Cari Kategori

TESIS PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN KONTEKSTUAL TERHADAP PRESTASI BELAJAR BARISAN DAN DERET DITINJAU DARI KEMAMPUAN AWAL

Posted by Indeks Prestasi

(KODE : PASCSARJ-0063) : TESIS PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN KONTEKSTUAL TERHADAP PRESTASI BELAJAR BARISAN DAN DERET DITINJAU DARI KEMAMPUAN AWAL (PRODI : PENDIDIKAN MATEMATIKA)


BAB I
PENDAHULUAN


A. Latar Belakang Masalah
Matematika adalah salah satu materi pelajaran yang diajarkan mulai dari jenjang pendidikan dasar sampai pendidikan tinggi. Matematika merupakan ilmu dasar yang mempunyai peranan penting dalam perkembangan ilmu dan teknologi. Hampir semua bidang studi menggunakan materi pelajaran matematika, contohnya persamaan phytagoras dan trigonometri digunakan untuk mengukur tinggi sebuah benda yang tidak bisa diukur secara langsung seperti gunung,pohon dll, matriks digunakan pada teknik sipil yakni untuk mengkonturksi jembatan, barisan dan deret digunakan pada pelajaran menejemen perbangkan yakni untuk menghitung bunga tunggal dan bunga majemuk, serta masih banyak langi peranan matematika yang sangat bermanfaat di bidang yang lain. Disisi lain, matematika selama ini dianggap pelajaran yang sulit oleh sebagian siswa, bahkan ada siswa yang merasa takut, bosan dan tidak tertarik pada mata pelajaran ini. Hal ini dapat dibuktian dari angket yang saya sebarkan pada siswa kelas XII.IS. Dari 220 Responden diperoleh informasi bahwa 60 % mengatakan sulit dengan alasan terlalu banyak rumusnya dan banyak hitungannya, 27 % mengatakan kadang sulit dan kadang-kandang mudah, tergantung pengajarnya artinya jika gurunya pandai dalam menerangkan dan mudah dipahami siswa, maka matematika menjadi mudah dan sebaliknya jika guru kurang bisa mengajarkan materi dan sulit dipahami siswa, maka matematika menjadi sulit. Sisanya 13% mengatakan mudah, karena bisa memahami materi pelajarannya dan sering berlatih menyelesaikan soal-soal matematika. Dari data tersebut dapat disimpulkan bahwa pelajaran matematika adalah pelajaran yang cukup sulit.
Hasil belajar matematika yang telah dicapai siswa selama ini masil jauh dari harapan, walaupun usaha-usaha pemerintah untuk meningkatkan atau memperbaiki prestasi belajar matematika dalam setiap jenjang pendidikan telah banyak dilakukan, antara lain : revisi kurikulum matematika, penataran guru matematika, penyediaan sarana-prasarana pembelajaran, dan sebagainya, namun kenyataan menunjukkan bahwa prestasi belajar matematika masih rendah. Hal ini sesuai dengan kenyataan misalnya : nilai rata-rata nilai Ujian Nasional bidang studi matematika SMA Negeri Se Kabupaten X tahun 2005 /2006 adalah 5,13 dan tahun 2006/2007 adalah 5,21.
Banyak faktor yang mempengaruhi prestasi belajar siswa rendah diantaranya; Masih banyak guru yang menggunakan pola pembelajaran dimana cenderung "text book oriented" dalam arti menyampaikan materi sesuai dengan apa yang tertulis didalam buku dan tidak terkait kehidupan sehari-hari siswa. Cara pembelajaran cenderung monoton dan hanya menggunakan metode ceramah sehingga materi yang disampaikan menjadi sulit dipahami siswa. kecuali itu banyak guru mengajar dengan tidak memperhitungkan kemampuan berfikir siswa atau dengan kata lain tidak menggunakan pengajaran yang bermakna. Sebagai akibatnya motivasi belajar siswa menjadi sulit ditumbuhkan dan pola belajar siswa cenderung menghafal dan mekanistik.
Informasi yang kami peroleh dari angket yang kami ambil dari 220 responden menyebutkan bahwa prestasi belajar matematika rendah selain disebabkan oleh pelajaran matematika yang sulit juga disebabkan oleh gurunya. Guru tersebut dalam mengajarnya terlalu berbelit-belit, kadang-kadang menyimpang dari materi serta monoton. Guru tersebut dianggap kurang bisa menyampaikan materi pelajaran sehingga siswa kesulitan mentransfer pelajaran matematika. Sebaliknya ada sebagian yang mengatakan bahwa pelajaran matematika itu mudah dan mengasikkan, itu disebabkan pengajaran yang disampaikan guru terurut dan terencana, memperhatikan kondisi dan kemampuan siswa serta mampu membangkitkan semangat belajar siswa. hasil belajar yang dicapai siswa menjadi lebih baik.
Harapan yang ingin dicapai dalam tujuan pendidikan matematika seperti yang diamanatkan kurikulum adalah pengelolaan pembelajaran matematika di sekolah dapat bermakna dan dapat membuat siswa mampu menerapkan pengetahuan matematikanya dalam kehidupan sehari-hari dan bidang lain. Kegiatan pembelajaran matematikan juga diharapkan mampu membuat siswa terampil menyelesaikan masalah yang dihadapinya, baik dalam bidang metematika maupun dalam bidang yang lain. Kegiatan pembelajaran matematika juga diharapkan mampu membuat siswa berkembang daya nalarnya sehingga mampu berfikir kritis, logis, sistematis, dan pada akhirnya siswa diharapkan mampu bersikap obyektif, jujur, dan disiplin.
Menurut Pao-Nan Chou dan Ho-Huan Chen (2008: 8) dalam pembelajaran seorang guru harus mampu menciptakan kondisi pembelajaran yang dapat membangkitkan semangat belajar siswa, sehingga siswa mempunyai ketrampilan, keberanian serta mempunyai kemampuan akademik (http://www.westga.edu/~dis). Penekanan pembelajaran matematika disekolah harus relevan dengan kehidupan sehari hari, supaya pelajaran matematika yang diperoleh akan bermanfaat. Dengan demikian matematika akan mempunyai peran yang penting bagi peserta didik untuk mengaplikasikan dalam kehidupan sehari hari. Selanjutnya hal ini akan berdampak dalam menciptakan sumber daya manusia yang bermutu.
Dari beberapa karakter diatas pembelajaran yang dirasa cocok adalah model pembelajaran kontekstual. Model Pembelajaran kontekstual adalah suatu srategi pembelajaran yang menekankan kepada proses keterlibatan siswa secara penuh untuk dapat menemukan materi yang dipelajari dan menghubungkannya dengan situasi kehidupan nyata sehingga mendorong siswa untuk dapat menerapkannya dalam kehidupan mereka. ( Wina Sanjaya, 2005 : 255)
Model Pembelajaran kontekstual adalah sebuah proses pendidikan yang bertujuan menolong para siswa melihat makna di dalam materi akademik yang mereka pelajari dengan cara menghubungkan subyek-subyek akademik dengan konteks dalam kehidupan keseharian mereka, yaitu dengan konteks keadaan pribadi, sosial, dan budaya mereka.
Dari hasil angket yang Peneliti berikan kepada 220 responden yakni membandingkan model pembelajaran kontekstual dengan model pembelajaran langsung, didapatkan informasi bahwa 130 responden mengatakan lebih mudah memahami materi pelajaran matematika jika guru menyampaikan dengan model pembelajaran kontekstual, 50 responden lebih mudah dengan model pembelajaran langsung dan 40 responden mengatakan sama saja. Dari informasi ini dapat diambil kesimpulan bahwa sebagian besar siswa lebih mudah memahami materi pelajaran matematika dengan model pembelajaran kontekstual dibandingkan dengan model pembelajaran langsung.
Kemampuan awal merupakan kemampuan yang dipandang sebagai masukan (input) yang harus dimiliki siswa sebelum mendapat kemampuan dan pengetahuan baru yang lebih tinggi. Seorang siswa akan lebih mudah memahami dan mempelajari materi pelajaran baru, apabila proses belajar-mengajar didasarkan pada materi yang telah diketahui sebelumnya sehingga siswa tinggal mengembangkan kemampuan awal yang sudah dimilikinya menjadi kemampuan baru yang lebih tinggi.
Prestasi belajar siswa juga dipengaruhi oleh kemampuan awal. Kemampuan awal merupakan bekal siswa dalam menerima materi pelajaran selanjutnya. Kesiapan dan kesanggupan dalam mengikuti pelajaran banyak ditentukan oleh kemampuan awal yang dimiliki oleh siswa sehingga kemampuan awal merupakan pendukung keberhasilan belajar. Pelajaran matematika yang diberikan di sekolah telah disusun secara sistematis sehingga untuk masuk pada pokok bahasan lain, kemampuan awal siswa pada pokok bahasan sebelumnya akan dijadikan sebagai bahan pertimbangan. Dalam kegiatan belajar-mengajar, setiap materi yang disampaikan hendaknya bisa diserap oleh siswa yang berkemampuan awal rendah maupun yang berkemampuan awal tinggi
Permasalahan rendahnya prestasi belajar matematika yang sering dihadapi dalam pembelajaran di SMA adalah pada siswa -siswa jurusan Ilmu Sosial ( IS). Nilai rata-rata pelajaran matematika siswa jurusan Ilmu Sosial (IS) masih jauh dibawah dari nilai rata-rata siswa jurusan Ilmu Alam (IA). Ini terbukti pada nilai rata-rata Ujian semester ganjil tahun ajaran 2006/2007 di Kabupaten X. Nilai rata-rata siswa jurusan Ilmu Sosial (IS) adalah 6,02 sedangkan nilai rata-rata matematika jurusan Ilmu Alam (IA) adalah 6,85. Apakah rendahnya prestasi belajar matematika pada siswa jurusan ilmu sosial disebabkan oleh kemampuan awal yang tendah. Hal ini dapat dilihat dari angket yang peroleh dari 220 responden siswa jurusan ilmu sosial. 83 responden mengatakan bahwa mereka masuk program jurusan ilmu sosial karena tidak lolos pada seleksi jurusan ilmu alam. Ini disebabkan karena nilai-nilai mata pelajaran program ilmu alam yang didalamnya termasuk matematika tidak memenuhi syarat. Ini berati kemampuan awal siswa jurusan ilmu sosial lebih rendah dibanding dengan siswa jurusan ilmu alam.
Materi pelajaran matematika yang diajarkan di kelas XII ilmu sosial diantaranya; integral, program linier, matriks serta barisan dan deret. Dari keempat pokok bahasan tersebut yang paling mendukung dalam program ilmu sosial adalah barisan dan deret , alasanya adalah barisan dan deret digunakan sebagai dasar dalam menghitung buga tunggal maupun bunga majemuk pada dunia perbangkan. Pemahaman siswa pada pokok bahasan ini perlu ditingkatkan karena sangat mendukung peningkatan prestasi materi pelajaran ilmu- ilmu sosial.

B. Identifikasi Masalah
Penelitian ini dilaksanakan dalam rangka untuk memperoleh sebuah informasi dalam meningkatkan prestasi pembelajaran barisan dan deret dengan mempertimbangkan pembelajaran matematika dengan model pembelajaran kontekstual dan kemampuan awal siswa. Berdasarkan latar belakang maka masalah penelitian dapat diidentifikasikan sebagai berikut:
1. Ada kemungkinan pretasi belajar matematika rendah karena pelajaran matematika dianggap pelajaran yang sulit, sehingga banyak siswa yang tidak tertarik pada pelajaran matematika, sehingga muncul pertanyaan apakah kalau pelajaran matematika disampaikan dengan konsep pembelajaran yang menarik maka dapat meningkatkan prestasi belajar matematika. Untuk menjawab pertanyaan ini dapat dilakukan penelitian yang membandingkan pembelajaran matematika yang menggukakan media pembelajara (LCD) dengan pembelajaran matematika yang tidak menggunakan media pembelajaran
2. Ada kemungkinan prestasi belajar matematika rendah karena masih banyaknyaguru yang menggunakan model pembelajaran yang tidak mengaitkan dengan kehidupan sehari-hari siswa. Siswa sulit menerima dan memahami materi yang disampaikan guru, sehingga muncul pertanyaan apakah kalau pembelajaran yang digunakan oleh guru dengan mengaitkan dalam kehidupan sehari-hari atau kontekstual dapat meningkatkan prestasi belajar matematika siswa.
Untuk menjawab pertanyaan ini dapat dilakukan penelitian yang membandingkan pembelajaran dengan model pembelajaran langsung dengan pembelajaran yang mengaitkan dalam kehidupan sehari-hari (model pembelajaran Kontekstual).
3. Ada kemungkinan prestasi belajar matematika masih jauh dengan apa yang diharapkan, nilai rata-rata matematika masih rendah dibandingkan dengan nilai rata-rata pelajaran yang lain dikarenakan kemampuan awal yang dimiliki siswa dirasa masih rendah sehingga, sehingga muncul pertanyaan apakah jika kemampuan awal yang tinggi maka prestasi belajar matematika menjadi tinggi.
Untuk menjawab pertanyaan ini maka dilakukan penelitian yang membandingkan siswa yang berkemampuan awal tinggi dengan siswa yang berkemampuan awal rendah.

C. Pemilihan Masalah
Dari masalah-masalah yang diidentifikasi diatas, peneliti ingin melakukan penelitian yang terkait dengan permasalahan-permasalahan yang dua,dan ketiga yakni terkait dengan pembelajaran yang mengaitkan pada kehidupan sehari-hari (model pembelajaran kontekstual) dapat meningkatkan prestasi belajar siswa serta pengaruh kemampuan awal siswa terhadap prestasi belajar pada pokok bahasan barisan dan deret.
Penulis mengambil permasalahan ini mempunyai alasan bahwa keberhasilan proses belajar mengajar yang ditunjukkan dengan prestasi belajar siswa, sangat dipengaruhi oleh model pembelajaran. Model pembelajaran merupakan sarana untuk mentransfer pengetahuan dari guru ke siswa. Jika sarana untuk mentransfer pengetahuan baik dan lancer maka pengetahuan yang ditransfer akan maksimal.
Prestasi belajar siswa juga dipenagaruhi oleh kemampuan awal. Kemampuan awal merupakan bekal siswa dalam menerima materi pelajaran selanjutnya. Kesiapan dan kesanggupan dalam mengikuti pelajaran banyak ditentukan oleh kemampuan awal yang dimiliki oleh siswa sehingga kemampuan awal merupakan pendukung keberhasilan belajar. Pelajaran matematika yang diberikan di sekolah telah disusun secara sistematis sehingga untuk masuk pada pokok bahasan lain, kemampuan awal siswa pada pokok bahasan sebelumnya akan dijadikan sebagai bahan pendukung.

D. Pembatasan Masalah
Untuk mempertegas ruang lingkup masalah yang akan diteliti diadakan pembatasan masalah sebagai berikut:
1. Permasalahan yang diteliti adalah prestasi belajar matematika siswa pada pokok bahasan barisan dan deret aritmatika maupun geometri
2. Pembelajaran yang akan digunakan dalam penelitian adalah model pembelajaran kontekstual dan model pembelajaran langsung.
3. Kemampuan awal yang akan diambil adalah kemampuan yang dibutuhkan dalam pembelajaran barisan dan deret. Kemampuan tersebut adalah kemampuan dalam menyelesaikan system persamaan linier dengan subtitusi dan eliminasi, kemampuan pola bilangan berpangkat, kemampuan memfaktorkan .
4. Siswa yang diteliti adalah siswa kelas XII jurusan Sosial SMA Negeri se-Kabupaten X.

E. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah, identifikasi masalah, dan pembatasan masalah diatas, masalah dalam penelitian ini dapat dirumuskan sebagai berikut:
1. Apakah prestasi belajar siswa yang diajar dengan model pembelajaran kontekstual lebih baik dari pada prestasi belajar siswa yang diajar dengan model pembelajaran langsung ?
2. Apakah prestasi belajar siswa yang mempunyai kemampuan awal tinggi lebih baik dari pada prestasi belajar siswa yang mempunyai kemampuan awal sedang atau rendah dan apakah prestasi belajar siswa yang mempunyai kemampuan awal sedang lebih baik dari pada prestasi belajar siswa yang mempunyai kemampuan awal rendah ?
3. Pada masing-masing klasifikasi kemampuan awal, apakah prestasi belajar siswa pada model pembelajaran kontekstual lebih dari pada model pembelajaran langsung?
4. Pada model pembelajaran kontekstual, apakah prestasi belajar siswa yang mempunyai kemampuan awal tinggi lebih baik dari pada prestasi belajar siswa yang mempunyai kemampuan awal sedang atau rendah?, dan apakah prestasi belajar siswa yang mempunyai kemampuan awal sedang lebih baik dari pada prestasi belajar siswa yang mempunyai kemampuan awal rendah ?
5. Pada model pembelajaran langsung, apakah prestasi belajar siswa yang mempunyai kemampuan awal tinggi lebih baik dari pada prestasi belajar siswa yang mempunyai kemampuan awal sedang atau rendah?, dan apakah prestasi belajar siswa yang mempunyai kemampuan awal sedang lebih baik dari pada prestasi belajar siswa yang mempunyai kemampuan awal rendah?

F. Tujuan Penelitian
Tujuan yang ingin dicapai peneliti yang membandingkan pembelajaran dengan menggunakan pendekatan kontekstual dan pembelajaran dengan menggunakan pendekatan langsung dengan kemampuan awal siswa terhadap prestasi belajar barisan dan deret adalah:
1. Ingin mengetahui apakah prestasi belajar siswa dengan model pembelajaran kontekstual lebih baik dari pada prestasi belajar siswa dengan model pembelajaran langsung.
2. Ingin mengetahui apakah prestasi belajar siswa yang mempunyai kemampuan awal tinggi lebih baik dari pada prestasi belajar siswa yang mempunyai kemampuan awal sedang atau rendah dan apakah prestasi belajar siswa yang mempunyai kemampuan awal sedang lebih baik dari pada prestasi belajar siswa yang mempunyai kemampuan awal rendah.
3. Ingin mengetahui apakah prestasi belajar siswa pada model pembelajaran kontekstual lebih dari pada model pembelajaran langsung, pada masing-masing klasifikasi kemampuan awal
4. Ingin mengetahui apakah prestasi belajar siswa yang mempunyai kemampuan awal tinggi lebih baik dari pada prestasi belajar siswa yang mempunyai kemampuan awal sedang atau rendah, dan apakah prestasi belajar siswa yang mempunyai kemampuan awal sedang lebih baik dari pada prestasi belajar siswa yang mempunyai kemampuan awal rendah pada model pembelajaran kontekstual.
5. Ingin mengetahui apakah prestasi belajar siswa yang mempunyai kemampuan awal tinggi lebih baik dari pada prestasi belajar siswa yang mempunyai kemampuan awal sedang atau rendah, dan apakah prestasi belajar siswa yang mempunyai kemampuan awal sedang lebih baik dari pada prestasi belajar siswa yang mempunyai kemampuan awal rendah pada model pembelajaran langsung.

G. Manfaat Penelitian
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat, antara lain :
1. Menambah pengetahuan tentang pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran kontekstual apa kelebihannya dan kapan model pembelajaran kontekstual digunakan
2. Memberikan masukan kepada guru matematika dalam memilih model pembelajaran yang harus digunakan dalam pembelajaran matematika
3. Diharapkan siswa dapat memperoleh manfaat yang baik hubungannya dengan peningkatan prestasi belajar.
4. Sebagai masukan dan bahan pertimbangan untuk melakukan penelitian yang lain yang prosedur penelitianya hamper sama.

Related Post



Posted by: Admin Indeks Prestasi Updated at: 18:05:00

Post a Comment