Cari Kategori

Showing posts with label skripsi pendidikan agama islam. Show all posts
Showing posts with label skripsi pendidikan agama islam. Show all posts

UPAYA MENINGKATKAN KEMAMPUAN BELAJAR ANAK DISLEKSIA DENGAN PENDEKATAN SAVI PADA BIDANG STUDI PAI

SKRIPSI UPAYA MENINGKATKAN KEMAMPUAN BELAJAR ANAK DISLEKSIA DENGAN PENDEKATAN SAVI PADA BIDANG STUDI PAI

A. Latar Belakang
Perkembangan ilmu pengetahuan teknologi menuntut terciptanya masyarakat yang gemar belajar. Proses belajar yang efektif antara lain dilakukan melalui membaca. Membaca merupakan proses yang kompleks, proses ini melibatkan sejumlah kegiatan fisik dan mental. Masyarakat yang gemar membaca memperoleh pengetahuan dan wawasan baru yang akan semakin meningkat kecerdasannya sehingga mereka lebih mampu menjawab tantangan hidup pada masa-masa mendatang.

Belajar membaca bukanlah hal yang mudah. Bagi sebagian anak yang mempunyai kecerdasan (IQ) diatas rata-rata itu adalah mudah, akan tetapi bagi anak yang mempunyai IQ di bawah rata-rata semua itu merupakan hambatan dalam belajar, terutama dalam hal gangguan belajar membaca (Disleksia).

Mengenali dan menangani ganguan membaca pada anak-anak sebenarnya bukanlah persoalan yang tidak bisa dipecahkan, akan tetapi untuk melakukan membutuhkan kesabaran. Para orang tua seharusnya memperhatikan dan mengamati secara cermat untuk bisa memahami kesulitan-kesulitan yang dihadapi oleh anak-anak yang memiliki gangguan belajar.

Dalam kehidupan kita di era serba sibuk seperti sekarang ini, waktu barang kali sudah menjadi sebuah komoditas langka yang sulit kita dapatkan. Dampaknya adalah masalah yang sedang dialami oleh anak penderita disklesia akan semakin bertambah buruk. Hal ini dikarenakan tidak ada seorangpun yang memiliki waktu untuk memberikan perhatian khusus pada sang anak, maupun dikarenakan orang tua tersebut lebih percaya pada terapi-terapi alternatif tertentu yang menjanjikan hasil-hasil instant tanpa memakan waktu yang lama.

Kebanyakan orang tua menuntut anak agar gemar membaca, tetapi mereka seakan-akan tidak tahu bahwa minat membaca itu tidaklah tumbuh dengan sendirinya. Lingkungan amat berpengaruh dalam memunculkan minat membaca pada anak. Untuk itulah, peran orang tua sejak sedini mungkin amat penting dalam membentuk lingkungan yang mengundang minta membaca pada anak.

Kesulitan dalam hal belajar membaca (disleksia) terjadi pada 5-10% dari seluruh anak di dunia. Gangguan belajar jenis ini pertama kali ditemukan pada akhir abad sembilan belas, ketika itu ia disebut dengan istilah "word blindness" buta huruf. Penyebab disleksia adalah faktor genetik yaitu diturunkan oleh salah satu atau kedua orang tua nak yang menderita.

Beberapa peneliti berhasil menemukan disleksia cenderung dialami oleh anak laki-laki dibandingkan anak perempuan, penderita disleksia mengalami kesulitan menulis apa yang ia inginkan ke dalam kalimat-kalimat panjang secara akurat.

Demikian pula ketika belajar membaca, pertama kali mereka akan belajar untuk mencoba memahami kosakata dari kalimat-kalimat yang pernah ia dengarkan, kata-kata yang sudah mulai terdengar akrab di telinga inilah yang kemudian akan selalu mereka cocokkan setiap kali mendengar atau menyimak kalimat yang diucapkan oleh seseorang.

Kebanyakan anak mulai belajar membaca ketika berumur lima atau enam tahun. Memang beberapa anak belajar lebih cepat dibandingkan dengan dengan anak-anak lainnya, anak baru bisa dikatakan mengalami kesulitan membaca ketika mereka berusia tujuh atau delapan tahun, karena biasanya pada umur-umur tersebut anak sudah bisa membaca secara mandiri, tanpa bantuan orang lain. Tanda-tanda disleksia tidaklah terlalu sulit apabila pada orang tua dan guru memperhatikan mereka secara cermat. Misalnya, apabila anda memberikan sebuah buku yang tidak mungkin akan membuat cerita berdasarkan gambar-gambar yang ada di buku tersebut yang mana antara gambar dan ceritanya tidak ada memiliki kaitan.

Dari penjelasan tentang anak yang mengalami gangguan belajar membaca di atas maka di bawah ini akan dijelaskan tentang suatu pendekatan yang digunakan oleh seorang guru agar dapat meningkatkan kemampuan belajar anak disleksia.

Pembelajaran tidak otomatis meningkat dengan menyuruh orang berdiri dan bergerak kesana kemari. Akan tetapi menggabungkan gerakan fisik dengan gerakan aktivitas intelektual dan penggunaan panca indera yang berpengaruh besar pada pembelajaran, pendekatan yang digunakan ini dinamakan pendekatan SAVI. Unsur-unsur dari SAVI, yaitu :
1. Somatic (belajar dengan bergerak dan berbuat)
Belajar somatic berarti belajar dengan indera peraba, kinestis, praktis, melibatkan fisik dan menggunakan serta menggerakkan tubuh sewaktu belajar.
2. Auditori (belajar dengan berbicara dan mendengar)
Pikiran auditori kita lebih kuat daripada yang kita sadari tetapi telinga kita terus menerus menangkap dan menyimpan informasi auditori, bahkan tanpa kita sadari, ketika kita membuat suara sendiri dengan berbicara, beberapa area penting di otak kita menjadi aktif.
3. Visual (belajar mengamati dan menggambarkan)
Pembelajaran visual belajar paling baik jika mereka dapat melihat contoh dari dunia nyata, diagram, peta gagasan, ikon, gambar dan gambaran dari segala macam hal ketika mereka sedang belajar.
4. Intelektual (belajar dengan memecahkan masalah dan merenung)
Meier mengatakan intelektual menunjukkan apa yang dilakukan pembelajaran dalam pikiran mereka secara internal ketika mereka menggunakan kecerdasan untuk merenungkan suatu pengalaman dan menciptakan hubungan, makna, dan nilai dari pengalaman tersebut.
Keempat cara belajar ini harus ada agar belajar berlangsung optimal, karena unsur-unsurnya terpadu, belajar yang paling baik bisa berlangsung jika semuanya itu digunakan secara simultan.
Untuk mengetahui lebih jauh bagaimana upaya meningkatkan kemampuan belajar pada anak disleksia. Maka dari itu, penulis mengadakan penelitian di salah satu sekolah dasar negeri yang sudah menggunakan pendekatan SAVI dalam pembelajarannya. Oleh karena itu, sesuai dengan latar belakang tersebut penulis mengangkat judul :
"UPAYA MENINGKATKAN KEMAMPUAN BELAJAR ANAK DISLEKSIA DENGAN PENDEKATAN SAVI PADA BIDANG STUDI PAI DI SDN X".

B. Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah pada penelitian ini adalah :
1. Bagaimana kemampuan anak disleksia di SDN X?
2. Bagaimana pendekatan SAVI dalam proses pembelajaran PAI?
3. Bagaimana upaya meningkatkan kemampuan belajar anak disleksia dengan pendekatan SAVI di SDN X?

C. Tujuan dan Manfaat Penelitian
1. Tujuan penelitian
Adapun tujuan dari penelitian yang ditulis dalam skripsi ini adalah :
1) Untuk mengetahui dan mendeskripsikan kemampuan anak disleksia di SDN X
2) Untuk mengetahui dan mendeskripsikan pendekatan SAVI dalam proses pembelajaran PAI di SDN X
3) Untuk mengetahui dan mendeskripsikan upaya meningkatkan kemampuan belajar anak disleksia dengan pendekatan SAVI di SDN X.
2. Manfaat penelitian
Adapun manfaat yang diharapkan dari hasil penelitian in adalah :
1) Manfaat teoritis bahwa hasil penelitian ini diharapkan dapat menambah wawasan dalam bidang pendidikan dan dapat menyumbang bangunan khazanah perkembangan ilmu pengetahuan.
2) Manfaat sosial praktis, maksudnya hasil penelitian ini dapat dipakai sebagai bahan pertimbangan atau masukan bagi semua pihak yang
berkepentingan terutama bagi institusi pendidikan Islam.

D. Definisi Operasional
1. Upaya meningkatkan
Akal, ikhtiyar, daya upaya menaikkan (derajat, taraf, dan sebagainya). Maksudnya adalah usaha meningkatkan kemampuan belajar Pendidikan Agama Islam (PAI) anak disleksia.
2. Kemampuan belajar
Kesanggupan pada suatu proses aktivitas yang dapat menghasilkan perubahan tingkah laku, baik berupa pengetahuan, keterampilan kemampuan, maupun sikap pada diri siswa.
3. Anak disleksia
Seorang anak yang menderita gangguan pada penglihatan dan pendengaran yang disebabkan oleh kelainan saraf pada otak sehingga anak mengalami kesulitan membaca.
4. Pendekatan SAVI
Suatu pendekatan yang menggabungkan gerakan fisik dengan aktivitas intelektual serta penggunaan semua indera yang berpengaruh besar pada proses pembelajaran.
5. Bidang Studi PAI
Suatu bidang studi sebagai usaha sadar untuk menyiapkan peserta didik dalam meyakini, memahami, menghayati dan mengamalkan agama Islam melalui kegiatan bimbingan pengajaran atau latihan dengan memperhatikan tuntutan untuk menghormati agama lain dalam hubungan kerukunan antara umat beragama dalam masyarakat untuk mewujudkan persatuan nasional.
Berdasarkan definisi istilah-istilah di atas, maka yang dimaksud dengan "UPAYA MENINGKATKAN KEMAMPUAN BELAJAR ANAK DISLEKSIA DENGAN PENDEKATAN SAVI PADA BIDANG STUDI PAI DI SDN X" adalah suatu usaha guru PAI dalam meningkatkan kemampuan belajar pada anak yang mengalami kesulitan membaca (disleksia) dengan pendekatan SAVI untuk mencapai hasil yang optimal di SDN X.

E. Metode Penelitian
Metode penelitian adalah suatu pengkajian dalam mempelajari peraturan-peraturan yang terhadap penelitian.
1. Jenis data
Jenis data dalam penelitian ini adalah kualitatif deskriptif. Deskriptif adalah catatan yang menyajikan rincian kajian daripada ringkasan dan bukan evaluasi. Sedangkan metode kualitatif adalah kata-kata dan tindakan selebihnya adalah data tambahan seperti dokumen.
Metode kualitatif lebih berdasarkan pada filsafat fenomenologi yang mengutamakan penghayatan. Metode kualitatif berusaha memahami dan menafsirkan makna suatu peristiwa, interaksi, tingkah laku manusia dalam situasi tertentu perspektif atau pandangan penelitian sendiri.
Responden dalam penelitian kualitatif berkembang secara terus menerus dan bertujuan sampai data yang dikumpulkan dianggap memuaskan.
Dalam penelitian ini penulis menggunakan jenis penelitian kualitatif deskriptif yaitu prosedur yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis/ lisan dari orang-orang dan perilaku yang dapat diamati.
2. Sumber data
Adalah subyek darimana data dapat diperoleh. Adapun sumber data penelitian sesuai dengan cara memperolehnya dibagi menjadi dua, yaitu : a. Data primer : data langsung yang dikumpulkan oleh dari sumber pertamanya.
Adapun data dari penelitian ini adalah semua komponen yang terlibat atau data yang diperoleh langsung dari lapangan melalui observasi, interview dari guru PAI, catatan serta dokumen yang diperoleh dari sekolah SDN X.
b. Data sekunder : data yang dikumpulkan oleh sebagai penunjang dari sumber pertama.
Berkaitan dengan topik pembahasan. Adapun yang dimaksud dengan subyek penelitian adalah subyek yang dituju untuk diteliti oleh peneliti. Dalam penelitian ini yang menjadi subyek penelitian adalah siswa penderita disleksia. oleh sebab itu, pada penelitian kualitatif ini tidak ada sampel acak tetapi sampel bertujuan (purposive sampling). Teknik ini digunakan apabila anggota sampel yang dipilih secara khusus berdasarkan penelitiannya. Yang dimaksud sampel bertujuan adalah sampel yang dipilih dengan cermat sesuai dengan desain penelitian.
Maksudnya dalam penelitian ini, peneliti mengambil sampel berdasarkan tujuan tertentu, sehingga yang dijadikan sampel adalah mereka-mereka yang berkomitmen dan terlibat langsung dalam menangani anak penderita disleksia yang meliputi guru agama, kepala sekolah dan guru-guru yang lain.
Mengenai jumlah dan banyaknya sampel yang diambil dalam penelitian ini tidak ditetapkan secara kuantitatif, tetapi berdasarkan pertimbangan-pertimbangan informasi yang diperlukan, peneliti berusaha menjaring sebanyak mungkin informasi dari berbagai sumber yang relevan dengan jenis data yang dibutuhkan dan penarikan sampel dihentikan jika terjadi pengulangan informasi.
3. Teknik pengumpulan data
a. Observasi
Yaitu suatu cara pengambilan data melalui pengamatan dan pencatatan dengan sistematis fenomena-fenomena yang diselidiki secara langsung ataupun tidak langsung.
Teknik ini digunakan penulis untuk mengetahui secara langsung gambaran utuh tentang proses pembelajaran PAI pada anak Disleksia, bagaimana kemampuan belajar anak disleksia, serta bagaimana usaha seorang guru dalam meningkatkan kemampuan belajar anak disleksia dengan pendekatan SAVI pada proses pembelajaran PAI.
Selain itu juga teknik ini juga penulis gunakan untuk memperoleh data tentang sejarah berdirinya sekolah SDN X, letak geografisnya, dan lain sebagainya.
b. Interview
Adalah suatu proses tanya jawab yang berlangsung secara lisan dalam mana dua orang atau lebih bertatap muka atau mendengar secara langsung informasi-informasi atau keterangan-keterangan.
Sebagai informan dalam penelitian ini adalah kepala sekolah, guru bidang studi Pendidikan Agama Islam, wali kelas I dan ibu wali murid kelas I SDN X.
Teknik ini penulis gunakan untuk memperoleh informasi tentang bagaimana kemampuan belajar anak disleksia di SDN tersebut, bagaimana implementasi pendekatan SAVI dalam proses pembelajaran PAI serta bagaimana upaya guru dalam meningkatkan kemampuan belajar anak disleksia dengan pendekatan SAVI pada bidang studi PAI di SDN X,
c. Dokumentasi
Adalah mencari data mengenai hal-hal atau variabel atau catatan transkrip, buku-buku, surat kabar, majalah, prasasti, notulen rapat, legenda, dan lain-lain.
Teknik ini penulis gunakan untuk memperoleh informasi tentang hasil tes kemampuan membaca siswa kelas I SDN X serta data-data guru yang diperlukan oleh penulis.

F. Teknik Analisis Data
Analisis data adalah suatu proses mengorganisasikan dan mengurutkan data kedalam pola, kategori dan satuan uraian dasar sehingga dapat ditemukan tema dan dirumuskan seperti yang disarankan oleh data.
Data dalam penelitian ini pada hakikatnya berwujud kata-kata, kalimat atau paragraf-paragraf yang dinyatakan dalam bentuk narasi yang bersifat deskripsi mengenai peristiwa-peristiwa nyata yang terjadi dan dialami oleh subyek. Berdasarkan wujud dan sifat data tersebut, maka teknik analisis data yang digunakan oleh peneliti adalah teknik deskriptif.
Data yang diperoleh melalui observasi, wawancara dan dokumentasi diolah dan dianalisis melalui beberapa langkah, diantaranya :
1. Reduksi data
Adalah proses seleksi, pemfokusan, penyederhanaan dan abstraksi data dari field note. Abstraksi merupakan usaha membuat rangkuman yang inti, proses dan pernyataan yang perlu dijaga sehingga tetap berada didalamnya. Data yang diperoleh dari lapangan ditulis dalam bentuk uraian atau laporan terinci. Data dalam bentuk laporan tersebut perlu direduksi, dirangkum, dipilih hal-hal yang pokok, difokuskan pada hal-hal yang penting dan dicari tema atau polanya. Data-data yang dimaksud adalah data yang diperoleh penulis melalui observasi, wawancara dan dokumentasi yang masih berupa tulisan-tulisan yang belum baku atau data mentah. Dimana data-data tersebut direduksi dan dirangkum, dicari hal-hal yang fokus pada materi penelitian yaitu tentang :
a) Bagaimana kemampuan belajar pada anak disleksia di SDN X.
b) Bagaimana implementasi pendekatan SAVI pada proses pembelajaran di SDN X
c) Bagaimana upaya guru PAI dalam meningkatkan kemampuan belajar pada anak disleksia dengan pendekatan SAVI pada bidang studi PAI di SDN X.
2. Display data
Yaitu rakitan kalimat yang disusun secara logis dan sistematis, sehingga bila dibaca akan mudah dipahami tentang berbagai hal yang terjadi dan memungkinkan peneliti untuk membuat sesuatu pada analisa atau tindakan lain berdasarkan pemahamannya tersebut.
Pada saat merangkum data-data tersebut, hendaknya penulis menggunakan susunan kalimat yang logis dan sistematis agar mudah dibaca dan dipahami. Misalnya, apa itu disleksia, disleksia adalah gangguan belajar membaca yang disebabkan oleh kelainan pada saraf otak.
3. Penarikan kesimpulan dan verifikasi
Tujuan dari awal penelitian adalah berusaha mencari kesimpulan dari permasalahan yang diteliti. Mulai dari mencari pola, tema, hubungan, permasalahan hal-hal yang sering timbul, hipotesis dan sebagainya. Dari data tersebut diambil kesimpulan serta memverifikasi data tersebut dengan cara menelusuri kembali data yang telah diperoleh.
Setelah data-data mengenai bagaimana kemampuan anak disleksia, bagaimana implementasi pendekatan SAVI pada proses pembelajaran PAI serta bagaimana upaya guru PAI dalam meningkatkan kemampuan belajar pada anak disleksia dengan pendekatan SAVI dirangkum dan direduksi secara logis dan sistematis, penulis menarik kesimpulan dan memverifikasi data tersebut dengan cara menelusuri kembali data yang diperoleh.

G. Sistematika Pembahasan
Agar penelitian ini dapat dipahami secara utuh dan berkesinambungan, maka perlu disusun sistematika pembahasan sebagai berikut :
Bab I, merupakan bab pendahuluan yang mencakup latar belakang, rumusan masalah, tujuan dan manfaat penelitian, definisi operasional, metode penelitian dan sistematika pembahasan.
Bab II, pada bab ini akan di bahas mengenai kajian teori yang memaparkan tentang : anak disleksia yang meliputi pengertian, ciri-ciri dan macam-macam anak disleksia. Kemudian tiunjauan tentang pendekatan SAVI yang meliputi pengertian, unrur-unsur dan ciri-ciri dari SAVI, serta tinjauan tentang upaya dalam meningkatkan kemampuan belajar PAI pada anak disleksia.
Bab III, pada bab ini dibahas mengenai laporan hasil penelitian yang meliputi : gambaran obyek penelitian (sejarah berdirinya, letak geografisnya, keadaan guru, karyawan dan siswanya), serta penyajian data yang meliputi bagaimana kemampuan belajar anak disleksia, bagaimana implementasi pendekatan SAVI pada proses pembelajaran serta bagaimana upaya meningkatkan kemampuan belajar pada anak disleksia dengan pendekatan SAVI pada bidang studi PAI.
Bab IV, merupakan bab penutup yang berisi kesimpulan dan saran dari hasil penelitian.

Posted by: Admin Indeks Prestasi Updated at: 06:34:00

ANALISIS KURIKULUM TAMAN KANAK-KANAK DENGAN PERKEMBANGAN PSIKIS ANAK

SKRIPSI ANALISIS KURIKULUM TAMAN KANAK-KANAK DENGAN PERKEMBANGAN PSIKIS ANAK

A. Latar Belakang Masalah
Pendidikan merupakan suatu unsur yang tidak dipisahkan dari diri manusia. Mulai dari kandungan sampai beranjak dewasa kemudian tua. Manusia mengalami proses pendidikan yang didapat dari orang tua, masyarakat maupun lingkungannya. Manusia sangat membutuhkan pendidikan melalui proses penyadaran yang berusaha menggali dan mengembangkan potensi dirinya lewat metode pengajaran atau dengan orang lain yang diakui oleh masyarakat.
 
Menurut George F. Kneller :
"Education is the process of realization, in which the self realizes and develops all it's potentials" Yang artinya bahwa pendidikan adalah suatu proses perwujudan diri di mana diri individu mewujudkan dirinya dengan mengembangkan semua potensinya.
 
Dalam menyuarakan kemerdekaan dan dengan diundangkannya UUD 45, negara kita telah bertekad untuk mengisi kemerdekaan itu dengan mencerdaskan kehidupan bangsa nya. Nilai itu menjadi patokan ideal dalam upaya menumbuh kembangkan dan mempertahankan bangsa berdasarkan acuan untuk menyelenggarakan upaya pembangunan yang berkesinambungan yang meliputi seluruh kehidupan bangsa dan negara untuk melaksanakan tugas mewujudkan tujuan nasional yang bermaktub dalam pembukaan UUD 45 yaitu melindungi segenap bangsa dan seluruh tumpah darah Indonesia, memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa serta ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial.
 
Pendidikan sebagai hak asasi manusia setiap individu bangsa juga telah diakui dalam UU no. 20 tahun 2003 tentang sistem pendidikan nasional yang menyebutkan bahwa setiap warga negara berhak mendapatkan kesempatan meningkatkan pendidikan.
 
Peranan sekolah terhadap pendidikan menjadi sangat penting, mengingat ia merupakan pertengahan antara media masyarakat keluarga yang relatif sempit dengan media masyarakat yang luas. Di lingkungan keluarga, seorang anak hanya bergaul dengan beberapa individu saja yang sifat-sifat jasmani atau karakteristik psikologi dan sosialnya mengalami perubahan yang cukup lambat. Di lingkungan keluarga, si anak bisa berlatih bergaul dengan baik, menerima dan memberi, atau terkadang ia mengalami masalah yang menyangkut sekitar dirinya sendiri. Juga di lingkungan inilah si anak dapat memenuhi segala kebutuhan tanpa harus bersusah payah dan di iri segala. Semua itu adalah tergantung pada pertumbuhan sosialnya yang ia terima dalam keluarganya, sebuah masyarakat yang kecil. Di sinilah pentingnya mengapa mendidik anak itu dimulai sejak dini, karena perkembangan jiwa anak telah mulai tumbuh sejak kecil, sesuai dengan fitrahnya. Dengan demikian maka fitrah manusia itu kita salurkan, kita bimbing dan kita juruskan kepada jalan yang seharusnya sesuai dengan arahnya. Hal ini sesuai dengan sabda Rasulullah SAW;
 
Dari Abu Hurairah bahwasanya ia berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda: "Tidak ada seorangpun yang dilahirkan kecuali dalam keadaan fitrah (suci) maka kedua orang tuanyalah yang akan menjadikan dia seorang Yahudi, Nasrani ataupun Majusi". (HR. Muslim).
 
Menurut Syekh Mustafa Al Ghulayani :
"Pendidikan adalah penanaman akhlak yang mulia dalam jiwa anak-anak yang sedang tumbuh dan menyiraminya dengan siraman petunjuk dan nasehat, sehingga menjadi suatu watak yang melekat dalam jiwa, kemudian buahnya berupa keutamaan, kebaikan, suka beramal demi kemanfaatan bangsa. "
 
Taman kanak-kanak (TK) didirikan sebagai usaha mengembangkan seluruh segi kepribadian anak didik dalam rangka menjembatani pendidikan dalam keluarga ke pendidikan sekolah. TK merupakan salah satu bentuk pendidikan prasekolah yang ada di jalur pendidikan sekolah.
 
Seperti apa yang dicantumkan dalam UU Sisdiknas no 20 tahun 2003 disebutkan bahwa: Taman Kanak-Kanak (TK) menyelenggarakan pendidikan untuk mengembangkan kepribadian dan potensi diri sesuai dengan tahap perkembangan peserta didik.
 
Pendidikan prasekolah adalah pendidikan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani anak didik di luar lingkungan keluarga sebelum memasuki pendidikan dasar, yang diselenggarakan di jalur pendidikan sekolah. Untuk memasuki pendidikan dasar, seorang anak seharusnya memiliki kondisi kematangan pada dirinya yang mencakup segenap aspek pribadi si anak baik fisik, psikis, intelektual maupun segi sosial dan psikologi anak. Oleh karena itu kualifikasi matang untuk masuk SD juga harus di ukur dari ke empat aspek pribadi anak, yaitu:
1. Fisik; ujung jari kanan dapat menyentuh ujung telinga kiri.
2. Mental intelektual; Anak mampu mendiferensi dan menggeneralisasi agar anak siap dan mampu belajar membaca dengan metode SAS dan matematika belajar komponen.
3. Psikologi; Pengamatan, perhatian, sanggup konsentrasi serta memiliki dasar kemampuan mengingat, berfikir sederhana dan memiliki sikap minat yang menunjang untuk belajar di sekolah.
4. Sosial; Anak sudah tidak egosentrik lagi, anak mampu bergaul atau kerjasama dengan baik dengan teman-teman serta dapat mengakui kewibawaan guru.
 
Dari keempat kematangan di atas persyaratan pertama yaitu kualifikasi matang fisik yang paling mudah diperoleh. Karena pada umumnya setiap anak yang sunnah berumur 7 tahun itu secara kodrat sudah mencapai kematangan tersebut.
 
Akan tetapi untuk ketiga kualifikasi lainnya yang menyangkut kualifikasi matang aspek mental intelektual, psikologi dan sosial itu semuanya dicapai melalui proses belajar atau perkembangan. Oleh karena itu efektifitas proses pematangan ketiga aspek tersebut sangat bergantung kepada bantuan atau bimbingan pendidikan.
 
Di sinilah kiranya letak strategisnya posisi pendidikan TK karena dapat membantu proses pematangan ketiga aspek perkembangan pribadi anak tersebut secara terprogram yang tidak mungkin dapat dilakukan oleh orang tua di rumah.
 
Mengingat salah satu fungsi TK adalah menyiapkan para murid untuk melanjutkan pendidikan di SD, demi keserasian TK dengan SD perlu ditinjau kembali kurikulum TK. Kurikulum yaitu segala usaha sekolah untuk mempengaruhi anak belajar, di dalam kelas, di halaman sekolah, maupun diluarnya atau segala kegiatan di bawah tanggung jawab sekolah yang mempengaruhi anak dalam pendidikannya.
 
Kurikulum ini bertujuan untuk merubah tingkah laku anak didik dari tidak bisa menjadi bisa.
Seiring dengan berjalannya waktu dan semakin berkembangnya ilmu pengetahuan, kurikulum pun mengalami perubahan dari tahun ke tahun. Perubahan kurikulum itu ada karena disesuaikan dengan situasi dan kondisi peserta didik saat ini.
 
Dari sinilah penulis mencoba untuk meneliti keadaan kurikulum saat ini relevansinya terhadap perkembangan anak didik. Penulis mencoba menganalisa keadaan kurikulum Taman Kanak-Kanak saat ini relevansinya dengan perkembangan Psikis anak di TK X.
 
Taman Kanak-Kanak Islam, TK X memasukkan pendidikan agama Islam sebagai salah satu bidang pengembangan dalam PKB TK. Bidang-bidang pengembangan tersebut yang secara garis besar meliputi aqidah, akhlak dan ibadah, merupakan dasar-dasar pendidikan agama yang penting ditanamkan sejak dini. Karena dengan menanamkan nilai-nilai dasar agama sejak dini akan sangat membantu terbentuknya sikap dan kepribadian anak kelak pada masa dewasa.

B. Penegasan Istilah
Untuk menghindari terjadinya salah pengertian terhadap skripsi ini, maka penting kiranya penulis menegaskan istilah yang digunakan, yaitu:
1. Analisis : Penguraian suatu pokok atas berbagai bagiannya dan penelaahan bagian itu serta hubungan antar bagian untuk memperoleh pengertian yang tepat dan pemahaman arti keseluruhan.
2. Kurikulum
Dalam kamus besar bahasa Indonesia disebutkan bahwa kurikulum adalah perangkat mata pelajaran yang diajarkan pada lembaga pendidikan.
Kurikulum adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai isi dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan belajar mengajar.
Kurikulum yang dimaksud di sini adalah kurikulum Taman Kanak- Kanak.
3. Perkembangan
Menurut Prof. Dr. Fj. Monk dalam buku psikologi pendidikan oleh H. Mustaqim dijelaskan bahwa perkembangan ialah suatu proses yang kekal dan tetap yang menuju ke arah suatu organiasasi pada tingkat integrasi yang lebih tinggi, berdasarkan proses pertumbuhan, kemasakan dan belajar.
4. Psikis
Dalam kamus besar bahasa Indonesia disebutkan bahwa psikis adalah hal yang berkaitan dengan jiwa manusia, yang bukan bersifat badan atau tenaga.
Jadi dari beberapa istilah di atas, dapat disimpulkan bahwa yang dimaksud dengan judul skripsi ini adalah penguraian dan penelaahan perangkat mata pelajaran yang diajarkan pada lembaga pendidikan (kurikulum) relevansinya dengan perkembangan psikis anak di TK X.

C. Rumusan Masalah
Berpijak dari latar belakang judul di atas, maka ada beberapa permasalahan yang menjadi pokok kajian bagi penulis, yaitu:
1. Bagaimana muatan kurikulum Taman Kanak-Kanak ?
2. Bagaimana perkembangan psikis anak di TK X ?
3. Bagaimana relevansi kurikulum Taman Kanak-Kanak dengan perkembangan psikis anak di TK X ?

D. Tujuan Penelitian dan Manfaat
Berkaitan dengan berbagai permasalahan di atas, ada beberapa tujuan yang hendak dicapai, antara lain:
1. Untuk mengetahui bagaimana muatan kurikulum Taman Kanak-kanak.
2. Untuk mengetahui perkembangan psikis anak di TK X.
3. Untuk mengetahui relevansi kurikulum TK dengan perkembangan psikis anak di TK X.

E. Kajian Pustaka
Sebagai acuan dalam penelitian ini, penulis menggunakan beberapa kajian pustaka sebagai dasar berfikir. Beberapa kajian pustaka tersebut di antaranya adalah buku karangan Soemiarti Parmonodewa dengan judul buku Pendidikan Anak Prasekolah, yang menjelaskan bahwa pendidikan prasekolah adalah satu hal yang penting bagi kehidupan seorang anak. Karena pada masa prasekolah merupakan saat yang tepat untuk mengembangkan aspek-aspek perkembangan anak, termasuk perkembangan mental.
Dr. H. Syamsu LN, M.Pd, dalam bukunya Psikologi Perkembangan Anak dan Remaja yang menyebutkan bahwa pada usia prasekolah, perkembangan sosial anak sudah tampak jelas, karena mereka sudah mulai bergaul aktif dengan lingkungan sekitarnya, baik dengan orang-orang sekitarnya, maupun tata aturan yang ada. Dan semua buku yang berhubungan dengan skripsi yang penulis buat dan yang dapat memberikan informasi atau data pendukung obyek penelitian.

F. Metode Penelitian
Dalam penulisan ini tergolong sebagai penelitian lapangan (Field Reseach). Oleh karena itu obyek penelitiannya adalah berupa obyek di lapangan yang sekiranya mampu memberikan informasi tentang kajian penelitian.
1. Pendekatan Penelitian
Pendekatan sebagai suatu prinsip dasar atau landasan yang digunakan untuk mengapresiasikan sesuatu. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan fenomenologis, yaitu pendekatan yang berusaha memahami gagasan dan fenomena yang ada di lapangan melalui analisis data hasil penelitian. Dengan analisis tersebut secara kritis penulis akan mengurai tentang persoalan yang terjadi dalam proses penelitian. Dalam pandangan fenomenologis berusaha memahami arti peristiwa dan kaitannya terhadap orang-orang yang biasa dalam situasi tertentu.
2. Fokus Penelitian
Penelitian ini difokuskan kepada muatan kurikulum dan perkembangan mental anak di TK X. Dalam perkembangan psikis anak ini yang ditekankan adalah aspek-aspek yang mempengaruhi perkembangan psikis tersebut, diantaranya adalah aspek perkembangan sosial, aspek perkembangan moral, aspek perkembangan intelektual dan aspek perkembangan spiritual.
3. Teknik Pengumpulan Data
Dalam teknik pengumpulan data ini, penulis menggunakan beberapa metode, yaitu:
a. Metode observasi, diartikan sebagai pencatatan dengan sistematika fenomena-fenomena yang diselidiki. Metode ini digunakan untuk mendapatkan data tentang kondisi lokasi sekolah, sarana dan prasarana serta proses belajar mengajar TK X. Metode observasi ini dilakukan dengan cara pengamatan langsung. Hal-hal yang diamati adalah Proses Belajar Mengajar, interaksi guru dengan anak di luar jam pelajaran, serta pengamatan kondisi peserta didik di dalam dan di luar kelas.
Dalam metode observasi ini peneliti menggunakan lembaran observasi atau kisi-kisi panduan observasi untuk mengetahui tingkat perkembangan psikis anak pada aspek perkembangan intelektual anak. Hal ini bertujuan untuk membuktikan apakah hasil dalam observasi tersebut sama apa yang dijelaskan dalam hasil belajar siswa (raport).
b. Metode Interviu atau Wawancara, yaitu sebuah dialog yang dilakukan oleh pewawancara untuk memperoleh informasi dari terwawancara.
Metode ini digunakan untuk memperoleh data tentang tujuan, sarana dan prasarana kegiatan belajar mengajar dan keadaan siswa di TK X.
Interviu ini dilakukan kepada kepala sekolah TK X. Hal-hal yang diungkap dalam wawancara ini dilakukan berdasarkan draf wawancara yang telah dibuat. Di samping itu juga peneliti melakukan wawancara dengan guru kelas, yang dalam hal ini selalu berinteraksi dengan para murid setiap harinya.
c. Metode Dokumentasi
Metode dokumentasi adalah cara mencari data tentang hal-hal atau variabel yang berupa catatan, transkip, agenda, surat kabar, majalah dan sebagainya.
Metode yang dimaksud dalam penggunaan metode dokumentasi adalah dokumen-dokumen yang ada di sekolah tersebut. Dengan metode ini penulis gunakan untuk menganalisa hasil belajar siswa lewat buku tugas harian mereka dan hasil belajar siswa (raport). Sehingga dapat diketahui sejauh mana perkembangan psikis peserta didik TK X.
Metode di atas diharapkan dapat memenuhi kebutuhan penulis dalam perolehan data dan informasi. Pemilihan metode di atas pun telah dipikirkan masak-masak sesuai dengan kebutuhan penulisan.
4. Metode Analisis Data
Analisis data adalah proses mengorganisasikan dan mengurutkan data ke dalam pola, kategori dan satuan uraian dasar sehingga dapat ditemukan tema dan dapat dirumuskan hipotesis kerja seperti yang disarankan data.
Metode analisis adalah jalan yang dipakai untuk mendapatkan ilmu pengetahuan ilmiah dengan perincian terhadap objek yang diteliti atau cara penanganan terhadap suatu objek tertentu dengan jalan memilah-milah antara pengertian satu dengan pengertian-pengertian yang lain, untuk sekedar memperoleh kejelasan mengenai halnya.
Setelah data berhasil penulis kumpulkan, tahap selanjutnya adalah analisis data. Adapun yang digunakan adalah metode analisis diskriptif kualitatif. Yaitu penelitian yang bermaksud untuk membuat pencandraan (deskripsi) mengenai situasi-situasi atau kejadian-kejadian. Dalam arti penelitian ini adalah akumulasi data dasar dalam cara deskripsi semata-mata tidak perlu mencari atau menerangkan saling hubungan, mentest hipotesis, membuat ramalan atau mendapatkan makna implikasi. Tujuannya adalah untuk mencari informasi faktual yang mendetail yang mencandra gejala yang ada.
Setelah data dan informasi selesai dianalisis, langkah terakhir penulis adalah penarikan kesimpulan. Penarikan kesimpulan ini dilakukan dengan membuat metaphor- metaphor pada data, menghubungkan variabel satu dengan yang lain dan mengkonstruksi mata rantai logika antara berbagai evidensi. Pekerjaan itu dikerjakan dengan metode induktif, karena berangkat dari fakta-fakta khusus dan peristiwa-peristiwa kongkrit yang kemudian digeneralisir menjadi kesimpulan yang bersifat umum. Jadi, penarikan kesimpulan dari data dan informasi yang sudah dianalisis, dilakukan dengan menggunakan metode induktif.

Posted by: Admin Indeks Prestasi Updated at: 15:20:00

IMPLEMENTASI MANAJEMEN KURIKULUM PLUS TERHADAP PENGEMBANGAN POTENSI SISWA

SKRIPSI IMPLEMENTASI MANAJEMEN KURIKULUM PLUS TERHADAP PENGEMBANGAN POTENSI SISWA

 
A. Latar Belakang Masalah
Pendidikan memberikan kontribusi yang besar bagi suatu bangsa, dimana sebagai wahana dalam mengartikan suatu pesan konstitusi serta sarana dalam membangun watak bangsa (Nation Character Building). Hari Suderadjat dalam bukunya mengatakan bahwa berdasarkan Undang-Undang Sisdiknas 2003 Pasal 36 ayat 1, bahwa "Pengembangan kurikulum dilakukan dengan mengacu pada standar nasional pendidikan untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional". Menurut pasal 3 Undang-Undang Sisdiknas bahwa "tujuan pendidikan nasional adalah pemberdayaan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan yang Maha esa, berakhlak mulia, (memiliki nilai dan sikap), sehat berilmu, c/akap, kreatif (berilmu pengetahuan), mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis dan bertanggung jawab (kecakapan psikomotorik)". Dari pasal tersebut jelas terlihat bahwa kompetensi yaang harus dimiliki siswa kurang lebih harus sesuai tujuan pendidikan. Dimana potensi tersebut akan lebih mudah diaplikasikan pada peserta didik dimulai pada usia dini, sehingga akan berdampak nyata pada kedewasaan mereka dalam berpikir. Hal ini sesuai kebijakan pemerintah dalam pendidikan yang sudah berubah, bahwa setiap pengembangan sekolah diserahkan kepada kepentingan dan kemampuan sekolah masing-masing.
 
Munculnya kebijkan pemerintah tentang pendidikan yang bersifat sentralistik berubah ke pendidikan desentralistik dilatarbelakangi oleh perubahan dan tuntutan masyarakat dalam dimensi global. Aspirasi masyarakat terutama para orang tua ingin anak-anaknya dapat menguasai sejumlah pengetahuan, dapat merubah sikapnya, menerima norma-norma serta menguasai sejumlah ketrampilan. Atas dasar keinginan masyarakat dan kemajuan ilmu pengetahuan, tekhnologi serta informasi inilah pendidikan perlu diarahkan pada pendidikan demokratis. Demokratis merupakan pendidikan mampu melayani setiap perbedaan dan kebutuhan individu (berdiversifikasi). Individu disini yaitu siswa, dimana setiap kemampuan yang dimiliki selalu berbeda-beda, tergantung bagaimana lingkungan sekolah membentuknya.
 
Kurikulum merupakan seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi, dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu. Sehingga terlihat jelas disini bahwa kurikulum dan pendidikan mempunyai hubungan yang erat. Antara kurikulum dan pendidikan mempunyai suatu tujuan yang ingin dicapai. Apabila tujuan tersebut ingin tercapai maka harus ada sarana isi atau tepatnya yaitu kurikulum yang dijadikan dasar acuan itu relevan, artinya sesuai dengan tujuan pendidikan tersebut, hal ini dapat diartikan bahwa kurikulum dapat membawa kita kearah tercapainya tujuan pendidikan. Sejalan dengan Kurikulum plus yang merupakan suatu kurikulum yang dikembangkan oleh suatu lembaga pendidikan Islam (pengembangan dari Kurikulum Berbasis Kompetensi yang meliputi Kurikulum Berbasis Kompetensi yang diterapkan oleh suatu lembaga pendidikan dimana meliputi Program Bidang Pengembangan (meliputi Agama Islam, Fisik, Motorik, dan Kognitif, Seni, Sains, Bahasa), Program Unggulan (meliputi; Leadership, Green Education), Program Penunjang (meliputi IT; Bahasa Inggris, Bahasa Arab, Komputer, Praktikal Life dan mengaji) untuk mewujudkan anak agar mempunyai lifeskill dan bersikap (pendidikan berkarakter).
 
Pendidikan pada tingkat kanak-kanak sebenarnya harus diterapkan pada usia dini agar anak mempunyai kebiasaan yang sesuai dengan apa yang telah diperolehnya dari lingkungan termasuk di sekolah. Hal ini sejalan dengan pemikiran John Locke yang terdapat dalam buku Wahyudi dan Dwi Retna Damayanti yang mengatakan bahwa seorang anak yang baru lahir ke dunia bagaikan "selembar kertas putih" (Tabula Rasa), dimana bahwa arah hidup anak-anak termasuk segala jenis pengetahuannya tergantung dari bagaimana mereka ditumbuhkan, dikembangkan, serta dididik.
 
Sebagai pelaksanaan kurikulum plus di Taman Kanak-Kanak X, diperlukan adanya Manajemen Kurikulum Plus. Manajemen kurikulum ini penting karena di dalam Kurikulum Plus terdapat beberapa pengembangan potensi yang perlu ditanamkan oleh anak-anak pada usia dini. Selain itu agar dalam kegiatan belajar mengajar berjalan secara efektif dibutuhkan adanya manajemen agar segala hal yang diputuskan perlu adanya pertimbangan dimana akan memerlukan tenaga pendidik yang mempunyai kemampuan profesional Isi dari Kurikulum Plus diantaranya Leadership, Green Education, Informasi dan Tekhnologi (IT), bahasa Inggris dan Sains. Dan bagaimana perkembangan Kognitif, Afektif dan Psikomotorik terhadap adanya manajemen kurikulum plus.
 
Kurikulum plus yang didalamnya terdapat Program Pengembangan (Agama Islam, Fisik, Bahasa, Sains, Seni); Program Unggulan (Leadership dan Green Education); Program Penunjang (IT: Bahasa Inggris, Bahasa Arab, Komputer dan Baca Tulis Al-Qur'an). Sementara itu dalam implementasinya, potensi yang perlu dikembangkan dalam isi kurikulum plus tersebut yaitu Kognitif, Afektif dan Psikomotorik. Kognitif (sebagai proses mental yang mencakup kognisi, inteligensia, belajar, pemecahan masalah, dan pembentukan konsep), Afektif (yang mencakup emosi atau perasaan) dan Psikomotorik (sebagai proses pengembangan dalam mengontrol bagian tubuh melalui kegiatan-kegiatan yang terkoordinasi).
 
Dengan adanya kurikulum plus tersebut, tentu memerlukan sistem manajemen yang tidak mudah, segala hal perlu dipersiapkan. Bagaimana pula hasil implementasi manajemen kurikulum plus terhadap pengembangan potensi siswa TK X itu sendiri.
 
Melihat pentingnya Implementasi Kurikulum Plus dan manajemennya serta pengembangan potensi di Taman Kanak-Kanak X, maka penelitian ini dilakukan untuk mengetahui bagaimana implementasi manajemen kurikulum plus di Taman Kanak-Kanak X, dan perkembangan terhadap siswa.

B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang Implementasi manajemen kurikulum plus terhadap upaya pengembangan siswa di TK X tersebut, penulis fokuskan pada beberapa masalah sebagai berikut:
1. Bagaimana konsep dasar manajemen kurikulum plus TK X?
2. Bagaimana pengembangan potensi (Kognitif, Afektif dan Psikomotorik) di TK X?
3. Bagaimana implementasi manajemen kurikulum plus terhadap pengembangan potensi siswa di TK X?

C. Tujuan Penelitian
Tujuan dari penelitian ini adalah
1. Untuk mengetahui bagaimana manajemen kurikulum plus di Taman Kanak Kanak X.
2. Untuk mengetahui bagaimana perkembangan potensi siswa di TK X yang meliputi: Kognitif, Afektif dan Psikomotorik.
3. Untuk mengetahui penerapan manajemen kurikulum plus dalam pengembangan potensi siswa di TK X.

D. Kegunaan Penelitian
1. Untuk mendapatkan deskripsi umum tentang manajemen kurikulum plus.
2. Sebagai bahan kajian ilmiah khususnya bagi mahasiswa jurusan Manajemen Pendidikan dan umumnya bagi akademik dalam rangka mengembangkan keilmuan, terutama yang berkaitan dengan manajemen kurikulum.
3. Bagi penulis diharapkan melalui penelitian secara teori/lapangan akan dapat memberi wawasan dalam mengembangkan diri sendiri serta meningkatkan profesionalitas penulis di bidang ilmu manajemen pendidikan.

E. Defenisi Operasional
Agar lebih memberikan pemahaman yang tepat sehingga tidak menimbulkan kesalahpahaman dalam Proposal yang berjudul "Implementasi Manajemen Kurikulum Plus Terhadap Pengembangan Potensi Siswa di Taman Kanak-Kanak X"., maka perlu ada penjelasan/pendefinisian masalah sebagai berikut:
- Implementasi : Penerapan, pelaksanaan.
- Manajemen Kurikulum Plus : Suatu sistem pengelolaan kurikulum yang kooperatif, komprehensif, sistemik, dan sistematik dalam rangka mewujudkan ketercapaian tujuan kurikulum. Dalam hal ini kurikulum plus berisi tentang Program Pengembangan (Agama Islam, Fisik, Bahasa, Sains, Seni); Program Unggulan (Leadership dan Green Education); Program Penunjang (IT: Bahasa Inggris, Bahasa Arab, Komputer dan Baca Tulis Al -Qur'an).
- Pengembangan Potensi TK : Suatu kemampuan pada tingkat prasekolah (TK X) yang berumur antara 4-6 tahun (TK A) dan 5-6 tahun (TK B) yang memungkinkan untuk dapat dikembangakan. Dalam hal ini yang perlu dikembangkan yaitu Kognitif, Afektif, Psikomotorik.
Jadi penelitian ini difokuskan pada bagiamana pengelolaan/manajemen kurikulum plus yang meliputi perencanaan, pengorganisasian, impelementasi, serta evaluasi yang meliputi; Program Pengembangan (Agama Islam, Fisik, Bahasa, Sains, Seni); Program Unggulan (Leadership dan Green Education); Program Penunjang (IT: Bahasa Inggris, Bahasa Arab, Komputer dan Baca Tulis Al-Qur'an). Dan bagaimana potensi siswa di Taman Kanak-Kanak X terhadap implementasi manajemen Kurikulum Plus tersebut, yang potensinya mencakup sebagai berikut:
1. Kognitif, yang meliputi; memahami benda di sekitarnya, memahami konsep-konsep sains sederhana, memecahkan masalah sederhana, memahami makhluk hidup di sekitarnya, dll
2. Afektif, yang meliputi; melakukan ibadah sesuai aturan, membedakan perbuatan benar dan salah, ebiasakan disiplin, mebiasakan saling hormat dan menghormati, dll.
3. Psikomotorik, yang meliputi; menggerakkan badan untuk melatih keberanian, meniru membuat garis tegak, mengurus dirinya sendiri tanpa bantuan, ikut menanam dalam kegiatan sains, dll.

F. Metode Penelitian
1. Pendekatan dan Jenis Penelitian
Penelitian merupakan suatu upaya dalam ilmu pengetahuan yang dijalankan untuk memperoleh faktor-faktor dan prinsip-prinsip dengan sabar, hati-hati dan sistematis untuk mewujudkan suatu kebenaran.
Pendekatan penelitian yang digunakan dalam skripsi ini adalah pendekatan kualitatif.
a. Pendekatan Penelitian Kualitatif
Pendekatan Kualitatif adalah proses penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang dan perilaku yang dapat diamati.
b. Jenis Penelitian Deskriptif
Penelitian deskriptif adalah suatu penelitian yang di dalamnya meneliti status sekelompok manusia, suatu objek, suatu sistem pemikiran, atau suatu peristiwa di masa sekarang.
Selain itu, jenis penelitian deskriptif bertujuan untuk mendeskripsikan tentang yang terjadi saat ini, dimana didalamnya terdapat upaya deskripsi, pencatatan, analisis, dan menginterpretasikan kondisi-kondisi yang sekarang ini terjadi atau ada.
Penelitian ini akan mendeskripsikan Kurikulum Plus yang terdapat di Taman Kanak-Kanak X merupakan pengembangan dari kurikulum KBK yang didalamnya terdapat Program Pengembangan (Agama Islam, Fisik, Bahasa, Sains, Seni); Program Unggulan (Leadership dan Green Education); Program Penunjang (IT: Bahasa Inggris, Bahasa Arab, Komputer dan Baca Tulis Al-Qur'an).
2. Subjek Penelitian
Dalam penelitian ini penulis mengambil lokasi di TK X yang terletak di Jalan Raya X. Adapun subjek penelitiannya meliputi:
a. Kepala Sekolah
b. Guru
3. Jenis dan Sumber Data
- Jenis Data
Dalam penelitian ini penulis memerlukan data untuk menunjang penelitiannya. Jenis data yang diperlukan penulis meliputi:
a. Data Primer
Data primer merupakan data yang diperoleh langsung dari sumbernya yaitu melalui prosedur dan teknik pengambilan data berupa interview, observasi, maupun menggunakan instrument khusus dirancang sesuai dengan tujuannya. Yang termasuk data ini adalah tentang:
1). Pelaksanaan Manajemen Kurikulum Plus
2). Pengembangan Potensi Siswa dari diaplikasikannya Kurikulum Plus.
b. Data Sekunder
Data sekunder merupakan data yang diperoleh dari sumber tidak langsung yang biasanya berupa data dokument dan arsip-arsip resmi. Yang termasuk dalam data sekunder adalah:
1) Sejarah Berdirinya Taman Kanak-Kanak X
2) Struktur organisasi,
3) Daftar tenaga pengajar, Guru dan jumlah siswa
4) Daftar Sarana dan prasarana,
5) Sistem pengajaran.
- Sumber Data
Untuk memperoleh data yang sesuai dengan kebutuhan penulis, maka diperlukan sumber data. Sumber data adalah subjek dimana data diperoleh. Dalam penelitian ini sumber datanya meliputi:
1. Informan
Informan adalah orang yang dimanfaatkan untuk membuat informasi tentang situasi dan kondisi latar belakang penelitian yang mana ia mempunyai banyak pengetahuan tentang latar belakang penelitian tersebut.
Dalam hal ini yang menjadi informan (Key Informance) adalah pengurus TK X seperti Kepala Sekolah dan guru. Pemilihan informasi penelitian ini menggunakan teknik snowball, dimana peneliti akan mencari data terus-menerus sampai pada jawaban titik akhir/jawaban itu sampai jenuh.
2. Dokumen
Dokumen adalah sumber data mengenai hal-hal yang beupa catatan, transkrip, buku, majalah, surat kabar, dan sebagainya. Sumber data tertulis dalam penelitian ini adalah buku-buku yang membahas kurikulum plus TK X, buku-buku manajemen kurikulum serta dokumen-dokumen lain yang menunjang penelitian seperti struktur organisasi, jumlah siswa dan guru serta hal-hal yang menyinggung manajemen kurikulum plus.
4. Teknik Pengumpulan Data
Dalam rangka mengumpulkan data yang diperlukan, maka penulis menggunakan beberapa metode, yaitu:
a. Observasi
Observasi merupakan proses pengumpulan data melalui pengamatan langsung. Dimana penelitian ini dapat dilakukan dengan tes, rekaman gambar, dan sebagainya.
Jadi tekhnik ini untuk mengamati secara langsung keadaan/situasi yang ada dalam organisasi yang akan diteliti, sehingga penulis tidak hanya melakukan wawancara saja. Metode ini juga digunakan penulis untuk memperoleh data tentang:
1. Keadaan kelas dan sekolah TK X
2. Manajemen Kurikulum Plus TK X
3. Sarana Prasarana TK X
4. Kegiatan luar kelas untuk mendukung pelaksanaan manajemen kurikulum plus.
Dalam penelitian ini, penulis menggunakan observasi sistematis dimana dilakukan dengan menggunakan instrumen penelitian.
b. Wawancara
Wawancara merupakan proses memperoleh keterangan untuk tujuan penelitian antara pewawancara (interviewer) yang mengajukan pertanyaan dan terwawancara (interviewee) yang memberikan jawaban atas pertanyaan itu.
Selain itu sebagai pewawancara penulis menggunakan interview guide (panduan wawancara).
Dalam wawancara ini penulis mendapatkan informasi langsung tentang manajemen kurikulum plus dan potensi siswa di TK X.
c. Dokumentasi
Dokumentasi merupakan pengumpulan data melalui bahan tertulis misalnya catatan, transkrip, buku, majalah, dan sebagainya.
Metode ini penulis gunakan untuk mencermati data-data yang bersangkutan dengan manajemen kurikulum plus dan data pengembangan potensi siswa terhadap manajemen kurikulum plus, data tentang kegiatan siswa yang menyinggung tentang pelaksanaan kurikulum plus, serta sarana dan prasarana. Selain itu penulis juga menggunakan dokumentasi dari majalah X.
5. Teknik Analisis Data
Setelah data terkumpul dari hasil pengumpulan data, maka peneliti bertugas menganalisis data tersebut. Adapun analisis data yang digunakan adalah analisis data kualitatif model Miles dan Huberman yang terdiri dari: Reduksi Data, Penyajian Data, Penarikan Kesimpulan/Verivikasi.
a. Reduksi Data
Reduksi Data merupakan suatu bentuk analisis yang menajamkan, menggolongkan, mengarahkan, membuang yang tidak perlu dan mengorganisasikan data dengan cara sedemikian rupa, sehingga kesimpulan-Kesimpulan finalnya dapat ditarik dan diverivikasi. Selain itu kegiatan reduksi juga memilah hal-hal yang pokok sesuai penelitian kita sehingga memudahkan peneliti. Hal-hal yang perlu direduksi diantaranya, tentang perencanaan, pengorganisasian, implementasi,. evaluasi kurikulum KBK Program Pengembangan (Agama Islam, Fisik, Bahasa, Sains, Seni); Program Unggulan (Leadership dan Green Education); Program Penunjang (IT: Bahas Inggris, Bahasa Arab, Komputer dan Baca Tulis Al-Qur'an), Data awalnya bercampur menjadi satu dan bagaimana kita memilah dan memadukan antara Kurikulum KBK dengan yang lain. Sehingga akan memudahkan peneliti untuk memilah pengembangan potensi siswa (Kognitif, Afektif, dan Psikomotorik). yang merupakan varibel selanjutnya dalan skripsi ini.
b. Penyajian Data
Penyajian data adalah menyajikan sekumpulan informasi yang tersusun dan memberi kemungkinan adanya penarikan kesimpulan dan pengambilan tindakan. Selain itu melalui penyajian data, maka data dapat terorganisasikan sehingga akan semakin mudah difahami.
Dalam penyajian data, yang perlu disajikan yaitu menyebutkan kegiatan KBK, kegiatan Leadership, kegiatan GE, serta kegiatan IT. Serta bagaimana kognitif, afektif dan psikomotorik pada tingkat kanak-kanak khususnya di TK X. Semua itu akan membutuhkan manajemen, agar terlaksana secara efektif dan efisien.
c. Penarikan Kesimpulan/Verivikasi
Penarikan kesimpulan/verivikasi merupakan suatu tinjauan ulang pada catatan-catatan, dimana dengan bertukar pikiran dengan teman sejawat untuk mengembangkan pemikiran. Selain itu kesimpulan awal yang dikemukakan masih bersifat awal, karena berubah atau tidaknya penarikan kesimpulan tergantung pada bukti-bukti di lapangan. Karena banyak data yang diperoleh dan mendukung, maka verivikasi juga dapat dilakukan dengan mengumpulkan data yang baru dan relevan.

G. Sistematika Pembahasan
Bab I Pendahuluan, yang meliputi latar belakang masalah, rumusan masalah, tujuan penelitian, kegunaan penelitian definisi operasional, metode penelitian.
Bab II Dalam hal ini menguraikan tentang teori-teori/rujukan-rujukan yang digunakan sebagai pendukung proposal ini, yaitu manajemen kurikulum, kurikulum plus, pengembangan potensi siswa (kognitif, afektif, dan psikomotorik, serta faktor-faktor pendukung manajemen kurikulum).
Bab III merupakan paparan hasil penelitian yang berisi kondisi obyektif yaang meliputi (profile TK X, sejarah TK X, Visi dan msisi TK X, Struktur Organisasi TK X, jumlah guru, jumlah siswa, serta sarana prasarana yang menunjang semua kegiatan belajar), tentang penyajian data dari hasil penelitian yaitu: data tentang manajemen kurikulum plus di TK X, data pengembangan potensi siswa di TK X, Implementasi Manajemen Kurikulum Plus di TK X dan analisis data (manajemen kurikulum plus di TK X, data pengembangan potensi siswa di TK X, Implementasi Manajemen Kurikulum Plus di TK X) dari hasil penelitian untuk menjawab dari rumusan masalah penelitian
Bab IV adalah penutup yang berisi kesimpulan dan saran dari isi pembahasan tentang "Implementasi Manajemen Kurikulum Plus Terhadap Pengembangan Potensi Siswa di Taman Kanak-Kanak X".

Posted by: Admin Indeks Prestasi Updated at: 15:19:00

Dampak Strategi Modeling Partisipan Terhadap Pemahaman Materi Tata Krama Pribadi Pada Siswa

Pendidikan merupakan persoalan yang krusial dan sangat penting dari zaman ke zaman sampai sekarang ini, terutama pendidikan bagi generasi muda. Karena pendidikan merupakan modal utama dalam memajukan bangsa dan negara. Dengan pendidikan akan lahir generasi-generasi yang sesuai dengan bidang keahliannya. Dengan pendidikan pula dihasilkan jiwa-jiwa bertanggung jawab atas diri dan lingkungannya. Hal ini sesuai dengan tujuan pendidikan nasional yang dijelaskan dalam UU No. 20 Tahun 2003, yaitu :
 
“Mencerdaskan kehidupan bangsa dan mengambangkan manusia Indonesia seutuhnya, yakni manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berbudi pekerti yang luhur, memiliki pengetahuan dan keterampilan, kesehatan jasmani dan rohani, kepribadian yang mantap dan mandiri serta rasa tanggung jawab kemasyarakatan dan kebangsaan”.
 
Sebab pada hakekatnya pendidikan adalah usaha sadar yang punya tujuan untuk mengubah tingkah laku dan sikap anak didik. Menurut H. Abu Ahmadi bahwa, pendidikan merupakan usaha sadar yang dilakukan secara sadar dengan sengaja dan positif, untuk membantu perkembangan anak didik dalam membentuk dirinya menjadi manusia dewasa dalam arti yang utuh. Salah satunya adalah melalui PAI, hal ini sangat penting dan kita perlukan dalam kehidupan sehari-hari.
 
Pendidikan agama Islam merupakan suatu usaha sadar untuk membina dan mengasuh peserta didik agar senantiasa dapat memahami ajaran Islam secara menyeluruh lalu menghayati tujuan yang pada akhirnya dapat mengamalkan serta dapat menjadikan Islam sebagai pandangan hidup. Pada suatu lembaga pendidikan, materi Pendidikan Agama Islam adalah salah satu mata pelajaran yang ada, dimana dalam proses pembelajarannya tentu banyak mengalami kendala-kendala, antara lain seperti kesulitan siswa dalam memahami suatu materi, hal ini sangat penting.
 
Dalam mengukur sampai dimana pengelolaan pendidikan itu berhasil, salah satunya adalah dengan melihat tingkat pemahaman anak didik terhadap materi yang diberikan dalam lembaga pendidikan. Dalam hal ini guru harus mampu mengolah, menyusun dan menyajikan materi pelajaran agar materi tersebut dapat dipahami dan diterima oleh anak didik. Dengan kata lain, guru harus benar-benar menguasai strategi pengajaran dengan baik, karena dalam suatu interaksi edukatif antara guru dengan anak didik terdapat syarat-syarat yang harus dipenuhi, salah satunya adalah tentang pemakaian strategi. Kita semua mengetahui bahwa dalam proses belajar mengajar tidak hanya guru dan murid yang menjadi pendukung dalam keberhasilannya, tetapi juga dibutuhkan strategi, agar materi yang disampaikan mudah dipahami.
 
Oleh karena itu, jika kita bicara tentang mengajar tentu ada subjek yang belajar. Belajar dan mengajar meskipun dua hal yang berbeda, namun keduanya saling berhubungan sangat erat sekali. Mengajar akan efektif dan efisien bila hal ii didasarkan pada prinsip-prinsip belajar. Belajar akan efektif dan efisien bila kesiapan anak didik diperhitungkan. Jadi, mengajar itu sebenarnya merupakan suatu proses interaksi antara guru dan murid yang dalam hal ini guru mengharapkan siswanya mendapatkan pengetahuan, kemampuan atau keterampilan dan pemahaman yang disesuaikan dengan struktur kognitif yang diambil dari anak didik. Sedangkan menurut Bagne (1977) bahwa belajar merupakan sebuah proses pengubahan tingkah laku yang meliputi perubahan kecenderungan manusia, seperti sikap, minat dan nilai serta perubahan kemampuannya, yakni peningkatan kemampuan untuk melakukan berbagai jenis performance (kinerja). Perubahan tingkah laku tersebut harus bertahan dalam jangka waktu tertentu. Dengan demikian, belajar pada dasarnya dapat dipandang sebagai suatu proses perubahan positif yang terjadi pada tingkah laku siswa sebagai subjek didik akibat adanya peningkatan pengetahuan, keterampilan, nilai, sikap, apresiasi, kemampuan berpikir logis dan kritis, kemampuan interaktif dan kreatifitas yang telah dicapainya. Konsep belajar demikian menempatkan manusia yang belajar tidak hanya pada proses teknis, tetapi sekaligus pada proses normative. Hal ini amat penting agar perkembangan kepribadian dan kemampuan belajar siswa terjadi secara harmonis dan optimal.
 
Proses belajar bisa berlangsung secara efektif apabila semua faktor internal dan faktor eksternal siswa diperhatikan oleh guru. Seorang guru harus bisa mengetahui potensi, kecerdasan, minat, motivasi, daya belajar, sikap dan latar belakang sosial ekonomi dan budaya yang merupakan faktor internal siswa. Begitu juga faktor eksternal seperti tujuan, materi, strategi, pendekatan pembelajaran, metode, iklim sosial dalam kelas, sistem evaluasi dan lain-lain.
 
Namun, berbeda jika kita lihat sistem pendidikan di Indonesia pada saat ini. Menurut Benjamin Franklin, sistem pendidikan yang ada di Indonesia menganggap siswa sebagai bejana kosong yang perlu di isi, bukan menyalakan semangat agar siswa bergairah belajar. Karena tujuannya untuk mengisi bejana, maka siswa sering dijejali dengan berbagai materi pelajaran sebanyak-banyaknya. Waktu belajar siswa di sekolah selama 6-7 jam sehari, serasa belum cukup sehingga para murid diberikan tugas rumah yang memerlukan waktu sampai larut malam untuk melaksanakannya. Sistem pendidikan seperti ini membuat semangat anak didik untuk belajar menjadi pudar. Apabila tidak ada semangat belajar, kegairahan serta rasa cinta untuk belajar, maka harapan untuk membentuk manusia unggul yang cerdas akal budinya, kreatif serta mampu memberikan solusi bagi masalah kehidupan akan gagal pula.
 
Sering kali kita menjumpai sekolah-sekolah seperti yang dipaparkan di atas, siswa dianggap sebagai bejana kosong yang harus diisi tanpa memikirkan akibatnya atau hasilnya. Karena pada kenyataannya masih banyak siswa yang belum betul-betul paham dengan materi yang diberikan, sedangkan materi yang diberikan melebihi batas kemampuan siswa. Hal ini sering terjadi disebabkan target yang telah ditetapkan dengan kreativitas yang dimiliki oleh guru tidak seimbang, kadang hanya menjelaskan materi tanpa ada suatu praktek. Hal ini akan sulit dipahami oleh siswa. Melihat kondisi dan kesiapan siswa pada saat ini, mereka lebih senang dan tertarik jika dalam proses belajar dihubungkan langsung dengan alam sekitar. Hal ini akan terlihat nyata bagi mereka, tidak lagi merekareka karena yang mereka dapatkan hanya berupa teori-teori atau cerita-cerita dari guru.
 
Disini, teori belajar sosial Albert Bandura berusaha menjelaskan hal belajar dalam latar wajar, tidak seperti yang terjadi di laboratorium, lingkungan sekitar memberikan kesempatan yang luas kepada individu untuk memperoleh keterampilan atau pemahaman tentang pengetahuan yang kompleks melalui pengamatan terhadap tingkah laku model dan konsekuensinya.
 
Sebagai ringkasan, ada tiga asumsi yang mendukung teori belajar sosial, ketiga asumsi adalah sebagai berikut : pertama, proses belajar menuntut dari si belajar proses kognitif dan ketrampilan pengambilan keputusan. Kedua, belajar ialah hubungan segitiga yang saling berkaitan antara lingkungan, faktor pribadi, dan tingkah laku. Ketiga, belajar menghasilkan pemerolehan kode tingkah laku verbal dan visual yang mungkin diunjukan, mungkin juga tidak.
 
Dengan demikian, seorang guru dalam proses belajar mengajar di suatu lembaga pendidikan tidak boleh mendominasi pengetahuan anak didik. Anak didik harus diberi kebebasan dalam mengga li pengetahuan dan guru harus lebih kreatif dalam menyusun strategi, sehingga anak didik bisa belajar dengan baik dan dapat menerima serta memahami materi yang diberikan, di samping adanya lingkungan sebagai pendukung.
 
Strategi pembelajaran yang berkembang saat ini banyak sekali, antara yang satu dengan yang lainnya memiliki karakteristik yang berbeda. Pada dasarnya strategi pembelajaran yang diterapkan di sekolah berguna untuk mendukung berlangsungnya penyampaian materi agar bisa diterima dan dipahami oleh peserta didik dengan benar. Belajar yang efektif dan efisien akan tercapai apabila dapat menggunakan strategi belajar yang tepat. Strategi belajar yang diperlukan untuk dapat mencapai hasil yang semaksimal mungkin.
 
Strategi pembelajaran merupakan suatu usaha atau siasat yang digunakan oleh guru yang dirangkai secara sistematis agar materi yang disampaikan dapat dipahami oleh peserta didik. Proses belajar mengajar akan berhasil jika strategi yang digunakan sesuai dengan materi pelajaran yang disampaikan.
 
Strategi pembelajaran modeling partisipan adalah strategi belajar yang membantu guru agar lebih mudah memahamkan peserta didik, tentang hal-hal yang ada dalam kehidupan sehari-hari, sehingga dapat mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan sehari-hari. Penguasaan atau pemahaman siswa tidak hanya dilihat dari tampilan kuantitatif saja, tetapi juga lewat aplikasi dalam kehidupan yang nyata. Dengan skema konseptual seperti itu, hasil pembelajaran bukan sekadar wacana yang melangit, akan tetapi merupakan hal yang harus membumi dan bermakna bagi siswa.
 
Dalam strategi modeling partisipan, klien melihat model nyata. Biasanya diikuti dengan klien berpartisipasi dalam kegiatan model, dibantu oleh model meniru tingkah laku yang dikehendaki, sampai akhirnya melakukan sendiri tanpa bantuan. Menurut Bandura, kebanyakan belajar terjadi tanpa reinforcement yang nyata, dalam penelitiannya ternyata orang dapat mempelajari respon baru dengan melihat respon orang lain. Bahkan belajar tetap terjadi tanpa ikut melakukan hal yang dipelajari itu, dan model yang diamatinya juga tidak mendapat reinforcement dari tingkah lakunya. Belajar melalui observasi jauh lebih efisien dibanding belajar melalui pengalaman langsung. Melalui observasi, orang dapat memperoleh respon yang tidak terhingga banyaknya. Yang diikuti dengan penguatan atau hubungan.
 
Dalam hal strategi modeling, siswa tidak hanya sekedar menirukan atau mengulangi apa yang dilakukan model, tetapi modeling melibatkan penambahan dan pengurangan tingkah laku yang teramati, menggeneralisir berbagai pengamatan sekaligus melibatkan proses kognitif.
 
Dengan demikian Strategi modeling partisipan cocok jika diterapkan pada materi tata krama pribadi. Hal ini akan sangat bagus jika guru benar-benar dapat mengatur, karena dengan adanya tampilan dari seorang model guru dapat mengatur lingkungan yang ada sesuai dengan tujuan yang ditetapkan, karena dengan adanya tampilan dari seorang model siswa dapat mengetahui hal-hal nyata yang berhubungan dengan materinya yaitu materi tata krama pribadi.
 
Materi tentang tata krama pribadi yakni tata krama yang ada pada diri pribadi, meliputi; berpakaian, berhias, adab dalam perjalanan, bertemu dan menerima tamu. Tata krama sering diasosiasikan dengan budi pekerti. Dimana budi pekerti itu adalah kesadaran yang ditampilkan seseorang dalam berperilaku. Budi pekerti secara operasional merupakan perilaku positif yang dilakukan melalui kebiasaan, artinya seseorang diajarkan suatu tata krama yang baik mulai sejak kecil sampai dewasa melalui latihan-latihan. Misalnya, tentang berpakaian, berhias, adab dalam perjalanan, bertemu dan menerima tamu, cara makan dan minum, cara masuk dan keluar rumah, dan sebagainya.
 
Tata krama juga sering diasosiasikan dengan budi pekerti yang juga berisikan tentang kebiasaan sopan santun yang disepakati dalam lingkungan antar manusia. Tata krama terdiri atas kata tata dan krama. Tata berarti adat, norma, dan aturan. Krama berarti sopan santun, kelakuan, tindakan, perbuatan. Dengan demikian, tata krama berarti adat sopan santun yang menjadi bagian dari kehidupan manusia dalam menerapkan budi pekerti. Dalam kehidupan, sering terjadi benturan-benturan nilai dan norma yang kita rasakan. Apa yang dahulu kita anggap benar mungkin sekarang sudah menjadi salah. Apa yang kita anggap tabu dibicarakan, sekarang sudah menjadi hal yang lumrah. Misalnya, berbicara masalah politik, hak asasi, dan sebagainya.
 
Sehingga penting kiranya bagi guru untuk menyajikan materi tata krama pribadi dengan menggunakan strategi modeling partisipan, agar siswa tidak hanya menerima teori saja tanpa mengetahui secara nyata tanpa mengetahui bagaimana penerapannya dalam kehidupan sehari-hari. Melihat mayoritas agama yang dianut adalah agama Islam, sehingga penting kiranya bagi peserta didik agar dapat memahami materi tata krama pribadi, karena ketika peserta didik sudah memahami materi tersebut, maka akan mampu mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari.
 
Biasanya dalam proses belajar mengajar, guru menjelaskan materi tersebut, setelah itu dipraktekkan dengan cara menampilkan model. Tujuannya untuk mempermudah anak didik dalam memahami materi tersebut.
 
Berangkat dari latar belakang tersebut, maka penulis ingin mengadakan penelitian dengan judul “Dampak Strategi Modeling Partisipan terhadap Pemahaman Tata Krama Pribadi (Berpakaian, Berhias, Adab Dalam Perjalanan, Bertemu Dan Menerima Tamu) Di SMA X”.

B. Rumusan Masalah
1. Bagaimana pemahaman siswa pada materi tata krama pribadi (berpakaian, berhias, adab dalam perjalanan, bertamu dan menerima tamu) di SMA X ?
2. Bagaimana penerapan strategi modeling partisipan di SMA X?
3. Adakah dampak strategi modeling partisipan terhadap pemahaman materi tata krama pribadi (berpakaian, berhias, adab dalam perjalanan, bertamu dan menerima tamu) di SMA X ?

C. Tujuan Penelitian
Berdasarkan rumusan masalah yang terkumpul tersebut, maka tujuan dari penelitian ini adalah :
1. Untuk mengetahui pemahaman siswa pada materi tata krama pribadi (berpakaian, berhias, adab dalam perjalanan, bertamu dan menerima tamu) di SMA X ?
2. Untuk mengetahui penerapan strategi modeling pada materi tata krama pribadi (berpakaian, berhias, adab dalam perjalanan, bertamu dan menerima tamu) di SMA X ?
3. Untuk mengetahui dampak strategi modeling partisipan terhadap pemahaman materi tata krama pribadi (berpakaian, berhias, adab dalam perjalanan, bertamu dan menerima tamu) di SMA X ?

D. Kegunaan Penelitian
1. Bagi Peneliti
Dapat menambah wawasan khususnya mengenai dampak strategi modeling partisipan terhadap pemahaman materi tata krama pribadi (berpakaian, berhias, adab dalam perjalanan, bertamu dan menerima tamu) pada siswa kelas I SMA X. Demikian strategi modeling partisipan ini merupakan suatu proses belajar mengamati tingkah laku individu atau kelompok dengan ketentuan adanya seseorang sebagai model, ada tingkah laku yang diamati untuk menghasilkan tingkah laku baru yang diinginkan. Dengan menggunakan strategi modeling partisipan diharapkan akan menghasilkan suatu pemahaman tentang materi tata krama pribadi (berpakaian, berhias, adab dalam perjalanan, bertamu dan menerima tamu).
2. Bagi lembaga (sekolah) yang diteliti
Dapat digunakan sebagai masukan bagi seorang guru agar dapat mengukur tingkat pemahaman siswa pada setiap materi yang diajarkan, terutama pada materi yang berkaitan dengan strategi modeling dan digunakan untuk membantu siswa menguasai dan memahami suatu materi.
3. Bagi peneliti lain
Penelitian ini dapat digunakan sebagai masukan untuk meningkatkan dan mengembangkan penelitian lebih lanjut, terutama mengenai pemahaman siswa pada materi tata krama pribadi

E. Hipotesa Penelitian
Hipotesis berasal dari kata hypo yang berarti di bawah dan thesa yang artinya kebenaran (kebenaran yang masih perlu diuji). Jadi hipotesa adalah jawaban yang bersifat sementara terhadap permasalahan penelitian sampai terbukti melalui data yang terkumpul. Hipotesa dibagi menjadi 2, yaitu hipotesa kerja (Ha) dan hipotesa nol (Ho).
Dari uraian tersebut dapat ditarik suatu hipotesa penelitian yaitu :
Ha : Strategi modeling partisipan mempunyai dampak terhadap pemahaman materi tata krama pribadi (berpakaian, berhias, adab dalam perjalanan, bertamu dan menerima tamu) pada siswa kelas 1 SMA X.
Ho : Strategi modeling partisipan tidak mempunyai dampak terhadap materi tata krama pribadi (berpakaian, berhias, adab dalam perjalanan, bertamu dan menerima tamu) pada siswa kelas 1 SMA X

F. Definisi Operasional
Kerlinger (1973), menyatakan bahwa definisi operasional adalah definisi yang dapat diukur, karena dalam penelitian harus diketahui definisi istilah atau konsep yang jelas.
Agar pembahasan lebih mudah dipahami, penulis menegaskan istilahistilah penting yang perlu dimengerti, antara lain :
Dampak : Pengaruh kuat yang mendatangkan akibat (baik negatif maupun positif). Dengan demikian dampak merupakan akibat yang muncul dikarenakan adanya suatu penyebab.
Strategi Modeling Partisipan : Suatu strategi yang digunakan untuk merubah tingkah laku yang dipelajari melalui mengobservasi orang lain, aktivitas atau simbol selaku contoh, dengan kata lain suatu teknik memanfaatkan model sebagai alat untuk mempermudah perubahan tingkah laku.
Maksudnya adalah guru menyajikan seorang model atau lebih, kemudian diikuti pengamatan dari peserta didik, guna memperoleh tingkah laku baru atau memperkuat tingkah laku yang telah ada. Hal ini dapat dilakukan dengan cara menyajikan model hidup, model simbolik, atau diskripsi verbal.
Pemahaman materi tata krama pribadi. Mengerti tentang aturan-aturan yang berlaku dalam kehidupan sehari-hari yang berlaku untuk diri sendiri baik yang berkaitan dengan aturan, sopan santun. Norma-norma dan tindakan kelakuan di masyarakat, dan mampu mengaplikasikannya dalam kehidupan seharihari.

G. Metode Penelitian
Dalam usaha penelitian apapun, penggunaan metode merupakan hal yang sangat penting, apalagi dalam penelitian ilmiah, sebab dengan menggunakan metode akan mempengaruhi proses pengumpulan data juga dapat menentukan berhasil atau tidaknya suatu tujuan penelitian serta menentukan asal dari asal penelitian.
Oleh sebab itu agar menghasilkan skripsi yang baik, penulis menggunakan beberapa metode penelitian yang diperlukan dalam penelitian skripsi ini.
1. Jenis penelitian
Jenis penelitian ini adalah penelitian deskriptif kuantitatif, deskriptif yaitu data-data yang berupa tulisan atau lisan dari orang orang atau pelaku yang dapat diamati. Sedangkan kuantitatif yaitu suatu proses menemukan pengetahuan menggunakan data berupa angka sebagai alat menemukan keterangan mengenai apa yang ingin kita ketahui. Dalam hal ini, penulis menggunakan data dari angket yang kemudian diberi nilai, kemudian dari nilai tersebut dianalisis melalui rumus yang telah sesuai dengan masalah penelitian, yaitu rumus product moment.
2. Populasi dan sampel
a. Populasi
Populasi adalah keseluruhan subyek penelitian, 18 dapat berupa manusia, gejala-gejala, tingkah laku, dan sebagainya yang menjadi obyek penelitian.
Menurut kamus riset, karangan Drs. Komarudin, yang dimaksudkan dengan populasi adalah semua individu yang menjadi sumber pengembangan sampel. Pada kenyataannya, populasi ini adalah sekumpulan kasus yang perlu memenuhi syarat-syarat tertentu yang berkaitan dengan masalah penelitian. Kasus tersebut dapat berupa barang, binatang, hal, atau peristiwa.
Sedangkan menurut dr. siswojo, definisi dari populasi adalah sejumlah kasus yang memenuhi seperangkat kriteria yang ditentukan peneliti. Disini peneliti dapat menentukan sendiri kriteria-kriteria yang ada pada populasi yang akan diteliti, misalnya semua laki-laki yang ada di Jakarta yang berambut putih, atau semua remaja yang kecanduan narkoba di Indonesia sebagai populasi. Jadi kriterianya, semua laki-laki berambut putih dan semua remaja yang kecanduan narkoba di Indonesia. Dengan menetapkan populasi ini, peneliti dapat mengukur sesuatu sesuai dengan kasusnya dan tidak berlebihan dengan populasi yang diacu.
Dengan demikian, yang dimaksud populasi adalah keseluruhan obyek yang menjadi sasaran dalam suatu penelitian, baik berupa manusia, hewan, peristiwa atau kejadian.

b. Sampel
Sampel adalah sebagian atau wakil dari populasi yang diteliti. Sebagai antisipasi apabila subyeknya kurang dari seratus, lebih baik diambil semua sehingga penelitiannya merupakan penelitian populasi, selanjutnya jika jumlah subyeknya besar atau lebih dari 100 dapat diambil 10-15% atau lebih. Berhubung dalam penelitian yang menjadi subjek peneliti kurang dari 100, maka peneliti mengambil semua, sehingga penelitian ini adalah penelitian populasi.
3. Metode Pengumpulan Data
a. Metode Observasi
Observasi bisa diartikan sebagai pengamatan sistematik terhadap fenomena yang diselidiki. Observasi atau pengamatan digunakan dalam rangka mengumpulkan data dalam suatu penelitian, merupakan hasil perbuatan jiwa secara aktif dan penuh perhatian untuk menyadari adanya rangsangan tertentu yang diinginkan atau suatu studi yang disengaja yang sistematis tentang keadaan atau fenomena sosial dan gejala-gejala psikis dengan jalan mengamati atau mencatat. Yang dilakukan waktu pengamatan adalah mengamati gejala-gejala sosial dalam katagori yang tepat, mengamati berkali-kali dan mencatat segera dengan memakai alat bantu, seperti alat pencatat, skala penilaian (formulir) dan alat mekanik (tape recorder).
Dapat disimpulkan bahwa observasi adalah mengamati langsung di lapangan yang dijadikan obyek penelitian atau lebih jelasnya peneliti langsung terjun sendiri ke lapangan yang melibatkan panca indera.
b. Metode Interview
Interview bisa dipandang sebagai metode pengumpulan data dengan jalan tanya jawab sepihak kepada tujuan penelitian. Pada umumnya dua orang atau lebih hadir secara fisik dalam proses tanya jawab itu dan masing-masing dapat menggunakan saluran-saluran komunikasi secara wajar dan lancar.
Menurut Prof. Dr. A. Nasution, MA, interview adalah suatu bentuk komunikasi verbal, jadi semacam percakapan yang bertujuan memperoleh informasi. Dalam wawancara, pertanyaan dan jawaban diberikan secara verbal. Biasanya komunikasi ini dilakukan dalam keadaan saling berhadapan, namun komunikasi dapat juga dilakukan melalui telepon.
Jadi interview atau yang sering disebut-sebut dengan wawancara adalah komunikasi langsung atau berhadapan satu orang dengan orang lain atau lebih dengan tujuan untuk memperoleh informasi, disamping itu interview juga dapat dilakukan melalui telepon. Hal demikian dapat terjadi disebabkan jarak antara peneliti dengan responden terlalu jauh, sehingga tidak memungkinkan untuk bertatap muka, atau karena ada hal lain.
Wawancara berfungsi sebagai deskriptif, yaitu melukiskan dunia kenyataan seperti yang dialami oleh orang lain, misalnya dunia kehidupan gelandangan, suku terpencil, tukang becak, dan sebagainya. Disamping itu, interview juga berfungsi eksploratif, yaitu bila masalah yang kita hadapi masih samar-samar bagi kita karena belum pernah diselidiki secara mendalam oleh orang lain. Misalnya, kita belum ada studi yang mendalam tentang KKN, kehidupan mahasiswa di kontrakan, pelaksanaan pembaharuan pendidikan, dan lain-lain. Kita dapat melakukan studi eksploratif dengan mengadakan wawancara dengan sejumlah sampel yang kita pilih. Dalam wawancara itu, kita memperoleh gambaran yang jelas tentang masalah itu, variabel yang terkandung didalamnya, hipotesishipotesis yang perlu diuji, dan lain-lain, sehingga kita dapat mengadakan penelitian yang lebih sistematis untuk menemukan sejumlah generalisasi atau prinsip yang lebih umum dan obyektif.
Dengan demikian, interview adalah suatu metode pengumpulan data dengan cara wawancara langsung dengan responden untuk memperoleh informasi yang berkaitan dengan masalah penelitian.
c. Metode angket
Angket adalah sejumlah pertanyaan tertulis yang dipergunakan untuk memperoleh informasi dari responden, dalam arti laporan tentang pribadinya, atau hal-hal yang ia ketahui.
Dapat disimpulkan bahwa metode angket adalah metode yang dilakukan dengan menyebarkan data lewat pertanyaan-pertanyaan tertulis kepada responden yang dijadikan satu dalam penelitian.
Menurut Prof. Dr. A. Nasution, MA, angket adalah daftar pertanyaan yang didistribusikan melalui pos untuk di isi dan dikembalikan atau dapat juga dijawab dibawah pengawasan peneliti.
Angket pada umumnya meminta keterangan tentang fakta yang diketahui oleh responden atau juga mengenai pendapat atau sikap, misalnya keterangan tentang sekolah (jumlah guru, pegawai, ruang kelas, fasilitas, murid, dan sebagainya), tentang sikap mengenai masalah sosial, ekonomi, politik, moral, dan sebagainya.
Jenis angket ada dua macam :
1) Menurut jawabannya, terbagi menjadi tiga macam yaitu :
a) Tertutup.
b) Terbuka.
c) Kombinasi kedua macam itu (tertutup dan terbuka).
2) Menurut administrasinya, terbagi menjadi dua macam yaitu :
a) Dikirimkan melalui kos.
b) Diberikan dalam situasi tatap muka.
d. Metode dokumentasi
Dokumentasi dari asal kata dokumen, yang artinya barang-barang, tertulis. Di dalam melaksanakan metode dokumentasi, peneliti menyelidiki benda-benda tertulis, seperti buku, majalah, dokumen, peraturanperaturan, notulen rapat, catatan harian dan sebagainya.
Sebenarnya metode dokumentasi adalah pengumpulan data lewat dokumen tertulis, karena dokumentasi asal katanya adalah dokumen, yaitu barang-barang tertulis. Dengan demikian jelas bahwa nantinya yang jadi sumber data ini antara lain seperti; buku majalah, catatan harian, dan sebagainya.

H. Teknik Analisa Data
Data-data yang sudah terkumpul dan diolah kemudian dianalisis dengan metode analisa deskriptif kuantitatif, yaitu suatu analisa data yang dilakukan dengan membaca tabel-tabel, grafik-grafik atau angka-angka yang tersedia, kemudian melakukan uraian dan pena fsiran. Setelah itu data yang diperoleh dari angket diolah dan dianalisis dengan rumus prosentase.
*** BAGIAN INI SENGAJA TIDAK DITAMPILKAN ***

Dari hasil analisis dengan menggunakan rumus tersebut di atas, maka diperoleh dampak strategi modeling partisipan terhadap pemahaman materi tata krama pribadi (berpakaian, berhias, adab dalam perjalanan, bertamu dan menerima tamu) pada siswa kelas 1 SMA X dengan cara menetapkan hasil standart berupa angka yang bersifat kuantitatif, sebagai berikut :
76 %-100 % : Baik
56 %-75 % : Cukup
40 %-55 % : Kurang
0 %-35 % : Buruk 33
Sedangkan untuk mengukur sejauhmana dampak strategi modeling terhadap pemahaman materi tata krama pribadi (berpakaian, beerhias, adab dalam perjalanan, bertemu dan menerima tamu), digunakan rumus Product Moment, yaitu :
*** BAGIAN INI SENGAJA TIDAK DITAMPILKAN ***

Untuk mengetahui sejauh mana dampak strategi modeling partisipan terhadap materi tata krama pribadi (berpakaian, berhias, adab dalam perjalanan, bertamu dan menerima tamu) pada siswa kelas 1 SMA X, maka disesuaikan dengan tabel interpretasi sebagai berikut :
Tabel I
Interpretasi Nilai “r” Product Moment
Besarnya “r” Product
Moment
Interpretasi
0.800 – 1.00 Tinggi
0.600 – 0.800 Cukup
0.400 – 0.600 Agak rendah
0.200 – 0.400 Rendah
0.00 – 0.200 Sangat rendah/tak berkorelasi
I. Sistematika Pembahasan
Dalam pembahasan skripsi ini penulis mencantumkan sistematika pembahasan, agar jelas gambarannya mengenai apa saja yang dibahas, antara lain :
Bab I : Pendahuluan, merupakan garis besar (pokok penulisan skripsi), berisi tentang latar belakang masalah, rumusan masalah, alasan memilih judul, tujuan dan kegunaan penelitian, metodologi penelitian dan sistematika pembahasan.
Bab II : Landasan Teori, membahas tentang hal-hal yang bersifat teoritis, meliputi pengertian strategi modeling dan tahap-tahapnya, proses belajar mengajar dan dampak strategi modeling terhadap peningkatan materi tata krama pribadi (berpakaian, berhias, adab dalam perjalanan, bertemu dan menerima tamu) pada siswa kelas 1 SMA X
Bab III : Meliputi laporan penelitian, penyajian data dan analisis data hasil penelitian.
Bab IV : Penutup, berisi uraian, kesimpulan dan saran dari penulis.

Posted by: Admin Indeks Prestasi Updated at: 13:11:00

Upaya Meningkatkan Creative Intelligence (Kecerdasan Kreatif) Melalui Keterampilan Bertanya Dasar

Anak-anak adalah masa depan kita sendiri. Suatu kebahagiaan tersendiri bagi setiap orang tua, bila memiliki anak-anak yang cerdas dan kreatif. Dengan generasi yang cerdas dan kreatif itu berarti kita telah memberikan masa depan yang cerah bagi mereka. Untuk itu peran pendidik dalam mengembangkan sikap dan kemampuan anak didiknya harus dapat membantu dalam mengahadapi persoalan-persoalan dimasa mendatang secara kreatif. Karena kreatif yang dapat dioptimalkan mampu membekali kehidupan anak didik untuk dapat hidup layak dimasa mendatang.
 
Kreativitas adalah hasil dari interaksi antara individu dan lingkungannya. Hidup kreatif berarti mengembangkan talenta yang dimiliki, belajar menggunakan kemampuan diri sendiri secara optimal, menjajaki gagasan baru, tempat-tempat baru, aktivitas-aktivitas baru dalam mengembangkan kepekaan terhadap masalah lingkungan, masalah orang lain dan masalah kemanusiaan.
 
Peningkatan kinerja biasanya akan tercapai jika kreatifitas difasilitasi untuk berkembang. Kreativitas bergantung pada kemampuan untuk menggunakan keterampilan yang relevan dengan permasalahan yang dihadapi, mengembangkan keahlian dan bakat seseorang dalam bidang yang spesifik.
 
Orang-orang kreatif tidak selalu objektif (tidak melihat yang dikatakan tetapi melihat orang yang mengatakan). Namun, untuk menguji ide-ideyang manual dari orang lain dan mereka tidak membatasi pandangan terhadap dunia luar. Orang-orang yang kreatif sering pula mengesampingkan egonya dan senantiasa berkonsultasi dengan rekannya untuk menguji ide-ide mereka. Selain itu, individu-individu kreatif memiliki motivasi diri, dorongan dan kebutuhan spiritual yang kuat. Salah satu kunci untuk memahami kreativitas adalah dengan mengenali dorongan dari dalam diri dan hasrat untuk mencipta demi penciptaan itu sendirilah yang penting, dan bukan imbalan dari luar. Upaya-upaya kreatif membangkitkan motivasi diri akan kenikmatan, kepuasan, dan tantangan.
 
Kreatif biasanya selalu ingin tahu, memiliki minat yang luas, dan menyukai kegemaran dalam mengembangkan kreativitas secara kreatif. Anak dan remaja kreatif biasanya cukup mandiri dan memiliki rasa percaya diri. Mereka lebih berani mengambil risiko (yang selalu diperhitungkan) dari pada anak-anak pada umumnya. Artinya dalam melakukan sesuatu yang bagi mereka amat berarti, penting, dan disukai, mereka tidak terlalu menghiraukan kritik atau ejekan dari orang lain. Merekapun tidak takut untuk membuat kesalahan dalam mengemukakan pendapat mereka walaupun mungkin tidak disetujui oleh orang lain. Orang yang inovatif berani untuk berbeda, menonjol, membuat kejutan, atau menyimpang dari tradisi. Rasa percaya diri, keuletan, dan ketekunan membuat mereka tidak cepat putus asa dalam melakukan tujuan mereka.
 
Ciri-ciri kreativitas menurut Renzulli dkk adalah sebagai berikut :
1. Rasa ingin tahu yang luas dan mendalam
2. Sering mengajukan pertanyaan yang baik
3. Memberikan banyak gagasan atau usul terhadap suatu masalah
4. Bebas dalam menyatakan pendapat
5. Mempunyai rasa keindahan yang dalam
6. Menonjol dalam salah satu bidang seni
7. Mampu melihat suatu masalah dari berbagai segi/sudut pandang
8. Mempunyai rasa humor yang luas
9. Mempunyai daya imajinasi, dan
10. Orisinal dalam ungkapan gagasan dan dalam pemecahan masalah.
 
Menurut Sund, bahwa individu dengan potensi kreatif dapat dikenal melalui pengamatan ciri-ciri sebagai berikut :
1. Hasrat keingintahuan yang cukup besar
2. Bersikap terbuka terhadap pengalaman baru
3. Panjang akal
4. Keinginan untuk menemukan dan meneliti
5. Cenderung lebih menyukai tugas yang berat dan memuaskan
6. Memiliki dedikasi bergairah serta aktif dalam melaksanakan tugas.
7. Menaggapi pertanyaan yang diajukan serta cenderung memberi jawaban lebih banyak
8. Kemampuan membuat analisis dan sintesis
9. Memiliki semangat bertanya serta meneliti
10. Memiliki daya abstraksi yang cukup baik
11. Memiliki latar belakang membaca yang cukup luas.
 
Sedangkan Kecerdasan kreatif menurut Alan J. Rowe adalah mengetahui bagaimana cara kita memecahkan masalah sehari-hari.
 
Menurut Agus Efendi, Ciri-ciri kecerdasan kreatif adalah sebaga berikut :
1. Tidak menanti masalah sampai memuncak. Mereka terlebih dahulu mengenali masalah itu jauh sebelum masalah itu menjalar kemana-mana dan secepatnya memproses pemecahannya.
2. Mendefinisikan masalah dengan benar. Dengan begitu, mereka memecahkan masalah yang sangat menghambatnya. Tidak membiarkan masalah tersebut terjadi lagi dalam kehidupan mereka. Mereka juga berusaha memutuskan mana masalah yang pertama kali harus segera dipecahkan, dan mana yang bisa dipecahkan kemudian. Jadi dia mempunyai prioritas dalam pemecahan masalahnya.
3. Sungguh-sungguh merumuskan strategi pemecahan masalah. Khususnya, mereka fokus pada renacana jangka panjang daripada terburu-buru. Lalu mereka memikirkan kembali apa strategi mereka. “orang yang memiliki kecerdasan itu tidak selalu membuat keputusan yang benar, tapi mereka memonitor dan mengevaluasi keputusan-keputusan mereka dan selanjutnya memperbaiki kesalahan-kesalahan yang mereka temukan.
4. Memecahkan masalah secara behavioristik. Mereka tidak merumuskan atau memastikan masalah, mereka menginkubasikan masalah. Dalam menghadapi masalah mereka menganalisanya terlebih dahulu dengan teliti baru kemudian menggunakan strategi yang tepat dan kreatif dalam memecahkannya.
5. Mengenali rasionalitas berpikir. Pemecahan dan keputusan mereka itu intuitif atau rasional, atau dengan mengkombinasikan keduanya. Mereka jarang salah dalam hal proses pemikiran mereka sehingga mereka tidak salah dalam membuat keputusan.
Artinya : “Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan”. (Al – Insyirah : 5)
Kedudukan guru mempunyai arti penting dalam pendidikan. Arti penting itu bertolak dari tugas dan tanggung jawab guru yang cukup berat untuk mencerdaskan anak didiknya. Kerangka berpikir yang demikian menghendaki seorang guru untuk melengkapi dirinya dengan berbagai keterampilan yang diharapkan dapat membantu dalam menjalankan tugasnya dalam interaksi edukatif. Keterampilan dasar mengajar adalah keterampilan yang mutlak harus dipunyai oleh guru dalam hal ini dengan memiliki keterampilan bertanya dasar, diharapkan guru dapat mengoptimalkan peranannya dikelas. Keterampilan dasar mengajar yang harus dikuasai oleh guru salah satunya adalah keterampilan bertanya dasar.
 
Keterampilan bertanya dasar di dikembangkan di MI X dalam bentuk lisan, tulis dan pemecahan masalah dari hasilnya sudah memenuhi indicator, terfokus pada sebuah konsep inovatif yang diterapkan MI X. Konsep ini diawali dari sebuah kegelisahan atas sekolah dasar konvensional yang ada selama ini, khususnya terkait dengan masalah menumbuhkan kreatifitas anak. Problem yang hingga kini masih dianut oleh sekolah konvensional adalah bagaimana memposisikan anak didik agar kreatifitas mereka berkembang sesuai dengan dimensi perkembangan psikologisnya. Sebaliknya, sekolah yang kreatif memberikan hak sebebasbebasnya kepada anak untuk berkreasi dan berinovasi tanpa harus diatur terlalu ketat oleh aturan sekolah.
 
Keterampilan bertanya dasar, bagi seorang guru merupakan keterampilan yang sangat penting untuk dikuasai. Sebab melalui keterampilan ini guru dapat menciptakan suasana pembelajaran lebih bermakna 9. Keterampilan bertanya dasar adalah mengembangkan keterampilan siswa dalam meningkatkan kemampuan berpikir kognitif tingkat tinggi10. Keterampilan bertanya dasar sangat perlu dikuasai guru untuk menciptakan pembelajaran yang efektif dan menyenangkan, karena hampir dalam setiap tahap pembelajaran guru dituntut untuk mengajukan pertanyaan, dan kualitas pertanyaan yang diajukan guru akan menentukan kualitas jawaban peserta didik.
 
Mengingat begitu pentingnya peranan bertanya dalam proses pembelajaran, maka setiap guru harus memiliki keterampilan ini, sehingga kualitas pembelajaran bisa sesuai dengan kondisi yang diharapkan.
 
Dengan demikian berbagai keahlian dan keterampilan termasuk kecerdasan kreatif harus dikembangkan sejak dini kepada anak-anak, baik di lingkungan keluarga, sekolah dan masyarakat.
 
Berdasarkan hasil pengamatan yang telah dilakukan oleh peneliti menunjukkan bahwa bentuk kecerdasan kreatif di MI X adalah dalam proses belajar mengajar terdapat kegiatan siswa menjawab pertanyaan yang diajukan oleh guru : guru memberi pertanyaan kepada siswa lalu siswa menjawabnya, menyelesaikan masalah : siswa menyelesaikan masalah dengan cara berkelompok lalu salah satu siswa mewakili kelompoknya untuk maju didepan kelas, berprestasi di depan kelas : siapa yang maju didepan kelas dan banyak mengeluarkan pendapat berarti siswa itu berprestasi, menyimpulkan penjelasan guru : lalu siswa menyimpulkan apa yang telah guru jelaskan kepada mereka, memperagakan materi yang tersampaikan : siswa memperagakan materi yang telah sudah disampaikan oleh guru.
 
Model keterampilan bertanya dasar yang dilakukan di MI X adalah dengan beberapa cara antara lain secara lisan yaitu setelah guru menjelaskan materi lalu guru memberi pertanyaan dengan cara lisan, misalnya setelah bapak/ibu guru menjelaskan tentang puasa. sekarang siapa yang tau tentangarti puasa?. Hal itu berdasarkan dari pengamatan peneliti ketika melakukan observasi awal. Secara tertulis dalam bentuk pilihan ganda dengan jawaban, Betul Salah, menjodohkan Kiri Kanan, isian dan uraian misalnya
1. Tempat suci untuk beribadah dan menyembah Allah adalah …..
a. Keluar Masjid c. Gereja
b. Masjid d. Klenteng
2. Ketika masuk masjid, hendaknya dalam keadaan …..
a. Suci c. Sehat
b. Susah d. Gembira
3. (B – S) Al-Qur’an adalah wahyu Allah
4. (B – S) Ketika keluar masjid mendahulukan kaki kanan
5. (b) Shalat Tarawih dilaksanakan pada bulan …..
6. (a) Puasa artinya …..
a. Menahan diri
b. Ramadhan
7. Kitab suci orang islam?
Jawab : Al-Qur’an
8. Shalat harus menghadap?
Jawab : Kiblat
9. Sebutkan 3 puasa sunnah? Puasa Senin kamis, Rajab dan Daud
10. Sebutkan 3 shalat sunnah? Sholat Tahiyatul Masjid, Hari Raya Idul Fitri, Hari Raya Idul Adha.
Guru juga bisa memberi pertanyaan dengan cara tertulis seperti beberapa contoh tentang keterampilan bertanya dasar secara tertulis adalah soal yang ada di LKS atau guru membuat soal sendiri, ada juga bentuk keterampilan bertanya dasar melalui penyelesaian masalah secara kelompok, dimana guru juga bisa menyuruh siswanya untuk menyelesaikan masalah dengan cara berkelompok misalnya
Puasa Sunnah Sholat Sunnah
Rajab
Senin kamis
Daud
Syawal
Tahiyatul Masjid
Hari raya idul fitri
Hari raya idul adha
Jenazah
Dan guru berkeliling ke kelompok satu ke kelompok yang lain supaya tahu siapa yang banyak berfikir atau tidak berfikir dalam penyelesaian masalah yang diberikan oleh guru.
Madrasah Ibtidaiyah X merupakan madrasah yang melaksanakan kegiatan proses belajar mengajar yang didalam proses pembelajaran melalui keterampilan bertanya dasar dan telah mengupayakan bentuk kecerdasan kreatif pada siswa guna mewujudkan pribadi muslim muslima yang cerdas di dunia dan di akhirat.
Creative Intelligence pada siswa perlu ditumbuhkan pada anak sejak usia dini dan salah satu yang dapat meningkatkan Creative Intelligence siswa adalah melalui keterampilan Bertanya Dasar. Merujuk pada permasalahan ini maka perlu bagi penulis untuk meneliti keberhasilan Keterampilan Bertanya Dasar dalam meningkatkan Creative Intelligence siswa di MI X.
Oleh karena itu, penulis tertarik untuk mengadakan penelitian pada Madrasah tersebut agar dapat menemukan dan mengungkapkan berbagai upaya yang dilakukan oleh para pendidik dalam meningkatkan kecerdasan kreatif, dengan mengangkat judul skripsi : “UPAYA MENINGKATKAN CREATIVE INTELLIGENCE (KECERDASAN KREATIF) SISWA MELALUI KETERAMPILAN BERTANYA DASAR DI MI X”.

B. Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah dalam penelitian ini adalah :
1. Bagaimana meningkatkan Creative Intelligence (Kecerdasan Kreatif) siswa di MI X?
2. Bagaimana penerapan keterampilan bertanya dasar di MI X?
3. Bagaimana upaya meningkatkan Creative Intelligence (Kecerdasan Kreatif) siswa melalui keterampilan bertanya dasar di MI X?

C. Tujuan Penelitian
Berangkat dari rumusan masalah yang telah dikemukakan, maka tujuan penelitian ini adalah :
1. Untuk mengetahui peningkatan Creative Intelligence (kecerdasan kreatif) siswa di MI X.
2. Untuk mengetahui penerapan keterampilan bertanya dasar di MI X.
3. Untuk mengetahui upaya Creative Intelligence (kecerdasan kreatif) siswa melalui keterampilan bertanya dasar di MI X.

D. Keguanaan Penelitian
Setiap hasil penelitian pasti memiliki arti dan manfaat. Baik kaitannya dengan pengembangan ilmu pengetahuan yang dicermati maupun manfaat untuk kepentingan praktis. Hasil penelitian ini sekurang-kurangnya memiliki manfaat sebagai berikut :
1. Akademis
Untuk mengembangkan konsep Creative Intelligence (kecerdasan kreatif) diberbagai kalangan akademis. Sebab kecerdasan ini sangat relevan diterapkan dalam kecerdasan siswa, dalam menghadapi eksplosi pengetahuan yang terjadi.
2. Praktisi
a. Bagi Penulis
1) Dapat menerapkan secara langsung teori-teori yang penulis peroleh selama dibangku kuliah
2) Sebagai salah satu syarat dalam menyelesaikan studi di Fakultas Tarbiyah IAIN X.
b. Bagi Sekolah
Sebagai informasi dan pedoman dalam hal konseptual tentang Creative Intelligence (kecerdasan kreatif), dan dapat memberikan kontribusi berharga kepada MI X.

E. Definisi Operasional
Untuk mendapatkan gambaran yang jelas tentang judul skripsi ini yakni “UPAYA MENINGKATKAN CREATIVE INTELLIGENCE (KECERDASAN KREATIF) MELALUI KETERAMPILAN BERTANYA DASAR DI MI X”.
Maka perlu penulis jelaskan istilah-istilah dalam skripsi ini :
1. Upaya menungkatkan creative intelligence :
Upaya : Usaha untuk menyampaikan suatu maksud.
Meningkatkan : Menaikkan, mempertinggi, memperhebat, mengangkat.
Creative : Kemampuan yang mencapai pemecahan atau jalan keluar yang sama sekali baru, asli dan imajinatif terhadap masalah yang bersifat pemahaman, filosofis atau estetis atau yang lainnya
Intelligence : Kemampuan menghadapi dan menyesuaikan diri terhadap situasi secara cepat dan efektif.
Yang dimaksud dengan Creative Intelligence (Kecerdasan Kreatif) adalah mengetahui bagaimana cara kita memecahkan masalah seharihari.
Jadi yang dimaksud dengan upaya meningkatkan Creative Intelligence (kecerdasan kreatif) adalah usaha untuk memperhebat kemampuan memecahkan masalah sehari-hari yang sama sekali baru terhadap situasi secara cepat dan efektif.
Indikator Creative Intelligence : Mampu menguasai pokok materi, Mampu menerapkan materi, Mampu menyelesaikan masalah.
2. Keterampilan Bertanya Dasar : mengembangkan keterampilan siswa dalam meningkatkan kemampuan berpikir kognitif tingkat tinggi.
Indikator Keterampilan Bertanya Dasar : Mampu menguraikan pokok materi, Mampu memperagakan materi, Menyimpulkan materi
Jadi secara keseluruhan yang penulis maksud dalam skripsi ini adalah upaya meningkatkan Creative Intelligence (kecerdasan ktreatif) siswa dalam usahanya untuk dapat mencapai hasil belajar yang optimal melalui keterampilan bertanya dasar.

F. Metode Penelitian
Dalam suatu penelitian, metodologi menjadi sangat penting bagi seorang peneliti. Ketepatan dalam menggunakan suatu metode akan dapat menghasilkan data yang tepat pula serta dapat dipertanggung jawabkan secara ilmiah17. Metode penelitian adalah metode ilmiah yang tersusun secara sistematis dan nantinya diharapkan dapat menyelesaikan dan menjawab suatu masalah yang dihadapi.
1. Pendekatan Penelitian
Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif. Menurut Bogdan dan Taylor mendefinisikan pendekatan kualitatif sebagai prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang atau perilaku yang diamati18. Data deskriptif bertujuan untuk mendeskripsikan, mencatat, menganalisis dan menginterpretasikan kondisi-kondisi yang sekarang terjadi. Tujuan utama menggunakan metode ini adalah untuk menggambarkan sifat suatu keadaan yang sementara berjalan pada saat penelitian dilakukan dan memeriksa dari sebab-sebab tertentu. 19
Jenis penelitian yang dipakai adalah penelitian lapangan (Field reseach), yaitu penelitian yang berorientasi pada pengumpulan data empiris dilapangan20. Karena berdasarkan pada bidang yang diteliti termasuk penelitian sosial yang berbentuk penelitian pendidikan.
Oleh karena itu penulis terjun kelapangan atau lokasi guna memperoleh informasi valid untuk mengetahui pelaksanaan Creative Intelligence (kecerdasan kreatif) siswa melalui keterampilan bertanya dasar di MI X.
2. Informan Penelitian
Informan dalam penelitian ini adalah seluruh elemen di MI X terdiri dari :
a) Kepala sekolah MI X
b) Guru-guru MI X
3. Sumber Data
Menurut Lofland dan Lofland sumber data utama dalam penelitian kualitatif adalah kata-kata, dan tindakan selebihnya adalah data tambahan seperti dokumen dan lain-lain21.
Dengan meninjau hasil data yang diperoleh peneliti, maka sumber data penelitian ini dapat digolongkan menjadi dua yaitu :
a) Manusia
Manusia merupakan sumber data lapangan yang meliputi kepala sekolah dan siswa dan semua guru di MI X.
b) Non Manusia
Yang dimaksud dumber data non manusia adalah berbagai buku literatur yang berkaitan dengan topik permasalahan peneliti.
4. Teknik Pengumpulan Data
Dalam suatu penelitian harus menggunakan metode yang tepat, dan juga dapat memiliki teknik dan alat pengumpulan data yang relevan. Karena penggunaan teknik dan alat pengumpulan data yang tepat akan diperoloeh data yang valid dan obyektif pula. Dalam penelitian ini menggunakan tiga teknik pengumpulan data, antara lain :
a. Observasi
Observasi diartikan sebagai pengamatan dan pencatatan secara sistematis terhadap gejala yang tampak pada obyek penelitian22 Metode ini digunakan pada hampir setiap penjajakan pertama sebelum disusunnya rencana atau judul penelitian. Dengan observasi diketahui langsung gambaran yang utuh tentang kondisi pengajaran yang mencakup kondisi pembelajaran yang menunjukkan kecerdasan kreatif dan kondisi pembelajaran dengan mempergunakan keterampilan bertanya dasar baik secara fisik maupun cara penyampaian materi di MI X (dengan podoman Observasi telampir).
Pembelajaran yang mempergunakan Keterampilan bertanya dasar ini bertujuan agar siswa mampu menjawab materi yang telah disampaikan oleh guru dalam menguraikan pokok materi, mampu memperagakan materi, mampu menyimpulkan materi. Creative Intelligence (kecerdasan kreatif) dilakukan supaya siswa mampu menguasai materi, mampu menerapkan materi, dan mampu menyelesaikan masalah.
b. Interview
Metode interview adalah pengumpulan data dalam bentuk komunikasi antara dua orang, melibatkan seseorang yang ingin memperoleh pertanyaan-pertanyaan berdasarkan tujuan tertentu. 23.
Informasi diperoleh dari pendidik dan kepala sekolah. Metode ini untuk memperoleh data fokus penelitian, yaitu tentang upaya meningkatkan Creative Intelligence (kecerdasan kreatif) siswa melalui keterampilan bertanya dasar di MI X.
Dengan wawancara ini dapat menggali data-data yang diperlukan untuk mencari jawab dari peneliti yang akan dilakukan dan pedoman wawancara yang akan digunakan dalam peneliti tersebut.
Menerapkan Creative Intelligence (kecerdasan kreatif) di MI X yaitu : Perubahan sikap atau tingkah laku yang cenderung positif (sesuai dengan norma agama, sosial dan falsafah pancasila), Perubahan watak atau mental.
Menerapkan Keterampilan Bertanya Dasar di MI X yaitu : guru memberikan pertanyaan tentang materi yang telah disampaikan, guru menilai perubahan sikap siswa sehubunngan dengan materi yang disamapaikan, guru memberikan masalah kepada siswa tentang pelajaran yang telah tersampaikan dengan pembahasan secara kelompok, siswa dapat menyimpulkan masalah yang diberikan oleh guru.
Jadi hubungan antara Creative Intelligence dengan melalui keterampilan bertanya dasar yaitu siswa mampu menyelesaikan masalah dengan baik. Dengan keadaan ini guru yaitu aktif memberikan pertanyaan dan menanggapi pertanyaan, aktif mengawasi kerja kelompok siswa di kelas, memberikan penghargaan kepada siswa yang aktif dan kreatif, memberikan peringatan dan penyemangatan (siswa yang tidak aktif).
Keadaan siswa yaitu aktif mendengarkan penjelasan guru, aktif menyelesaikan masalah secara kelompok, kreatif mengajukan pertanyaan tentang masalah yang jelas atau belum jelas, aktif dalam melakukan presentasi dalam kerja kelompok.
c. Dokumentasi
Teknik Dokumentasi merupakan teknik pengumpulan data dengan mempelajari data-data yang telah didokumentasikan. Di dalam melaksanakan metode dokumentasi, peneliti meyelidiki benda-benda tertulis seperti buku-buku, majalah, dokumen, peraturan-peraturan, notulen rapat, catatan harian dan sebagainya.24.
Yang dalam hal ini peneliti membutuhkan dokumen latar belakang berdirinya MI X, nama guru, jabatan dan mata pelajaran yang akan diajarkan, jumlah siswa, dokumentasi dalam ruang lingkup Creative Intelligence (kecerdasan kreatif) melalui keterampilan bertanya dasar.
5. Teknik Analisa Data
Data yang sudah terkumpul disusun, dianalisis dan interprestasikan kemudian dihimpun menjadi laporan tertulis dalam bentuk skripsi. Analisis data menurut Patton adalah proses mengatur urutan data, mengorganisasikannya kedalam suatu pola kategori, dan satuan uraian dasar.
Metode penelitian kualitatif, prinsip pokok yang digunakan sebagai pijakan adalah usaha untuk menemukan teori dari data. Untuk itu dalam kajian ini penulis menggunakan analisa secara induktif, yaitu penelitian terjun kelapangan, mempelajari, menganalisa, menafsirkan yang ada dilapangan 25.
Adapun tahapan-tahapan penganalisaan data yang penulis gunakan adalah *** BAGIAN INI SENGAJA TIDAK DITAMPILKAN ***

G. Sistematika Pembahasan
Adapun sistematika pembahasan sebagai berikut :
BAB I : Pendahuluan yang meliputi beberapa sub antara lain latar belakang masalah, rumusan masalah, tujuan penelitian, kegunaan penelitian, definisi operasional, metode penelitian, sistematika pembahasan.
BAB II : Tinjauan tentang Creative Intelligence (kecerdasan kreatif) siswa, yang meliputi : pengertian Creative Intelligence (kecerdasan kreatif), tipe-tipe Creative Intelligence (kecerdasan kreatif), langkah-langkah mengembangkan Creative Intelligence (kecerdasan kreatif), tolak ukur Creative Intelligence (kecerdasan kreatif)
Tinjauan tentang keterampilan bertanya dasar, yang meliputi : Pengertian keterampilan bertanya dasar, dasar-dasar dan jenis-jenis pertanyaan yang baik, hal-hal yang perlu diperhatikan keterampilan bertanya dasar, komponen-komponen keterampilan bertanya dasar, Upaya meningkatkan Creative Intelligence (kecerdasan kreatif) siswa melalui keterampilan bertanya dasar.
BAB III : Penyajian data tentang gambaran umum obyek penelitian, penyajian data tentang keterampilan bertanya dasar dan penyajian data tentang Creative Intelligence (kecerdasan kreatif), dan penyajian data tentang upaya meningkatkan Creative Intelligence (kecerdasan kreatif) melalui keterampilan bertanya dasar. Analisa data, yang meliputi analisa data tentang keterampilan bertanya dasar, analisa data tentang Creative Intelligence (kecerdasan kreatif) dan analisa data tentang upaya meningkatkan Creative Intelligence (kecerdasan kreatif) siswa melalui keterampilan bertanya dasar di MI X.
BAB IV : Penutup meliputi kesimpulan dan saran.

Posted by: Admin Indeks Prestasi Updated at: 13:09:00