengan pendekatan SAVI pada bidang studi PAI di SDN X.
2. Display data
Yaitu rakitan kalimat yang disusun secara logis dan sistematis, sehingga bila dibaca akan mudah dipahami tentang berbagai hal yang terjadi dan memungkinkan peneliti untuk membuat sesuatu pada analisa atau tindakan lain berdasarkan pemahamannya tersebut.
Pada saat merangkum data-data tersebut, hendaknya penulis menggunakan susunan kalimat yang logis dan sistematis agar mudah dibaca dan dipahami. Misalnya, apa itu disleksia, disleksia adalah gangguan belajar membaca yang disebabkan oleh kelainan pada saraf otak.
3. Penarikan kesimpulan dan verifikasi
Tujuan dari awal penelitian adalah berusaha mencari kesimpulan dari permasalahan yang diteliti. Mulai dari mencari pola, tema, hubungan, permasalahan hal-hal yang sering timbul, hipotesis dan sebagainya. Dari data tersebut diambil kesimpulan serta memverifikasi data tersebut dengan cara menelusuri kembali data yang telah diperoleh.
Setelah data-data mengenai bagaimana kemampuan anak disleksia, bagaimana implementasi pendekatan SAVI pada proses pembelajaran PAI serta bagaimana upaya guru PAI dalam meningkatkan kemampuan belajar pada anak disleksia dengan pendekatan SAVI dirangkum dan direduksi secara logis dan sistematis, penulis menarik kesimpulan dan memverifikasi data tersebut dengan cara menelusuri kembali data yang diperoleh.

G. Sistematika Pembahasan
Agar penelitian ini dapat dipahami secara utuh dan berkesinambungan, maka perlu disusun sistematika pembahasan sebagai berikut :
Bab I, merupakan bab pendahuluan yang mencakup latar belakang, rumusan masalah, tujuan dan manfaat penelitian, definisi operasional, metode penelitian dan sistematika pembahasan.
Bab II, pada bab ini akan di bahas mengenai kajian teori yang memaparkan tentang : anak disleksia yang meliputi pengertian, ciri-ciri dan macam-macam anak disleksia. Kemudian tiunjauan tentang pendekatan SAVI yang meliputi pengertian, unrur-unsur dan ciri-ciri dari SAVI, serta tinjauan tentang upaya dalam meningkatkan kemampuan belajar PAI pada anak disleksia.
Bab III, pada bab ini dibahas mengenai laporan hasil penelitian yang meliputi : gambaran obyek penelitian (sejarah berdirinya, letak geografisnya, keadaan guru, karyawan dan siswanya), serta penyajian data yang meliputi bagaimana kemampuan belajar anak disleksia, bagaimana implementasi pendekatan SAVI pada proses pembelajaran serta bagaimana upaya meningkatkan kemampuan belajar pada anak disleksia dengan pendekatan SAVI pada bidang studi PAI.
Bab IV, merupakan bab penutup yang berisi kesimpulan dan saran dari hasil penelitian.

Posted by: Admin Indeks Prestasi Updated at: 06:34:00

PEMBELAJARAN IPS SEJARAH DENGAN PENGGUNAAN TEKNIK TEKA-TEKI SILANG UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR SISWA

SKRIPSI PTK PEMBELAJARAN IPS SEJARAH DENGAN PENGGUNAAN TEKNIK TEKA-TEKI SILANG UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR SISWA (MATA PELAJARAN : SEJARAH) – (SMP KELAS VIII)

A. Latar Belakang Masalah
Pembelajaran merupakan kegiatan yang berproses dan unsur yang sangat fundamental dalam penyelenggaraan setiap jenis dan jenjang pendidikan. Ini berarti bahwa kegiatan pembelajaran yang dilakukan sangat menentukan keberhasilan pencapaian tujuan pendidikan. Maka dari itu pemahaman yang benar mengenai arti pembelajaran dan hal-hal yang berkaitan dengannya mutlak diperlukan oleh para pengajar atau pendidik, seperti halnya dikemukakan oleh Said Hamid Hasan (2002:24) berikut ini:

Dalam menentukan cara belajar yang bagaimana, dikatakan guru memang memegang peranan yang menentukan. Dapat dikatakan bahwa cara belajar yang akan dialami oleh siswa sepenuhnya ditentukan oleh pertimbangan professional guru mengenai sifat, tujuan, materi, kemampuan awal siswa (entry behavior), sifat sumber materi dan suasana belajar.

Jika seorang pendidik mampu menguasai dan menentukan metode belajar yang sesuai dengan kebutuhan siswa maka proses belajar mengajar di kelas akan berlangsung dengan baik. Hal tersebut juga akan berdampak baik terhadap hasil belajar yang dicapai siswa. Dengan demikian peranan seorang pendidik (guru) dalam kegiatan belajar mengajar sangat penting, karena berhasil atau tidaknya kegiatan belajar mengajar tersebut sangat ditentukan oleh kreativitas guru dalam mengemas suatu mata pelajaran sehingga dapat menarik minat siswa untuk lebih mendalami dan mempelajari mata pelajaran tersebut.

Dalam penulisan skripsi ini penulis melakukan penelitian di kelas VIII B SMP X. Sebelum melakukan penelitian, penulis malakukan wawancara dengan beberapa orang siswa di kelas VIII B SMP X untuk mengetahui kesan mereka terhadap mata pelajaran sejarah. Dari hasil wawancara tersebut dapat disimpulkan bahwa masih banyak siswa yang kurang tertarik untuk belajar sejarah, sebagian besar siswa mengakui bahwa mereka tidak selalu memperhatikan guru ketika sedang mengikuti kegiatan belajar mengajar sejarah di kelas. Hal tersebut membuktikan kurangnya motivasi siswa untuk belajar sejarah. Selain mewawancarai beberapa siswa, penulis juga mewawancarai guru mata pelajaran sejarah kelas VIII B SMP X, dari wawancara tersebut diketahui bahwa pada saat pembelajaran berlangsung, masih ada sebagian siswa yang tidak antusias mengikuti kegiatan belajar mengajar sejarah.

Berdasarkan pengamatan peneliti, umumnya banyak siswa lebih tertarik untuk melakukan hal-hal lain selain belajar, seperti mengobrol dengan temannya atau keluar kelas daripada memperhatikan guru yang sedang mengajar di depan kelas. Siswa terlihat jenuh dan tidak tertarik untuk belajar. Hal tersebut karena bagi mereka sejarah identik dengan hapalan-hapalan saja, seperti halnya diungkapkan oleh Rochiati Wiriaatmadja (2002:133) dalam kutipan berikut ini:

Banyak siswa yang mengeluh bahwa pelajaran sejarah itu membosankan karena isinya hanya merupakan hafalan saja dari tahun ke tahun, tokoh dan peristiwa sejarah. Segudang informasi dijejelkan begitu saja kepada siswa dan siswa tinggal menghafalkannya diluar kepala. Memang "menghafal" atau "mengingat" adalah salah satu cara belajar seperti halnya menirukan {iminating atau copyng) mencoba-coba dengan trial and error, kadang-kadang juga kita berfikir atau merenungkan apa yang kita lihat dan kita alami dengan hasil yang berbeda-beda.

Jika hal ini dibiarkan terus menerus maka akan berdampak buruk terhadap hasil belajar siswa. Jika hasil belajar siswa masih jauh dari yang diharapkan maka hal tersebut membuktikan tujuan pembelajaran sejarah belum dapat diwujudkan. Pembelajaran sejarah dapat dikatakan berhasil apabila adanya perubahan perilaku dan pola pikir yang lebih baik pada siswa. Banyak makna dan nilai-nilai positif yang sesungguhnya terkandung dalam sejarah yang dapat diambil hikmahnya dan dijadikan pedoman dalam manghadapi masalah-masalah, baik yang terjadi di masa kini maupun di masa yang akan datang, seperti halnya diungkapkan oleh Said Hamid Hasan (2000:8) berikut ini:

Pengalaman yang diharapkan ada pada siswa setelah pembelajaran sejarah adalah kemampuan berpikir kritis yang dapat digunakan untuk mengkaji dan memanfaatkan pengetahuan sejarah, keterampilan sejarah dan nilai suatu peristiwa sejarah dalam membina kehidupan memerlukan banyak keputusan kritis, serta terampil dalam memahami berbagai peristiwa sosial, politik, ekonomi dan budaya yang terjadi disekitarnya. Disamping itu kemampuan menyaring nilai-nilai yang ada, memilih dan mengembangkan nilai positif dan menarik pelajaran dari nilai negatif, serta meniru keteladanan dari para pelaku sejarah.

Masalah tersebut merupakan tantangan bagi para guru sejarah untuk mengembangkan keterampilan dan kreatifitasnya, sehingga mampu mengubah kesan negatif siswa terhadap pelajaran sejarah agar siswa dapat memberikan respon yang positif terhadap pelajaran sejarah dan memperoleh hasil belajar yang baik, seperti yang dikemukakan oleh Said Hamid Hasan (1999:2) berikut ini:

Dalam praktek di kelas guru sejarah adalah orang yang harus dapat menjelaskan bahan pelajaran, melatih siswa dalam menanamkan dan mengembangkan nilai-nilai, menjadi inovator, serta memberi kemudahan untuk berlangsungnya interaksi siswa dengan guru dalam kegiatan belajar mengajar, menghadirkan peristiwa atau kisah masa lalu dihadapan para siswa sebagai kekhasan sejarah dan lain-lain.

Atas dasar hal tersebut, penulis ingin menyumbangkan sebuah gagasan baru dalam teknik pembelajaran sejarah sebagai bagian dari metode pembelajaran, sejarah agar siswa dapat lebih antusias dalam mengikuti proses pembelajaran sejarah, serta mempermudah siswa untuk menyerap berbagai informasi penting yang terkandung dalam pelajaran sejarah.

Dalam penelitian ini penulis menerapkan penggunaan teknik teka-teki silang dalam pembelajaran sejarah dengan tujuan untuk meningkatkan hasil belajar siswa. Adapun alasan penulis memilih teknik ini adalah, untuk mengurangi rasa jenuh yang dialami siswa ketika mengikuti proses belajar mengajar sejarah di kelas. Dengan menggunakan teknik teka-teki silang dalam pembelajaran sejarah, siswa akan merasakan suasana yang berbeda ketika sedang belajar sejarah. Siswa tidak lagi hanya duduk, diam dan mendengarkan cerita dari guru saja, tetapi mereka akan dilibatkan dalam sebuah permainan namun permainan tersebut bersifat mendidik, karena selain akan mengasah kemampuan berfikir juga akan mempermudah siswa untuk memahami konsep-konsep yang terkandung dalam mated pelajaran sejarah, seperti juga diungkapkan oleh Suyatno. (2008). Mengajar dengan Teka-Teki Silang (TTS). [Online]. Tersedia: http://www.garduguru.blogspot.com.alm.html/2008. [13 Oktober 2008] cobalah teka-teki silang digunakan untuk pembelajaran di kelas terutama untuk menguatkan pencantolan konsep ke dalam memori.

Di samping itu, dengan menggunakan teknik teka-teki silang dalam pembelajaran sejarah dapat melatih kemandirian siswa dalam menggali informasi mengenai sejarah dari berbagai sumber sehingga siswa akan menjadi lebih aktif dan antusias dalam mengikuti proses pembelajaran sejarah, peningkatan aktifitas belajar tersebut akan berdampak pula pada peningkatan hasil belajar siswa, hal senada diungkapkan oleh Ardy widyarso. (2008). (http://www.smk3ae.wordpress.com.alm.html/16-10-2008) yang menjelaskan bahwa dengan menggunakan teka-teki silang, persentase keterlibatan siswa dalam belajar akan menjadi tinggi, karena guru mencoba membangun pemahaman siswa dari pengalaman belajarnya berdasarkan pengetahuan yang dimilikinya. Pembelajaran dikemas menjadi proses mengkonstruksi bukan menerima pengetahuan, siswa mencoba menemukan dan mencari, sehingga terjadi perpindahan dari mengamati menjadi memahami, menemukan jawaban dengan berpikir kritis melalui keterampilan belajarnya.

B. Perumusan Masalah dan Pertanyaan Penelitian
Berdasarkan latar belakang masalah yang telah dipaparkan di atas, rumusan masalah yang diajukan dalam penelitian ini adalah "Bagaimana meningkatkan hasil belajar siswa dalam pembelajaran sejarah melalui penggunaan teknik teka-teki silang". Secara lebih khusus, fokus permasalahan yang akan diteliti terdapat dalam beberapa pertanyaan penelitian berikut ini:
1. Bagaimana perencanaan pembelajaran IPS-sejarah melalui penggunaan teknik teka-teki silang di kelas VIII B SMP X?
2. Bagaimana pelaksanaan pembelajaran IPS-sejarah melalui penggunaan teknik teka-teki silang di kelas VIII B SMP X?
3. Kendala-kendala yang dihadapi dalam pembelajaran IPS-sejarah melalui penggunaan teknik teka-teki silang di kelas VIII B SMP X?
4. Bagaimana hasil belajar dengan menggunakan teknik teka-teki silang di kelas VIII B SMP X?

C. Tujuan Penelitian
Penelitian ini secara umum bertujuan untuk memperoleh gambaran mengenai pembelajaran sejarah dengan penggunaan teknik teka-teki silang dalam upaya meningkatkan hasil belajar siswa. Tujuan khusus dari penelitian ini adalah untuk:
1. Mendeskripsikan perencanaan pembelajaran IPS-sejarah melalui penggunaan teknik teka-teki silang di kelas VIII B SMP X.
2. Mengkaji pelaksanaan pembelajaran IPS-sejarah melalui penggunaan teknik teka-teki silang di kelas VIII B SMP X.
3. Menemukan kendala-kendala yang dihadapi dalam pembelajaran IPS-sejarah melalui penggunaan teknik teka-teki silang serta upaya-upaya untuk mengatasinya di kelas VIII B SMP X.
4. Mengetahui hasil belajar IPS-sejarah dengan menggunakan teknik teka-teki silang di kelas VIII B SMP X.

D. Manfaat Penelitian
Manfaat dari pelaksanaan penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Secara teori, melalui pembelajaran sejarah dengan penggunaan teknik teka-teki silang, diharapkan dapat menggali segala potensi yang dimiliki oleh siswa dalam pembelajaran sejarah sehingga akan meningkatkan mutu dan efektifitas pembelajaran sejarah di sekolah.
2. Bagi siswa untuk mengembangkan daya pikir siswa dalam memahami pelajaran sejarah dan meningkatkan minat siswa dalam mendalami mata pelajaran sejarah melalui penggunaan teknik teka-teki silang.
3. Bagi guru sejarah, dengan penggunaan teknik teka-teki silang dalam pembelajaran sejarah diharapkan dapat memberikan suatu alternatif dalam metode pembelajaran sejarah di kelas, sehingga tujuan pembelajaran yang telah dirumuskan dapat tercapai dengan baik.
4. Bagi peneliti/dosen, akan berdampak pada pengembangan kualitas diri dan profesionalitas, untuk terus meningkatkan keilmuan, khususnya pengembangan proses pembelajaran dan pendidikan sejarah.
5. Bagi lembaga Universitas Pendidikan Indonesia akan meningkatkan prestasi dan nama baik dengan memberikan sumbangan bagi peningkatan kualitas pendidikan dan pembelajaran di tingkat sekolah.

Posted by: Admin Indeks Prestasi Updated at: 06:33:00

PENERAPAN METODE COOPERATIVE LEARNING TIPE STAD DALAM UPAYA MENINGKATKAN HASIL BELAJAR SISWA DALAM PEMBELAJARAN SEJARAH

SKRIPSI PTK PENERAPAN METODE COOPERATIVE LEARNING TIPE STAD DALAM UPAYA MENINGKATKAN HASIL BELAJAR SISWA DALAM PEMBELAJARAN SEJARAH (MATA PELAJARAN : SEJARAH) – (SMA KELAS XI)

A. Latar Belakang
Pendidikan dapat dikatakan sebagai upaya sadar dan terencana dari manusia untuk mengenyam ilmu pengetahuan untuk bekal hidupnya seperti keterampilan dan pengetahuan berfikirnya. Pendidikan merupakan modal dasar bagi manusia untuk menjalani berbagai aktivitas yang bermanfaaat dalam kehidupannya. Selain itu sebagai makhluk sosial yang hidup dalam lingkungan masyarakat dan negara memiliki peran yang sangat penting dalam pembangunan bangsa. Supaya pembangunan bangsa semakin meningkat, dibutuhkan sumber daya manusia yang baik pula untuk menunjang pelaksanaannya. Salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk meningkatkan sumber daya manusia adalah peningkatan mutu pendidikan, baik prestasi belajar siswa maupun kemampuan guru dalam melaksanakan proses pembelajaran. Peningkatan mutu pendidikan diarahkan untuk meningkatkan kualitas manusia seutuhnya melalui olah hati, olah pikir, olah rasa, dan olah raga agar memiliki daya saing dalam menghadapi tantangan global.

Sejarah merupakan pelajaran yang menanamkan pengetahuan dan nilai-nilai mengenai proses perubahan dan perkembangan masyarakat Indonesia dan dunia dari masa lampau hingga masa kini (Depdiknas, 2003 : 1). Lebih lanjut Ismaun (2001 : 114) mengemukakan bahwa tujuan pendidikan sejarah adalah agar peserta didik mampu memahami sejarah, memiliki kesadaran sejarah, dan memiliki wawasan sejarah yang bermuara pada kearifan sejarah.

Berdasarkan pernyataan di atas, mata pelajaran sejarah memiliki peranan yang sangat penting dalam membentuk pemahaman, kesadaran dan wawasan sejarah sehingga siswa dapat menyikapi masalah dalam kehidupannya dengan bijak. Oleh karena peranan mata pelajaran sejarah di sekolah sangat penting, sehingga diharapkan dapat menjadi suatu mata pelajaran yang menarik karena mengajarkan kepada siswa berbagai peristiwa yang dialami oleh manusia dalam ruang dan waktu yang berbeda sehingga siswa dapat merasakan perubahan yang dialami oleh manusia dalam kehidupan. Akan tetapi pada kenyataannya di sekolah tidak demikian. Masalah dalam mata pelajaran sejarah adalah sejarah dianggap pelajaran yang membosankan. Akibat dari anggapan bahwa pelajaran sejarah itu membosankan menyebabkan siswa merasa tidak senang terhadap mata pelajaran sejarah. Oleh sebab itu sejarah dianggap sebagai mata pelajaran yang sepele, maka guru sejarah hendaknya mampu mengubah paradigma siswa yang mengganggap sejarah merupakan mata pelajaran yang dianggap membosankan menjadi mata pelajaran yang menyenangkan.

Berdasarkan dari beberapa hasil penelitian mengenai pendapat siswa tentang pelajaran sejarah, banyak siswa yang mengungkapkan bahwa pelajaran sejarah membosankan dan menjenuhkan, karena materinya terlalu menekankan pada hal-hal yang faktual seperti angka tahun, nama tokoh, nama peristiwa, dan tempat di mana suatu peristiwa terjadi. Penyampaian materi yang tidak berkorelasi akan menambah kejenuhan siswa dalam menerima materi pelajaran sejarah.

Berbagai perlakuan dapat dilakukan siswa berkaitan dengan keberadaan pengajaran yang masih banyak dilakukan secara konvensional (pembelajaran terpusat pada guru). Perasaan jenuh yang dialami siswa dengan pembelajaran seperti itu mengurangi konsentrasi belajar siswa dan mengalihkan perhatiannya pada hal-hal yang dapat menghilangkan kejenuhan tersebut, seperti mengobrol di kelas, melamun, mengerjakan tugas mata pelajaran selain sejarah bahkan sengaja tidur di kelas.

Dalam Kurikulum tahun 2006, para guru dituntut untuk melibatkan siswa secara aktif sebagai subjek pembelajaran. Strategi yang sering digunakan untuk mengaktifkan siswa yaitu dengan melibatkan siswa dalam diskusi di kelas. Akan tetapi terkadang diskusi ini kurang efektif walaupun guru sudah berusaha mendorong siswa agar ikut berpartisipasi aktif dalam proses diskusi. Banyak guru mengeluhkan bahwa hasil belajar dengan diskusi tidak seperti yang mereka harapkan. Para siswa bukannya memanfaatkan kegiatan tersebut untuk meningkatkan pengetahuan dan kemampuan mereka, akan tetapi kebanyakan dari mereka bermain, bergurau dan sebagainya.

Keadaan di atas memberikan dampak yang sangat besar terhadap prestasi belajar dan hasil belajar siswa dalam mata pelajaran sejarah. Berdasarkan hasil ujian dengan nilai kriteria kelulusan minimum 65, hanya 30% yang dinyatakan lulus dari jumlah siswa sebanyak 36.

Melihat kenyataan di atas, dapat disimpulkan bahwa siswa kurang terampil dalam menjawab pertanyaan atau bertanya tentang konsep dan materi yang diajarkan.

Siswa kurang bisa bekerjasama dalam kelompok diskusi sehingga kurang bisa menyelesaikan tugas yang diberikan. Mereka cenderung belajar sendiri-sendiri.

Hasil pengamatan di lapangan selama peneliti PPL di SMA X, menunjukkan bahwa siswa kelas XI IPS I dalam proses pembelajaran di kelas lebih banyak dilakukan secara individual, pola hubungan yang terjadi antar siswa diwarnai atas dasar kegiatan belajar individual. Padahal belajar tidak harus merupakan suatu kegiatan individual, walaupun sekilas sistem belajar individual memberikan kesan positif untuk membentuk daya saing yang tinggi untuk kehidupan di masa mendatang. Hasan (1996 : 8) menjelaskan :

"Realita yang ditunjukkan di masyarakat membuktikan bahwa setiap individu terlibat kerjasama dengan individu lain dalam suatu sistem. Persaingan yang terjadi antar individu hanyalah sebatas sistem itu, sementara keberhasilan dalam sistem tadi lebih memberikan kesempatan dan jaminan akan keberhasilan individu dan anggotanya".

Johnson dan Smith dalam (Lie, 2007 : 5) mengemukakan bahwa pendidikan adalah interaksi pribadi di antara para siswa dan interaksi antara guru dan siswa. Maksud dari pernyataan tersebut adalah kegiatan pendidikan merupakan suatu proses sosial yang tidak dapat terjadi tanpa interaksi antar pribadi. Belajar adalah suatu proses pribadi, tetapi juga proses sosial yang terjadi ketika masing-masing orang berhubungan dengan yang lain menjalin komunikasi dan membangun pengetahuan bersama.

Berpijak dari pendapat di atas, untuk menciptakan interaksi pribadi antar siswa, dan interaksi antar guru dan siswa, maka suasana kelas perlu direncanakan sedemikian rupa sehingga siswa mendapatkan kesempatan untuk berinteraksi satu sama lainnya. Guru perlu menciptakan suasana belajar yang memungkinkan siswa bekerjasama secara gotong royong. Salah satu metode pembelajaran yang dapat meningkatkan aktivitas kerja sama antar siswa serta prestasi belajar siswa adalah metode cooperative learning. Dengan menggunakan metode cooperative learning dapat menyediakan lingkungan belajar yang kondusif untuk terjadinya interaksi belajar mengajar yang lebih efektif, sehingga siswa dapat membangun sendiri pengetahuannya.

Shounara (2003, 17) dalam hasil penelitiannya menemukan bahwa metode cooperative learning ini dapat diterapkan untuk pembelajaran sejarah di kelas, terutama dalam upaya meningkatkan berpikir kritis siswa. Dijelaskan lebih lanjut untuk memperoleh hasil yang lebih baik dalam pembelajaran sejarah di kelas, Shounara menyarankan menggunakan metode cooperative learning dalam kelompok kecil. Melalui metode cooperative learning siswa belajar lebih aktif dibandingkan dengan hanya menerima informasi dari guru saja, dapat terjadi interaksi antar siswa dan siswa dan saling membantu dalam menyelesaikan tugas-tugas mereka.

Sesuai dengan latar belakang dan fokus permasalahan di atas, maka perlu adanya perbaikan dalam sistem pembelajaran di kelas. Untuk itu perlu disusun suatu pendekatan dalam pembelajaran yang lebih komprehensif. Atas dasar itu peneliti mencoba menerapkan model pembelajaran cooperative learning dalam pembelajaran sejarah dengan tipe STAD (Student Teams Achievement Divisions).

Metode pembelajaran cooperative learning merupakan salah satu metode pembelajaran yang dapat memfasilitasi siswa untuk berperan aktif dalam proses kegiatan belajar mengajar, tidak hanya itu siswa juga bisa saling mengajar dengan siswa lainnya. Selain itu metode cooperative learning menanamkan pada siswa bahwa mereka memiliki peranan yang sama untuk mencapai tujuan akhir belajar, penguasaan materi pelajaran dan keberhasilan belajar yang tidak semata-mata dapat ditentukan oleh guru, tapi merupakan tanggung jawab bersama. Slavin (2009 : 4) mengemukakan bahwa cooperative learning pada dasarnya merupakan suatu model pembelajaran di mana siswa belajar dan bekerjasama dalam kelompok-kelompok kecil serta kolaboratif anggotanya terdiri dari 4-6 orang, dengan struktur kelompok yang heterogen. Sagala (2005 :216) mengemukakan dampak positif dari belajar kelompok adalah dapat menimbulkan kesadaran akan adanya kompetitif yang sehat, sehingga membangkitkan kemauan belajar yang sungguh-sungguh. Bahkan Hasan dalam Mabroer (2006 : 13) mengemukakan bahwa Cooperative learning akan menghasilkan "cooperative behaviours and attitudes that contributed to be success and/of failure of these group". Maksud dari pengertian ini adalah bekerjasama menghasilkan sikap dan perilaku yang pada akhirnya akan berpengaruh terhadap keberhasilan dan/atau kegagalan kelompok tersebut dalam mencapai tujuan belajar.

Aspek lain yang dapat berkembang dalam pelaksanaan metode cooperative learning menurut Stahl dalam Mabroer (2006 : 4) adalah sikap saling tolong menolong dan tolong menolong merupakan salah satu sikap positif dalam perilaku sosial seseorang.

Pembelajaran kooperatif dikatakan lebih efektif dibandingkan dengan pembelajaran biasa, karena melalui kooperatif siswa lebih leluasa untuk saling memberi dan menerima materi tanpa rasa segan. Sesuai yang dikatakan Lie (2007 : 12) bahwa :
"Banyak penelitian menunjukkan bahwa pengajaran oleh rekan sebaya (peer teaching) ternyata lebih efektif dari pada pengajaran oleh guru dikarenakan mereka memiliki schemata yang hampir sama dibandingkan dengan schemata guru..."

Tipe STAD (Student Teams Achievement Divisions) merupakan salah satu alternatif yang diterapkan oleh guru kepada siswa dalam pembelajaran. STAD dikembangkan oleh Robert Slavin dan teman-temannya di Universitas John Hopkins, dan merupakan pendekatan pembelajaran kooperatif yang paling sederhana. Tipe ini digunakan untuk mengajarkan informasi akademik baru kepada siswa. Selain itu model STAD juga menekankan pada adanya aktivitas dan interaksi di antara siswa untuk saling memotivasi dan saling membantu dalam menguasai materi pelajaran guna mencapai prestasi yang maksimal.

Berdasarkan pemaparan di atas, maka peneliti tertarik untuk lebih memperdalam mengenai pengaruh model cooperative learning dengan tipe STAD terhadap hasil belajar siswa menjadi sebuah penelitian. Adapun judul yang peneliti angkat dalam penelitian ini adalah "Penerapan Metode Cooperative Learning Tipe Student Teams Achievement Division (STAD) dalam Upaya Meningkatkan Hasil Belajar Siswa dalam Pembelajaran Sejarah (Penelitian Tindakan Kelas pada Siswa Kelas XI IPS 1 SMA X)".

B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, maka dirumuskan permasalahan sebagai berikut : " Bagaimana upaya peningkatan hasil belajar siswa dalam pembelajaran sejarah melalui pembelajaran kooperatif tipe STAD"

C. Pertanyaan Penelitian
1. Bagaimana kondisi awal pembelajaran sejarah di kelas sebelum diterapkan metode kooperatif tipe STAD?
2. Bagaimana guru sejarah merencanakan metode kooperatif tipe STAD dalam upaya meningkatkan hasil belajar siswa pada pembelajaran sejarah?
3. Bagaimana pelaksanaan metode kooperatif tipe STAD dalam upaya meningkatkan hasil belajar siswa pada pembelajaran sejarah?
4. Bagaimana peningkatan hasil belajar siswa setelah menggunakan metode kooperatif tipe STAD?
5. Bagaimana upaya mengatasi kendala yang dihadapi dalam menerapkan metode kooperatif tipe STAD pada pembelajaran sejarah?

D. Tujuan Penelitian
Sesuai dengan masalah dan pertanyaan penelitian di atas, penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan untuk :
1. Mendeskripsikan mengenai kondisi awal pembelajaran sejarah sebelum metode kooperatif tipe STAD.
2. Mendeskripsikan perencanaan guru sejarah dalam menggunakan metode kooperatif tipe STAD dalam pembelajaran sejarah.
3. Mendeskripsikan pelaksanaan metode kooperatif tipe STAD dalam pembelajaran sejarah.
4. Mendeskripsikan dan mengkaji peningkatan hasil belajar setelah menggunakan tipe STAD dalam mata pelajaran sejarah.
5. Menganalisis kendala dan upaya mengatasinya dalam penerapan tipe STAD pada pembelajaran sejarah.

E. Manfaat Penelitian
Suatu penelitian dikatakan berhasil apabila dapat memberikan manfaat pada dunia pendidikan. Dalam penelitian ini, penulis mengharapkan adanya manfaat atau kegunaan, khususnya bagi peneliti sendiri dan umumnya bagi yang berkepentingan di bidang pendidikan. Adapun manfaat yang diharapkan dari penelitian ini adalah sebagai berikut :
1. Bagi Guru
Manfaat penelitian ini bagi guru adalah sebagai motivasi guru untuk meningkatkan ketrampilan memilih setrategi pembelajaran yang sesuai dan bervariasi. Guru dapat lebih termotivasi untuk terbiasa mengadakan penelitian sederhana yang bermanfaat bagi perbaikan dalam proses pembelajaran serta meningkatkan kemampuan guru itu sendiri.
2. Bagi Siswa
Manfaat penelitian bagi siswa adalah untuk melatih daya pikir untuk meningkatkan hasil belajar dan aktifitas siswa. Keberanian siswa mengungkapkan ide, pendapat, pertanyaan dan saran meningkat. Menumbuhkan semangat kerjasama antar siswa.
3. Bagi Peneliti
Manfaat penelitian ini bagi peneliti adalah untuk menambah wawasan dan pengalaman yang dapat dijadikan bekal untuk menghadapi tugas di lapangan.

F. Definisi Operasional
Cooperative learning mencakup suatu kelompok kecil siswa yang bekerja sebagai sebuah tim untuk menyelesaikan sebuah masalah, menyelesaikan suatu tugas, atau untuk mengerjakan sesuatu untuk mencapai tujuan bersama lainnya. Bukanlah cooperative learning jika siswa duduk bersama dalam kelompok-kelompok kecil dan mempersilakan salah seorang di antaranya untuk menyelesaikan pekerjaan seluruh kelompok.
Salah satu tipe dari metode kooperatif adalah tipe STAD (Student Teams Achievement Divisions). STAD dikembangkan oleh Robert Slavin dan teman-temannya di Universitas John Hopkin, dan merupakan pendekatan pembelajaran kooperatif yang paling sederhana. Tipe ini digunakan untuk mengajarkan informasi akademik baru kepada siswa. Selain itu model STAD juga menekankan pada adanya aktivitas dan interaksi di antara siswa untuk saling memotivasi dan saling membantu dalam menguasai materi pelajaran guna mencapai prestasi yang maksimal. Langkah-langkah model pembelajaran kooperatif tipe STAD adalah sebagai berikut :
1. Para siswa di dalam kelas dibagi menjadi beberapa kelompok, masing-masing terdiri atas 4 atau 5 anggota kelompok. Tiap kelompok mempunyai anggota yang heterogen, baik jenis kelamin, ras, etnik maupun kemampuannya (prestasinya)
2. Guru menyampaikan materi pelajaran
3. Guru memberikan tugas kepada kelompok dengan menggunakan lembar kerja siswa dan kemudian saling membantu untuk menguasai materi pelajaran yang telah diberikan melalui tanya jawab atau diskusi antar sesama anggota kelompok.
4. Guru memberikan pertanyaan atau kuis kepada seluruh siswa. Pada saat menjawab pertanyaan atau kuis dari guru siswa tidak boleh saling membantu.
5. Setiap akhir pembelajaran guru memberikan evaluasi untuk mengetahui penguasaan siswa terhadap bahan akademik yang telah dipelajari
6. Tiap siswa dan tiap kelompok diberi skor atas penguasaan terhadap materi pelajaran, dan kepada siswa secara individual atau kelompok yang meraih prestasi tinggi atau memperoleh skor sempurna diberi penghargaan.
Hasil belajar adalah evaluasi terhadap nilai pretes dan post test siswa kelas XI IPS I SMA X dalam pembelajaran sejarah. Pada hakikatnya, hasil belajar siswa meliputi tiga aspek yaitu aspek afektif, aspek kognitif dan aspek psikomotor. Dalam penelitian ini peneliti hanya mengukur aspek kognitif saja, artinya peneliti hanya mengukur kemampuan siswa dari nilai pretes dan posttes saja.

G. Sistematika Penulisan
Adapun sistematika penulisan dalam penyusunan karya ilmiah ini adalah sebagai berikut :
Bab satu, merupakan pendahuluan. Pada bab ini dikemukakan mengenai latar belakang masalah yang berisi pemaparan penulis dalam rangka upaya untuk menuju permasalahan yang akan dikaji yaitu mengenai penerapan metode cooperative learning tipe STAD (Student Teams Achievemens Divisions) dalam meningkatkan hasil belajar siswa. Agar dalam pembahasannya lebih terfokus maka dirumuskanlah beberapa masalah penelitian beserta tujuan diadakannya penelitian. Selain itu dalam bab ini juga dijelaskan mengenai manfaat penelitian, definisi operasional, serta sistematika penulisan.
Bab dua, merupakan landasan teoritis yang meliputi pembahasan dari judul penelitian berdasarkan rujukan dari teori-teori yang relevan dengan permasalahan dalam penelitian.
Bab tiga, merupakan metodologi penelitian yang meliputi langkah-langkah yang dilakukan peneliti dalam melakukan penelitiannya. Dalam bab ini dipaparkan mengenai pendekatan penelitian, metode dan desain penelitian yang berisi perencanaan pelaksanaan tindakan kelas dan pelaksanaan penelitian, subjek penelitian, prosedur penelitian, serta teknik-teknik yang digunakan dalam pengolahan data.
Bab empat, merupakan pembahasan masalah dan analisis data berdasarkan hasil penelitian dari keseluruhan instrumen penelitian serta keseluruhan tindakan yang telah dilakukan oleh peneliti. Dalam bab ini diuraikan mengenai pembahasan hasil penelitian yang merupakan jawaban dari pertanyaan-pertanyaan dalam rumusan masalah. Hasil penelitian diperoleh secara kualitatif dan kuantitatif berdasarkan metode penelitian tindakan kelas yang digunakan dalam penelitian ini.
Bab lima, merupakan bab terakhir yang berisi kesimpulan hasil yang telah dilakukan dan saran-saran atau rekomendasi bagi pihak-pihak yang terkait dan bagi pengembangan penelitian selanjutnya. Kesimpulan menguraikan sintesis dan interpretasi dari hasil penelitian dan pembahasan, sedangkan saran berupa kekurangan-kekurangan yang diperoleh dari hasil penelitian.

Posted by: Admin Indeks Prestasi Updated at: 06:31:00

PENINGKATAN KOMPETENSI MENULIS KARANGAN NARASI FAKTUAL DENGAN METODE CURAH GAGASAN

SKRIPSI PTK PENINGKATAN KOMPETENSI MENULIS KARANGAN NARASI FAKTUAL DENGAN METODE CURAH GAGASAN (MATA PELAJARAN : BAHASA INDONESIA) – (SMP KELAS VII)


1.1 Latar Belakang
Berdasarkan Kurikulum Satuan Tingkat Pendidikan (KTSP), standar kompetensi bahan kajian bahasa Indonesia diarahkan kepada penguasaan empat keterampilan berbahasa, yaitu: menyimak, berbicara, membaca, dan menulis. Keempat keterampilan ini menjadi faktor pendukung dalam menyampaikan pikiran, gagasan, dan pendapat, baik secara lisan maupun secara tertulis, sesuai dengan konteks komunikasi yang harus dikuasai oleh pemakai bahasa.

Keterampilan menulis merupakan kemampuan yang paling sulit untuk dikuasai siswa dibandingkan dengan keterampilan berbahasa yang lain. Selain itu, pembelajaran keterampilan menulis tampaknya belum menggembirakan. Salah satu realitas konkret yang mendukung pernyataan tersebut adalah kondisi pembelajaran keterampilan menulis di kelas SMP Negeri X. Berdasarkan pengalaman guru peneliti dan hasil observasi terhadap keadaan pembelajaran menulis di sekolah tersebut serta wawancara awal yang dilakukan dengan sejumlah guru bahasa Indonesia di sekolah tersebut, diperoleh informasi bahwa motivasi dan kemampuan menulis, termasuk menulis karangan narasi siswa masih sangat rendah yang ditandai siswa sering merasa jenuh jika disuruh mengarang, tidak ada siswa yang mempunyai kemampuan yang menonjol dalam pembelajaran mengarang, dan hasil karangan narasi siswa sangat memperihatinkan yang dibuktikan dengan hasil tes mengarang siswa yang hanya sekitar 40% siswa mencapai target standar presentase 7,0, karangan narasi siswa masih agak singkat (rata-rata V2 halaman), ide atau gagasan siswa kurang berkembang, kosakata yang digunakan sederhana dan terbatas, penggunaan kalimat dan organisasi tulisan narasi masih kurang terarah.

Fenomena lain yang tampak berdasarkan observasi awal di sekolah SMP N X yang diteliti adalah sistem pembelajaran menulis yang diterapkan oleh guru cenderung monoton (didominasi oleh penggunaan metode ceramah), pembelajaran dengan sistem klasikal yang mengarah pada komunikasi satu arah (guru -> siswa), dan lebih berorientasi penghafalan materi pembelajaran.

Masalah yang timbul dalam proses pembelajaran menulis serta kemampuan siswa dalam menulis/mengarang yang belum memadai (masih rendah) sebagaimana uraian tersebut disebabkan oleh dua faktor utama, yaitu: faktor siswa dan faktor strategi pembelajaran yang diterapkan oleh guru. Adapun faktor yang berasal dari siswa, antara lain: (1) motivasi siswa dalam menulis sangat minim; (2) konsep atau bahan yang dimiliki siswa untuk dikembangkan jadi tulisan sangat terbatas; (3) kemampuan siswa menafsirkan fakta untuk ditulis sangat rendah; (4) kemampuan siswa menuangkan gagasan atau pikiran ke dalam bentuk kalimat-kalimat yang mempunyai kesatuan yang logis dan padu serta diikat oleh struktur bahasa. Adapun faktor yang berasal dari luar diri siswa, antara lain: (1) pokok bahasan menulis tidak memperoleh perhatian serius dari guru; (2) sarana dan metode atau strategi pembelajaran menulis belum efektif; (3) kurangnya hubungan komunikatif antara guru dan siswa serta siswa dengan siswa lainnya sehingga proses interaksi menjadi vakum. Hal tersebut mengisyaratkan bahwa dibutuhkan pembenahan dalam pembelajaran menulis.

Kompetensi siswa dalam menulis karangan narasi dapat ditingkatkan dengan membenahi segala hal yang menjadi titik kelemahan siswa dalam menulis. Secara umum, menulis merupakan suatu proses sekaligus suatu produk/hasil. Menulis sebagai suatu proses berupa pengelolaan ide atau gagasan dari tema atau topik yang dipilih untuk dikomunikasikan dan pemilihan jenis wacana tertentu yang sesuai atau tepat dengan situasi dan konteksnya. Kemampuan menulis yang menuntut kemampuan untuk dapat melahirkan dan menyatakan kepada orang lain tentang hal yang dirasakan, dikehendaki, dan dapat dipikirkan dengan bahasa tulisan.

Keterampilan menulis bukanlah kemampuan yang diwarisi secara turun-temurun dan tidak datang dengan sendirinya. Keterampilan ini menuntut perlatihan yang cukup dan teratur serta pembelajaran yang terprogram. Program-program tersebut disusun dan direncanakan untuk mencapai tujuan tertentu.

Dalam proses belajar menulis (mengarang), berbagai kemampuan itu tidak mungkin dikuasai siswa secara serentak. Semua kemampuan itu dapat dikuasai siswa melalui suatu proses, setahap demi setahap. Karena kemampuan itu tidak bisa dikuasai secara serentak, untuk mempermudah mempelajarinya perlu dibuat skala prioritas. Penentuan prioritas ini diharapkan dapat digunakan sebagai strategi dasar untuk memulai belajar menulis. Sebagai strategi dasar, perioritas yang dimaksud tentu saja tidak hanya berupa suatu rangkaian kemampuan yang mengarah pada terbentuknya sebuah tulisan.

Karangan merupakan pernyataan gagasan atau ide yang bersumber dari pengalaman, pengamatan, imajinasi, pendapat, dan keyakinan dengan menggunakan media tulis sebagai alatnya. Menyusun sebuah karangan bukanlah hal yang mudah. Adakalanya siswa memiliki pengetahuan, gagasan, dan ide yang luas, namun sangat susah menuangkannya dalam bentuk tertulis. Siswa kadang tidak mampu merangkai kata-kata untuk membentuk sebuah paragraf, apalagi wacana. Siswa kadang kurang menyadari hubungan antara kalimat yang satu dengan kalimat yang lain. Akhirnya, sering ditemukan beberapa kalimat sumbang. Kalimat sumbang dalam sebuah paragraf dapat menimbulkan kekaburan makna atau isi sebuah karangan. Sebaliknya, sebuah karangan akan lebih mudah dipahami jika kalimat-kalimatnya tersusun rapi, jelas kohesi dan koherensi antara kalimatnya.

Sebuah tulisan pada dasarnya merupakan perwujudan hasil penalaran siswa. Penalaran ini merupakan proses pemikiran untuk memperoleh ide yang logis berdasarkan avidensi yang relevan. Penalaran ini terutama terkait dengan proses penafsiran fakta sebagai ide dasar untuk dikembangkan menjadi tulisan. Setiap penulis harus dapat menuangkan pikiran atau gagasannya secara cermat ke dalam tulisannya. Salah satu cara yang dapat digunakan untuk memunculkan ide adalah dengan curah gagasan. Curah gagasan digunakan untuk menuntun siswa mengembangkan idenya berdasarkan fakta yang ada di sekitar siswa atau peristiwa yang pernah dialami siswa.

Selain itu, untuk memperoleh bahan informasi atau bahan yang akan ditulis oleh siswa, salah satu cara yang dapat dilakukan adalah menuntun siswa mencermati suatu bentuk teks dan menyajikannnya kembali dalam bentuk teks yang berbeda, misalnya dari teks wawancara menjadi karangan narasi . Hal itu merupakan salah satu kompetensi dasar menulis yang diharapkan dan dimiliki oleh siswa kelas VII SMP sebagai hasil dari pembelajaran menulis, yaitu kemampuan mengubah jenis tulisan (wacana) yang satu ke jenis tulisan (wacana) yang lain, termasuk pengubahan teks wawancara yang berbentuk dialog ke dalam bentuk wacana yang berbentuk monolog, seperti karangan narasi .

Wawancara dengan narasumber merupakan salah satu sumber informasi yang aktual. Mewawancarai seseorang merupakan salah satu teknik untuk memperoleh informasi sebagai bahan tulisan. Hasil wawancara dapat diubah dan disajikan dalam bentuk paragraf-paragraf. Paragraf-paragraf tersebut selanjutnya disusun menjadi sebuah tulisan yang utuh.

Keberhasilan pembelajaran menulis karangan narasi juga ditentukan oleh faktor lingkungan dan iklim pembelajaran. Pada dasarnya dalam melaksanakan pembelajaran faktor lingkungan dan iklim pembelajaran pun haruslah menarik dan menyenangkan dari segi psikologis peserta didik. Ada kecenderungan dewasa ini untuk kembali pada pemikiran bahwa anak akan belajar lebih baik jika diciptakan belajar alamiah. Belajar akan lebih bermakna jika anak mengalami hal yang dipelajarinya, bukan mengetahuinya. Pembelajaran yang berorientasi target penguasaan materi terbukti berhasil dalam kompetensi mengingat jangka pendek, tetapi gagal dalam membekali anak memecahkan persoalan dalam kehidupan jangka panjang. Hal ini dikemukakan pula oleh Iis Handayani (2007:2) dalam skripsinya yang berjudul Pembelajaran Karangan Narasi Sugestif dengan Strategi Field-Trip (karyawisata) berdasarkan Pengalaman Pribadi Siswa Kelas VII SMP Negeri 1 Lembang Tahun Ajaran 2006/2007 menunjukkan bahwa berdasarkan pengamatan di SMPN 1 Lembang masih banyak siswa yang belum menguasai ke empat keterampilan berbahasa terutama keterampilan menulis. Siswa merasakan kesulitan menuangkan ide-ide karena keterbatasan penguasaan kosakata siswa juga merasakan situasi pembelajaran menulis yang membosankan. Pembelajaran menulis yang sering diterapkan pada siswa sekadar teori saja dan selalu terfokus di dalam kelas. Hal ini mengakibatkan siswa tidak mau berlatih dan malas menulis.

Ike Febrika (2009:1) dalam skripsinya yang berjudul Peningkatan Keterampilan Menulis Karangan Narasi dengan Menggunakan Metode Konstruktivisme (Penelitian Tindakan Kelas Pada Siswa kelas VII SMP N 12 Bandung Tahun Ajaran 2008/2009) menunjukkan bahwa siswa pada umumnya kurang menguasai bahkan tidak tahu sama sekali tentang karangan narasi. Siswa masih bingung membedakan berbagai jenis karangan. Untuk memulai menulis pun siswa masih kesulitan. Banyak alasan yang muncul mulai dari menemukan ide sampai bingung harus memulai tulisan dari mana.

I ketut Adnyana Putra dalam jurnal Pendidikan dan Pengajaran (2003:73) menyatakan bahwa penggunaan media, lebih-lebih media gambar berseri dalam pembelajaran keterampilan menulis narasi, akan dapat memotivasi siswa dalam proses pembelajaran. Sebagaimana yang dinyatakan Gagne (1988), gambar-gambar bisa memberikan motivasi belajar, walaupun bukan satu-satunya. Sejalam dengan pernyataan tersebut, Wright (1992) mengatakan bahwa gambar memiliki beberapa peran di dalam keterampilan seperti dapat memotivasi siswa, berkontribusi terhadap konteks bahasa yang digunakan, dapat digunakan untuk menjelaskan secara objektif atau menginterpretasikan, dan dapat memberikan informasi.

Syukur Heryasumirat dalam jurnal yang berjudul upaya peningkatan keterampilan Menulis Narasi Melalui Metode Kerja Kelompok Pada Pembelajaran Bahasa Indonesia Di kelas x TKJ2 smk negeri i cibinong kabupaten bogor menyatakan Salah satu metode pembelajaran yang diharapkan dapat meningkatkan keterampilan menulis narasi pada siswa adalah dengan menerapkan metode kerja kelompok dalam pembelajaran Bahasa Indonesia. Penelitian ini dilaksanakan di SMKN I Cibinong Kabupaten Bogor dengan waktu penelitian yang penulis lakukan dimulai sejak bulan Januari 2009 sampai dengan Maret 2009. Penggunaan metode pembelajaran dan penjelasan dapat meningkatkan pemahaman siswa terhadap materi pelajaran. Bimbingan dan pemberian contoh mendorong siswa lebih aktif dalam belajar. Keberanian siswa dalam menjawab soal dan latihan-latihan.

Pendekatan kooperatif merupakan salah satu model pembelajaran yang berorientasi pada masyarakat belajar (learning community) yang menganggap bahwa siswa lebih mudah menentukan dan memahami konsep-konsep yang sulit jika mereka saling mendiskusikan masalah tesebut dengan temannya. Hal ini dapat membantu para siswa meningkatkan sikap positif siswa terhadap pembelajaran keterampilan menulis, khususnya menulis karangan narasi . Hasil pembelajaran melalui pembelajaran kooperatif diharapkan mampu memberikan pengalaman bermakna sehingga sukar dilupakan oleh siswa. Melalui pembelajaran ini, siswa akan terlatih berpikir dan menghubungkan hal yang mereka pelajari dengan situasi dunia nyata sehingga menjadi pembelajar yang otonom dan mandiri.

Berdasarkan permasalahan di atas peneliti bermaksud mengadakan penelitian yang berjudul PENINGKATAN KOMPETENSI MENULIS KARANGAN NARASI FAKTUAL DENGAN METODE CURAH GAGASAN (Penelitian Tindakan Kelas pada Siswa Kelas VII-L SMP Negeri X)

1.2 Rumusan Masalah
Perumusan masalah dalam penelitian adalah titik tolak yang penting agar hendak dikajinya memperoleh sasaran yang tepat dan terarah sesuai dengan tujuan yang diharapkan. Adapun perumusan masalah yang penulis ambil diantaranya sebagai berikut.
1) Bagaimana perencanaan pembelajaran menulis karangan narasi faktual dengan menggunakan metode curah gagasan?
2) Bagaimana pelaksanaan pembelajaran menulis karangan narasi faktual dengan menggunakan metode curah gagasan?
3) Bagaimana hasil pembelajaran menulis karangan narasi faktual dengan menggunakan metode curah gagasan?

1.3 Pemecahan Masalah
Rencana tindakan yang akan dilakukan untuk memecahkan masalah penelitian adalah penerapan metode curah gagasan yang mengikuti langkah-langkah sebagai berikut:
a. Tahap 1, guru memberi pemahaman awal kepada siswa tentang cara melakukan wawancara/mengajukan pertanyaan sederhana untuk menggali hal-hal yang pernah dialami siswa lain, lalu mengubah hasil tanya jawab (dialog) tersebut menjadi bentuk monolog yang bersifat narasi.
b. Tahap 2, siswa di bawah bimbingan guru menetapkan tema materi wawancara, tetapi diberi kebebasan untuk mengembangkan sendiri pertanyaan-pertanyaan yang akan diajukan dalam wawancara. Alternatif tindakan untuk tahap ini adalah siswa di bawah bimbingan guru menetapkan tema materi wawancara, yaitu "tokoh idola", lalu bersama-sama melakukan curah gagasan (Brainstorming) untuk menyusun pertanyaan-pertanyaan yang akan diajukan dalam wawancara.
c. Tahap 3, setiap siswa dalam setiap kelompok membuat karangan narasi dengan mengembangkan teks hasil wawancara yang telah dibuatnya. Jika dianggap informasi yang diperoleh belum lengkap, siswa dapat bertanya kepada narasumbernya.
d. Tahap 4, karangan siswa dipertukarkan untuk dinilai atau dikoreksi oleh teman sekelompoknya dengan menggunakan pedoman penilaian karangan narasi, lalu karangan tersebut dikembalikan kepada pemiliknya untuk disempurnakan.
e. Tahap 5 setiap kelompok mengunjungi, menilai, dan memilih karya yang dianggap terbaik dengan aturan:
1) kelompok pada baris bangku I mengunjungi kelompok pada baris III;
2) kelompok pada baris bangku II mengunjungi kelompok pada baris IV;
3) kelompok pada baris bangku III mengunjungi kelompok pada baris II;
4) kelompok pada baris bangku IV mengunjungi kelompok pada baris I
f. Tahap 6, pemberian penghargaan terhadap karya siswa yang terbaik.

1.4 Tujuan dan Manfaat Penelitian
1.4.1 Tujuan penelitian
Adapun tujuan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :
1) Mendeskripsikan perencanaan pembelajaran menulis karangan narasi faktual dengan menggunakan metode curah gagasan
2) Mendeskripsikan pelaksanaan pembelajaran menulis karangan narasi faktual dengan menggunakan metode curah gagasan
3) Mendeskripsikan hasil pembelajaran menulis karangan narasi faktual dengan menggunakan metode curah gagasan
1.4.2 Manfaat Penelitian
Hasil penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat untuk hal-hal berikut :
a. Manfaat teoretis, penelitian ini diharapkan dapat mengembangkan teori yang telah ada yaitu metode curah gagasan.
b. Bagi peneliti, sebagai bahan masukan atau pengalaman dalam melakukan penelitian tindakan kelas, khususnya yang terkait dengan cara meningkatkan kompetensi mengubah hasil wawancara menjadi karangan narasi siswa kelas VII-L SMP Negeri X dengan metode curah gagasan.
c. Bagi guru, sebagai bahan masukan tentang cara menerapkan curah gagasan untuk meningkatkan kompetensi mengubah hasil wawancara menjadi karangan narasi siswa kelas VII-L SMP Negeri X.
d. Bagi siswa, yaitu melatih siswa untuk berpikir kritis, kreatif, inovatif; meningkatkan motivasi dan rasa kesetiakawanan sosial siswa; menumbuhkan kebiasaan dan mengembangkan kemampuan siswa dalam menulis.

1.5 Definisi Operasional
Agar tidak menimbulkan kesalahan dalam penafsiran judul penelitian dan rumusan masalah, maka penulis membuat definisi operasional yang merupakan penjelasan dari istilah-istilah yang terdapat di dalam judul dan rumusan masalah penelitian ini.
Definisi operasional istilah-istilah judul rumusan masalah penelitian sebagai berikut:
1) Peningkatan kompetensi menulis adalah proses atau cara untuk meningkatkan salah satu berbahasa khususnya menulis.
2) Karangan Narasi faktual adalah bentuk wacana yang berusaha menyajikan sesuatu peristiwa atau kejadian sehingga peristiwa itu tampak seolah-olah dialami sendiri oleh para pembaca.
3) Metode Curah Gagasan (Brainstorming) adalah suatu metode untuk melahirkan ide dengan cara siswa diminta untuk memunculkan ide sebanyak mungkin yang berhubungan dengan topik yang menjadi sumber untuk dijadikan petunjuk ketika mengembangkan kalimat atau paragraf.

Posted by: Admin Indeks Prestasi Updated at: 06:29:00

UPAYA MENINGKATKAN KETERAMPILAN BERBICARA MELALUI TEKNIK BERCERITA

SKRIPSI PTK UPAYA MENINGKATKAN KETERAMPILAN BERBICARA MELALUI TEKNIK BERCERITA DI KELAS V (MATA PELAJARAN : BAHASA INDONESIA) – (SD KELAS V)

A. Latar Belakang Masalah
Pentingnya pelajaran bahasa Indonesia di sekolah dasar sudah tidak diragukan lagi, megingat bahasa Indonesia merupakan bahasa nasional Negara Republik Indonesia, juga sebagai bahasa pemersatu di Indonesia. Selain itu, bahasa Indonesia sangat mudah dipelajari dari mulai anak usia dini sampai orang dewasa.

Kesadaran akan pentingnya pelajaran bahasa Indonesia di sekolah-sekolah menuntut guru untuk lebih memperkenalkan bahasa Indonesia sebagai bahasa ibu di negeri sendiri dan lebih mempopulerkan bahasa Indonesia dengan cara menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar sebagai bahasa sehari-hari.

Untuk itu, pemerintah melalui Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP, 2006) memberikan standar kemampuan yang harus dicapai oleh siswa dari mulai tingkat sekolah dasar sampai tingkat menengah ke atas, kemudian dapat dikembangkan oleh guru untuk lebih meningkatkan keterampilan berbahasa siswa.

Keterampilan berbahasa meliputi keterampilan mendengarkan (menyimak), membaca, berbicara, dan menulis. Oleh karena itu, dapat dipahami bahwa untuk pembelajaran bahasa Indonesia lebih dititikberatkan pada performansi berbahasa daripada sekedar memiliki pengetahuan tentang kebahasaan, yakni berupa unjuk kerja mempergunakan bahasa dalam konteks tertentu sesuai dengan fungsi komunikatif bahasa.

Tarigan (1983:1) mengungkapkan keterampilan berbahasa dalam bahasa Indonesia meliputi empat aspek, yaitu menyimak, berbicara, membaca, dan menulis. Keempat aspek tersebut disebut juga sebagai "catur tunggal" keterampilan berbahasa, karena keempat aspek tersebut merupakan satu kesatuan, saling berhubungan, dan tidak bisa dilepaskan, namun berbeda antara satu dengan yang lainnya dan juga berbeda dari segi prosesnya.

Pelajaran bahasa Indonesia dewasa ini ditujukan pada keterampilan siswa menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar dengan konteksnya atau bersifat pragmatis. Dengan kata lain, secara pragmatis-komunikatif bahasa Indonesia lebih merupakan suatu bentuk performansi daripada sebagai suatu sistem ilmu. Pandangan ini membawa konsekuensi bahwa pembelajaran bahasa Indonesia harus lebih menekankan fungsi bahasa sebagai alat komunikasi daripada pembelajaran tentang ilmu atau pengetahuan kebahasaan.

Namun kenyataan di lapangan, kemampuan berbahasa Indonesia terutama keterampilan berbicara siswa sekolah dasar, tepatnya siswa kelas V (lima) SDN X Kabupaten Y masih rendah. Hal ini dilihat dari masih rendahnya nilai bahasa Indonesia siswa (sekitar 71 % siswa yang memperoleh nilai bahasa Indonesia di bawah KKM), siswa terbiasa menggunakan bahasa daerah (bahasa Sunda), malu untuk berbicara di depan kelas, dan materi pembicaraan yang belum dikuasai siswa.

Tampak pada saat pembelajaran berlangsung, siswa hanya duduk dan mendengarkan penjelasan dari guru tidak berani mengajukan pertanyaan apalagi mengeluarkan pendapat. Ketika guru memberi kesempatan kepada siswa untuk bertanya atau berkomentar siswa hanya diam, tidak jelas sudah mengerti atau belum. Tidak hanya itu, ketika siswa diminta untuk menceritakan pengalaman pribadi di depan kelas, masih tampak kesulitan, bahkan ada siswa yang sama sekali tidak berbicara sepatah kata pun saat diminta untuk bercerita di depan kelas.

Hal ini menjadi suatu acuan untuk memperbaiki pembelajaran bahasa Indonesia di sekolah dasar dalam hal ini kelas V (lima) SDN X Kabupaten Y agar anak memiliki perbendaharaan kata yang banyak sehingga siswa memiliki keberanian untuk mengungkapkan ide, pikiran, pendapat serta mudah dalam mengkomunikasikan perasaan maupun pengalaman pribadi. Selain itu, Siswa diharapkan terbiasa menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar.

Banyak upaya yang dapat dilakukan untuk memperbaiki pembelajaran bahasa Indonesia terutama dalam keterampilan berbicara. Salah satunya melalui bercerita. Bercerita dianggap cocok diterapkan dalam pembelajaran Bahasa Indonesia untuk meningkatkan keterampilan berbicara siswa dengan alasan :
1. Bercerita memberikan pengalaman psikologis dan linguistik pada siswa sesuai minat, tingkat perkembangan dan kebutuhan siswa sekaligus menyenangkan bagi siswa,
2. Bercerita dapat mengembangkan potensi kemampuan berbahasa siswa melalui pendengaran kemudian menuturkannya kembali dengan tujuan melatih ketrampilan siswa dalam bercakap-cakap untuk menyampaikan ide dalam bentuk lisan,
3. Bercerita merupakan kegiatan yang menyenangkan dan tidak membosankan,
4. Bercerita memberikan sejumlah pengetahuan dan pengalaman,
5. Siswa aktif.

Seperti yang diungkapkan Susilawani, D. (2009) manfaat bercerita meliputi : menjadi fondasi dasar kemampuan berbahasa, meningkatkan kemampuan komunikasi verbal, meningkat kemampuan mendengar, mengasah logika berpikir dan rasa ingin tahu, menanamkan minat baca dan menjadi pintu gerbang menuju ilmu pengetahuan, menambah wawasan, mengembangkan imajinasi dan jiwa petualang, mempererat ikatan batin orang tua dan anak, meningkatkan kecerdasan emosional, dan alat untuk menanamkan nilai moral, etika, dan membangun kepribadian.

Mengingat begitu pentingnya keterampilan berbicara sebagai salah satu kemampuan dalam gagasan atau pesan secara lisan serta masih rendahnya kemampuan berbahasa siswa kelas V (lima) SDN X Kabupaten Y terutama dalam aspek berbicara, maka penulis memandang perlu untuk melakukan penelitian dengan mengambil judul "Upaya meningkatkan keterampilan berbicara melalui teknik bercerita di SDN X Kabupaten Y" (Penelitian Tindakan Kelas terhadap siswa kelas V (lima) SDN X Kabupaten Y).

B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah yang telah diuraikan, maka secara umum penulis merumuskan masalah penelitian sebagai berikut: "Bagaimanakah upaya meningkatkan keterampilan berbicara melalui teknik bercerita di SDN X Kabupaten Y? (Penelitian Tindakan Kelas terhadap siswa kelas V (lima) SDN X Kabupaten Y)
Untuk memperjelas masalah, maka permasalahan di atas dijabarkan ke dalam beberapa pertanyaan berikut:
1. Bagaimanakah mempersiapkan dan melaksanakan pembelajaran bahasa Indonesia dengan menggunakan teknik bercerita di kelas V (lima) SDN X Kabupaten Y?
2. Apakah teknik bercerita dapat meningkatkan keterampilan berbicara pada siswa kelas V (lima) SDN X Kabupaten Y?
3. Hambatan atau kesulitan apakah yang dihadapi guru dan siswa dalam melaksanakan teknik bercerita dalam pembelajaran bahasa Indonesia di kelas V (lima) SDN X Kabupaten Y?

C. Tujuan Penelitian
Secara umum penelitian ini bertujuan mengetahui gambaran secara umum tentang teknik bercerita dalam meningkatkan keterampilan berbicara siswa kelas V (lima) SDN X Kabupaten Y.
Secara khusus penelitian ini bertujuan untuk :
1. Mengetahui gambaran secara umum mengenai persiapan dan pelaksanaan pembelajaran bahasa Indonesia dengan menggunakan teknik bercerita di kelas V (lima) SDN X Kabupaten Y
2. Mengetahui hasil yang diperoleh dari teknik bercerita dalam meningkatkan keterampilan berbicara pada siswa kelas V (lima) SDN X Kabupaten Y
3. Mengetahui hambatan atau kesulitan apakah yang dihadapi guru dan siswa dalam melaksanakan teknik bercerita dalam pembelajaran bahasa Indonesia di kelas V (lima) SDN X Kabupaten Y.

D. Manfat Penelitian
Hasil dari penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat bagi:
1. Guru
Memberikan kajian dan informasi tentang teknik bercerita untuk meningkatkan keterampilan berbicara siswa sehingga pembelajaran bahasa Indonesia dapat lebih menyenangkan dan bermakna serta kualitas pembelajaran bahasa Indonesia lebih meningkat.
2. Siswa
Memberikan pengetahuan dan pengalaman kepada siswa sehingga siswa memiliki wawasan, dapat tampil lebih percaya diri, terutama keterampilan berbicara siswa lebih meningkat.
3. Peneliti selanjutnya
Dapat dijadikan data awal untuk melakukan penelitian lebih lanjut yang relevan terhadap variabel-variabel yang belum tersentuh dalam penelitian ini

E. Penjelasan Istilah
Untuk menghindari kekeliruan dalam memahami konsep-konsep utama yang digunakan dalam penelitian ini, berikut dijelaskan konsep-konsep utama tersebut.
1. Keterampilan berbicara
Keterampilan berbicara dalam penelitian ini diarahkan pada kemampuan Berbicara, meliputi pelafalan dan intonasi, pilihan kata/kosa kata, dan struktur kata. Isi cerita, meliputi hubungan isi cerita dengan topik, struktur isi cerita dan kualitas isi cerita. Penampilan, meliputi gerak-gerik & mimik, dan volume suara.
2. Teknik bercerita
Teknik bercerita dalam penelitian ini diarahkan pada kemampuan anak menceritakan pengalaman/kejadian dengan urut, menceritakan kembali isi buku cerita secara urut, dan bercerita tentang gambar dengan urut dan bahasa yang jelas.

F. Hipotesis Tindakan
Melalui teknik bercerita diharapkan dapat meningkatkan keterampilan berbicara siswa kelas V (lima) SDN X Kabupaten Y.

G. Metode Penelitian
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian deskriptif berupa Penelitian Tindakan Kelas (PTK) atau Classroom Reaserch dengan pendekatan kualitatif. Sedangkan teknik pengurupulan data yang penulis gunakan adalah tes lisan dan observasi.

Posted by: Admin Indeks Prestasi Updated at: 23:01:00

THE COOPERATIVE LEARNING THREE-STEP INTERVIEW TOWARDS STUDENTS SPEAKING ABILITY

SKRIPSI THE COOPERATIVE LEARNING THREE-STEP INTERVIEW TOWARDS STUDENTS SPEAKING ABILITY

1. Background
English language teaching, for more than six decades of research and practice, has identified the four skills—listening, speaking, reading, and writing—as the most important parameter in the textbooks or curriculum development. The textbook or curricula used tends to focus on one or two of the four skills (Brown, 2001). The teaching process above is used in the English language teaching from elementary to the high school curriculum development.

In fact, many senior high school students still cannot explain certain procedure fluently in English when they are asked to do or make something. So, the teacher should be smart to choose an approach or technique of teaching that is suitable with the condition and the needs of the students. As a result, the goal of teaching and learning can be achieved. Therefore, this issue has become a dilemma for most English curriculum developers in finding the best approach to teach English in order to enable the students' competence to communicate in English both spoken and written successfully (Burkart, 1998).

Cooperative learning is a teaching strategy in which small teams, each with students of different levels of ability, use a variety of learning activities to improve their understanding of a subject. Each member of a team is responsible not only for learning what is taught but also for helping teammates learn, thus creating an atmosphere of achievement. Students work through the assignment until all group members successfully understand and complete it (Kagan, 1994).

A three-step interview is defined as a cooperative learning technique which enables and motivates members of the group to acquire certain concept deeply by students' role. It is an adaptable process in the classroom. The aim of this technique is to gather students in a conversation for analysis purpose and new information synthesis (Kagan, 1994).

Regarding to the explanation above, there should be a technique which is effective to improve student's mastery of English language, especially speaking ability. Due to what most English teachers of senior high school deliver the materials which is dominated by grammar focus, students cannot speak fluently because lack of practice and use of spoken English itself. In line with it, this study is expected to prove whether a cooperative learning : three-step interview is effective to improve students' speaking ability.

2. Reasons for Choosing the Topic
The researcher chose this topic to examine the effectiveness of the cooperative learning : three-step interview in improving students' achievement especially on active speaking ability. So far as the researcher knew that there had not been a study about this issue. This study would be undertaken through experimental study.

To measure the effectiveness of Three-Step Interview in this research, the writer would use speaking test as the research instrument. Florezz & Cunningham (1999) state that speaking is one the important skills in language learning. Inside the classroom, it is used twice as often as listening and the most often used skill (Brown, 2001).

In line with it, Dawson (1975) states that speaking is truly basic skill in language learning. Oral language or speaking is truly basic in the preschool. Furthermore, speaking is basic because in the everyday affairs of life, it is used more frequently than written communication. Moreover, speaking is fundamental aspect of spoken language that similar to those of written communication. However, people speak first instead of both reading and writing.

On the other hand, three-step interview is still rarely used in the English teaching process. It can be an alternative strategy instead of classical teaching model. This technique would be tried to be applied to the students of senior high school and whether it was effective or not to improve their ability on active speaking.

3. Statement of the Problem
In relation with the importance of speaking in learning new language and also because of speaking can be one of the factors that determine someone success in learning the language, so this study was intended to find out the cooperative learning : three-step interview towards student's speaking ability. The research questions will be directed to :
1. Is the cooperative learning : three-step interview effective to improve senior high school students' speaking ability?
2. To what extent the cooperative learning : three-step interview is effective in teaching speaking?

4. Scope of the Study
The main concern in this study was regarding how the cooperative learning : three-step interview could be carried out and used to the students of senior high school. The three-step interview itself was used for the treatment in the experimental group.
In testing speaking, there would be four aspects that were going to be tested : pronunciation, vocabulary, fluency, and procedural generic structure (grammar) which covered present tense, imperative sentence, cause and effect, and sequencing. The tests would be conducted to the both experimental and control groups.
Furthermore, it would be very interesting to go along this process of English teaching-learning technique. Any aspects or cases could be possibly investigated during this study, but this study was designed to cover the three-step interview applied in SMAN X only. Specifically, it investigated whether the three-step interview technique effective or not in improving student's speaking ability.

5. Aims of the Study
Particularly, the study has some aims as follows.
1. To find out the use of cooperative learning : three-step Interview towards student's speaking ability.
2. To explore the extent of the cooperative learning : three-step interview in teaching speaking

6. Significance of the Study
The study is expected to :
1. Contribute to the English as Foreign Language (EFL) teaching model of the institution and the practice of foreign language teaching.
2. Develop student's and teacher's creativity in comprehending speaking skill.

7. Hypothesis
The most common hypothesis that is used in experimental study is null hypothesis (Hatch & Farhady, 1982 : 85-86), which states that there is no difference between the sample and the population after receiving a special treatment. Therefore, this study put forward the null hypothesis as follows. "There is no difference between students' speaking ability in control and experimental groups after being given a Three-Step Interview."

8. Organization of the Paper
The paper is organized into five chapters as follows :
Chapter I : Introduction
This section contains introduction, which discusses background, reasons for choosing the topic, statement of the problem, scope of the study, aims of the study, significance of the study, hypothesis, organization of the paper, and clarification of the terms.
Chapter II : Theoretical Foundation
It contains theoretical foundation, which serve as the basis for investigating the research problems. The theoretical foundation covers the description of The cooperative learning : three-step interview towards Student's Speaking Ability.
Chapter III : Research Methodology
In this section, the researcher discusses the method and procedure of the study.
Chapter IV : Findings and Discussions
This chapter reports the findings and discussions of the study.
Chapter V : Conclusions and Suggestions
This chapter reports the conclusions and suggestions of the study.

9. Clarification of the Terms
The researcher will review several terms related to the study. The terms are :
1. Cooperative Learning is a learning model where students work in small group consists of six members collaboratively and the structure of group is heterogeneous (Slavin, 1995).
2. Three-Step Interview is a learning model in which consists of four members of students signed A, B, C, and D. Each member chooses another member to be a partner. During the first step individuals interview their partners by asking clarifying questions. During the second step partners reverse the roles. For the final step, members share their partner's response with the team (Kagan, 1994).
3. Speaking ability is a productive skill in oral mode (C.J. Orwig, 1991 : 1). It can also be defined as student's competence in producing oral mode.

Posted by: Admin Indeks Prestasi Updated at: 22:59:00

A DESCRIPTIVE STUDY ON CLASSROOM INTERACTION OF ENGLISH TEACHING-LEARNING PROCESS IN THE LARGE CLASSES OF THE FIRST YEAR STUDENTS IN SMA X

SKRIPSI A DESCRIPTIVE STUDY ON CLASSROOM INTERACTION OF ENGLISH TEACHING-LEARNING PROCESS IN THE LARGE CLASSES OF THE FIRST YEAR STUDENTS IN SMA X

A. Background of the Study
Language teaching is a complex activity, and that this complexity derives primarily from the diversity of perceptions and the goals of the various participants who play a role in the teaching learning process (Tudor, 2001 : 43). Indeed, if all participants have the same perceptions about the nature and the goal of language teaching, teaching would be much clearer and easier to be undertaken than it generally is. By so doing, there would be no gap between the teacher and students. Thus, language teaching can be understood in term of interactions of different rationalities of the teacher and students rather than enactment of a single rationality.

Classroom, as stated by Gaies in Amy B.M. Tsui's book in tittled "Introducing Classroom Interaction", is called as 'crucible' in which elements interact. These elements are the teacher and the students (1995 : 5). Then Allwright and Bailey (1996 : 18) also aids that students also bring with them to the classroom their whole experience of learning and of life, along with their own reasons for being there, and their own particular needs that they hope to see satisfied. The teacher brings experience of life and learning, and of teaching too.

In the classroom, the place where the teaching-learning process is undertaken, there are a variety of different potential perspectives of the nature and the goals of language teaching meet and interact. Hence, it can be an important factor to reach the goal of the instruction (Tudor, 2001 : 47). Besides, Val Lier also stated that there are greater attentions in educational teaching that language learners should have effective involvement to practice their communicative skill because language is a means of communication and self-expression. That is a medium by which members of a speech community express concepts, perceptions, expectations, and values which have significance to them as members of a speech community. In other word, classroom can be a place where students can express their personal problems and concerns. Within this perception, the classroom is conceptualized to create a condition where students can improve their ability in learning English that is for using the English for the real communication. And even, classroom itself is a part of the real world of students as individuals and social actors. Then, communication is not just something that happens "out there" but also process which occurs in the social environment, which we call the classroom (p. 115).
In adition, William Littlewood (1981 : 93) also states that :

"The development of communicative skills can only take place if learners have motivation and opportunity to express their own identity and to relate with the people around them. It therefore, requires a learning atmosphere which gives them a sense of security and valves as individuals. In turn, this atmosphere depends to a large extent on the existence of interpersonal relation slips which do not create inhibition, but are supportive and accepting"

With these visions of the classroom, there should be an effective interaction between teacher and students, and among students themselves in improving their knowledge and skills for the use at some stage in the future. Coleman (1996 : 88) also states that language teaching needs improvement of using English as the target language. Therefore, the successful realization of the language for communication depends on the genuine students' involvement in the relevant teaching learning activity.

For achieving the visions as the writer states above, good atmosphere of teaching-learning process is very required, especially in the English classroom where the dynamic interaction of teacher and students in the class is implemented, where the network of shared meaningfulness, which binds together in the mind of teacher and students emerges (Tudor, 2001 : 45).

In the large class, however, where the number of students and a range of factors such as the rapport of the classroom's participants, physical condition and seating become a problem, to get dynamic conditions of teaching-learning process is far from the ideal. Therefore, it is a big challenge to organize the classroom in order to create an effective language classroom interaction for the teaching-learning process.

Wagner (p.234), then also says "I should get every learner to talk much more, but that is impossible with 30 learners in my class". Therefore, for creating an interactive learning process between teacher and her/his students, innovations in teaching English are very much needed.

In such classes too, it will be unrealistic to expect more than a blackboard and a supply of chalk. The rows of heavy desk would be a constraint on group work, and coping with the noise, persuading the class to use English, managing the introduction and setting up of activities, making limited resources go a long way, and monitoring the work of individual within the class will also be management problems (David Cross, 1995 : 5).

Hence, the writer tends to know whether there is a dynamic process of teaching and learning in the classroom or not. Thus, as a place of communication, language classroom should become a place which would allow all students to practice the communicative skills that they would need to use in the real interactive situations outside the classroom. Besides, the real students' involvement in the relevant learning activities / the assumptions that students should be more active and participatory is the parameter of successful realization of an experiential approach to language learning. Therefore, it becomes a big attention to the writer (Tudor, 2001 : 113).

To the classroom, students will come with certain expectations as to what a good classroom should be, and of the role the teacher plays within it. They also expect the teacher to have something solid to offer them the terms of professional knowledge and experience of language learning options (p. 110). Here, the teacher does play an important role. A good teacher therefore, is one who can breathe life into methodological procedures in pursuit of the learning objectives set out in the curriculum. Whereas the student role is defined as the nature of students' participation in the classroom : their participation is therefore channeled through the assumptions about the nature of language and of language learning found in the methodological being used (p. 106). In addition, the relationship between the teacher and the students also becomes the light for the writer to conduct the research.

In order to know more about classroom interaction of English teaching-learning process in the large classes, a descriptive method is suitable to be conducted because it looks deep at the relationship between teacher and students in the form of classroom interaction, that is when the teacher asks question, give explanation, feedback, error treatment and when the students listen to the teacher's instruction and explanations, when they express their views, answer questions and carry out the tasks and activities, etc. Besides that, it is also aimed to know the opportunities of the students' involvement for practicing their knowledge and skills in the teaching-learning process, the role of the teacher and the students in the classroom, and also to know the effectiveness of English teaching-learning process. In addition, its qualitative, interpretive nature helps the writer to realize this complexity in perspective. In short, a descriptive research is very important to help the writer understand the view of those problems and find route through it.

From the description above, the writer is interested in carrying out the study on "A Descriptive Study on Classroom Interaction of English Teaching-Learning Process in the Large Classes of The First Year Students in SMAN X"

B. Identification of The Problem
Having given the background of the study, the writer would like to identify the problems as follows :
1. How is the form of classroom interaction in the large classes?
2. How are the teacher talk and the students talk in the large classes?
3. How are the opportunities of the students in the front zone and in the back zone of large classes?
4. How is the atmosphere of English teaching-learning process in the large classes?
5. Does the teacher encourage the students to engage in the English teaching learning process?
6. Are the students actively involved in the English teaching-learning process?
7. How is the rapport between the teacher and the students in the classroom interaction in large classes?
8. How are the teacher and the student role in the classroom interaction of large classes?

C. Limitation of The Problem
The study has a broad scope and it is impossible for the writer to handle all of the problems. Therefore, the writer limits the study as follows :
1. The form of Classroom Interaction in large classes of the first students in SMAN X.
2. The opportunity of the students in the front zone and in the back zone of large classes of the first students in SMAN X.
3. The rapport between teacher and students in the classroom interaction in large classes of the first students in SMAN X.
4. The teacher and students role in the classroom interaction of large classes of the first students in SMAN X.

D. Problem statement
Based on the problem limitation above, the problem statement in "a Descriptive Study on The Classroom Interaction of English Teaching Learning Process in Large Classes of The First Year Students SMAN X" is as follows :
1. How is the form of Classroom Interaction in large classes of the first students in SMAN X?
2. How are the opportunities of the students in the front zone and in the back zone of large classes of the first students in SMAN X?
3. How is the rapport between teacher and students in the classroom interaction in large classes of the first students in SMAN X?
4. How are the teacher and students role in the classroom interaction of large classes of the first students in SMAN X?

E. The Purpose of The Study
The research is conducted to describe the classroom interaction of English teaching-learning process in large classes of the first year students in SMAN X. The implication in this research includes the form of classroom interaction, the students' opportunity in teaching-learning process, the rapport between teacher and students, and also the student and teacher role in the process of teaching-learning process. Furthermore, it is also aimed to know more about the effectiveness of English teaching-learning process in the large classes, that is by describing the weakness and the strength of the classroom activities.

F. The Benefit of The Study
From this study, it is expected that the results of the research can give contribution to the improvement of the effective English teaching-learning process in general.
For the English teacher, especially the teacher of SMAN X, the results of this research can be used as a reflection about all his/her duties that have been done as long. As everybody knows, the daily hard work of the teacher often becomes an obstacle to make a reflection to what they have been taught in the class. By so doing, the teacher would become more responsible to improve their teaching skills in term of being more creative, innovative, and skillful in conducting the classroom. Moreover, it is also hoped that the teacher would be able to create a very convenient classroom to study. Within these efforts, they would be escaped from the "daily mechanics" activities.
Besides, for the writer, some benefits, which can be reached from this research is that it may give many new valuable experiences in English teaching-learning process for the preparation of the future ideal. In addition, it can give deep understanding about the nature of English teaching-learning process in the large classes like what have been conducted in Indonesia as long.

Posted by: Admin Indeks Prestasi Updated at: 22:58:00