Cari Kategori

TESIS PTK UPAYA PENCAPAIAN KOMPETENSI DASAR MEMBUAT DOKUMEN PENGOLAH ANGKA DENGAN VARIASI TEKS, TABEL, GRAFIK, GAMBAR DAN DIAGRAM MELALUI MODEL PENILAIAN BERBASIS PORTOFOLIO

(KODE PTK-0014X) : TESIS PTK UPAYA PENCAPAIAN KOMPETENSI DASAR MEMBUAT DOKUMEN PENGOLAH ANGKA DENGAN VARIASI TEKS, TABEL, GRAFIK, GAMBAR DAN DIAGRAM MELALUI MODEL PENILAIAN BERBASIS PORTOFOLIO (MATA PELAJARAN : TEKNOLOGI INFORMASI DAN KOMUNIKASI)




BAB I
PENDAHULUAN


A. Latar Belakang Masalah
Pengimplementasian Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) menurut Widyaiswara (2006:2) diharapkan mampu membekali para siswa dengan kompetensi multidimensial mental, intelektual, emosional, spriritual (multi intellegence) secara berkualitas. Di samping itu dengan pembekalan kompetensi berfikir kritis, kreatif, inovatif, serta memecahkan masalah akan menjadi fondasi yang kuat dalam melakukan discovery / inkuiri sebagai awal penguasaan cara belajar, belajar bagaimana berfikir dan belajar sepanjang hayat Dasim Budimansyah (2002:106) pada akhir suatu program pendidikan, pengajaran ataupun pelatihan pada umumnya diadakan penilaian. Tujuannya tiada lain untuk mengetahui apakah suatu program pendidikan, pengajaran, ataupun pelatihan tersebut telah dikuasai oleh pesertanya atau belum. Angka atau nilai tertentu bisanya dijadikan patokan (passing grade) untuk menentukan penguasaan program tersebut. Jika dianggap telah menguasai maka ia dinyatakan lulus, sebaliknya jika dianggap belum menguasai maka ia dinyatakan tidak lulus. Lebih lanjut Dasim Budimansyah (2002:106) mengatakan penilaian itu pada hakekatnya tidak dilakukan sesaat, tetapi harus dilakukan secara berkala dan berkesinambungan. Penilaian bukan hanya menaksir sesuatu secara parsial, melainkan harus menaksir sesuatu secara menyeluruh yang meliputi proses, hasil pertumbuhan dan perkembangan wawasan pengetahuan, sikap dan ketrampilan yang dicapai warga belajar.
Dengan demikian untuk menetapkan seorang siswa tidak lulus ujian itu bukan hanya dari hasil sesaat, misalnya hanya diambil dari nilai ujian akhir. Sebab bisa saja terjadi seseorang yang pada saat ujian akhir sedang terganggu kesehatannya, sehingga ia tidak bisa berkonsentrasi dalam menjawab soal-soal ujian, dinyatakan gagal padahal dalam kesehariannya ia termasuk siswa yang pandai. Atau dapat juga terjadi sebaliknya, karena mendapat kesempatan menyontek, seseorang dapat lulus ujian akhir, padahal dalam kesehariannya ia termasuk siswa yang amat malas.
Istilah penilaian atau dalam bahasa Inggris dikenal dengan istilah evaluation atau assessment, bukan merupakan istilah baru bagi insan yang bergerak pada lapangan pendidikan dan pengajaran. Samsi Haryanto (2003:4) dalam pelaksanaan program jenis apapun, kegiatan evaluasi merupakan satu kegiatan yang penting atau bahkan pokok, setidaknya sama penting atau sama pokoknya dengan kegiatan lainnya. Oleh sebab itu, tidak boleh diabaikan, apalagi ditinggalkan. Namun sayang, tidak semua orang (pelaksana program) menyadari hal itu. Akibatnya kegiatan evaluasi terabaikan atau tersepelekan.
Menurut Asmawi Zaenul dkk (2001:8) penilaian adalah suatu proses untuk mengambil keputusan dengan menggunakan informasi yang diperoleh melalui pengukuran hasil belajar baik menggunakan instrumen tes maupun non-tes. Jadi maksud dari penilaian adalah memberi nilai tentang kualitas sesuatu. Tidak hanya sekedar mencari jawaban terhadap pertanyaan tentang apa, tetapi lebih diarahkan kepada menjawab pertanyaan bagaimana atau seberapa jauh sesuatu proses atau suatu hasil yang diperoleh seseorang atau suatu program. Senada dengan Barbara B. Seels & Rita C. Richey penilaian adalah proses penentuan memadai tidaknya pembelajaran dan belajar.
Sampai saat ini pelaksanaan penilaian, khususnya mata pelajaran Teknologi Informasi dan Komunikasi masih menggunakan penilaian konvensional, artinya penilaian dilakukan hanya untuk mengukur kemampuan kognitif melalui ulangan harian (tes formatif), ulangan akhir periode (tes sumatif) dan latihan dengan memanfaatkan media LKS. Dengan system penilaian seperti itu pelaksanaan penilaian terhadap siswa dilakukan sesaat dan parsial.
Dipandang dari sudut disiplin ilmu dan metode, mata pelajaran Teknologi Informasi dan Komunikasi menempati posisi yang strategis. Dalam mempelajari Teknologi Informasi dan Komunikasi pada tahun XXXX/XXXX ini siswa kelas XI.IPS.1 semester genap (2) SMA Negeri X Kabupaten X diharapkan menguasai salah satu kompetensi dasar membuat dokumen pengolah angka dengan variasi teks, tabel, grafik, gambar dan diagram.
Berdasarkan hasil tes kemampuan awal mata pelajaran Teknologi Informasi dan Komunikasi kelas XI semester genap standar kompetensi menggunakan perangkat lunak pengolah angka untuk menghasilkan informasi, kompetensi dasar membuat dokumen pengolah angka dengan variasi teks, tabel, grafik, gambar dan diagram diperoleh data sebanyak 21 siswa dari jumlah keseluruhan 45 siswa kelas XI.IPS.1 (atau 47 %) Semester Genap Tahun Pelajaran XXXX/XXXX di SMA Negeri X Kabupaten X belum memiliki kompetensi dasar tersebut.
Setelah timbul masalah seperti itu, peneliti berkolaborasi dengan teman sejawat sesama guru mata pelajaran Teknologi Informasi dan Komunikasi, yaitu berbincang-bincang untuk mengetahui sebab-sebab apa yang menimbulkan masalah tersebut. Dari hasil perbincangan yang didukung dengan pengamatan dan wawancara dengan siswa kelas XI.IPS.1 SMA Negeri X Kabupaten X diperoleh keputusan bersama ialah:
a. Ketersediaan jam mata pelajaran Teknologi Informasi Komunikasi hanya 2 jam X 45 menit seminggu dirasa masih kurang, mengingat mata pelajaran Teknologi Informasi dan Komunikasi lebih menekankan aspek ketrampilan.
b. Sarana pendukung berupa komputer/laptob tidak dimiliki siswa di rumah, sehingga para siswa hanya tergantung alat yang ada di laboratorium komputer di SMA X kabupaten X sesuai jam mata pelajaran Teknologi Informasi dan Komunikasi.
c. Perilaku belajar siswa yang kurang baik, karena sering tidak memanfaatkan waktu yang tersedia untuk belajar dan berlatih, baik saat berada di laboratorium komputer maupun di rumah.
d. Pengamatan yang dilakukan peneliti dan kolaborator, diperoleh informasi bahwa siswa kelas XI.IPS.1 paling banyak tidak masuk sekolah tanpa keterangan, siswa terlambat datang/masuk sekolah cukup banyak, siswa sering rame sendiri pada saat jam pelajaran.
e. Para siswa sering tidak menyelesaikan tugas-tugas terstruktur tepat pada waktu yang ditentukan.
f. Keterlibatan siswa dalam kegiatan di luar sekolah yang menunjang kegiatan belajar sangat kurang.
g. Penilaian yang dilakukan oleh guru hanya menggunakan tes obyektif yang hanya untuk mengukur kemampuan kognitif melalui ulangan harian (tes formatif), ulangan akhir periode (tes sumatif) dan latihan dengan memanfaatkan media LKS. Dengan system penilaian seperti itu pelaksanaan penilaian terhadap siswa dilakukan sesaat dan parsial.
Hasil perbincangan dengan teman sejawat dapat disimpulkan bahwa kompetensi dasar yang harus dimiliki oleh siswa itu dalam kemampuan aspek ketrampilan, maka tidak tepat bila hasil belajar siswa hanya menggunakan tes obyektif. Keadaan yang demikian ini bila dibiarkan dapat terjadi siswa yang kesehariannya pandai tetapi karena pada saat mengikuti tes sedang terganggu kesehatannya, ia tidak bisa berkonsentrasi dalam menjawab soal-soal ujian dinyatakan gagal, sebaliknya siswa yang kesehariannya termasuk siswa yang amat malas tetapi mendapat kesempatan menyontek malah bisa dnyatakan lulus atau kompeten.
Oleh karena itu dengan menyadari adanya berbagai kelemahan pelaksanaan penilaian yang dilakukan sesaat dan parsial tersebut, peneliti dan teman sejawat sepakat perlu dikembangkan sistem penilaian yang lebih komprehensif yang mempertimbangkan segala aspek dari peserta didik dan dilakukan secara berkala dan berkesinambungan. Misalnya untuk menentukan nilai rapor siswa, seorang guru menyimpulkannya dari rata-rata ulangan harian, ulangan umum, tugas-tugas terstruktur, catatan perilaku harian siswa (annecdotal record), dan laporan kegiatan siswa di luar sekolah yang menunjang kegiatan belajar.
Berdasar hasil tes kemampuan awal yang dilakukan oleh peneliti diperoleh data 47 % siswa tidak mencapai KKM dan hasil perbincangan dengan teman sejawat diperoleh faktor-faktor penyebabnya, akhirnya peneliti dan teman sejawat memperoleh jalan keluar dengan cara menggunakan model penilian berbasis portofolio.
Masalah tersebut diatas merupakan masalah yang mendesak untuk segera diatasi. Model penilaian berbasis portofolio diprediksi dapat digunakan untuk melakukan penilaian proses dan hasil belajar siswa secara komprehensif terhadap segala aspek peserta didik yang dilakukan secara berkala dan berkesinambungan. Menurut Eric Digest (2000), "Portofolios are used in various professions together typical...; art students assamble a portfolio for an art class..". Portofolio merupakan kumpulan hasil karya siswa sebagai hasil belajarnya. Portofolio, selain sangat bermanfaat dalam memberikan informasi mengenai kemampuan dan pemahaman siswa serta memberikan gambaran mengenai sikap dan minat siswa terhadap pelajaran yang diberikan, juga dapat menunjukkan pencapaian atau peningkatan yang diperoleh siswa dari proses pembelajaran (Stiggins, 1994: 20).
Penerapan model penilaian berbasis portofolio juga diprediksi lebih efektif diterapkan pada mata pelajaran Teknologi Informasi dan Komunikasi. Materi Teknologi Informasi dan Komunikasi dikembangkan sebagai suatu pengetahuan ilmiah yang dinamis dengan pengembangan teori dan praktek yang didasarkan pada perkembangan ilmu dan teknologi yang setiap waktu selalu berkembang. Teknologi Informasi dan Komunikasi pada dasarnya adalah pengetahuan tentang perangkat keras (hardware), perangkat lunak (software) dan faktor manusia (brainware) sebagai komponen-komponen utama pada proses kerja komputer.
Dari uraian tersebut diatas ditegaskan bahwa prestasi belajar berkaitan dengan kualitas proses pembelajaran dan penilaian yang diselenggarakan. Berdasarkan analisis ini maka peneliti dan teman sejawat terdorong untuk menemukan cara mengatasi adanya berbagai kelemahan pelaksanaan penilaian dengan terapi penelitian tindakan kelas (Classroom Action Research) tentang upaya pencapaian kompetensi dasar membuat dokumen pengolah angka dengan variasi teks, tabel, grafik, gambar dan diagram melalui model penilaian berbasis portofolio.
Pelaksanaan penelitian tindakan kelas diawali dengan perencanaan tindakan (planning), penerapan tindakan (action), mengobservasi dan mengevaluasi proses dan hasil tindakan (observation and evaluation), dan melakukan refleksi (reflecting), dan seterusnya sampai perbaikan atau peningkatan yang diharapkan tercapai (kriteria keberhasilan).
Menurut Dasim Budimansyah (2002:106) Indikator model penilaian berbasis portofolio bersumber dari catatan dan dokumentasi pengalaman belajar siswa yang meliputi: 1) Hasil ulangan harian; 2) Tugas-tugas terstruktur; 3) Catatan perilaku harian; 4) Laporan kegiatan siswa.
Siswa dikatakan berhasil mencapai kompetensi dasar membuat dokumen pengolah angka dengan variasi teks, tabel, grafik, gambar dan diagram pada mata pelajaran Teknologi Informasi dan Komunikasi kelas XI semester genap tahun pelajaran XXXX/XXXX di SMA Negeri X Kabupaten X apabila rata-rata hasil ulangan harian mencapai Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) sebesar 65 (enam puluh lima), tugas-tugas terstruktur dikerjakan sesuai target waktu yang ditentukan, perilaku harian siswa sangat mendukung tercapainya kompetetensi dasar dan aktif mengikuti kegiatan di luar sekolah yang menunjang kegiatan belajar.
Dengan penelitian tindakan kelas guru akan memperoleh manfaat praktis, yaitu ia dapat mengetahui secara jelas masalah-masalah yang ada di kelasnya, dan bagaimana cara mengatasi masalah itu (Modul Pelatihan Terintegrasi, PTK 2004:6). Senada dengan itu menurut Supardi (XXXX:102) dengan melakukan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) pendidik dapat memperbaiki praktek-praktek pembelajaran dan penilaian sehingga lebih efektif.

B. Identifikasi Masalah
Bertitik tolak dari latar belakang yang telah diuraikan dimuka, maka dapat diidentifikasi beberapa masalah sebagai berikut:
1. Meskipun pelaksanaan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan sudah berlangsung mulai tahun 2006 namun ternyata masih banyak pendidik dan masyarakat yang kurang memahami tentang KTSP maupun implementasinya di sekolah, khususnya dalam pengembangan model pembelajaran dan penilaian yang efektif dalam suatu satuan pendidikan.
2. Penilaian bukan hanya menaksir sesuatu secara parsial, melainkan harus menaksir sesuatu secara menyeluruh yang meliputi proses, hasil pertumbuhan dan perkembangan wawasan pengetahuan, sikap dan ketrampilan yang dicapai warga belajar.
3. Dalam mata pelajaran Teknologi Informasi dan Komunikasi siswa kelas XI.IPS.1 SMA Negeri X Kabupaten X semester genap (2) tahun pelajaran XXXX/XXXX dituntut menguasai salah satu kompetensi dasar membuat dokumen pengolah angka dengan variasi teks, tabel, grafik, gambar dan diagram melalui sistem penilaian yang lebih komprehensif yang mempertimbangkan segala aspek dari siswa dan dilakukan secara berkala dan berkesinambungan.
4. Hasil tes kemampuan awal diperoleh data 21 siswa dari jumlah 45 siswa (47 %) kelas XI.IPS.1 SMA Negeri X Kabupaten X belum mencapai Kompetensi Dasar membuat dokumen pengolah angka dengan variasi teks, tabel, grafik, gambar dan diagram.

C. Perumusan Masalah
Bertitik tolak dari latar belakang masalah dan identifikasi masalah yang telah diuraikan di atas, masalah penelitian ini dirumuskan sebagai berikut: " Apakah dengan menggunakan model penilaian berbasis portofolio akan dapat meningkatkan pencapaian kompetensi dasar membuat dokumen pengolah angka dengan variasi teks, tabel, grafik, gambar dan diagram siswa kelas XI.IPS.1 semester genap di SMA Negeri X Kabupaten X tahun pelajaran XXXX/XXXX mencapai hasil belajar maksimal atau tingkat pencapaian kompetensi penuh mencapai nilai Kritetia Ketuntasan Minimal (KKM) sebesar 65 (enam puluh lima) secara klasikal 100% dari jumlah siswa keseluruhan?"

D. Tujuan Penelitian
Berdasarkan perumusan masalah di atas, dapat disampaikan tujuan penelitian, yaitu: "Untuk meningkatkan pencapaian kompetensi dasar membuat dokumen pengolah angka dengan variasi teks, tabel, grafik, gambar dan diagram siswa kelas XI.IPS.1 semester genap di SMA Negeri X Kabupaten X tahun pelajaran XXXX/XXXX mencapai hasil belajar maksimal atau tingkat pencapaian kompetensi penuh mencapai nilai Kritetia Ketuntasan Minimal (KKM) sebesar 65 (enam puluh lima) secara klasikal 100% dari jumlah siswa keseluruhan melalui model penilaian berbasis portofolio"

E. Manfaat Penelitian
1. Manfaat secara teoritis Hasil penelitian secara teoritis diharapkan dapat bermanfaat untuk:
a. Melengkapi teori-toeri penilaian yang menunjang mata pelajaran Teknologi Informasi dan komunikasi.
b. Dipakai guru sebagai landasan konseptual pemahaman materi tentang penilaian.
c. Dipakai guru sebagai landasan dalam pelaksanaan penilaian yang komprehensif secara berkala dan berkesinambungan.
2. Manfaat secara praktis
a. Siswa
Dapat memberikan penilaian kepada siswa yang komprehensif secara berkala dan berkesinambungan.
b. Guru
Dapat memberikan manfaat bagi guru Teknologi Informasi dan Komunikasi di SMA untuk memperluas pengetahuan dan pemahamannya terhadap penilaian yang komprehensif secara berkala dan berkesinambungan.
c. Peneliti
Dapat memberikan temuan yang akurat tentang model penilaian mata pelajaran Teknologi Informasi dan Komunikasi di kelas XI.IPS.1 Semester Genap di SMA Negeri X Kabupaten X dan dapat menerapkan model penilaian berbasis portofolio.
d. Lembaga Pembinaan Pendidikan Menengah.
Dapat memberikan umpan balik dan ditindaklanjuti oleh lembaga-lembaga terkait dalam pembinaan dan pengembangan pendidikan menengah.

Posted by: Admin Indeks Prestasi Updated at: 12:22:00

TESIS PTK PENERAPAN STRATEGI BELAJAR PQ4R UNTUKK PENINGKATAN MINAT BACA AL-QUR’AN DAN PRESTASI SISWA DI SMPN X

(KODE PTK-0013X) : TESIS PTK PENERAPAN STRATEGI BELAJAR PQ4R UNTUKK PENINGKATAN MINAT BACA AL-QUR’AN DAN PRESTASI SISWA DI SMPN X (MATA PELAJARAN : PENDIDIKAN AGAMA ISLAM)




BAB I
PENDAHULUAN


A. Latar Belakang Masalah
Pemenuhan terhadap pendidikan keagamaan berbarengan perubahan pola pikir dan pola hidup masyarakat yang membutuhkan kemampuan beradaptasi yang cepat untuk menghimpun informasi baru yang dibutuhkan sebagai peningkatan nilai-nilai sosial dan perilaku siswa sehingga siswa mampu mengenali perkembangan kehidupan dan pesatnya pengetahuan dengan cermat dan dewasa.
Pendidikan Islam memiliki penegasan yang jelas antara Haq dan Bathil, sehingga dapat dijadikan pedoman dan penghayatan nilai-nilai budi pekerti yang luhur dan menjauhkan manusia dari sikap buruk yang terdapat dalam diri setiap manusia. Pendidikan Islam memberikan motivasi yang positif agar dapat memberikan yang terbaik serta meningkatkan kualitas hidup manusia menjadi makhluk yang bermartabat.
Inti dari Pendidikan Islam yaitu peningkatan keyakinan diri bahwa manusia memiliki kewajiban yang telah ditetapkan oleh Allah SWT yaitu beribadah. Jangkauan ibadah dalam Pendidikan Islam sangat luas, bukan hanya ibadah mahdzoh melainkan juga segala bentu kegiatan hidup manusia secara keseluruhan yang telah diniatkan untuk mencari keridhoan Nya semata. Ganjaran dan hukuman dalam pendidikan Islam bergantung pada individu masing-masing yang diberi kebebasan untuk memilih jalan hidupnya sendiri.
Pemunculan kreativitas guru sebagai ujung tombak kebangkitan kembali harkat dan martabat bangsa yang sedang terpuruk. Perlunya kesadaran bersama dari segala unsur elemen masyarakat untuk mengidentifikasi bahwa pendidikan khususnya pendidikan moral dan keagamaan adalah satu-satunya jalan untuk melakukan penyelamatan bangsa Indonesia saat ini. Kebangkitan ini akan sangat sulit untuk dilakukan secara sendiri-sendiri karena begitu banyak masalah yang yang berlarut-larut masih belum terselesaikan.
Pendidikan adalah perilaku sadar yang dilakukan dengan terarah yang memiliki dasar dan ketentuan tertentu yang bertujuan untuk membentuk siswa menjadi individu yang memiliki kematangan intelektual, sosial dan moralnya sehingga siswa memiliki kepribadian yang baik bagi dirinya sendiri dan memberikan manfaat bagi orang lain. Untuk memenuhi tujuan tersebut diperlukan perangkat lengkap yang mampu melakukan perubahan pada diri siswa. Baik kesiapan sekolah maupun dari dirinya sendiri dalam mengikuti pembelajaran. Guru memerlukan strategi-strategi jitu untuk memunculkan sosok yang berdedikasi dan berperilaku baik di masa depan dengan perhitungan yang matang.
Jika mendengar kalimat Pendidikan Agama Islam maka sebagian besar berpendapat pengajaran bersifat konvensional yaitu ceramah. Seperti halnya dengan kegiatan kajian keagamaan umumnya, Pendidikan Agama Islam seakan tidak memiliki pola yang telah ditentukan sebelumnya. Nilai-nilai dalam pendidikan Agama Islam merupakan konsep dan penerapan. Nilai konsep biasanya memang disampaikan dengan mendengar ceramah guru. Jika siswa diberi kesempatan untuk menemukan konsep materi tersebut maka timbul minat untuk mengkajinya lebih dalam karena siswa merasa mampu untuk mengeksplorasi materi secara mendalam. Pembelajaran konsep diperlukan pengenalan yang cukup mengenai materi pelajaran melalui metode ceramah ini, tetapi banyak anggapan yang salah jika Pendidikan Agama Islam seperti halnya saat mendatangi pengajian umum biasa. Pendidikan Agama Islam dalam pengajaran sekolah yang mencakup konsep dan penerapan tersebut sebenarnya menjadi peluang yang baik bagi siswa untuk menjadi peneliti dengan menemukan hal-hal baru yang masih banyak sekali digali dari sumber utama pendidikan keagamaan mereka yaitu Al-Qur'an.
Siswa perlu mengetahui bahwa sumber belajar bukan hanya berasal dari guru yang mengajar saja. Buku yang mereka miliki jauh lebih besar pengaruhnya bagi pola pikir dan minat siswa agar terus mengembangkan ilmu yang baru diperolehnya. Ada baiknya, guru hanya menjadi rujukan bagi siswa yang mengalami kesulitan dalam menentukan pokok masalah dan pembimbing pola-pola membaca suatu materi. Khususnya, siswa SMP kelas 7 masih memiliki kecenderungan mengkultuskan pembelajaran yang berasal dari ceramah yang disampaikan guru daripada konsep yang telah ditemukannya sendiri. Strategi membaca akan mengubah pola pikir siswa untuk tidak mendikotomikan antara informasi buku dan ceramah guru.
Pendidikan Agama Islam yang sebagian membahas tentang hal ketuhanan, jika guru tidak memiliki metode yang tepat bagi siswa akan menimbulkan lebih banyak kebingungan dan kerancuan pemahaman materi. Sehingga siswa dapat salah dalam aplikasi dikehidupan sehari-hari. Keabstrakan yang dimiliki pembelajaran Agama Islam memiliki tingkat kesulitan yang besar untuk "membumikan” konsep moral yang ada. Pemahaman pada dasar-dasar yang menjadi sumber pokok ajaran menjadi kebutuhan dan rujukan utama siswa agar sesuai dengan kemampuan ilustrasi yang dimiliki.
Visi dan misi pendidikan agama adalah terbentuknya sosok anak didik yang memiliki karakter, watak dan kepribadian dengan landasan iman dan ketakwaan serta nilai-nilai akhlak atau budi pekerti yang kokoh tercermin dalam keseluruhan sikap dan perilaku sehari-hari untuk selanjutnya memberi corak bagi pembentukan watak bangsa (Tim,Direktorat Jenderal Pembinaan Kelembagaan Agama Islam, 2001a: v). Begitu besar peran pendidikan agama dalam penegakan budi pekerti yang luhur dalam kehidupan bangsa. Penentu masa depan anak bangsa dengan berlandaskan kekuatan karakter keagamaan yang membentuk watak yang akan menjadi ciri khas kehidupan yang luhur sehingga dapat mengangkat harkat diri dan bangsa yang mampu dan mau mengemban amanat yang dibebankan dengan penuh tanggung jawab.
Pendidikan Agama Islam adalah upaya sadar dan terencana dalam menyiapkan peserta didik untuk mengenal, memahami, menghayati hingga mengimani, bertaqwa dan berakhlak mulia dalam mengamalkan ajaran agama Islam dari sumber utamanya kitab suci Al-Qur'an dan Hadist, melalui bimbingan, pengajaran, latihan serta penggunaan pengalaman (Dr.Dasim Budiansyah, 2003 :1).
Penyebab dari kesulitan yang dihadapi oleh siswa dalam Pelajaran Pendidikan Agama Islam yaitu kurangnya kemampuan siswa dalam membaca Huruf Hijaiyah. Pada setiap Standar Kompetensi yang ditetapkan dalam terdapat Kompetensi dasar memahami dan menerapkan konsep Dalil Naqili yang bersumber dari beberapa ayat Al-Qur'an. Kompetensi Dasar inilah yang menyebabkan siswa kurang memahami Pelajaran Agama Islam secara menyeluruh. Untuk itu perlu adanya perubahan dalam pola pembelajaran Pendidikan Agama Islam yang masih memakai sistem konvensional menjadi strategi be ajar Pendidikan Agama yang lebih bermakna bagi siswa.
Strategi belajar PQ4R merupakan strategi salah satu strategi be ajar yang dapat membantu siswa untuk be ajar mengenal, memahami dan menerapkan pembelajaran Huruf Hijaiyah pada tingkat sekolah. Ini dimungkinkan karena Ilmu Tajwid yang mendasari pembelajaran Huruf Hijaiyah memiliki pola-pola khusus dan rumus-rumus tertentu yang harus dikuasai oleh siswa. Strategi belajar PQ4R membantu siswa dalam pembelajaran tersebut dengan tahapan-tahapan be ajar sehingga siswa tidak merasa kesulitan dalam belajar baik di kelas ataupun untuk pembelajaran mandiri.
Memfungsikan pendidikan sebagai salah satu wadah pengembangan potensi siswa menjadi sangat penting dengan mengingat banyaknya kebutuhan siswa dalam penguasaan materi dalam rangka mengembangkan pengetahuannya lebih lanjut. Dari latar belakang tersebut diatas, maka penulis akan menelaah mengenai :
"Penerapan Strategi Belajar PQ4R Untuk Peningkatan Minat Baca Al-Qur'an Dan Prestasi Siswa Di SMP X Kabupaten X (Penelitian Tindakan Kelas) ".

B. Rumusan Masalah
Rumusan masalah yang akan dikaji sebagai berikut :
1. Kesulitan apa sajakah yang dihadapi siswa dalam Pelajaran Pendidikan Agama Islam ?
2. Apakah penerapan strategi belajar PQ4R dapat meningkatkan minat baca Al-Qur'an siswa SMP X ?
3. Apakah penerapan strategi belajar PQ4R dapat meningkatkan prestasi siswa SMP X ?

C. Tujuan penelitian
Adapun tujuan yang ingin penulis capai dalam penelitian ini adalah :
1. Mengetahui kesulitan yang dihadapi siswa dalam Pelajaran Pendidikan Agama Islam.
2. Mengetahui apakah penerapan strategi belajar PQ4R dapat meningkatkan minat baca Al-Qur'an siswa SMP X
3. Mengetahui apakah penerapan strategi belajar PQ4R dapat meningkatkan prestasi siswa SMP X

D. Manfaat Penelitian
1. Bagi para pengembang pengetahuan, penelitian ini diharapkan menjadi acuan dalam pengembangan pembelajaran Pendidikan Agama Islam.
2. Bagi Para Guru, strategi belajar PQ4R menjadikan solusi bagi para guru mata pelajaran Agama Islam dalam menyampaikan isi materi pelajaran dan pentingnya minat baca Al-Qur'an dalam kelancaran pembahasan materi selanjutnya.
3. Bagi sekolah, strategi belajar PQ4R dapat dijadikan pertimbangan dalam pengelolaan pendekatan belajar pada siswa serta sebagai salah satu alternatif pengembangan kurikulum dan menganalisa media yang sesuai dengan kebutuhan siswa dan guru.
4. Bagi siswa, dengan strategi belajar PQ4R ini siswa lebih mudah untuk memahami dan menerapkan isi materi serta mampu mengembangkan sendiri melalui pembelajaran mandiri yang diharapkan siswa menjadi seorang ahli dalam mengulas, memaknai, mendalami serta memiliki penafsiran yang sesuai dengan kaidah tata bahasa yang digunakan oleh Al-Qur'an.

Posted by: Admin Indeks Prestasi Updated at: 12:20:00

TESIS PTK PENGGUNAAN MEDIA GRAFIS DALAM PEMBELAJARAN FIQH ZAKAT

(KODE PTK-0012X) : TESIS PTK PENGGUNAAN MEDIA GRAFIS DALAM PEMBELAJARAN FIQH ZAKAT (MATA PELAJARAN : PENDIDIKAN AGAMA ISLAM)


BAB I
PENDAHULUAN


A. Latar Belakang Masalah
Sebagai salah satu rukun Islam, zakat telah dipelajari sepanjang sejarah Islam, baik dalam kitab-kitab kuning/klasik maupun dalam kitab-kitab yang baru dan lebih modern. Kitab-kitab klasik pada umumnya mempelajari zakat dalam bentuk pengertian (etimologis dan terminologis), dasar-dasar yang mewajibkanya, pihak-pihak yang memikul kewajiban, jenis-jenis harta yang wajib dizakati, syarat-syarat yang menyebabkan harta harus dikeluarkan zakatnya, dan golongan/siapa saja yang boleh dan berhak menerima zakat. Sementara dalam karya-karya modern, ulama mempunyai kecenderungan untuk melihat zakat sebagai salah satu bentuk solidaritas sosial melalui distribusi kekayaan untuk melakukan pemerataan dan pemberdayaan ekonomi bagi masyarakat miskin, sehingga zakat yang ditunaikan tidak hanya sebatas diberikan secara langsung kepada golongan yang berhak/boleh menerima tetapi lebih jauh dari itu bahwa zakat harus dikelola secara profesional agar betul-betul dapat memberikan kontribusi yang nyata bagi pemberdayaan ekonomi terutama masyarakat miskin.
Zakat adalah bagian harta benda yang dikeluarkan karena perintah Allah yang disebut bersama-sama dengan salat sebanyak 82 kali dalam al-Qur'an. Menurut Garaudy sebagaimana dikutip oleh A.R. Zainuddin, zakat bukanlah suatu karitas, bukan suatu kebaikan hati pihak/orang yang memberikannya, namun suatu bentuk keadilan internal yang terlembaga, yang diwajibkan, sehingga dengan rasa solidaritas yang bersumber dari keimanan itu orang dapat menaklukkan egoisme dan kerakusan dirinya. Boisard menyitir berbagai pendapat yang menyatakan bahwa zakat itu mensucikan manusia yang memberikannya, dengan kemampuan menundukkan egoisme atau mencapai kepuasan moral, karena ia telah berperan/ikut serta mendirikan sebuah masyarakat Islam yang lebih adil. Baginya zakat bukanlah suatu bukti belas kasihan, namun merupakan kewajiban orang kaya dan hak orang miskin. Zakat adalah penegasan kembali akan fenomena bahwa semua harta benda yang dimiliki oleh manusia pada hakekatnya adalah milik Tuhan, sedangkan manusia hanya memiliki hak guna saja. Karena itu zakat sesungguhnya adalah mengembalikan sebagian harta itu kepada pemiliknya yang sah (Tuhan), demi menghindarkan diri dari penderitaan yang akan ditimbulkan/diakibatkannya kelak di akhirat.
Berbagai hal yang berkaitan dengan zakat di atas sangat penting untuk disampaikan dan dipahami oleh siswa agar siswa memiliki pengetahuan dan pemahaman awal tentang kewajiban menunaikan zakat. Namun tingkat kemampuan siswa yang berbeda-beda, banyaknya jumlah siswa dalam satu kelas, ditambah lagi dengan rumitnya materi terutama yang terkait dengan zakat mal yang meliputi jenis-jenis harta yang harus dikeluarkan zakatnya, syarat-syarat wajib zakat, syarat-syarat yeng menyebabkan harta harus dikeluarkan zakatnya, persentase zakat yang harus dikeluarkan, waktu jatuh tempo dikenakannya pembayaran zakat, dan golongan/siapa saja yang boleh dan berhak menerima zakat, yang semua materi tersebut harus sudah dituntaskan hanya dalam 4 jam pelajaran, maka pembelajaran tentang fiqh zakat diselenggarakan secara tidak optimal. Oleh karena itu diperlukan alat bantu berupa media pembelajaran yang dirancang sendiri oleh guru sesuai dengan kurikulum, tingkat kebutuhan, dan kemampuan siswa untuk digunakan dalam pembelajaran agar suasana pembelajaran zakat terasa segar dan menarik, dapat meningkatkan hasil belajar (pengetahuan dan pemahaman) serta betul-betul melekat dalam diri siswa.

B. Identifikasi dan Batasan Masalah
Hal-hal yang melatarbelakangi terhambatnya penguasaan siswa tentang zakat sangatlah kompleks. Hal ini terjadi karena banyak sekali kemungkinan-kemungkinan yang dianggap dapat menjadi penghambat atau menjadi penyebab tidak optimalnya pencapaian tujuan pembelajaran zakat. Kemungkinan-kemungkinan tersebut dapat diidentifikasi sebagai berikut:
1. Materi yang harus dipahami oleh siswa sangat padat dan rumit
2. Tingkat kemampuan dan keragaman kecerdasan siswa dalam satu kelas berbeda-beda
3. Jumlah siswa dalam satu kelas terlalu banyak (45-55 siswa)
4. Media pembelajaran yang digunakan tidak/kurang memadai
5. Rendahnya kemampuan guru dalam pengelolaan kelas
6. Kurangnya penguasaan guru terhadap metode-metode pembelajaran
7. Performance guru rendah, sehingga siswa tidak memiliki interest untuk mengikuti pembelajaran di kelas
8. Jumlah pertemuan dalam kelas tidak sebanding dengan banyaknya tuntutan dalam materi pembelajaran
9. Suasana di sekitar kelas/lingkungan sekolah tidak/kurang mendukung.
Banyaknya kemungkinan yang dapat diidentifikasi sebagai masalah tersebut tentu akan menjadikan kita mengalami kesulitan dan kerumitan untuk menentukan masalah mana yang mendapat prioritas utama untuk dipecahkan. Selain itu tindakan yang diambil, terutama oleh guru, dalam mengatasi satu masalah/lebih tidak begitu saja dapat menyelesaikan berbagai masalah yang dihadapi. Namun demikian, guru harus tetap berupaya untuk mengatasi kemungkinan-kemungkinan yang dianggap sebagai masalah tersebut dengan memilih salah satu masalah yang akan dipecahkannya berdasarkan berbagai pertimbangan. Artinya, dalam memilih masalah yang akan dipecahkannya, guru harus dapat menghitung besar kecilnya manfaat yang akan diperoleh dalam pembelajaran, apakah tindakan yang dilakukannya juga akan membantu menekan hambatan-hambatan yang ada, atau apakah pilihannya cukup representatif dalam mengatasi masalah-masalah yang menghambat proses belajar siswa. Maka dalam hal ini perlu pembatasan masalah agar peneliti dapat lebih fokus dalam melakukan penelitiannya.
Penelitian ini dibatasi hanya pada tidak/kurang memadainya alat bantu media yang digunakan oleh guru melalui eksperimen penggunaan media grafis yang dirancang sendiri oleh guru. Pembatasan ini dinilai tepat karena kesemua faktor yang ada memang sudah seperti itu adanya dan guru mengalami kesulitan untuk melakukan perubahan terhadapnya.

C. Rumusan Masalah
Untuk mempermudah melaksanakan prosedur penelitian terhadap tidak optimalnya pembelajaran fiqh zakat melalui sebuah eksperimen pengunaan media grafis dalam pembelajaran, maka diperlukan adanya rumusan-rumusan masalah yang dinyatakan sebagai berikut:
1. Bagaimana respon anak didik terhadap penggunaan media grafis dalam pembelajaran fiqh zakat di MTs X?
2. Faktor-faktor apakah yang menjadi pendukung dan penghambat penggunaan media grafis tersebut dalam pembelajaran?
3. Apakah penggunaan media grafis dalam pembelajaran fiqh zakat dapat meningkatkan hasil belajar siswa?

D. Tujuan Penelitian
Berdasarkan masalah-masalah yang telah dirumuskan di atas, maka dapat ditentukan tujuan-tujuan yang akan dicapai dalam penelitian, yaitu:
1. Mengetahui bagaimana penggunaan media grafis dalam pembelajaran fiqh zakat di MTs X.
2. Mengetahui beberapa faktor yang mendukung dan menghambat penggunaan media grafis tersebut dalam pembelajaran.
3. Mengetahui apakah penggunaan media grafis tersebut dapat membantu meningkatkan hasil belajar siswa.

E. Kegunaan Penelitian
Penelitian ini dilakukan untuk mengatasi masalah-masalah yang menjadi penghambat dalam pencapaian penguasaan siswa tentang zakat yang selama ini dihadapi oleh peneliti. Disamping itu penelitian ini juga bermanfaat untuk:
a. Bagi Siswa dan bagi Proses Pembelajaran
1. Meningkatkan kinerj a belaj ar siswa
2. Memberikan motivasi kepada siswa agar dapat belajar secara mandiri
3. Memberikan kesempatan kepada siswa agar dapat belajar diluar jam tatap muka
4. Meningkatkan hasil belajar siswa
5. Meningkatkan kualitas proses pembelajaran di kelas
6. Meningkatkan kualitas penggunaan media, alat bantu belajar, dan sumber belajar
b. Bagi Guru
1. Membantu guru untuk mengoptimalkan pembelajaran melalui penggunaan alat bantu berupa media grafis
2. Memberikan pengetahuan dan pengalaman kepada guru dalam mendesign pembelajaran di kelas
3. Memberikan motivasi kepada guru agar dapat merancang sendiri alat bantu/media yang dibutuhkannya dalam pembelajaran
4. Memberikan rangsangan (stimulus) kepada guru agar terus menerus berusaha meningkatkan kemampuan dirinya dalam menjalankan profesinya.
5. Meningkatkan kualitas penerapan kurikulum dan pengembangan kompetensi siswa di kelas.

F. Ruang Lingkup Penelitan
Penelitian ini dilakukan dalam ruang lingkup tertentu yaitu:
1. Subyek penelitian ini adalah siswa kelas VII H pada Madrasah Tsanawiyah X.
2. Penelitian dilaksanakan pada proses pembelajaran fiqh zakat dengan menggunakan media grafis.
3. Media grafis yang digunakan sebagai alat bantu pembelajaran dalam penelitian ini adalah media gambar, diagram, bagan/chart, dan poster.

G. Definisi Operasional
Dalam penulisan tesis ini, ada beberapa istilah yang perlu didefinisikan dengan jelas agar diperoleh pemahaman yang baik terkait dengan maksud yang terkandung dalam judul penelitian, yaitu:
1. Media
Media berasal dari bahasa Latin medius yang secara harfiah berarti tengah, perantara, atau pengantar. Dalam bahasa Arab, media adalah perantara atau pengantar pesan dari pengirim kepada penerima pesan. Gerlach & Ely, sebagaimana dikemukakan Arsyad, mengatakan bahwa media apabila dipahami secara garis besar adalah manusia, materi, atau kejadian yang membangun kondisi yang membuat siswa mampu memperoleh pengetahuan, keterampilan, atau sikap. Dalam pengertian ini, guru, buku teks, dan lingkungan sekolah merupakan media. Secara lebih khusus, pengertian media dalam proses belajar mengajar cenderung diartikan sebagai alat-alat grafis, photografis, atau elektronis untuk menangkap, memproses, dan menyusun kembali informasi visual atau verbal.
2. Media Grafis
Webster mendefinisikan graphics sebagai seni atau ilmu menggambar, terutama penggambaran mekanik. Dalam pengertian media visual, istilah graphics atau graphic materials mempunyai arti yang lebih luas, bukan sekedar menggambar. Dalam bahasa Yunani, graphikos mengandung pengertian melukiskan atau menggambarkan garis-garis. Sebagai kata sifat, graphics diartikan sebagai penjelasan yang hidup, uraian yang kuat, atau penyajian yang efektif. Definisi tersebut kemudian dipadukan dengan pengertian praktis, maka grafis sebagai media, dapat mengkomunikasikan fakta-fakta dan gagasan-gagasan secara jelas dan kuat melalui perpaduan antara pengungkapan kata-kata dan gambar. Pengungkapan itu bisa berbentuk diagram, sket atau grafik. Kata-kata dan angka-angka dipergunakan sebagai judul dan penjelasan kepada grafik, diagram, bagan/chart, poster, kartun, dan komik. Sedangkan sket, gambar, dan lambang dipergunakan dalam media grafis untuk mengartikan fakta, pengertian, dan gagasan yang pada hakikatnya menjadi penyampai presentasi grafis. Jadi grafis meliputi berbagai bentuk visual terutama gambar.
Media grafis termasuk media visual. Saluran yang dipakai menyangkut penglihatan. Pesan yang akan disampaikan dituangkan ke dalam simbol-simbol komunikasi visual. Selain berfungsi secara umum sebagai penyalur pesan dari sumber kepada penerima pesan, media grafis secara khusus berfungsi untuk menarik perhatian, memperjelas sajian ide, mengilustrasikan atau menghiasi fakta yang mungkin akan cepat dilupakan atau diabaikan bila tidak digrafiskan.
3. Pembelajaran
Pembelajaran berasal dari kata belajar yang artinya berusaha memperoleh kepandaian atau ilmu pengetahuan, berlatih, atau berubah tingkah laku atau tanggapan yang disebabkan oleh pengalaman. Sedangkan pembelajaran adalah proses, cara, atau perbuatan menjadikan orang atau makhluk hidup belajar.
Berkaitan dengan pengertian belajar tersebut, Walker seperti dikutip oleh Alex Sobur merumuskan dengan singkat bahwa belajar adalah perubahan perbuatan sebagai akibat dari pengalaman. Definisi yang sederhana ini tampaknya mencakup segala sesuatu yang diinginkan dalam belajar. Kata "perubahan perbuatan" berbeda dengan "perbaikan perbuatan" yang lebih banyak digunakan, karena dalam belajar seseorang dapat memperoleh kebiasaan-kebiasaan yang baik maupun kebiasaan-kebiasaan yang buruk. C.T. Morgan mendefinisikan belajar sebagai suatu perbuatan yang relatif menetap dalam tingkah laku sebagai akibat atau hasil dari pengalaman yang lalu.
Pengertian belajar memang selalu berkaiatan dengan perubahan, baik yang meliputi keseluruhan tingkah laku atau yang meliputi sebagian aspek dari kepribadian individu. Belajar dapat terjadi dimana saja, kapan saja, dan dalam keadaan bagaimana saja.
Namun secara khusus dalam pembahasan kali ini, belajar yang dalam prosesnya disebut dengan pembelajaran ini dimaksudkan sebagai proses memperoleh kepandaian atau ilmu pengetahuan, berlatih, atau berubahnya tingkah laku atau tanggapan yang disebabkan oleh pengalaman yang berlangsung dalam kelas yang bahan pembelajarannya sudah ditentukan dalam kurikulum.
4. Zakat
Zakat adalah bagian harta benda yang dikeluarkan dari harta kita karena perintah Allah. Ia merupakan hak orang lain yang penunaian kewajibannya dapat mensucikan diri/jiwa dan harta benda umat Islam sebagaimana firman Allah:
“Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka. "10
Membayar zakat tidak akan membuat harta kita berkurang, namun sebaliknya bahwa penunaiannya akan membawa berkah dalam harta yang kita miliki dan kehidupan yang kita jalani. Hal ini sesuai dengan pengertian etimogisnya bahwa zakat berarti berkah, tumbuh, bersih, baik, dan bertambah.11 Zakat terdiri dari dua jenis, zakat fitrah dan zakat mal.

H. Studi Penelitian Terdahulu
Penelitian ini sengaja dilakukan untuk dapat melihat apakah penggunaan media grafis dapat mengoptimalkan proses pembelajaran sehingga berdampak pada peningkatan penguasaan (pengetahuan dan pemahaman) siswa tentang fiqh zakat. Dalam penelitian-penelitian terdahulu, peneliti belum pernah menjumpai penelitian yang secara khusus dilakukan terhadap pembelajaran fiqh zakat dengan alat bantu media grafis. Penelitian-penelitian terkait dengan pengunanaan media yang ditemukan peneliti adalah Peran Media Televisi Edukasi Dalam Proses Pembelajaran. Sedangkan penelitian tentang penggunaan media grafis dalam Pembelajaran Agama Islam (PAI) yang ditemukan adalah Pengaruh Media Grafis terhadap Keberhasilan Proses Belajar Mengajar PAI di SDN Kebomlati Plumpang Tuban, Pengaruh Penggunaan Media Pembelajaran Gambar terhadap Pemahaman Siswa Kelas III F pada Mata Pelajaran PAI di SD Muhammmadiyah Pucang Surabaya, dan Pengaruh Penggunaan Media Pembelajaran Gambar terhadap Minat Belajar Siswa Kelas III pada Mata Pelajaran PAI di SDN Kapasari X/301 Surabaya. Namun penelitian-penelitian tersebut merupakan penelitian kuantitatif, bukan Penelitian Tindakan Kelas (Classroom Action Research). Sedangkan Penelitian Tindakan Kelas yang sudah dilakukan kebanyakan adalah tentang penerapan metode pembelajaran seperti Upaya Meningkatkan Motivasi dan Hasil Belajar Siswa dalam Pembelajaran Bahasa Arab melalui Pembelajaran Koperatif Model Jigsaw. Oleh karena itu peneliti meyakini bahwa Penelitian Tindakan Kelas tentang Penggunaan Media Grafis dalam Pembelajaran Fiqh Zakat ini belum pernah dilakukan oleh peneliti lain.

I. Sistematika Pembahasan
Penelitian ini akan dilakukan dengan sistematika pembahasan sebagai berikut:
Bab I merupakan Pendahuluan yang membahas tentang Latar Belakang Masalah, Identifikasi dan Batasan Masalah, Rumusan Masalah, Tujuan Penelitian, dan Kegunaan penelitian, Ruang Lingkup Penelitian, Definisis Operasional, Studi Penelitian Terdahulu, dan Sistematika Pembahasan.
Bab II berisi tentang Kajian Pustaka. Bab ini terdiri dari Media Pendidikan, Ciri-ciri Media Pendidikan, Pembelajaran Sebagai Proses Komunikasi, Kegunaan Media Pendidikan dalam Pembelajaran, Karakteristik Media Grafis, Landasan Teoritis Penggunaan Media Grafis, Pengembangan Media, dan Pemanfaatan Program Madia.
Bab III membahas tentang Metodologi Penelitian yang terdiri Jenis Penelitian, Setting Penelitian, Sasaran Penelitian, Instrumen Penelitian Tindakan Kelas (PTK), Rencana Tindakan, Data dan Teknik Penggaliannya, Analisis Data, dan Keabsahan Data.
Sementara itu Bab IV menjelaskan Paparan Data yang berisi tentang Data Pra Tindakan, Data Ketika Dilakukan Tindakan, Interaksi Subyek Ketika Dilakukan Tindakan, dan Hasil Evaluasi.
Sedangkan Bab V merupakan Pembahasan yang menjelaskan Aktivitas Subyek dalam Pembelajaran dan Bentuk Tugas, Interaksi Subyek, dan Prestasi Belajar. Pada bab terakhir yaitu Bab VI penulisan tesis yang diisi Penutup. Bab ini memberikan Kesimpulan dan Saran terhadap penelitian yang dilakukan.

Posted by: Admin Indeks Prestasi Updated at: 12:18:00

TESIS PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF JIGSAW DAN STAD (STUDENT TEAMS ACHIEVEMENTS DIVISION) TERHADAP PRESTASI BELAJAR IPA

(KODE : PASCSARJ-0065) : TESIS PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF JIGSAW DAN STAD (STUDENT TEAMS ACHIEVEMENTS DIVISION) TERHADAP PRESTASI BELAJAR IPA (PRODI : TEKNOLOGI PENDIDIKAN)


BAB I
PENDAHULUAN


A.Latar Belakang Masalah
Salah satu cita-cita nasional yang harus diperjuangkan oleh bangsa Indonesia adalah mencerdaskan kehidupan bangsa melalui pendidikan nasional. Masa depan bangsa Indonesia selain ditentukan oleh sumber alam juga ditentukan oleh kualitas sumber daya manusia itu sendiri. Upaya untuk membentuk manusia yang cerdas/berilmu dan berkualitas serta berkepribadian baik adalah bagian dari misi pendidikan yang menjadi tanggung jawab profesional setiap guru. Hal ini sesuai dengan apa yang diamanatkan oleh Undang-undang No. 20 Tahun 2003 tentang sistem pendidikan nasional yang menyebut bahwa tujuan pendidikan nasional adalah : "Untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab".
Berdasarkan amanat Undang-undang di atas jelaslah bahwa tugas seorang guru tidak hanya menyampaikan ilmu saja tetapi masih banyak yang harus dilakukan guru yaitu mendidik siswa agar menjadi manusia yang utuh, dengan demikian dapat dikatakan bahwa tugas guru adalah lebih berat: "Seorang guru dituntut penguasaan berbagai kemampuan sebagai guru yang professional dalam bidangnya". Kemampuan yang dimaksud adalah mulai dari cara mengajar, penguasaan materi, pemilihan berbagai metode mengajar, kemampuan membuat perangkat mengajar, sikap, tauladan dan lain sebagainya.
Dalam penyelenggaraan pendidikan disekolah yang melibatkan guru sebagai pendidik dan siswa sebagai peserta didik terjadi interaksi belajar mengajar atau proses pembelajaran. Dalam proses pemeblajaran ini, guru dengan sadar merencanakan kegiatan pembelajaran secara sistematis dan berpedoman pada seperangkat aturan dan rencana tentang pendidikan yang disebut sebagai kurikulum.
Secara bertahap kurikulum mengalami penyempurnaan yang bertujuan untuk meningkatkan mutu pendidikan yang berorientasi pada kemajuan sistem pendidikan nasional. Namun demikian penyempurnaan kurikulum tersebut tidak diimbangi dengan pelaksanaan kurikulum disekolah sekolah yang berupa proses pembelajaran. Berdasarkan pengamatan secara nyata di lapangan,proses pembelajaran di sekolah masih banyak yang tidak melibatkan siswa, sehingga siswa kurang kreatif. Masih banyak para guru yang menggunakan model pembelajaran yang konvensional dengan menggunakan metode ceramah dimana guru sebagai pusat informasi menerangkan materi dan siswa duduk dengan manis mendengarkan dan mencatat materi yang disampaikan oleh guru, sehingga siswa menjadi pasif dan tidak kreatif, karena tidak ada kesempatan bertanya, berdiskusi baik dengan guru maupun sesama siswa. Di SMP Negeri di wilayah X, banyak guru yang masih menggunakan model konvensional, sehingga siswa kurang termotivasi untuk belajar yang menyebabkan prestasi belajarnya rendah, hal ini terbukti dari banyaknya siswa yang remidi pada setiap ulangan harian.
Untuk meningkatkan prestasi belajar siswa salah satunya diperlukan guru yang kreatif yang dapat membuat pembelajaran menjadi lebih menarik dan disukai oleh peserta didik. Menurut Gage dan Berliner dalam Akhmad Sudrajat (http: //akhmadsudraj at. wordpress. com) guru berperan sebagai perancang pembelajaran,pengelola pembelajaran,penilai hasil pembelajaran peserta didik,pengarah pembelajaran dan pembimbing peserta didik. Dalam hal ini seorang guru harus kreatif dalam merencanakan pembelajaran agar siswa menjadi aktif dan kreatif yang pada akhirnya adalah suatu pemahaman siswa terhadap materi yang dipelajarainya. Proses pembelajaran akan berhasil dengan baik jika mengikutsertakan siswa untuk memilih, menyusun dan ikut terjun pada situasi pembelajaran.Dengan melibatkan siswa dalam pembelajaran mereka akan bertanggungjawab untuk melakukan rencana yang telah mereka susun,Lindy Peters en (2004:11)
Model pembelajaran kooperatif merupakan hal yang sangat penting dalam menunjang interaksi antara siswa dengan siswa, antara siswa dengan guru. Kondisi seperti inilah yang sangat diharapkan agar interaksi berjalan dengan baik demi kelancaran pembelajaran. Model pembelajaran kooperatif ada beberapa, diantaranya adalah model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw dan tipe STAD (Student Teams Achievment Division). Mendasar dari uraian uaraian di atas dan permasalahan yang muncul dalam proses pembelajaran maka penulis akan mengadakan kegiatan penelitian dengan melakukan pengembangan pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw dan STAD (Student Teams Achievement Division).Kedua model pembelajaran ini cocok untuk mengatasi permasalahan pembelajaran yang siswanya mempunyai latar belakang yang berbeda .
Model pembelajaran tipe Jigsaw ini merupakan model pembelajaran kooperatif, siswa belajar dalam kelompok kecil yang terdiri dari 4-5 orang dengan memperhatikan keheterogenan, bekerjasama positif dan setiap anggota bertanggungjawab untuk mempelajari masalah tertentu dari materi yang diberikan dan menyampaikan materi tersebut kepada anggota kelompok yang lain. Keunggulan kooperatif Jigsaw meningkatkan rasa tanggungjawab siswa terhadap pembelajarannya sendiri dan juga pembelajaran orang lain,siswa tidak hanya mempelajari materi yang dibeikan, tetapi juga harus memberikan dan mengajarkan materi tertsebut kepada orang lain yaitu anggota kelompoknya yang lain.(http://ipotes wordpress.com) .Sedangkan model pembelajaran tipe STAD ini merupakan model pembelajaran kooperatif, siswa belajar dengan cara memebentuk kelompok yang anggotanya 4 anak secara heterogen,setelah guru memberikan tugas kepada kelompok setiap anggota kelompok akan berusaha mempelajarinya dan yang sudah bisa memahami materi membantu anggota yang lain. Keunggulan pembelajaran tipe STAD ini adalah adanya kerjasama dalam kelompok dan dalam menetukan keberhasilan kelompok tergantung keberhasilan individu.Pembelajaran kooperatif tipe STAD menekankan pada aktivitas dan interaksi diantara siswa untuk saling memotivasi dan saling membantu dalam menguasai materi pelajaran guna mencapai prestasi yang maksimal.

B. Identifikasi Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah yang telah ditulis diatas maka masalah yang masalah yang timbul dapat diidentifikasi sebagai berikut:
1. Adanya prestasi siswa yang rendah.
2. Kreativitas guru dalam mengajar masih kurang.
3. Motivasi siswa terhadap mata pelajaran IPA kurang
4. Rendahnya partisipasi siswa dalam pembelajaran.

C. Pembatasan Masalah
Dalam kegiatan belajar mengajar,banyak usaha yang dilakukan seorang guru yang bekerjasama dengan siswanya untuk meningkatkan prestasi atau hasil belajar siswa. Salah satunya adalah dengan menggunakan model pembelajaran Jigsaw dan STAD. Model pembelajaran ini diharapkan dapat menarik perhatian siswa yang pada akhirnya dapat memberikan motivasi belajarnya terhadap pelajaran IPA. Motivasi yang tinggi diharapkan dapat meningkatkan prestasi hasil belajar yang tinggi.
Jika kita menganalisis proses pembelajaran, maka aspek yang diteliti ruang lingkupnya cukup luas. Oleh karena itu,penelitian ini akan dibatasi hanya pada aspek yang berkenaan dengan model pembelajaran Jigsaw, STAD (Students Teams Achievement Division) dan motivasi serta pengaruhnya terhadap prestasi belajar IPA di wilayah X.

D. Rumusan Masalah
Permasalahan yang akan dikaji dapat dirumuskan sebagai berikut :
1.Adakah perbedaan pengaruh antara penggunaan model pembelajaran Jigsaw dan STAD terhadap prestasi belajar IPA?
2.Adakah perbedaan pengaruh antara motivasi belajar tinggi dan motivasi belajar rendah siswa terhadap prestasi belajar IPA?
3.Adakah interaksi pengaruh antara penggunaan model pembelajaran dan motivasi belajar terhadap prestasi belajar IPA?

E. Tujuan Penelitian
Penelitian ini bertujuan untuk :
1. Mengetahui perbedaan pengaruh antara model pembelajaran Jigsaw dan STAD terhadap prestasi belajar IPA.
2.Mengetahui perbedaan pengaruh motivasi belajar siswa terhadap prestasi belajar IPA. 3.Mengetahui interaksi pengaruh antara model pembelajaran dan motivasi belajar terhadap prestasi belajar IPA

F. Manfaat Penelitian
Dari tujuan yang telah dirumuskan diatas, maka hasil penelitian ini di harapkan dapat memberikan sumbangan pada dunia pendidikan dan bermanfaat. Manfaat penelitian ini ada 2 yaitu manfaat teoritis dan manfaat praktis.
1. Manfaat teoritis
Secara teoritis penelitian ini dapat memberikan sumbangan pengetahuan dalam penggunaan model pembelajaran Jigsaw pada matapelajaran IPA. Manfaat lainnya adalah agar para pengajar IPA dapat mengkaji kelebihan dan kekurangan dari pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran Jigsaw ini.
2. Manfaat praktis
a. Bagi guru:
1) Guru dapat mengetahui pembelajaran yang bervariasi, efektif dan efisien sehingga dapat memperbaiki sistem pembelajaran di kelas.
2) Guru akan terbiasa menggunakan model pembelajaran dalam pembelajarannya.
b. Bagi siswa.
1) Memberi suasana yang menyenangkan
2) Meningkatkan motivasi siswa.

Posted by: Admin Indeks Prestasi Updated at: 18:09:00

TESIS PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE STUDENT TEAMS ACHIEVEMENT DIVISION (STAD) DAN TIPE GROUP INVESTIGATION (GI) TERHADAP PRESTASI BELAJAR MATEMATIKA DITINJAU DARI KREATIVITAS SISWA

(KODE : PASCSARJ-0064) : TESIS PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE STUDENT TEAMS ACHIEVEMENT DIVISION (STAD) DAN TIPE GROUP INVESTIGATION (GI) TERHADAP PRESTASI BELAJAR MATEMATIKA DITINJAU DARI KREATIVITAS SISWA (PRODI : PENDIDIKAN MATEMATIKA)


BAB I
PENDAHULUAN


A. Latar Belakang Masalah
Pendidikan memegang peranan penting dalam menciptakan manusia-manuasia berkualitas. Pendidikan memerlukan inovasi-inovasi yang sesuai dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi tanpa mengabaikan nilai-nilai kemanusiaan. Pendidikan juga dipandang sebagai sarana untuk melahirkan insan-insan yang cerdas, kreatif, terampil, bertanggung jawab, produktif dan berbudi pekerti luhur.
Berbagai upaya telah dilakukan pemerintah untuk melakukan inovasi dalam dunia pendidikan. Inovasi yang dilakukan biasanya dilakukan dengan memperhatikan tiga alasan penting, yaitu efisien, efektif dan kenyamanan. Efisien maksudnya waktu yang tersedia bagi guru harus dimanfaatkan sebaik-baiknya. Efektif maksudnya pelajaran yang diberikan harus menghasilkan hasil yang bermanfaat bagi siswa atau masyarakat, sedangkan kenyamanan berarti sumber belajar, media alat bantu belajar, metode yang ditentukan sedemikian rupa sehingga memberikan gairah belajar mengajar bagi siswa dan guru.
Dalam rangka meningkatkan mutu pendidikan pemerintah, guru, dan orang tua selalu berupaya untuk meningkatkan prestasi belajar siswa. Usaha-usaha yang telah dilakukan belum menunjukkan hasil yang memuaskan, khususnya mata pelajaran matematika. Menurut catatan TIMSS (Trends in International Mathematics and Science Study) tahun 2007, lembaga yang mengukur pendidikan dunia bahwa penguasaan matematika siswa grade 8 negara Indonesia di peringkat ke-36 dari 48 negara. Skor rata-rata yang diperoleh siswa-siswa Indonesia adalah 397. Skor ini masih jauh di bawah skor rata-rata internasional yaitu 500. Selain itu, bila dibandingkan dengan tiga negara tetangga, yaitu Singapora, Malayasia dan Thailand, posisi peringkat siswa kita jauh tertinggal. Singapora berada pada peringkat ke-3 dengan skor rata-rata 593 , Malaysia berada pada peringkat ke-20 dengan skor rata-rata 474 dan Thailand berada pada peringkat ke-29 dengan skor rata-rata 441 (http://nces.ed.gov/timss/results07_math07.asp.).
Menurut Program for International Assessment (PISA) tahun 2003, skor rata-rata siswa Indonesia usia 15 tahun mengenai litaerasi matematika (mathematics literacy) adalah 360 dan berada pada peringkat ke-38 dari 39 negara. yang berpartisipasi dengan skor rata-rata 500 OECD (Organisation for Economic Co-operationan Development). (http://www.nces.ed.gov/programs/ /index.asp).
Rendahnya prestasi belajar siswa dalam mata pelajaran matematika, mungkin saja disebabkan usaha yang dilakukan guru untuk meningkatkan prestasi belajar siswa belum berjalan seperti yang diharapkan.
Banyak usaha yang dapat dilakukan untuk memperbaiki kualitas pendidikan, diantaranya pembaharuan kurikulum, proses belajar mengajar, peningkatan kualitas guru, pengadaan buku pelajaran, sarana belajar mengajar, penyempurnaan sistem penilaian dan sebagainya. Dalam upaya peningkatan mutu pendidikan khususnya dalam meningkatkan hasil pendidikan satu diantaranya yang harus dikembangkan terletak pada proses belajar mengajar yang merupakan kegiatan yang paling pokok dalam proses pendidikan. Dengan demikian berhasil tidaknya pencapaian tujuan pendidikan dipengaruhi keberhasilan proses belajar mengajar.
Pada dasarnya tingkat keberhasilan belajar mengajar dipengaruhi banyak faktor diantaranya kemampuan guru, kemampuan dasar siswa, model pembelajaran, materi, sarana prasarana, motivasi, kreativitas, alat evaluasi serta lingkungan yang kesemuanya merupakan satu kesatuan yang paling berkaitan yang bekerja secara terpadu untuk tercapainya tujuan yang telah ditetapkan. Meskipun tujuan dirumuskan dengan baik, materi yang dipilih sudah tepat, jika model pembelajaran yang dipergunakan kurang memadai mungkin tujuan yang diharapkan tidak tercapai dengan baik. Jadi model pembelajaran merupakan salah satu komponen yang penting dan sangat menguntungkan dalam keberhasilan proses pendidikan.
Sejumlah model pembelajaran telah diterapkan di sekolah-sekolah untuk mencapai tingkat keberhasilan dalam proses pendidikan. Namun, mengingat adanya variasi tujuan yang ingin dicapai, adanya lingkungan belajar yang berlainan, keadaan siswa yang berbeda, karakteristik materi yang berbeda, dan lain-lain, maka tidak dapat disusun suatu model yang baik untuk semua jenis kegiatan belajar mengajar. Di dalam proses belajar mengajar, guru harus memiliki strategi agar siswa bekerja secara efektif dan efisien, tepat pada tujuan yang diharapkan. Salah satu langkah untuk memiliki strategi itu adalah harus menguasai teknik-teknik penyajian materi, atau biasa disebut model pembelajaran. Sebenarnya banyak model pembelajaran yang dapat digunakan dalam pembelajaran matematika. Tetapi tidak setiap model pembelajaran dapat diterapkan dalam setiap materi, sehingga pemilihan model pembelajaran sangatlah penting guna mencapai tujuan pembelajaran. Oleh karena itu sebelum pelaksanaan kegiatan belajar mengajar diperlukan pemikiran yang matang dalam pemilihan model pembelajaran yang tepat untuk suatu kompetensi dasar yang akan disajikan.
Dewasa ini sudah banyak penelitian di bidang pendidikan yang menyatakan model-model pembelajaran baru secara signifikan dapat memberikan prestasi belajar matematika yang lebih baik dari pada model pembelajaran tradisional (konvensional). Namun hingga saat ini kebanyakan guru belum menerapkan model-model pembelajaran yang baru tersebut. Bahkan para peneliti belum membandingkan antara model-model pembelajaran yang baru itu, melainkan hanya membandingkan model pembelajaran yang baru dengan model pembelajaran tradisional, sehingga para guru belum mengetahui model pembelajaran yang baru tersebut yang lebih baik dan sesuai dengan materi pelajaran dan kemampuan siswa.
Selain dari faktor model pembelajaran, kreativitas juga menentukan hasil belajar. Kreativitas pada intinya merupakan kemampuan seseorang untuk melahirkan sesuatu yang baru, baik berupa gagasan maupun karya nyata, baik dalam bentuk ciri-ciri aptitude maupun non aptitude, baik dalam karya yang baru maupun kombinasi dengan hal-hal yang sudah ada, yang semuanya itu relatif berbeda dengan apa yang telah ada sebelumnya. (Reni Akbar Hawadi dkk, 2001:5).
Mengingat pentingnya kreativitas belajar siswa, maka dalam kegiatan belajar mengajar lebih banyak melibatkan kreativitas belajar siswa. Sedangkan siswa itu sendiri hendaknya dapat memotivasi dirinya sendiri untuk ikut kreatif dalam kegiatan belajar mengajar. Dengan adanya kreativitas belajar ini kemungkinan besar prestasi belajar yang dicapai akan memuaskan.

B. Identifikasi Masalah
Dari latar belakang tersebut terdapat beberapa masalah yang dapat diidentifikasi, yaitu :
1. Masih rendahnya prestasi belajar matematika, mungkin karena kurang tepatnya penggunaan model pembelajaran. Dari dugaan ini muncul sebuah permasalahan yang menarik untuk dilakukan penelitian, yaitu apakah pemilihan dan penggunaan model pembelajaran yang tepat dapat meningkatkan prestasi belajar matematika. Dapat diteliti pula apakah pemilihan model pembelajaran yang tepat tersebut cocok untuk berbagai kategori kreativitas siswa.
2. Terdapat kemungkinan penyebab lain rendahnya prestasi belajar matematika adalah kurangnya keterlibatan kreativitas siswa dalam kegiatan pembelajaran. Dari hal ini juga menarik untuk dilakukan penelitian, yaitu untuk melihat apakah dengan pemilihan model pembelajaran yang tepat dan yang dapat meningkatkan keterlibatan dan kreativitas siswa dalam kegiatan pembelajaran dapat meningkatkan prestasi belajar matematika.
3. Ada kemungkinan rendahnya prestasi belajar siswa karena diajar oleh guru-guru yang kurang kompeten dalam mengajar, karena mereka memiliki kualifikasi pendidikan yang tidak releven. Penelitian untuk melihat apakah siswa yang diajar oleh guru dengan kualifikasi pendidikan yang tidak relevan menyebabkan hasil belajar yang berbeda dibanding dengan diajar guru yang mempunyai kualifikasi yang relevan, menarik untuk dilakukan.
4. Salah satu kemungkinan lain yang menyebabkan rendahnya prestasi belajar matematika adalah latar belakang pendidikan orang tua siswa. Dari kemungkinan ini dapat dilakukan penelitian untuk melihat apakah latar belakang pendidikan orang tua siswa menyebabkan rendahnya prestasi belajar matematika.
5. Faktor kreativitas siswa juga dapat menjadi salah satu penyebab rendahnya prestasi belajar matematika. Kreativitas siswa yang rendah memungkinkan menyebabkan rendahnya prestasi belajar matematika. Penelitian untuk melihat pengaruh tinggi rendahnya kreativitas belajar siswa terhadap prestasi belajar matematika ini juga menarik untuk dilakukan.
6. Penggunaan model pembelajaran yang baru selalu memberikan prestasi belajar matematika lebih baik daripada model pembelajaran konvensional yang monoton tanpa variasi. Oleh karena itu, cukup menarik dilakukan penelitian untuk melihat manakah yang memberikan prestasi belajar matematika lebih baik antara model pembelajaran kooperatif tipe STAD dan model pembelajaran kooperatif tipe GI untuk materi persamaan dan pertidaksamaan eksponen dan logaritma. Dapat juga dilihat apakah penggunaan model-model tersebut cocok untuk berbagai kategori kreativitas siswa.

C. Pemilihan Masalah
Suatu penelitian yang dilakukan dengan banyak pertanyaan dalam waktu yang sama bisa kurang cermat dalam mengamati perubahan perilaku subyek penelitian, sehingga hasil penelitian yang diperoleh juga mungkin kurang akurat. Untuk menghindari kekurangakuratan dan kekurangcermatan tersebut, maka dalam penelitian ini akan diteliti masalah yang menyangkut penggunaan model pembelajaran dihubungkan dengan kreativitas belajar siswa.
Dari beberapa identifikasi masalah di atas, peneliti hanya ingin melakukan penelitian yang terkait dengan permasalahan terakhir, yaitu manakah yang memberikan prestasi belajar matematika lebih baik antara penggunaan model pembelajaran kooperatif tipe STAD dan model pembelajaran kooperatif tipe GI. Juga akan dilihat, apakah pemberian perlakuan tersebut berlaku sama pada berbagai kategori kreativitas siswa. Pemberian variasi pembelajaran yang melibatkan siswa secara aktif akan membangkitkan minat dan keterkaitan yang besar dalam diri siswa terhadap pelajaran, sehingga mampu meningkatkan prestasi belajar siswa. Pemilihan model pembelajaran kooperatif tipe STAD dan tipe GI dikarenakan dalam tipe-tipe model pembelajaran ini terdapat faktor kerjasama dan diskusi yang mampu memberikan pengalaman eksplorasi potensi diri siswa untuk mengkonstruk pengetahuannya sendiri sehingga pembelajaran matematika khususnya pada materi persamaan dan pertidaksamaan eksponen dan logaritma menjadi lebih bermakna. Di sisi lain, karena keterbatasan untuk dilakukan penelitian terhadap semua permasalahan penyebab rendahnya prestasi belajar siswa, baik dalam hal biaya, waktu maupun tenaga, sehingga secara subjektif tidak mungkin diungkap semua permasalahan rendahnya prestasi belajar matematika tersebut.

D. Pembatasan Masalah
Dari permasalahan di atas, terdapat dua hal yang dikaji. Permasalahan pertama adalah model pembelajaran dan yang kedua adalah kreativitas siswa. Pada penelitian ini diteliti pengaruh model pembelajaran kooperatif tipe STAD dan tipe GI serta kreativitas siswa terhadap prestasi belajar matematika pada materi persamaan dan pertidaksamaan eksponen dan logaritma.
Agar penelitian ini dapat dilakukan dengan baik, maka perlu diberikan batasan-batasan sebagai berikut:
1. Penelitian dilakukan di SMA Negeri se Kabupaten X semester genap pada tahun pelajaran XXXX/XXXX
2. Model pembelajaran yang digunakan dalam penelitian ini adalah model pembelajaran kooperatif tipe STAD dan model pembelajaran kooperatif tipe GI.
3. Kreativitas pada penelitian ini dibatasi kreativitas belajar siswa terhadap mata pelajaran matematika.
4. Materi pelajaran yang digunakan pada penelitian ini adalah persamaan dan pertidaksamaan eksponen dan logaritma.
5. Prestasi belajar matematika pada penelitian ini dibatasi pada hasil belajar siswa yang dicapai melalui proses belajar mengajar pada kompetensi dasar persamaan dan pertidaksamaan eksponen dan logaritma.

E. Perumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang, identifikasi masalah, pemilihan masalah dan pembatasan masalah tersebut di atas, masalah dalam penelitian ini dapat dirumuskan sebagai berikut:
1. Di antara model pembelajaran kooperatif, manakah yang dapat memberikan prestasi belajar matematika lebih baik, model pembelajaran kooperatif tipe STAD atau tipe GI?
2. Di antara kategori kreativitas siswa, manakah yang dapat memberikan prestasi belajar matematika lebih baik, kreativitas tinggi, kreativitas sedang atau kreativitas rendah?
3. Pada masing-masing model pembelajaran (STAD dan GI), manakah yang dapat memberikan prestasi belajar matematika lebih baik, siswa yang mempunyai kreativitas tinggi, kreativitas sedang atau kreativitas rendah?
4. Pada masing-masing kategori kreativitas siswa (tinggi, sedang, dan rendah), manakah yang dapat memberikan prestasi belajar matematika lebih baik, model pembelajaran kooperatif tipe STAD atau tipe GI?

F. Tujuan Penelitian
Sesuai dengan perumusan masalah yang telah diuraikan di atas, maka penelitian ini mempunyai tujuan sebagai berikut :
1. Untuk mengetahui di antara model pembelajaran kooperatif, manakah yang dapat memberikan prestasi belajar matematika lebih baik, model pembelajaran kooperatif tipe STAD atau tipe GI.
2. Untuk mengetahui manakah di antara kategori kreativitas siswa, yang dapat memberikan prestasi belajar matematika lebih baik, kreativitas tinggi, kreativitas sedang atau kreativitas rendah.
3. Untuk mengetahui pada masing-masing model pembelajaran (STAD dan GI), manakah di antara kategori kreativitas siswa yang dapat memberikan prestasi belajar matematika lebih baik, kreativitas tinggi, kreativitas sedang atau kreativitas rendah.
4. Untuk mengetahui pada masing-masing kategori kreativitas siswa (tinggi, sedang, dan rendah), manakah di antara model pembelajaran kooperatif yang dapat memberikan prestasi belajar matematika lebih baik, tipe STAD atau tipe GI.

G. Manfaat Penelitian
Dari hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat sebagai berikut:
1. Sebagai bahan masukan bagi guru matematika dalam memilih model pembelajaran yang tepat untuk meningkatkan prestasi belajar matematika.
2. Sebagai bahan masukan bagi guru matematika tentang pentingnya kreativitas siswa terhadap prestasi belajar matematika.
3. Sebagai bahan masukan bagi dunia pendidikan, khususnya pendidikan dan pembelajaran matematika.
4. Hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai acuan untuk melakukan penelitian lebih lanjut.

Posted by: Admin Indeks Prestasi Updated at: 18:07:00

TESIS PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN KONTEKSTUAL TERHADAP PRESTASI BELAJAR BARISAN DAN DERET DITINJAU DARI KEMAMPUAN AWAL

(KODE : PASCSARJ-0063) : TESIS PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN KONTEKSTUAL TERHADAP PRESTASI BELAJAR BARISAN DAN DERET DITINJAU DARI KEMAMPUAN AWAL (PRODI : PENDIDIKAN MATEMATIKA)


BAB I
PENDAHULUAN


A. Latar Belakang Masalah
Matematika adalah salah satu materi pelajaran yang diajarkan mulai dari jenjang pendidikan dasar sampai pendidikan tinggi. Matematika merupakan ilmu dasar yang mempunyai peranan penting dalam perkembangan ilmu dan teknologi. Hampir semua bidang studi menggunakan materi pelajaran matematika, contohnya persamaan phytagoras dan trigonometri digunakan untuk mengukur tinggi sebuah benda yang tidak bisa diukur secara langsung seperti gunung,pohon dll, matriks digunakan pada teknik sipil yakni untuk mengkonturksi jembatan, barisan dan deret digunakan pada pelajaran menejemen perbangkan yakni untuk menghitung bunga tunggal dan bunga majemuk, serta masih banyak langi peranan matematika yang sangat bermanfaat di bidang yang lain. Disisi lain, matematika selama ini dianggap pelajaran yang sulit oleh sebagian siswa, bahkan ada siswa yang merasa takut, bosan dan tidak tertarik pada mata pelajaran ini. Hal ini dapat dibuktian dari angket yang saya sebarkan pada siswa kelas XII.IS. Dari 220 Responden diperoleh informasi bahwa 60 % mengatakan sulit dengan alasan terlalu banyak rumusnya dan banyak hitungannya, 27 % mengatakan kadang sulit dan kadang-kandang mudah, tergantung pengajarnya artinya jika gurunya pandai dalam menerangkan dan mudah dipahami siswa, maka matematika menjadi mudah dan sebaliknya jika guru kurang bisa mengajarkan materi dan sulit dipahami siswa, maka matematika menjadi sulit. Sisanya 13% mengatakan mudah, karena bisa memahami materi pelajarannya dan sering berlatih menyelesaikan soal-soal matematika. Dari data tersebut dapat disimpulkan bahwa pelajaran matematika adalah pelajaran yang cukup sulit.
Hasil belajar matematika yang telah dicapai siswa selama ini masil jauh dari harapan, walaupun usaha-usaha pemerintah untuk meningkatkan atau memperbaiki prestasi belajar matematika dalam setiap jenjang pendidikan telah banyak dilakukan, antara lain : revisi kurikulum matematika, penataran guru matematika, penyediaan sarana-prasarana pembelajaran, dan sebagainya, namun kenyataan menunjukkan bahwa prestasi belajar matematika masih rendah. Hal ini sesuai dengan kenyataan misalnya : nilai rata-rata nilai Ujian Nasional bidang studi matematika SMA Negeri Se Kabupaten X tahun 2005 /2006 adalah 5,13 dan tahun 2006/2007 adalah 5,21.
Banyak faktor yang mempengaruhi prestasi belajar siswa rendah diantaranya; Masih banyak guru yang menggunakan pola pembelajaran dimana cenderung "text book oriented" dalam arti menyampaikan materi sesuai dengan apa yang tertulis didalam buku dan tidak terkait kehidupan sehari-hari siswa. Cara pembelajaran cenderung monoton dan hanya menggunakan metode ceramah sehingga materi yang disampaikan menjadi sulit dipahami siswa. kecuali itu banyak guru mengajar dengan tidak memperhitungkan kemampuan berfikir siswa atau dengan kata lain tidak menggunakan pengajaran yang bermakna. Sebagai akibatnya motivasi belajar siswa menjadi sulit ditumbuhkan dan pola belajar siswa cenderung menghafal dan mekanistik.
Informasi yang kami peroleh dari angket yang kami ambil dari 220 responden menyebutkan bahwa prestasi belajar matematika rendah selain disebabkan oleh pelajaran matematika yang sulit juga disebabkan oleh gurunya. Guru tersebut dalam mengajarnya terlalu berbelit-belit, kadang-kadang menyimpang dari materi serta monoton. Guru tersebut dianggap kurang bisa menyampaikan materi pelajaran sehingga siswa kesulitan mentransfer pelajaran matematika. Sebaliknya ada sebagian yang mengatakan bahwa pelajaran matematika itu mudah dan mengasikkan, itu disebabkan pengajaran yang disampaikan guru terurut dan terencana, memperhatikan kondisi dan kemampuan siswa serta mampu membangkitkan semangat belajar siswa. hasil belajar yang dicapai siswa menjadi lebih baik.
Harapan yang ingin dicapai dalam tujuan pendidikan matematika seperti yang diamanatkan kurikulum adalah pengelolaan pembelajaran matematika di sekolah dapat bermakna dan dapat membuat siswa mampu menerapkan pengetahuan matematikanya dalam kehidupan sehari-hari dan bidang lain. Kegiatan pembelajaran matematikan juga diharapkan mampu membuat siswa terampil menyelesaikan masalah yang dihadapinya, baik dalam bidang metematika maupun dalam bidang yang lain. Kegiatan pembelajaran matematika juga diharapkan mampu membuat siswa berkembang daya nalarnya sehingga mampu berfikir kritis, logis, sistematis, dan pada akhirnya siswa diharapkan mampu bersikap obyektif, jujur, dan disiplin.
Menurut Pao-Nan Chou dan Ho-Huan Chen (2008: 8) dalam pembelajaran seorang guru harus mampu menciptakan kondisi pembelajaran yang dapat membangkitkan semangat belajar siswa, sehingga siswa mempunyai ketrampilan, keberanian serta mempunyai kemampuan akademik (http://www.westga.edu/~dis). Penekanan pembelajaran matematika disekolah harus relevan dengan kehidupan sehari hari, supaya pelajaran matematika yang diperoleh akan bermanfaat. Dengan demikian matematika akan mempunyai peran yang penting bagi peserta didik untuk mengaplikasikan dalam kehidupan sehari hari. Selanjutnya hal ini akan berdampak dalam menciptakan sumber daya manusia yang bermutu.
Dari beberapa karakter diatas pembelajaran yang dirasa cocok adalah model pembelajaran kontekstual. Model Pembelajaran kontekstual adalah suatu srategi pembelajaran yang menekankan kepada proses keterlibatan siswa secara penuh untuk dapat menemukan materi yang dipelajari dan menghubungkannya dengan situasi kehidupan nyata sehingga mendorong siswa untuk dapat menerapkannya dalam kehidupan mereka. ( Wina Sanjaya, 2005 : 255)
Model Pembelajaran kontekstual adalah sebuah proses pendidikan yang bertujuan menolong para siswa melihat makna di dalam materi akademik yang mereka pelajari dengan cara menghubungkan subyek-subyek akademik dengan konteks dalam kehidupan keseharian mereka, yaitu dengan konteks keadaan pribadi, sosial, dan budaya mereka.
Dari hasil angket yang Peneliti berikan kepada 220 responden yakni membandingkan model pembelajaran kontekstual dengan model pembelajaran langsung, didapatkan informasi bahwa 130 responden mengatakan lebih mudah memahami materi pelajaran matematika jika guru menyampaikan dengan model pembelajaran kontekstual, 50 responden lebih mudah dengan model pembelajaran langsung dan 40 responden mengatakan sama saja. Dari informasi ini dapat diambil kesimpulan bahwa sebagian besar siswa lebih mudah memahami materi pelajaran matematika dengan model pembelajaran kontekstual dibandingkan dengan model pembelajaran langsung.
Kemampuan awal merupakan kemampuan yang dipandang sebagai masukan (input) yang harus dimiliki siswa sebelum mendapat kemampuan dan pengetahuan baru yang lebih tinggi. Seorang siswa akan lebih mudah memahami dan mempelajari materi pelajaran baru, apabila proses belajar-mengajar didasarkan pada materi yang telah diketahui sebelumnya sehingga siswa tinggal mengembangkan kemampuan awal yang sudah dimilikinya menjadi kemampuan baru yang lebih tinggi.
Prestasi belajar siswa juga dipengaruhi oleh kemampuan awal. Kemampuan awal merupakan bekal siswa dalam menerima materi pelajaran selanjutnya. Kesiapan dan kesanggupan dalam mengikuti pelajaran banyak ditentukan oleh kemampuan awal yang dimiliki oleh siswa sehingga kemampuan awal merupakan pendukung keberhasilan belajar. Pelajaran matematika yang diberikan di sekolah telah disusun secara sistematis sehingga untuk masuk pada pokok bahasan lain, kemampuan awal siswa pada pokok bahasan sebelumnya akan dijadikan sebagai bahan pertimbangan. Dalam kegiatan belajar-mengajar, setiap materi yang disampaikan hendaknya bisa diserap oleh siswa yang berkemampuan awal rendah maupun yang berkemampuan awal tinggi
Permasalahan rendahnya prestasi belajar matematika yang sering dihadapi dalam pembelajaran di SMA adalah pada siswa -siswa jurusan Ilmu Sosial ( IS). Nilai rata-rata pelajaran matematika siswa jurusan Ilmu Sosial (IS) masih jauh dibawah dari nilai rata-rata siswa jurusan Ilmu Alam (IA). Ini terbukti pada nilai rata-rata Ujian semester ganjil tahun ajaran 2006/2007 di Kabupaten X. Nilai rata-rata siswa jurusan Ilmu Sosial (IS) adalah 6,02 sedangkan nilai rata-rata matematika jurusan Ilmu Alam (IA) adalah 6,85. Apakah rendahnya prestasi belajar matematika pada siswa jurusan ilmu sosial disebabkan oleh kemampuan awal yang tendah. Hal ini dapat dilihat dari angket yang peroleh dari 220 responden siswa jurusan ilmu sosial. 83 responden mengatakan bahwa mereka masuk program jurusan ilmu sosial karena tidak lolos pada seleksi jurusan ilmu alam. Ini disebabkan karena nilai-nilai mata pelajaran program ilmu alam yang didalamnya termasuk matematika tidak memenuhi syarat. Ini berati kemampuan awal siswa jurusan ilmu sosial lebih rendah dibanding dengan siswa jurusan ilmu alam.
Materi pelajaran matematika yang diajarkan di kelas XII ilmu sosial diantaranya; integral, program linier, matriks serta barisan dan deret. Dari keempat pokok bahasan tersebut yang paling mendukung dalam program ilmu sosial adalah barisan dan deret , alasanya adalah barisan dan deret digunakan sebagai dasar dalam menghitung buga tunggal maupun bunga majemuk pada dunia perbangkan. Pemahaman siswa pada pokok bahasan ini perlu ditingkatkan karena sangat mendukung peningkatan prestasi materi pelajaran ilmu- ilmu sosial.

B. Identifikasi Masalah
Penelitian ini dilaksanakan dalam rangka untuk memperoleh sebuah informasi dalam meningkatkan prestasi pembelajaran barisan dan deret dengan mempertimbangkan pembelajaran matematika dengan model pembelajaran kontekstual dan kemampuan awal siswa. Berdasarkan latar belakang maka masalah penelitian dapat diidentifikasikan sebagai berikut:
1. Ada kemungkinan pretasi belajar matematika rendah karena pelajaran matematika dianggap pelajaran yang sulit, sehingga banyak siswa yang tidak tertarik pada pelajaran matematika, sehingga muncul pertanyaan apakah kalau pelajaran matematika disampaikan dengan konsep pembelajaran yang menarik maka dapat meningkatkan prestasi belajar matematika. Untuk menjawab pertanyaan ini dapat dilakukan penelitian yang membandingkan pembelajaran matematika yang menggukakan media pembelajara (LCD) dengan pembelajaran matematika yang tidak menggunakan media pembelajaran
2. Ada kemungkinan prestasi belajar matematika rendah karena masih banyaknyaguru yang menggunakan model pembelajaran yang tidak mengaitkan dengan kehidupan sehari-hari siswa. Siswa sulit menerima dan memahami materi yang disampaikan guru, sehingga muncul pertanyaan apakah kalau pembelajaran yang digunakan oleh guru dengan mengaitkan dalam kehidupan sehari-hari atau kontekstual dapat meningkatkan prestasi belajar matematika siswa.
Untuk menjawab pertanyaan ini dapat dilakukan penelitian yang membandingkan pembelajaran dengan model pembelajaran langsung dengan pembelajaran yang mengaitkan dalam kehidupan sehari-hari (model pembelajaran Kontekstual).
3. Ada kemungkinan prestasi belajar matematika masih jauh dengan apa yang diharapkan, nilai rata-rata matematika masih rendah dibandingkan dengan nilai rata-rata pelajaran yang lain dikarenakan kemampuan awal yang dimiliki siswa dirasa masih rendah sehingga, sehingga muncul pertanyaan apakah jika kemampuan awal yang tinggi maka prestasi belajar matematika menjadi tinggi.
Untuk menjawab pertanyaan ini maka dilakukan penelitian yang membandingkan siswa yang berkemampuan awal tinggi dengan siswa yang berkemampuan awal rendah.

C. Pemilihan Masalah
Dari masalah-masalah yang diidentifikasi diatas, peneliti ingin melakukan penelitian yang terkait dengan permasalahan-permasalahan yang dua,dan ketiga yakni terkait dengan pembelajaran yang mengaitkan pada kehidupan sehari-hari (model pembelajaran kontekstual) dapat meningkatkan prestasi belajar siswa serta pengaruh kemampuan awal siswa terhadap prestasi belajar pada pokok bahasan barisan dan deret.
Penulis mengambil permasalahan ini mempunyai alasan bahwa keberhasilan proses belajar mengajar yang ditunjukkan dengan prestasi belajar siswa, sangat dipengaruhi oleh model pembelajaran. Model pembelajaran merupakan sarana untuk mentransfer pengetahuan dari guru ke siswa. Jika sarana untuk mentransfer pengetahuan baik dan lancer maka pengetahuan yang ditransfer akan maksimal.
Prestasi belajar siswa juga dipenagaruhi oleh kemampuan awal. Kemampuan awal merupakan bekal siswa dalam menerima materi pelajaran selanjutnya. Kesiapan dan kesanggupan dalam mengikuti pelajaran banyak ditentukan oleh kemampuan awal yang dimiliki oleh siswa sehingga kemampuan awal merupakan pendukung keberhasilan belajar. Pelajaran matematika yang diberikan di sekolah telah disusun secara sistematis sehingga untuk masuk pada pokok bahasan lain, kemampuan awal siswa pada pokok bahasan sebelumnya akan dijadikan sebagai bahan pendukung.

D. Pembatasan Masalah
Untuk mempertegas ruang lingkup masalah yang akan diteliti diadakan pembatasan masalah sebagai berikut:
1. Permasalahan yang diteliti adalah prestasi belajar matematika siswa pada pokok bahasan barisan dan deret aritmatika maupun geometri
2. Pembelajaran yang akan digunakan dalam penelitian adalah model pembelajaran kontekstual dan model pembelajaran langsung.
3. Kemampuan awal yang akan diambil adalah kemampuan yang dibutuhkan dalam pembelajaran barisan dan deret. Kemampuan tersebut adalah kemampuan dalam menyelesaikan system persamaan linier dengan subtitusi dan eliminasi, kemampuan pola bilangan berpangkat, kemampuan memfaktorkan .
4. Siswa yang diteliti adalah siswa kelas XII jurusan Sosial SMA Negeri se-Kabupaten X.

E. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah, identifikasi masalah, dan pembatasan masalah diatas, masalah dalam penelitian ini dapat dirumuskan sebagai berikut:
1. Apakah prestasi belajar siswa yang diajar dengan model pembelajaran kontekstual lebih baik dari pada prestasi belajar siswa yang diajar dengan model pembelajaran langsung ?
2. Apakah prestasi belajar siswa yang mempunyai kemampuan awal tinggi lebih baik dari pada prestasi belajar siswa yang mempunyai kemampuan awal sedang atau rendah dan apakah prestasi belajar siswa yang mempunyai kemampuan awal sedang lebih baik dari pada prestasi belajar siswa yang mempunyai kemampuan awal rendah ?
3. Pada masing-masing klasifikasi kemampuan awal, apakah prestasi belajar siswa pada model pembelajaran kontekstual lebih dari pada model pembelajaran langsung?
4. Pada model pembelajaran kontekstual, apakah prestasi belajar siswa yang mempunyai kemampuan awal tinggi lebih baik dari pada prestasi belajar siswa yang mempunyai kemampuan awal sedang atau rendah?, dan apakah prestasi belajar siswa yang mempunyai kemampuan awal sedang lebih baik dari pada prestasi belajar siswa yang mempunyai kemampuan awal rendah ?
5. Pada model pembelajaran langsung, apakah prestasi belajar siswa yang mempunyai kemampuan awal tinggi lebih baik dari pada prestasi belajar siswa yang mempunyai kemampuan awal sedang atau rendah?, dan apakah prestasi belajar siswa yang mempunyai kemampuan awal sedang lebih baik dari pada prestasi belajar siswa yang mempunyai kemampuan awal rendah?

F. Tujuan Penelitian
Tujuan yang ingin dicapai peneliti yang membandingkan pembelajaran dengan menggunakan pendekatan kontekstual dan pembelajaran dengan menggunakan pendekatan langsung dengan kemampuan awal siswa terhadap prestasi belajar barisan dan deret adalah:
1. Ingin mengetahui apakah prestasi belajar siswa dengan model pembelajaran kontekstual lebih baik dari pada prestasi belajar siswa dengan model pembelajaran langsung.
2. Ingin mengetahui apakah prestasi belajar siswa yang mempunyai kemampuan awal tinggi lebih baik dari pada prestasi belajar siswa yang mempunyai kemampuan awal sedang atau rendah dan apakah prestasi belajar siswa yang mempunyai kemampuan awal sedang lebih baik dari pada prestasi belajar siswa yang mempunyai kemampuan awal rendah.
3. Ingin mengetahui apakah prestasi belajar siswa pada model pembelajaran kontekstual lebih dari pada model pembelajaran langsung, pada masing-masing klasifikasi kemampuan awal
4. Ingin mengetahui apakah prestasi belajar siswa yang mempunyai kemampuan awal tinggi lebih baik dari pada prestasi belajar siswa yang mempunyai kemampuan awal sedang atau rendah, dan apakah prestasi belajar siswa yang mempunyai kemampuan awal sedang lebih baik dari pada prestasi belajar siswa yang mempunyai kemampuan awal rendah pada model pembelajaran kontekstual.
5. Ingin mengetahui apakah prestasi belajar siswa yang mempunyai kemampuan awal tinggi lebih baik dari pada prestasi belajar siswa yang mempunyai kemampuan awal sedang atau rendah, dan apakah prestasi belajar siswa yang mempunyai kemampuan awal sedang lebih baik dari pada prestasi belajar siswa yang mempunyai kemampuan awal rendah pada model pembelajaran langsung.

G. Manfaat Penelitian
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat, antara lain :
1. Menambah pengetahuan tentang pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran kontekstual apa kelebihannya dan kapan model pembelajaran kontekstual digunakan
2. Memberikan masukan kepada guru matematika dalam memilih model pembelajaran yang harus digunakan dalam pembelajaran matematika
3. Diharapkan siswa dapat memperoleh manfaat yang baik hubungannya dengan peningkatan prestasi belajar.
4. Sebagai masukan dan bahan pertimbangan untuk melakukan penelitian yang lain yang prosedur penelitianya hamper sama.

Posted by: Admin Indeks Prestasi Updated at: 18:05:00

SKRIPSI PTK UPAYA MENINGKATKAN KETERAMPILAN BERMAIN DRAMA DENGAN PENGGUNAAN MEDIA VIDEO DRAMA

(KODE PTK-0011) : SKRIPSI PTK UPAYA MENINGKATKAN KETERAMPILAN BERMAIN DRAMA DENGAN PENGGUNAAN MEDIA VIDEO DRAMA (MATA PELAJARAN : BAHASA INDONESIA)




BAB I
PENDAHULUAN


A. Latar Belakang Masalah
Pendidikan di Indonesia berfungsi untuk mencerdaskan kehidupan bangsa, seperti dinyatakan pada alinea keempat pembukaan UUD 1945. Ol eh sebab itu, upaya meningkatan kualitas pembelajaran di kelas merupakan amalan mulia karena memberikan kontribusi dalam mengisi kemerdekaan yang telah direbut melalui pengorbanan yang tidak sedikit. Hal tersebut didukung dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang mengalami kemajuan sangat pesat. Teknologi komunikasi antara lain internet, telepon, radio, televisi, video dan komputer yang memberikan arti penting bagi proses komunikasi. Tuntutan masyarakat yang sangat besar terhadap pendidikan didukung kemajuan IPTEK sehingga pendidikan tidak mungkin lagi dikelola dengan pembelajaran yang konvensional tetapi perlu dilakukan pembelajaran yang lebih inovatif. Dalam pembelajaran bahasa Indonesia khususnya menuntut penggunaan IPTEK sebagai media pembelajaran.
Pembelajaran bahasa Indonesia di sekolah belum menunjukkan hasil yang diharapkan. Suasana pembelajaran yang didominasi guru dan keterampilan berbahasa siswa rendah. Siti Mariyah (2005:160) berdasarkan pengamatan dan pengalaman peneliti sebagai guru di sekolah dasar, ternyata dalam penyajiannya guru belum menggunakan metode yang bervariasi, proses pembelajaran didominasi oleh guru, kurang memanfaatkan atau menggunakan media pembelajaran, yang pada akhirnya pembelajaran kurang menarik, dan siswa menjadi pasif. Dengan kondisi pembelajaran bahasa Indonesia yang memprihatinkan, mengharuskan kita untuk melakukan pembenahan. Misalnya dengan pembelajaran yang lebih inovatif, penggunaan metode, serta media pembelajaran yang dapat meningkatkan keterampilan siswa.
Pembelajaran yang inovatif menuntut penggunaan media pembelajaran untuk menumbuhkan minat dan keterampilan siswa. Arief S. Sadiman (2008:7) mengungkapkan media adalah segala sesuatu yang digunakan untuk menyalurkan pesan dari pengirim ke penerima sehingga dapat merangsang pikiran, perasaan, perhatian dan minat serta perhatian siswa sedemikian rupa terjadinya proses belajar. Media pembelajaran yang digunakan guru masih terbatas pada buku. Sedangkan metode yang digunakan guru masih cenderung ceramah dan penugasan. Apabila pembelajaran tersebut dilakukan secara terus menerus akan mengakibatkan minat dan keterampilan yang dimiliki siswa berkurang. Dengan penggunaan media pembelajaran yang sesuai, diharapkan minat dan keterampilan siswa akan meningkat. Suasana belajar dikelas akan menjadi lebih menarik. Contoh media yang dapat digunakan dalam pembelajaran misalnya gambar, foto, papan flannel, poster, radio, tape recorder, televisi, video dan sebagainya.
Ketepatan penggunaan media sangat menunjang keberhasilan pembelajaran. Sehingga pemilihan dan penggunaan media dapat meningkatkan keterampilan yang dimiliki siswa. Demikian pula halnya dengan pembelajaran bahasa Indonesia pada siswa kelas V SDN X, penggunaan media yang terbatas pada buku. Padahal dalam meteri pembelajaran bahasa Indonesia kelas V banyak dibutuhkan penggunaan media pembelajaran. Hal tersebut dilakukan untuk menggali dan meningkatkan keterampilan yang dimiliki siswa.
Adapun materi pembelajaran bahasa Indonesia di kelas V salah satunya adalah bermain drama. Drama adalah sebuah lakon atau cerita berupa kisah kehidupan dalam dialog dan lakuan tokoh berisi konflik manusia (http://skripsi. dagdigdug. com). Ozdemir (2008:14) drama activities provide lots of opportunities for revealing, supporting and developing creativity. Dengan bermain drama sikap yang dapat menumbuhkan kreativitas, sikap budi pekerti, percaya diri, keberanian menghadapi banyak orang, bertanggung jawab, dan memiliki jiwa seni. Sedangkan keterampilan yang dapat dikembangkan, antara lain memahami, menghayati, menghafal, berkomunikasi, berperan, kemampuan mengaktualisasikan diri kedalam situasi sosial yang dihadapi.
Drama dapat digunakan sebagai sarana dalam menumbuhkan dan mengembangkan keterampilan dalam berbahasa. Dalam kehidupan sehari - hari siswa sekolah dasar sudah mengaktualisasikan diri dengan teman sebaya. Hal yang sering terlihat pada siswa sekolah dasar, misalnya bermain dengan teman sebaya, bekerjasama, bercakap-cakap dan menirukan adegan di televisi. Dengan demikian pembelajaran drama merupakan wadah mengekspresikan dan menanamkan rasa sosial di diri siswa. Melalui pembelajaran drama diharapkan siswa dapat mengembangkan kemampuan komunikasi, kepekaan sosial yang tinggi dan dapat memerankan tokoh drama sesui dengan perwatakannya. Keterampilan bermain drama siswa dapat dikuasai setelah mendapatkan bimbingan. Adanya latihan yang terarah, berencana, berkesinambungan siswa serta pengalaman yang nyata, maka keterampilan bermain drama siswa akan lebih baik. Tetapi guru tidak mengajarkan pengalaman yang nyata pada siswa, sehingga keterampilan bermain drama siswa sangat rendah.
Melalui penggunakan media dapat merangsang ide dan ekspresi siswa bermain drama sesuai dengan karakter yang dimainkan siswa. Melalui pemahaman intonasi, pelafalan, ekspresi, blocking, maupun teknik-teknik lain yang harus diterapkan saat memerankan tokoh yang ada dalam drama. Sehingga media yang dianggap tepat untuk pembelajaran drama adalah media video drama. Ketepatan pemilihan dan penggunaan media video drama dapat meningkatkan kemampuan bermain drama. Hal ini ditegaskan oleh Wibawa Basuki (2001:73) menyatakan pendapatnya bahwa media ini dapat menyampaikan pesan audio-visual-gerak. Kegiatan bermain drama siswa akan lebih terarah dan sesuai dengan karakter siswa. Media audio visual berupa video drama yang berisi contoh memerankan tokoh drama yang dapat diterapkan dalam pembelajaran. Diharapkan dengan adanya video drama, mampu memberikan inspirasi serta gambaran yang nyata bagi siswa untuk memerankan watak dan tokoh drama secara baik, sesuai dengan kurikulum yang berlaku. Dengan kata lain upaya untuk meningkatkan keterampilan bermain drama siswa melalui penggunakan media video drama sebagai media pembelajaran.

B. Indentifikasi Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah yang dikemukakan, maka dapat diidentifikasi beberapa permasalahan sebagai berikut:
1. Kurang tepatnya media yang digunakan guru dalam menyampaikan materi bermain drama sehingga kemungkinan akan dapat mempengaruhi keterampilan beramin drama siswa.
2. Terbatasnya Kompetensi yang dimiliki guru menyebabkan proses penyampaian materi bermain drama terhadap siswa tidak tepat sasaran.
3. Kurang keprofesionalan Guru Kelas V SDN X belum menggunakan media video drama sehingga membawa dampak rendahnya keterampilan drama siswa.


C. Pembatasan Masalah
Pembatasan Masalah dalam penelitian ini bertujuan untuk memfokuskan suatu permasalahan yang akan diteliti. Adapun batasan masalah dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Keterampilan bermain drama yang dimaksud meliputi: lafal, intonasi, ekspresi, pantomimic, dan blocking.
2. Media video drama yang dimaksud adalah media berbentuk audio visual yang memberi gambaran nyata anak untuk memerankan dialog drama.

D. Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian latar belakang maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah : Apakah penggunaan media video drama dapat meningkatkan keterampilan bermain drama pada siswa kelas V SDN X ?


E. Tujuan Penelitian
Sesuai dengan rumusan masalah yang telah dipaparkan di atas, maka tujuan penelitian ini adalah : Untuk meningkatan keterampilan bermain drama dengan menggunakan media video drama pada siswa kelas V SDN X.

F. Manfaat Penelitian
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberi manfaat baik bersifat praktis maupun teoretis.
1. Manfaat Teoretis
a. Sebagai bahan kajian untuk meningkatnya keterampilan bermain drama siswa.
b. Sebagai solusi alternatif bagi guru untuk mengatasi berbagai kesulitan dalam mengajar terkait dengan media pembelajaran.
c. Sebagai acuan penelitian yang akan datang.
2. Manfaat Praktis
a. Manfaat bagi siswa adalah dapat meningkatnya keterampilan bermain drama.
b. Manfaat bagi guru adalah dapat meningkatnya wawasan pengajaran drama.
c. Bagi sekolah adalah penelitian ini dapat dijadikan masukan bagi sekolah dan instansi terkait dalam menyusun dan melaksanakan program pembinaan kepada guru.

Posted by: Admin Indeks Prestasi Updated at: 10:09:00