Cari Kategori

LATIHAN BERCERITA TENTANG TOKOH IDOLANYA UNTUK MENINGKATKAN KETERAMPILAN BERBICARA

LATIHAN BERCERITA TENTANG TOKOH IDOLANYA UNTUK MENINGKATKAN KETERAMPILAN BERBICARA

A. Latar Belakang Masalah
Keterampilan berbahasa mempunyai empat komponen, yaitu keterampilan menyimak, keterampilan berbicara, keterampilan membaca, dan keterampilan menulis. Setiap keterampilan mempunyai hubungan erat dengan keterampilan lainnya. Keterampilan-keterampilan tersebut hanya dapat diperoleh dan dikuasai dengan jalan praktek dan latihan yang banyak. 

Sebagai salah satu keterampilan berbahasa, berbicara, memang harus dipelajari dengan serius karena manusia lebih banyak berkomunikasi bahasa lisan daripada bahasa tulis. Seseorang dapat bertukar pikiran, perasaan, gagasan dan keinginannya melalui kegiatan berbicara, dengan demikian kegiatan berbicara dapat membangun hubungan mental emosional antara satu individu dengan individu lainnya. Dalam pembelajaran bahasa harus mengajarkan atau melatih agar siswa dapat berbicara dengan baik dan benar, berbicara yang baik adalah berbicara yang cocok dengan kaidah-kaidah kebahasaan. Hal ini bertujuan supaya seseorang ketika berbicara dapat menyampaikan apa yang disampaikan secara jelas dan lawan bicaranya dapat menerima pesan tersebut secara jelas pula. 

Salah satu tujuan pembelajaran bahasa dan sastra Indonesia adalah menjadikan siswa terampil dalam berbahasa Indonesia. Kepandaian berbahasa ini tercermin dalam aktivitas menyimak, berbicara, membaca dan menulis. Dengan demikian siswa dikatakan pandai berbahasa Indonesia jika terampil dalam kegiatan menyimak, berbicara, membaca dan menulis. 

Berbicara sebagai salah satu indikator kemahiran berbahasa. Masih dianggap sebagai sesuatu pembelajaran yang mudah. Pembelajaran berbicara tidak dilakukan secara serius padahal pada kenyataannya di lapangan, masih banyak siswa yang kurang mampu mengekspresikan lewat kegiatan berbicara. Siswa sering kali malu ketika diminta berbicara atau bercerita di depan kelas. Hal ini dimungkinkan karena rendahnya penguasaan siswa akan topik yang dibahas atau karena luasnya topik bahasa sehingga siswa tidak mampu memfokuskan hal-hal yang ingin diucapkan. Akibatnya, arah pembicaraan siswa kurang jelas sehingga inti dari bahasa tersebut tidak tersampaikan. Dengan demikian dapat diindikasikan bahwa keterampilan berbicara siswa masih rendah karena rata-rata kelas hanya 54,00. Siswa kelas VI SDN X siswa yang 40-50 terdapat 6 siswa, mendapat nilai 60-70 terdapat 8 siswa, mendapat nilai 80-90 terdapat 1 siswa. Data tersebut dapat dikatakan bahwa keterampilan siswa dalam berbicara masih tergolong rendah. Karena Kriteria Ketentuan Minimal (KKM) 60,00. Hal ini jika didasarkan faktor di lapangan yang menyebabkan ada beberapa hal yang melatar belakangi tersebut. 

1. Siswa kurang berminat dalam kegiatan berbicara. Mereka masih kesulitan dalam menentukan batasan topik yang ingin disampaikan. Misalnya siswa ingin membicarakan masalah bencana alam atau tanah longsor, yang terjadi siswa akan berbicara terlalu panjang lebar (meluas) sehingga inti pembicaraan tidak tersampaikan.
2. Ketepatan siswa dalam menggunakan kata dan istilah masih kurang. Ketika siswa berbicara di depan kelas rasa gugup, grogi dan ketakutan keliru tentu saja ada. Sehingga kata yang seharusnya keluar diucapkan menjadi tersendat-sendat atau diulang-ulang.
3. Siswa kurang bisa memilih kata yang tepat dan selaras untuk mengungkapkan gagasan untuk memperoleh sesuatu yang diharapkan.
4. Dalam berbicara di depan kelas siswa kurang mampu mengorganisasi perkataannya sehingga pembicaraannya belum tepat sasaran.
5. Ada sikap ketika berbicara, dalam kegiatan berbicara siswa kelihatan tegang dan kurang rileks. Dengan situasi tersebut akan mempengaruhi mutu bicaranya (tuturannya)

Penyebab kesulitan berbicara di atas tidak terlepas dari akibat penggunaan metode dan media yang digunakan oleh guru. Metode mengajar guru yang masih konvensional membuat pembelajaran berbahasa menjadi sesuatu yang membosankan. Kurangnya pemnafaatan dan media dalam pembelajaran membuat siswa menjadi kurang aktif dan kreatif. Kenyataan yang terjadi di lapangan, siswa mendengarkan ceramah guru mengenai teori kebahasaan termasuk di dalamnya teori berbicara, tetapi presentasi kegiatan praktiknya masih kurang. Hal itu juga karena guru kurang memberdayakan media pembelajaran yang ada yaitu tidak menggunakan media yang sesuai dengan metode pembelajaran yang diterapkan. 

Berdasarkan latar belakang permasalahan tersebut diperlukan suatu pemecahan yang dirasa efektif untuk meningkatkan keterampilan berbicara siswa kelas VI SDN X. Dalam hal ini peneliti menggunakan tokoh idola dalam pembelajaran berbicara tokoh idolaku dapat diasumsikan sebagai alat bantu yang mampu memperkonkret masalah yang dibicarakan. Dengan menggunakan tokoh idola ini diharapkan siswa mampu membicarakan masalah sesuai dengan apa yang dilihatnya, mampu meningkatkan daya kreasi dan motivasinya dalam pembelajaran berbicara. 

Peneliti ini menggunakan gambar tokoh idola sebagai alat bantu pembelajaran keterampilan berbicara. Hal ini dimaksudkan agar siswa mampu memfokuskan pikiran dan pengetahuan yang mereka miliki sehingga akan lebihmudah mengorganisasikan ide-ide dan gagasannya kepada bahasa lisan. Selain itu, agar siswa tidak berbicara yang menyimpang dari kompetensi dasar yang telah ditentukan. Dengan demikian, siswa akan mampu mencapai kompetensi dasar yang telah ditetapkan, yaitu berminat dalam pembelajaran berbicara dan terampil dalam kegaiatan berbicara. 

Penggunaan gambar/foto tokoh idola, seperti artis, penyanyi dan olahragawan dimaksudkan agar siswa menjadi tertarik dan senang dalam mengikuti pembelajaran berbicara. Hal ini juga dimaksudkan untuk lebih manyita perhatian siswa ketika mengikuti pembelajaran berbicara, serta menjadikan pembelajaran berbicara lebih bermakna dan terus diingat oleh siswa. 

Berdasarkan uraian yang telah dipaparkan di atas, untuk mengatasi permasalahan yang ada berkaitan dengan upaya meningkatkan keterampilan berbicara dengan menggunakan gambar sebagai media pembelajaran, maka peneliti mengadakan penelitian pada siswa kelas VI SDN X yang berbentuk Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dengan judul "Latihan Bercerita Tentang Tokoh Idolanya untuk Meningkatkan Keterampilan Berbicara pada Siswa Kelas VI SDN X, Kecamatan X, Kabupaten X. 

Rendahnya kemampuan berbicara salah satu sebab utamanya adalah kurangnya latihan berbicara. Berkenaan dengan latihan berbicara dapat dianalogikan dengan latihan bahasa asing lisan permulaan. Belajar bahasa asing lisan permulaan agar lebih fasih harus berlatih minimal enam kali pertemuan. Dalam setiap pertemuan minimal latihan enam kali. Jeda waktu antar pertemuan minimal satu hari maksimal enam hari. Memberikan pujian dan kritikan merupakan salah satu keterampilan berbicara. Keterampilan tersebut perlu dipelajari dan dilatih agar mampu mengemukakan ide. Banyak orang pintar tetapi tidak dapat mengemukakan ide. Apalagi berbicara didepan banyak orang. Mengapa ? Alasannya sederhana, ia tidak begitu terampil berbicara. 

Berdasarkan latar belakang di atas, untuk mengatasi rendahnya kemampuan berbicara, peneliti melakukan tindakan kelas dengan latihan bercerita tentang tokoh idolanya.

B. Perumusan Masalah
Berdasarkan pada latar belakang masalah, peneliti dapat merumuskan masalah sebagai berikut :
"Apakah latihan bercerita tentang tokoh idolanya dapat meningkatkan keterampilan berbicara siswa kelas VI SDN X ?"

C. Tujuan Penelitian
Adapun tujuan dalam penelitian ini adalah meningkatkan keterampilan siswa berbicara dengan menggunakan media gambar tokoh idola siswa kelas VI SDN X.

D. Manfaat Penelitian
Hasil penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat baik secara teoretis maupun secara praktis. Adapun manfaat dari hasil penelitian dapat diuraikan sebagai berikut :
1. Manfaat Teoretis
a. Bagi Guru
1) Dapat memberikan sumbangan kepada guru dalam pembelajaran khususnya pelajaran Bahasa Indonesia.
2) Dapat memperluas wawasan guru dalam melaksanakan pembelajaran
b. Bagi Siswa
1) Dapat meningkatkan keterampilan berbicara.
2) Mendapatkan motivasi untuk terus belajar Bahasa Indonesia.
c. Bagi Sekolah
1) Mendapatkan pembelajaran yang berkualitas sehingga prestasi siswa dapat meningkat.
2) Pembelajaran berlangsung secara efektif dan efisien.
2. Manfaat Praktis
a. Bagi Guru
1) Dapat meningkatkan kemampuan siswa dalam berbicara.
2) Mendapat pengalaman dalam menggunakan media pembelajaran.
b. Bagi Siswa
1) Mendapat motivasi belajar agar kemampuan berbicara meningkat.
2) Mendapatkan pembelajaran yang sesuai tingkat perkembangannya.
c. Bagi Sekolah
1) Sebagai kegiatan untuk meningkatkan keterampilan berbicara.
2) Hasil penelitian ini diharapkan dapat berguna sebagai referensi bagi penelitian selanjutnya, yaitu penelitian yang berhubungan dengan keterampilan berbicara.

Posted by: Admin Indeks Prestasi Updated at: 13:39:00

PENINGKATAN KETERAMPILAN MEMBACA NYARING MELALUI MEDIA PIAS-PIAS KATA

PENINGKATAN KETERAMPILAN MEMBACA NYARING MELALUI MEDIA PIAS-PIAS KATA

A. Latar Belakang Masalah.
Fokus utama tujuan pengajaran Bahasa Indonesia meliputi empat aspek ketrampilan berbahasa yaitu ketrampilan menyimak, ketrampilan berbicara, ketrampilan membaca dan menulis. Keempat aspek kemampuan berbahasa tersebut saling berkaitan erat, sehingga merupakan satu kesatuan dan bersifat hirarkis, artinya ketrampilan berbahasa yang satu akan mendasari ketrampilan berbahasa yang lain.

Di sekolah pembelajaran bahasa Indonesia memang memiliki peranan yang sangat penting dibandingkan dengan pembelajaran yang lain. Seperti yang dikemukakan Akhadiah dalam Darmiyati Zuchdi dan Budiasih (2001 : 57), bahwa pembelajaran membaca, guru dapat berbuat banyak dalam proses pengindonesiaan anak-anak Indonesia. 

Dalam pembelajaran membaca, guru dapat memilih wacana yang berkaitan dengan tokoh nasional, kepahlawanan, kenusantaraan dan kepariwisataan. Selain itu, melalui pembelajaran membaca, guru dapat mengembangkan nilai-nilai moral, kemampuan bernalar dan kreativitas anak didik. 

Pembelajaran membaca di kelas I merupakan pembelajaran membaca tahap awal, salah satuya adalah membaca nyaring. Dengan membaca nyaring siswa akan mengenali huruf-huruf dan membacanya sebagai suku kata, kata dan kalimat sederhana. 

Kemampuan membaca nyaring siswa SDN X belum mencapai Kriteria Ketuntasan Minimal yang di tetapkan yaitu sebesar 6,5 dan indicator keberhasilan 75 % jumlah siswa mencapai KKM. Pada Kompetensi Dasar 3. 1 membaca nyaring suku kata dan kata dengan lafal yang tepat, nilai rata-rata yang dicapai siswa hanya mencapai 57,50. Hal ini dapat dilihat dari hasil belajar siswa. Dari 20 siswa kelas I SDN X 2 anak mendapat nilai 80 sebanyak 10%, 5 anak mendapat nilai 70 sebanyak 25%, 4 anak mendapat nilai 60 sebanyak 20%, 5 anak mendapat nilai 50 sebanyak 25%, dan 4 anak mendapat nilai 40 sebanyak 20 % dan aktivitas belajar siswa rendah. 

Setelah peneliti mencermati ternyata siswa kurang tertarik dan kurang aktif dalam mengikuti pembelajaran membaca nyaring. Hal ini disebabkan oleh guru yang dalam pembelajaran membaca nyaring sering menggunakan metode ceramah, dan belum menggunakan metode, sehingga siswa mendapat pemahaman yang masih abstrak. 

Upaya meningkatkan kemampuan membaca nyaring merupakan kebutuhan yang mendesak untuk dilakukan. Langkah yang peneliti tempuh adalah menyediakan alat peraga kongkrit yaitu media pias-pias kata. Media pias-pias kata dalam pembelajaran Bahasa Indonesia dapat memberikan pengalaman kongkrit, meningkatakan motivasi belajar siswa dan mempertinggi daya serap siswa serta siswa dapat memusatkan perhaiannya dalam belajar. Melalui penggunaan media pias-pias kata diharapkan taraf kesukaran dan kompleksitas dari pembelajaran Bahasa Indonesia yang memberi pengaruh yang cukup besar dalam proses belajar sehingga hasilnya akan lebih baik. 

Untuk mengetahui seberapa banyak siswa kelas I SDN X yang belum lancar membaca, guru memberikan ulangan atau tes tentang membaca. Melalui tes membaca dapat diketahui baik tidaknya kemampuan membaca nyaring. Pengaruh penggunaan media pada proses pembelajaran memberikan dorongan pada guru dalam menyampaikan pembelajaran membaca nyaring. Hal yang perlu diperhatikan dalam pembelajaran membaca nyaring adalah penggunaan media pias-pias kata. Penggunaan media tersebut harus disesuaikan dengan materi atau pokok bahasan yang akan disampaikan misalnya kartu nama, kartu huruf, kartu suku kata, kartu kata atau pias-pias kata dan kartu kalimat. Media tersebut digunakan dalam pembelajaran membaca nyaring pada siswa kelas I Sekolah Dasar.

B. Rumusan Masalah dan Pemecahannya.
1. Rumusan Masalah
Apakah penggunaan media pias-pias kata dapat meningkatkan keterampilan membaca nyaring pada siswa kelas I SDN X?
2. Rencana Pemecahan Masalah.
a. Membuat RPP yang menggunakan media pias-pias kata untuk meningkatkan ketrampilan membaca nyaring pada siswa kelas I
b. Membelajarkan siswa membaca nyaring dengan menggunakan media pias-pias kata.
c. Membuat lembar pengamatan siswa untuk mengetahui kemampuan siswa dalam membaca nyaring.
d. Mengukur pemahaman siswa tentang membaca nyaring sesudah proses pembelajaran.

C. Tujuan Penelitian.
Dalam proposal penelitian tindakan kelas ini bertujuan untuk meningkatkan ketrampilan membaca nyaring melalui media pias-pias kata pada siswa kelas I SD X.

D. Manfaat Penelitian.
1. Manfaat Teoritis
a. Dapat meningkatkan kualitas pembelajaran
b. Dapat memberikan masukan kepada instansi terkait dalam mengambil kebijakan yang dapat menunjang proses pembelajaran.
2. Manfaat Praktis
a. Bagi peneliti, menemukan solusi untuk meningkatkan keterampilan membaca nyaring pada siswa kelas I.
b. Bagi siswa, siswa menjadi lebih terampil dalam membaca nyaring.
Bagi institusi, kepala sekolah dapat mensosialisasikan kepada rekan guru sehingga terinspirasi untuk menggunakan media pias-pias kata dalam pembelajaran membaca nyaring siswa kelas I.

Posted by: Admin Indeks Prestasi Updated at: 13:38:00

PENGGUNAAN MEDIA AUDIO VISUAL UNTUK MENINGKATKAN MOTIVASI BELAJAR TENTANG PERISTIWA PROKLAMASI

SKRIPSI PTK PENGGUNAAN MEDIA AUDIO VISUAL UNTUK MENINGKATKAN MOTIVASI BELAJAR TENTANG PERISTIWA PROKLAMASI (IPS KELAS V)


BAB I 
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah
Ketika kita mendengar kata motivasi yang muncul dalam angan-angan kita adalah pada suatu keadaan seseorang yang mempunyai semangat tinggi, rajin, mampu bekerja keras yang akhirnya mengantarkan kita pada pencapaian yang memuaskan atau bahkan pencapaian prestasi. Dalam proses belajar motivasi sangatlah diperlukan sebab seseorang yang tidak memiliki motivasi dalam belajar tidak akan mungkin melakukan aktivitas belajar.
Belajar dan motivasi selalu mendapat perhatian khusus bagi pendidik dan peserta didik, karena memberi motivasi kepada peserta didik merupakan hal yang perlu dan penting dalam proses pembelajaran. Di sekolah, setiap anak memiliki sejumlah motivasi atau dorongan-dorongan yang berhubungan dengan kebutuhan, baik kebutuhan biologis maupun kebutuhan psikologis. Disamping itu anak juga memiliki sikap-sikap, minat-minat, penghargaan dan tujuan-tujuan tertentu. Oleh sebab itu tugas guru adalah menimbulkan motivasi yang akan mendorong anak untuk berbuat sesuatu dalam mencapai tujuan belajarnya.
Pembangunan di masa sekarang dan masa mendatang sangat dipengaruhi oleh sektor pendidikan, sebab dengan bantuan pendidikan setiap individu berharap bisa maju berkembang dan di kemudian hari bisa mendapatkan pekerjaan yang pantas. Lewat pendidikan orang mengharapkan supaya semua bakat, kemampuan dan kemungkinan yang dimiliki bisa dikembangkan secara maksimal agar orang bisa mandiri dalam proses membangun pribadinya. Sedang negara bisa maju bila semua warga negaranya berpendidikan, serta memperoleh kesempatan untuk mendapatkan penghasilan yang layak. Oleh karena itu tingkat pendidikan menjadi salah satu indikator untuk mengukur kemajuan dan derajat kemakmuran Negara serta mengukur besarnya peranan setiap warga Negara dalam kegiatan-kegiatan membangun. 
Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi semakin mendorong upaya-upaya pembaharuan dalam pemanfaatan hasil-hasil teknologi dalam proses belajar. Para guru dituntut agar mampu menggunakan alat-alat yang dapat di sediakan oleh sekolah, dan tidak tertutup kemungkinan bahwa alat-alat tersebut dengan sesuai perkembangan dan tuntutan zaman. Guru sekurang-kurangnya dapat menggunakan alat yang murah dan efisien yang meskipun sederhana dan bersahaja tetapi merupakan keharusan dalam upaya mencapai tujuan pengajaran yang diharapkan. 
Media pembelajaran merupakan salah satu unsur yang sangat penting dalam proses belajar mengajar yang dapat dimuati pesan yang akan disampaikan kepada siswa, baik berupa alat, orang maupun bahan ajar, selain itu media pembelajaran merupakan salah satu cara untuk memotivasi dan berkomunikasi dengan siswa agar lebih efektif. Oleh karena itu media pembelajaran saat proses belajar mengajar sangat diperlukan.
Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi telah mengalami perkembangan yang sangat pesat terutama di bidang informasi dan telekomunikasi. Dengan munculnya berbagai alat informasi dan komunikasi kita dapat mengetahui kejadian atau peristiwa di suatu negara atau daerah pada saat kejadian itu berlangsung. Melalui kemajuan tersebut para guru dapat menggunakan berbagai media sesuai dengan kebutuhan dan tujuan pembelajaran. Dengan menggunakan media komunikasi bukan saja mempermudah dan mengefektifkan proses pembelajaran akan tetapi juga bisa membuat proses pembelajaran lebih menarik. Tidak dapat dipungkiri, munculnya berbagai alat informasi dan komunikasi yang telah banyak membantu proses pendidikan. Ini terbukti sekarang ini dalam proses belajar mengajar seorang guru sering menggunakan media seperti komputer, tape recorder, dll.
Dalam rangka meningkatkan sumber daya manusia yang berkualitas lembaga pendidikan berusaha meningkatkan kualitas dan proses pembelajaran. Usaha-usaha dalam meningkatkan kualitas pembelajaran antara lain mengembangkan media pembelajaran, menerapkan media pembelajaran serta memilih dan menetapkan jenis media pembelajaran yang akan digunakan. Pengembangan dan penerapan media pembelajaran diharapkan dapat memberikan motivasi belajar terhadap siswa sehingga berdampak pula pada prestasi belajarnya.
Berkaitan dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi lembaga pendidikan harus mampu menerapkan media pendidikan yang sudah ada. Media pendidikan yang diterapkan oleh lembaga pendidikan sekarang ini belum di daya gunakan secara optimal, melihat kenyataan yang ada di lapangan guru jarang sekali menggunakan media pendidikan dalam proses belajar mengajar di kelas, guru lebih sering menggunakan metode ceramah. sehingga proses belajar anak hanya sekedar merekam informasi dan murid mendengar, memperhatikan serta mencatat tanpa ada variasi yang lain, yang akhirnya membiasakan diri tidak kreatif dalam mengemukakan ide-ide dan pemecahan masalah yang efektif akan di bawa anak-anak dalam kehidupan sehari-hari.
Dalam proses belajar mengajar di kelas yang hanya menggunakan metode ceramah dan guru sebagai satu-satunya sumber belajar tanpa adanya media, maka komunikasi antara guru dan siswa tidak akan berjalan secara lancar. Hal ini terkait dengan permasalahan dalam proses belajar mengajar. Permasalahan yang di hadapi suasana kelas ramai, penjelasan guru membosankan, materi cenderung bersifat umum dan kadang-kadang penyampaian guru terlalu cepat, hal ini siswa juga kurang konsentrasi bahkan menjadi malas mengikuti mata pelajaran di sekolah.
Dalam pembelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS), tidak semua materi khususnya peristiwa proklamasi bisa diceritakan atau diterangkan saja. Melainkan harus diperlihatkan secara nyata agar materi (ilmu) yang didapat peserta didik tersebut akan selalu diingat dan dipahami. Dengan menggunakan media video cassette, anak-anak juga dapat termotivasi belajarnya. Anak akan dapat cepat memahami dan mengerti tentang materi yang diajarkan dengan menggunakan media tersebut. Anak juga akan senang dengan pengalaman-pengalaman yang telah dilihatnya melalui media video cassette. Oleh karena itulah dasar adanya penggunaan media video cassette pada pembelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) ini diharapkan agar siswa dapat melihat, dan memahami objek yang dipelajari, sehingga kesenjangan yang ada dapat teratasi.
Berdasarkan paparan di atas di lihat dari pentingnya dalam hal pendidikan maka peneliti mengambil judul "PENGGUNAAN MEDIA AUDIO VISUAL UNTUK MENINGKATKAN MOTIVASI BELAJAR TENTANG PERISTIWA PROKLAMASI PADA SISWA KELAS V MATA PELAJARAN IPS DI SD X". Dengan media tersebut diharapkan agar siswa lebih mudah memahami materi pelajaran sekaligus dapat meningkatkan motivasi belajar siswa dalam proses belajar mengajar dengan baik dan benar. Serta pembelajaran yang sebelumnya membosankan bagi siswa dan terkesan biasa-biasa saja kini dapat beralih peran menjadi pembelajaran yang lebih menyenangkan dan sangat mengena pada siswa, karena siswa dihadapkan pada situasi yang berbeda dari sebelumnya sehingga dari pengalaman tersebut siswa bisa menemukan pengetahuan baru.

B. Rumusan Masalah
Dengan mengacu pada latar belakang masalah di atas, maka dapat di rumuskan rumusan masalah PTK sebagai berikut : 
1. Bagaimanakah perencanaan penggunaan media audio visual untuk meningkatkan motivasi belajar tentang peristiwa proklamasi pada siswa kelas V mata pelajaran IPS di SD X ?
2. Bagaimanakah pelaksanaan penggunaan media audio visual untuk meningkatkan motivasi belajar tentang peristiwa proklamasi pada siswa kelas V mata pelajaran IPS di SD X ?
3. Bagaimanakah penilaian penggunaan media audio visual untuk meningkatkan motivasi belajar tentang peristiwa proklamasi pada siswa kelas V mata pelajaran IPS di SD X ?

C. Tujuan dan Manfaat Penelitian
Berdasarkan rumusan masalah di atas, maka tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan upaya meningkatkan motivasi belajar tentang peristiwa proklamasi dengan menggunakan media audio visual pada siswa kelas V di SD X. Dari tujuan umum di atas bisa di temukan tujuan khusus sebagai berikut : 
1. Untuk mendeskripsikan perencanaan penggunaan media audio visual untuk meningkatkan motivasi belajar tentang peristiwa proklamasi pada siswa kelas V mata pelajaran IPS di SD X.
2. Untuk mendeskripsikan melaksanakan penggunaan media audio visual untuk meningkatkan motivasi belajar tentang peristiwa proklamasi pada siswa kelas V mata pelajaran IPS di SD X.
3. Untuk mendeskripsikan penilaian penggunaan media audio visual untuk meningkatkan motivasi belajar tentang peristiwa proklamasi pada siswa kelas V mata pelajaran IPS di SD X.
Setelah penulis melakukan penelitian dan mengetahui hasilnya, maka yang di harapkan dari penulis semoga dari hasil penelitian ini dapat memberikan kontribusi di dunia pendidikan pada umumnya dan SD X pada khususnya, dan guru sebagai peneliti di dorong untuk berani mencoba menerapkan media dalam proses belajar mengajar serta menilai apakah media itu efektif atau tidak dalam meningkatkan motivasi belajar para siswa.
Secara khusus dapat memberikan manfaat bagi : 
1. Bagi peneliti
Dengan dilaksanakan PTK maka guru sebagai peneliti sedikit demi sedikit mengetahui strategi, media maupun metode pembelajaran yang sesuai dengan tujuan atau kompetensi dasar pembelajaran.
2. Bagi Guru
Sebagai modal dalam mendesain kegiatan belajar mengajar dalam memberikan latihan secara langsung kepada siswa untuk dapat meningkatkan keaktifan dan motivasi pada siswa.
3. Bagi siswa
Dengan dilaksanakan PTK akan sangat membantu siswa yang mengalami kesulitan belajar. Dengan adanya tindakan yang baru dari guru akan memungkinkan siswa terlibat secara aktif dalam proses kegiatan belajar mengajar, mampu berfikir kreatif sehingga siswa termotivasi untuk mengikuti proses pembelajaran.
4. Bagi sekolah
Hasil PTK sangat bermanfaat dalam rangka perbaikan sistem pembelajaran.

D. Sistematika Pembahasan
Sistematika pembahasan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut : 
BAB I : Pada bab ini menerangkan tentang pendahuluan yang meliputi : latar belakang masalah, rumusan masalah, manfaat penelitian, definisi operasional, ruang lingkup dan keterbatasan penelitian, dan sistematika pembahasan.
BAB II : Kajian pustaka dibahas pada bab ini. Yaitu membahas tentang Pembelajaran IPS, Pengertian peristiwa proklamasi media pembelajaran yang meliputi pengertian media pembelajaran, jenis-jenis media pembelajaran, kriteria pemilihan media, manfaat media dalam pembelajaran, prinsip-prinsip penggunaan media dan motivasi belajar yang meliputi, pengertian motivasi, macam-macam motivasi unsur-unsur yang mempengaruhi motivasi, fungsi dan nilai motivasi dan bentuk-bentuk motivasi, penerapan media audio visual dalam meningkatkan motivasi belajar.
BAB III : Metodologi penelitian : membahas pendekatan dan jenis penelitian, kehadiran peneliti, lokasi penelitian, sumber data, prosedur pengumpulan data, analisis data, pengecekan keabsahan temuan dan tahap-tahap penelitian.
BAB IV : Pembahasan hasil penelitian, memaparkan deskripsi lokasi penelitian yang meliputi sejarah SD X, sarana dan prasarana, visi dan misi madrasah, deskripsi kelas V, siklus penelitian yang siklus I, dan siklus II, Temuan penelitian.
BAB V : Pembahasan hasil penelitian
BAB VI : Kesimpulan dan saran, berisi tentang kesimpulan hasil penelitian beserta saran-saran sebagai bahan pertimbangan.

Posted by: Admin Indeks Prestasi Updated at: 10:17:00

OPTIMALISASI PENGGUNAAN MEDIA PETA UNTUK MENINGKATKAN PRESTASI BELAJAR ILMU PENGETAHUAN SOSIAL

OPTIMALISASI PENGGUNAAN MEDIA PETA UNTUK MENINGKATKAN PRESTASI BELAJAR ILMU PENGETAHUAN SOSIAL

A. Latar Belakang Masalah
SDN X adalah salah satu SD di Kabupaten X. Secara keseluruhan SDN X memiliki jumlah murid 179 anak. Sedangkan di Kelas IV tempat kami melaksanakan Penelitian Tindakan Kelas terdapat 26 siswa, terdiri 10 anak laki-laki dan 16 anak perempuan. Prestasi dari siswa Kelas IV SDN X dapat dikatakan rata-rata. Antara siswa satu dengan siswa yang lain prestasi belajarnya tidak terpaut terlalu jauh. Namun berdasarkan hasil pembelajaran di Kelas IV semester II mata pelajaran IPS (membaca peta lingkungan setempat), belum mencapai KKM yang telah ditentukan yaitu 64, terbukti nilai rata-rata kelas prestasi hasil belajarnya hanya 51,33. Setelah direnungkan (refleksi diri) selama proses pembelajaran di Kelas IV yang telah berlangsung selama ini, kami temukan beberapa fakta di kelas yang menyebabkan prestasi belajar siswa rendah. Diantaranya guru belum menggunakan media pembelajaran yang optimal,beranggapan mata pelajaran IPS adalah mudah karena isinya sudah terbiasa dilakukan sehari-hari serta banyak juga yang beralasan tidak diujikan secara nasional. Dengan temuan-temuan di atas maka penulis merasa tergugah hatinya untuk melakukan solusi konkrit dalam hal ini mengadakan Penelitian Tindakan Kelas. Meskipun mata pelajaran IPS belum diujikan dalam UASBN bagi kami tidak kalah penting untuk melakukan Penelitian Tindakan Kelas dengan tujuan agar prestasi belajar siswa dapat meningkat sesuai target kurikulum yang ditetapkan sekolah. 

1. Proses pembelajaran yang berlangsung/dilaksanakan di SDN X selama ini, termasuk didalamnya kekurangan-kekurangan yang dihadapi adalah sebagai berikut :
Proses pembelajaran yang berlangsung di SDN X cenderung masih Konvensional, artinya dalam melaksanakan pembelajaran masih banyak menggunakan metode ceramah saja. Pada awal pembelajaran guru tidak menggunakan apersepsi, guru kurang membangkitkan motivasi siswa terhadap pembelajaran, model pembelajaran kurang menarik, guru juga jarang menggunakan alat peraga sebagai alat bantu dalam menjelaskan atau menyampaikan pelajaran yang bersifat abstrak agar menjadi konkrit sehingga siswa lebih mudah paham. Hal ini mungkin dapat dimaklumi karena SDN X sendiri merupakan SD pelosok serba kurang baik dalam sarana prasarana maupun tenaga pendidiknya. 

2. Permasalahan yang dihadapi selama proses pembelajaran selama ini adalah sebagai berikut :
a) Guru dalam pembelajaran belum optimal mempergunakan alat peraga hanya kadang-kadang.
b) Guru belum mempergunakan model pembelajaran yang inovatif, lebih banyak menggunakan metode ceramah, tanya jawab dan tugas.
c) Pembelajaran masih bersifat text book oriented atau hafalan, .
d) Proses pembelajaran masih didominasi guru, siswa kurang terlibat aktif dalam pembelajaran.
e) Metode yang digunakan masih ceramah saja (monoton).
Hasil dari wawancara/jajak pendapat yang dilakukan seminggu sebelum pelaksanaan siklus ,ternyata siswa yang masih mempunyai semangat tinggi dalam belajar IPS hanya 9 dari 26 siswa.
Dengan kata lain siswa kurang termotivasi dalam pembelajaran. Permasalahan tersebut,penulis ingin segera mencari jalan keluarnya, yaitu melakukan Penelitian Tindakan Kelas dengan mengoptimalkan penggunaan media peta untuk meningkatkan hasil belajar siswa.

B. Rumusan Masalah dan Pemecahannya
1) Rumusan masalah
Berdasarkan latar belakang yang ada di SDN X diatas, maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah "Apakah optimalisasi penggunaan media peta dapat meningkatkan prestasi belajar IPS pada siswa kelas IV SDN X Kab. X ?"
2) Pemecahan masalah
Untuk mengatasi masalah diatas, peneliti akan mencoba mengoptimalkan penggunaan media peta untuk meningkatkan prestasi belajar IPS pada siswa kelas IV SDN X.

C. Tujuan Penelitian
Adapun tujuan dari penelitian ini adalah untuk meningkatkan prestasi belajar IPS melalui penggunaan media peta pada siswa kelas IV SDN X kecamatan X, kabupaten X.

D. Manfaat Hasil Penelitian
1 . Manfaat teoretis
Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi masukan bagi seseorang yang akan meneliti tentang peningkatan prestasi belajar siswa melalui optimalisasi penggunaan media peta.
2. Manfaat secara praktis
a. Bagi Siswa
1. Meningkatkan pemahaman siswa tentang pembelajaran IPS.
2. Meningkatnya hasil belajar.
b. Bagi Guru
1. Dapat memberikan pengalaman langsung tentang penggunaan media peta.
2. Meningkatkan kinerja guru dalam kegiatan pembelajaran mata pelajaran IPS.
c. Bagi Sekolah
1. Tumbuhnya iklim pembelajaran siswa dengan penggunaan media peta.
2. Meningkatnya kreatifitas dalam pembelajaran IPS.

E. Hipotesis Tindakan
Berdasarkan latar belakang dan permasalahan yang ada, maka dapat dirumuskan hipotesis penelitian tindakan kelas ini dengan mengoptimalisasi penggunaan media Peta, diduga dapat meningkatkan prestasi hasil belajar IPS pada siswa kelas IV SDN X Kab. X.

Posted by: Admin Indeks Prestasi Updated at: 09:46:00

PENINGKATAN KEMAMPUAN KOGNITIF ANAK MELALUI PEMBELAJARAN SAINS TEKNOLOGI MASYARAKAT DI TK

PENINGKATAN KEMAMPUAN KOGNITIF ANAK MELALUI PEMBELAJARAN SAINS TEKNOLOGI MASYARAKAT DI TK

A. Latar Belakang Masalah
Pendidikan mempunyai peranan penting dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Hal ini terdapat dalam Undang-Undang RI no. 20 tahun 2003 tentang sistem pendidikan nasional, menjelaskan bahwa : "Pendidikan adalah usaha dasar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta dididk secara aktif mengembangkan potensi dirinya memiliki spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, Bangsa dan Negara. 

Anak merupakan bagian dari bangsa ini, mempunyai tanggungjawab dalam mensukseskan pendidikan dengan cara yang sesuai dengan tingkat perkembangannya yaitu memaksimalkan semua aspek perkembangan dari aspek kognitif, bahasa, afektif, psikomator dan sosial. Pada usia Taman Kanak-Kanak perkembangan kognitif mempunyai peranan yang penting, karena berkaitan dengan otak, sesuai dengan penelitian Bloom (dalam Triyono : 4) bahwa sampai usia 4 tahun otak manusia berfungsi 50%, sampai usia 8 tahun otak manusia berfungsi 80 %, jadi sejak usia 8 tahun kecerdasan manusia hanya bertambah 20%. Dengan demikian perlu perhatian yang lebih pada usia Taman Kanak-Kanak. 

Anak adalah individu yang memepunyai rasa ingin tahu tinggi, yang dikenal sebagai pembelajaran aktif seperti yang dikemukakan dalam teori kontruktivitas yang memandang bahwa anak sebagai pembelajar aktif yang dapat membangun/mengkonstruk pengetahuan-pengetahuan yang telah dimiliki dengan pengalaman bam yang diperolehnya. 

Atas dasar inilah penulis berkeinginan melakukan penelitian terhadap Peningkatan Kemampuan Kognitif Anak Melalui Pembelajaran Sains Teknologi Masyarakat di Taman Kanak-Kanak.

B. Rumusan Masalah
Dalam penyusunan pembelajaran sains dengan model Sains Teknologi Masyarakat, perkembangan kognitif agar tidak meluas diperlukan pembatasan yaitu menggunakan Taksonomi Bloom yang terdiri dari pengetahuan, pemahaman, penerapan, analisis, sintesis dan evaluasi. 

Berdasarkan latar belakang yang telah dikemukakan di atas, yang menjadi pokok permasalahan dalam penelitian ini adalah Bagaimana Peningkatan kemampuan Kognitif anak melalui Pembelajaran Sains Teknologi Masyarakat di Taman Kanak-Kanak X. 

Rumusan masalah ini dijabarkan menjadi beberapa pertanyaan penelitian sebagai berikut :
1. Bagaimanakah kondisi awal pembelajaran sains di TK X?
2. Bagaimanakah tindakan pembelajaran sains dengan menggunakan model Sains Teknologi Masyarakat di TK X?
a. Bagaimanakah rencana pembelajaran sains dengan menggunakan model Sains Teknologi Masyarakat?
b. Bagaimanakah proses belajar anak terhadap pembelajaran sains dengan menggunakan model Sains Teknologi Masyarakat?
c. Bagaimanakah hasil belajar anak terhadap pembelajaran Sains dengan menggunakan model Sains Teknologi Masyarakat?
3. Apakah model sains teknologi masyarakat berdampak terhadap peningkatan kemampuan kognitif anak?

C. Tujuan Penelitian
Dari latar belakang masalah dan rumusan masalah yang telah dikemukakan diatas, maka penelitian ini bertujuan :
1. Memperoleh gambaran awal tentang pembelajaran sains di TK X.
2. Memperoleh gambaran tindakan pembelajaran sesuai kondisi TK X dengan menggunakan Sains Teknologi Masyarakat.
3. Memperoleh gambaran tentang rencana pembelajaran terhadap peningkatan kemampuan kognitif anak melalui Sains Teknologi Masyarakat di Taman Kanak-Kanak.
4. Memperoleh gambaran proses belajar anak terhadap peningkatan kemampuan kognitif anak melalui Sains Teknologi Masyarakat di Taman Kanak-Kanak.
5. Memperoleh hasil belajar anak terhadap peningkatan kemampuan kognitif anak melalui pembelajaran Sains Teknologi Masyarakat di Taman kanak-kanak.
6. Memperoleh gambaran peningkatan kemampuan kognitif anak melalui pembelajaran Sains Teknologi Masyarakat di Taman Kanak-Kanak.

D. Manfaat Penelitian
Hasil penelitian ini diharapkan memberikan manfaat bagi guru, anak, orangtua maupun peneliti selanjutnya. Secara rinci manfaat tersebut adalah :
1. Bagi guru-guru TK dalam memberikan alternatif pembelajaran Sains di Taman Kanak-Kanak, sehingga mereka dapat merancang pembelajaran sains dengan model Sains Teknologi Masyarakat.
2. Bagi anak TK diharapkan dapat lebih mudah memahami sains.
3. Memberikan masukan kepada orangtua ataupun praktisi pendidikan tentang pengembangan kognitif anak melalui model Sains Teknologi Masyarakat.
4. Bagi peneliti selanjutnya, memberikan gambaran pembelajaran sains di TK terhadap perkembangan kognitif anak sebagai bahan masukan untuk melakukan penelitian selanjutnya.

E. Asumsi
1. Pembelajaran sains dapat diberikan sejak dini dan sesuaikan karakteristik anak, karena sains memfasilitasi anak untuk melakukan eksplorasi terhadap alam.
2. Model Sains Teknologi Masyarakat merupakan model yang bisa diterapkan dari sejak usia dini dengan menggunakan teknologi sederhana sesuai dengan kemampuan berpikir anak.
3. Sains diharapkan dapat meningkatkan kemampuan kognitif anak

F. Metode Penelitian
Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian tindakan (action research) dengan model penelitian tindakan kelas (PTK). Menurut Hopkins (Rochiati, 2005 : 25) menyatakan bahwa "Penelitian Tindakan Kelas bersifat emansipatoris dan membebaskan karena penelitian ini mendorong kebebasan berpikir dan berargumen pada pihak siswa, dan mendorong guru untuk bereksperimen, meneliti, dan menggunakan kearifan dalam mengambil keputusan atau judgment. "
Pengertian penelitian tindakan kelas adalah bagaimana sekelompok guru dapat mengorganisasikan kondisi praktek pembelajaran mereka, dan belajar dari pengalaman mereka sendiri. Mereka dapat mencobakan suatu gagasan perbaikan dalam praktek pembelajaran mereka, dan melibatkan pengaruh nyata dari upaya itu Rochiati (2005 : 13).
Penelitian tindakan kelas dilakukan berupa proses pengkajian berdaur yang terdiri dari 4 tahap, yaitu merencanakan, melakukan tindakan, mengamati dan merefleksi.

G. Penjelasan istilah
1. Pembelajaran Sains
Suatu proses pembelajaran dengan melihat, mengamati, mengalami dan memahami yang terkait dengan proses, sikap dan produk sains yang semuanya tidak lepas dari arahan dan bimbingan guru sebagai fasilitator.
2. Kemampuan Kognitif
Kognitif (Martini, 2003 : 17) "adalah proses yang terjadi secara internal didalam pusat susunan saraf pada waktu manusia sedang berfikir. Kemampuan kognitif ini berkembang secara bertahap sejalan dengan perkembangan fisik dan saraf-saraf yang berada di pusat susunan saraf. Jadi kognitif adalah pengertian yang luas mengenai berpikir dan mengamati, menjadi tingkah laku yang mengakibatkan orang memperoleh pengertian ataupun pengetahuan. "
3. Model Sains Teknologi Masyarakat
Model Sains Teknologi Masyarakat adalah proses pembelajaran sains yang menggunakan teknologi sebagai media agar anak dapat menggali, mengeksplorasi lingkungannya. Model sains teknologi masyarakat menggunakan langkah-langkah.
pembelajaran yang dirangkai dalan skenario pembelajaran, yang dibagi dalam lima tahap. Tahap satu pendahuluan, meliputi : inisiasi, persepsi, eksplorasi. Tahap dua meliputi : pembentukan atau pengembangan konsep. Tahap tiga meliputi aplikasi konsep. Tahap empat meliputi pemantapan konsep. Tahap lima meliputi penilaian.

Posted by: Admin Indeks Prestasi Updated at: 09:45:00

EFEKTIVITAS SISTEM INFORMASI, PERILAKU KARYAWAN DAN KUALITAS ALAT TAKSIR TERHADAP RISIKO OPERASIONAL

A. Latar Belakang Masalah
Setiap insititusi komersil atau perusahaan selalu menghendaki rasa aman dari kekurangan atau terhindar dari segala macam bentuk risiko operasional dan berusaha melindungi diri dari kejadian-kejadian yang dapat mengancam kinerjanya. Kinerja operasional dapat terancam atau mengalami kerugian akibat berbagai kejadian. Risiko adalah sama dengan ketidakpastian akan terjadinya suatu kejadian yang dapat menimbulkan masalah dan peluang baik bagi organisasi perusahaan, pemerintah maupun perorangan dalam kehidupan sehari-hari.

Banyak perusahaan yang menganalisis risiko operasionalnya dan dikelola secara sadar, akan tetapi tidak sedikit pula perusahaan yang kadang-kadang mengabaikannya dan tidak menyadari akibatnya. Pegadaian sebagai salah satu BUMN berstatus Perusahaan Umum (Perum)-sesuai kutipan dari Peraturan Pemerintah No. 103 tahun 2000-menjalankan misinya melalui pelayanan penyaluran kredit dengan jaminan gadai dan fidusia kepada masyarakat terutama golongan kecil dan menengah, baik untuk UMKM yang berstatus formal maupun informal. Perum Pegadaian sebagai lembaga yang bergerak di bidang jasa keuangan selama lebih kurang 108 tahun telah tumbuh dan berkembang di tengah-tengah risiko operasional yang membayangi perusahaan yang dapat merugikan perusahaan secara materi maupun non materi.

Dari hasil analisa laporan keuangan yang bersumber dari laporan keuangan tahunan (annual report) sepanjang tiga tahun berturut-turut mulai dari tahun 2006, 2007 dan 2008, ditemukan bahwa perusahaan mengalami rasio pertumbuhan laba usaha (operating income) yang menurun secara berturut-turut dimulai pada tahun 2006 sebesar 54,67% dan menurun menjadi 36,05% pada tahun 2007 hingga 34,50% pada tahun 2008. Salah satu dari sekian banyak indikasi yang dapat menyebabkan hal tersebut adalah meningkatnya risiko operasional perusahaan, selain dari risiko kredit, risiko pasar dan risiko reputasi.

Risiko operasional Perum Pegadaian dapat berasal dari faktor internal maupun faktor eksternal. Faktor pemicu dari lingkungan eksternal antara lain dapat disebabkan oleh dampak menurunnya daya beli masyarakat akibat puncak resesi ekonomi global yang terjadi di Indonesia di penghujung tahun 2008 sebagai imbas krisis di Amerika Serikat maupun semakin menjamurnya bisnis gadai yang saat ini telah marak dilakukan oleh para pesaing yang juga mulai menawarkan jasa sejenis. Sedangkan untuk faktor pemicu internal bisa diakibatkan dari hal sistem teknologi informasi yang dipakai perusahaan selama ini yang masih kurang efektif dan berpotensi meningkatkan risiko operasional perusahaan. Keberadaan perangkat lunak yang masih konvensional dengan konsep basis data yang terdistribusi, mampu menciptakan peluang-peluang kerawanan terhadap aksi kecurangan yang dilakukan oleh karyawan. Hal yang lain, seperti lambatnya penanganan permasalahan pada perangkat keras oleh divisi yang berwenang (Divisi Teknologi Informasi) juga dapat menghambat operasional. Begitu pula dengan keterbatasan jalur internet yang tidak layak sebagai alat komunikasi dan pengiriman data pada setiap kantor pelayanan (outlet), juga bisa menciptakan risiko-risiko operasional tertentu. Secara garis besar, implementasi sistem informasi pada Perum Pegadaian sebagai alat operasional masih kurang efektif dan berpotensi terhadap peningkatan risiko operasional.
Faktor pemicu risiko operasional dari faktor internal yang lain, bisa diindikasikan dari pola perilaku karyawan Perum Pegadaian yang berjumlah 7.806 orang (data divisi SDM Perum Pegadaian Kantor Pusat per 3 Januari 2010). Bermacam-macamnya sifat dan sikap karyawan yang ada dapat melatarbelakangi tindakan kecurangan dan indisipliner yang dapat menimbulkan potensi kerugian serta menambah level risiko operasional perusahaan.

Sedangkan faktor pemicu risiko operasional Perum Pegadaian berikutnya dapat dinilai dari minimnya kua alat taksir sebagai ralatan kerja utama. Padahal alat taksir inilah fungsi utama dari keberadaan setiap unit pelayanan Perum Pegadaian. Peralatan taksir yang tidak memadai dapat menimbulkan risiko yang seharusnya dihindari seperti kemasukan barang emas palsu, uang palsu atau lainnya. Sebagaimana telah termaktub dalam program kerja pertumbuhan outlet Perum Pegadaian, pencapaian jumlah outlet yang dibuka beberapa tahun terakhir tidak diimbangi oleh ketersediaan alat taksir yang tidak memadai dalam hal jumlah maupun kualitasnya.

Faktor-faktor penyebab tersebut perlu mendapat perhatian khusus dari perusahaan, karena faktor efektivitas sistem informasi, perilaku karyawan dan kualitas alat taksir dapat mempunyai pengaruh yang tinggi terhadap risiko operasional di Perum Pegadaian, yang akhirnya akan menentukan baik atau buruknya kinerja operasional.

Batasan-batasan risiko operasional untuk dihindari yang telah termaktub dalam Pedoman Operasional Kantor Cabang (POKC) juga seakan-akan diabaikan oleh sebagian besar karyawan karena banyak yang tidak memahaminya sebagai landasan dalam bekerja. Padahal pemahaman terhadap hal ini akan dapat menurunkan frekuensi terjadinya hal-hal yang buruk (likelihood) dan kerugian (impact) yang ada pada operasional Perum Pegadaian khususnya di Kantor Cabang.

Dari uraian di atas, Perum Pegadaian dituntut agar lebih meningkatkan risk awareness, perbaikan proses internal secara berkelanjutan dan lebih memahami eksposur risiko operasional pa setiap unit kerja. esionalisme Perum Pegadaian dalam segala aspek diusahakan untuk mendukung kebijaksanaan perusahaan terutama dalam peningkatan kualitas manajemen risiko agar risiko operasional dapat diminimalisir sehingga mengurangi dampak dari akibat negatifnya.

Mengingat semakin pentingnya risk awareness risiko operasional bagi tujuan organisasi dan sesuai dengan permasalahan serta obyek penelitian, maka penulis mencoba mengemukakan dalam penelitian ini dengan judul "Analisis Pengaruh Efektivitas Sistem Informasi, Perilaku Karyawan dan Kualitas Alat Taksir Terhadap Risiko Operasional di Perum Pegadaian Kantor Wilayah X".

B. Identifikasi Masalah
Berdasarkan kondisi latar belakang tersebut maka strategi peningkatan risk awareness terhadap risiko operasional menjadi sesuatu hal yang menjadi prioritas utama pada Perum Pegadaian. Berdasarkan hal-hal yang dikemukakan di atas, identifikasi masalah yang dapat dipaparkan adalah sebagai berikut :
1. Dampak menurunnya daya beli masyarakat akibat puncak resesi ekonomi global yang terjadi di Indonesia di penghujung tahun 2008 dapat menyebabkan rasio pertumbuhan laba usaha perusahaan turun.
2. Semakin menjamurnya bisnis gadai yang saat ini telah marak dilakukan oleh para pesaing menjadi rintangan baru bagi perusahaan untuk meningkatkan laba usaha perusahaan.
3. Eksistensi perangkat lunak (software) yang tidak terintegrasi (tidak online) dan tersebar secara terdistribusi pada setiap kantor pelayanan dapat meningkatkan risiko operasional.
4. Teknologi basis data yang dipakai pada perangkat lunak masih rentan terhadap keamanan data dan dapat menimbulkan risiko operasional seperti kecurangan yang dilakukan oleh karyawan.
5. Perangkat keras yang mengalami kerusakan dan tidak cepat ditanggapi oleh karyawan bagian TI (Teknologi Informasi) dapat menghambat operasional dan menambah potensi risiko kerugian perusahaan.
6. Keterbatasan jaringan internet (network) dan buruknya jalur data pada setiap kantor pelayanan unit Perum Pegadaian dapat meningkatkan risiko operasional.
7. Perilaku karyawan yang tidak disiplin terhadap aturan perusahaan berpotensi merugikan perusahaan dan menaikkan level risiko operasional.
8. Kualitas SDM yang tidak maksimal disertai dengan minimnya pengetahuan dibalik risiko operasional yang ada dapat memperbesar akibat (impact) dari risiko yang dapat dimungkinkan untuk timbul.
9. Minimnya alat taksir sebagai peralatan kerja utama yang dibutuhkan untuk mendukung operasional pelayanan Perum Pegadaian dapat meningkatkan derajat risiko operasional.
10. Proses bisnis yang tidak sesuai dengan Pedoman Operasional Kantor Cabang dapat berakibat pada naiknya risiko operasional.

C. Ruang Lingkup Penelitian
Penelitian ini dilakukan pada Kantor Perum Pegadaian Kantor Wilayah X dengan pertimbangan biaya dan waktu serta lokasi yang cukup strategis. Agar lebih terarah, maka pembatasan masalah penelitian ini hanya mencakup pada faktor internal penyebab risiko operasional yaitu Efektivitas Sistem Informasi, Perilaku Karyawan dan Kualitas Alat Taksir sebagai masalah utama penelitian.

D. Perumusan Masalah
Berdasarkan pada uraian la belakang di atas maka permasalahan yang dapat dirumuskan adalah sebagai berikut :
1. Apakah terdapat pengaruh Efektivitas Sistem Informasi terhadap Risiko Operasional Perum Pegadaian Kantor Wilayah X?
2. Apakah terdapat pengaruh Perilaku Karyawan terhadap Risiko Operasional Perum Pegadaian Kantor Wilayah X?
3. Apakah terdapat pengaruh Kualitas Alat Taksir terhadap Risiko Operasional Perum Pegadaian Kantor Wilayah X?
4. Apakah terdapat pengaruh Efektivitas Sistem Informasi, Perilaku Karyawan dan Kualitas Alat Taksir secara simultan terhadap Risiko Operasional Perum Pegadaian Kantor Wilayah X?
5. Diantara ketiga variabel tersebut diatas, manakah yang memiliki pengaruh paling dominan terhadap risiko operasional Perum Pegadaian Kantor Wilayah X?

E. Tujuan dan Kegunaan Penelitian
Tujuan penelitian ini adalah sebagai berikut :
1. Untuk menganalisis risiko operasional Perum Pegadaian Kantor Wilayah X baik dalam pengaruh individual maupun secara bersama-sama (Efektivitas Sistem Informasi, Perilaku Karyawan dan Kualitas Alat Taksir terhadap Risiko Operasional).
2. Untuk mengetahui salah satu dari ketiga variabel manakah yang paling dominan terhadap risiko operasional Perum Pegadaian Kantor Wilayah X.
Sedangkan kegunaan penelitian ini, antara lain :
1. Diharapkan hasil penelitian ini berguna bagi pengembangan ilmu pengetahuan, khususnya di bidang manajemen risiko, di samping untuk memberikan kontribusi pemikiran dalam hal pengelolaan risiko yang ditawarkan kepada perusahaan.
2. Diharapkan dapat memberikan masukan bagi Perum Pegadaian Kantor Wilayah X terutama dalam hal pengelolaan risiko dalam hubungannya dengan kegiatan operasional.
3. Diharapkan penelitian ini dapat memperkaya hasil penelitian dan bahan referensi bagi Program Pasca Sarjana Universitas X, khususnya konsentrasi Sistem Informasi Manajemen.
4. Sebagai bahan informasi bagi para pembaca, pemerhati bidang Sistem Informasi Manajemen dan Manajemen Risiko serta sekaligus sebagai referensi bagi penelitian selanjutnya.

Posted by: Admin Indeks Prestasi Updated at: 17:48:00

44 IDENTIFIKASI KEBUTUHAN PENGEMBANGAN KOMPETENSI PEDAGOGIK GURU

IDENTIFIKASI KEBUTUHAN PENGEMBANGAN KOMPETENSI PEDAGOGIK GURU



BAB I 
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Pendidikan merupakan hal terpenting bagi kehidupan manusia. Pendidikan adalah suatu hal yang sangat diprioritaskan, karena pendidikan merupakan kewajiban yang berlangsung sepanjang hayat, selama seseorang masih hidup dan berakal sehat. Oleh karena itu dengan adanya pendidikan dapat menghasilkan manusia yang memiliki kemampuan berpikir logis, bersikap kritis, berinisiatif, unggul, dan kompetitif selain menguasai ilmu pengetahuan dan keterampilan dasar. Pendidikan bisa memberikan peluang yang besar bagi manusia untuk berkembang menjadi diri yang lebih baik lagi.
Masa kanak-kanak merupakan fase yang paling subur dalam menanamkan kreativitas yang mapan dan arahan yang bersih dalam jiwa dan sepak terjang anak. Potensi anak sudah tersedia dalam diri anak yang masih lugu dan polos yang belum terkontaminasi dengan lingkungan luar. Pada masa ini orang tua dapat memaksimalkan pendidikan anak dengan sebaik-baiknya, harapan besarnya untuk keberhasilan anak di masa mendatang. Menurut Nugraha (2006 : 62) anak akan berkembang menjadi remaja dan menjadi dewasa yang tahan dalam menghadapi berbagai macam tantangan. Seiring berjalannya waktu, pendidikan senantiasa mengalami dinamika yang membawa perubahan yang sangat signifikan, dengan berkembangnya pendidikan yang sangat luas maka perilaku anak juga harus diimbangi dengan sosial emosi yang baik, selain itu agama juga yang harus ditanamkan pada diri anak. Sehingga anak akan mempunyai pedoman untuk melangkah.
Dalam memudahkan pendidikan anak, maka diperlukan guru yang mempunyai kompetensi yang baik. Sosok guru yang ideal adalah guru yang mempunyai empat kompetensi dasar, kompetensi ini merupakan kompetensi yang paling utama bagi guru. Empat kompetensi yang paling dasar dan utama yaitu kompetensi pedagogik, kompetensi profesional, kompetensi pribadi, dan kompetensi sosial. Kompetensi sangat diperlukan untuk melaksanakan fungsi profesi. "Teacher Is The Heart Of Quality Education." Ungkapan ini mengisyaratkan bahwa guru merupakan salah satu indikator yang menentukan kualitas pendidikan. Bagus tidaknya kualitas pendidikan akan terlihat dari kinerja dan kompetensi guru sebagai pendidik yang melaksanakan proses pembelajaran.
Kompetensi pedagogik merupakan bagian yang tak terpisahkan dari empat kompetensi utama yang harus dimiliki seorang guru. Kompetensi pedagogik yaitu kemampuan seorang guru dalam mengelola proses pembelajaran peserta didik. Selain itu kemampuan pedagogik juga ditunjukkan dalam membantu, membimbing dan memimpin peserta didik. Kompetensi pedagogik ini sangat penting yang berkenaan dengan pembelajaran. Menurut Permendiknas Nomor 16 Tahun 2007 : 62 kompetensi pedagogik guru terdiri atas 37 buah kompetensi yang dirangkum dalam 10 kompetensi inti seperti disajikan berikut ini; kemampuan menguasai karakteristik peserta didik dari aspek fisik, moral, sosial, kultural, emosional, dan intelektual; menguasai teori belajar dan prinsip-prinsip pembelajaran yang mendidik; mengembangkan kurikulum yang terkait dengan bidang pengembangan yang diampu; menyelenggarakan kegiatan pengembangan yang mendidik; memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi untuk kepentingan penyelenggaraan kegiatan pengembangan yang mendidik; memfasilitasi pengembangan potensi peserta didik untuk mengaktualisasikan berbagai potensi yang dimiliki; berkomunikasi secara efektif, empatik, dan santun dengan peserta didik; menyelenggarakan penilaian dan evaluasi proses dan hasil belajar; memanfaatkan hasil penilaian dan evaluasi untuk kepentingan pembelajaran; serta melakukan tindakan reflektif untuk peningkatan kualitas pembelajaran.
Kemampuan pedagogik menurut Suparno (2002 : 52) disebut juga kemampuan dalam pembelajaran atau pendidikan yang memuat pemahaman akan sifat, ciri anak didik dan perkembangannya, mengerti beberapa konsep pendidikan yang berguna untuk membantu siswa, menguasai beberapa metodologi mengajar yang sesuai dengan bahan dan perkembangan siswa, serta menguasai sistem evaluasi yang tepat dan baik yang pada gilirannya semakin meningkatkan kemampuan siswa. Dengan mengerti hal-hal itu guru akan mudah mengerti kesulitan dan kemudahan anak didik dalam belajar dan mengembangkan diri dan guru akan lebih mudah membantu anak didik untuk berkembang.
Untuk itu, guru perlu menguasai beberapa teori tentang pendidikan terlebih pendidikan di jaman modern ini. Oleh karena sistem pendidikan di Indonesia lebih dikembangkan ke arah pendidikan yang demokratis, maka teori dan filsafat pendidikan yang lebih bersifat demokratis perlu didalami dan dikuasai. Dengan mengerti bermacam-macam teori pendidikan, diharapkan guru dapat memilih mana yang paling baik untuk membantu perkembangan anak didik. Karena guru berperan untuk memberikan gambaran serta contoh yang nyata supaya para peserta didik tidak berfikir secara angan-angan yang ada di pikiran mereka saja, dan harapannya para peserta didik dapat memahami apa yang disampaikan oleh guru.
Guru dalam proses belajar mengajar merupakan faktor kesuksesan setiap usaha pendidikan, karena guru merupakan komponen yang paling terpenting. Guru mempunyai peranan dalam memberikan motivasi kepada siswa, karena motivasi berperan sangat penting dalam kegiatan utamanya dalam proses belajar. Guru merupakan sosok yang dapat digugu dan ditiru, dalam arti orang yang memiliki karisma atau wibawa hingga perlu untuk ditiru dan diteladani. Menurut Uno (2010 : 17) seseorang yang ingin menjadi guru yang baik maka sudah seharusnya dapat selalu meningkatkan wawasan pengetahuan akademis dan praktik melalui jalur berjenjang atau pelatihan yang bersifat in service training dengan rekan-rekan sejawatnya. Peran guru sangat dominan, dimana guru merupakan pengelola ruang, waktu, serta alat dan media pembelajaran sesuai dengan cara yang dikehendakinya.
Peran guru juga tidak bisa tergantikan dengan siapa pun atau apa pun, sekalipun dengan teknologi canggih. Keberhasilan ataupun kualitas faktor pendidikan tidaklah bisa terlepas dari peran guru. Menurut Hoyyima, 2010 : 58 peran guru yang berkualitas sangatlah dominan bagi terwujudnya pendidikan di tengah-tengah masyarakat. Oleh karena itu, faktor pendidikan tidak bisa dipandang sebelah mata dalam upaya meningkatkan perwujudan kesejahteraan dalam masyarakat di suatu daerah. Setiap anak mengharapkan guru mereka dapat menjadi contoh atau model baginya. Oleh karena itu tingkah laku pendidik baik guru, orang tua atau tokoh-tokoh masyarakat harus sesuai dengan norma-norma yang dianut oleh masyarakat, bangsa dan negara. Karena nilai-nilai dasar negara dan bangsa Indonesia adalah Pancasila, maka tingkah laku pendidik harus selalu diresapi oleh nilai-nilai Pancasila.
Menurut Uno (2010 : 22) guru dituntut untuk berperan aktif dalam merencanakan suatu pembelajaran dengan memerhatikan berbagai kompetensi dalam sistem pembelajaran yang meliputi; membuat dan merumuskan teknologi informasi dan teknologi; menyiapkan materi yang relevan dengan tujuan; merancang metode yang disesuaikan dengan siswa; menyediakan sumber belajar, media, dalam hal ini guru sebagai mediator. Jadi bisa disimpulkan bahwa guru diharapkan bisa merancang dan mempersiapkan semua komponen agar berjalan dengan efektif dan efisien.
Mutu pendidikan guru juga mempengaruhi dan menentukan mutu pendidikan. Peningkatan mutu pendidikan merupakan fokus perubahan dalam rangka peningkatan kualitas sumber daya manusia sesuai dengan Peraturan Pemerintah No 19 Tahun 2009 Pasal 29 menyatakan bahwa pendidik pada Pendidikan Anak Usia Dini memiliki : (a) kualifikasi akademik pendidikan minimum diploma empat (D-IV) atau Sarjana S1. (b) latar belakang pendidikan tinggi pendidikan anak usia dini, kependidikan lain, pendidikan Psikologi dan (c) sertifikasi pendidikan PAUD.
Menurut Hoyyima (2010 : 36) dalam melaksanakan tanggung jawab tersebut guru (pendidik) dan tenaga kependidikan mempunyai peranan menentukan dalam mencapai tujuan yang ditetapkan. Untuk itu kualitas pendidik dan tenaga kependidikan perlu terus ditingkatkan. Kompetensi guru tersebut perlu terus dikembangkan secara terprogram, berkelanjutan melalui suatu sistem pembinaan yang dapat meningkatkan kualitas profesional guru. Dalam pengertian yang lebih substantif kompetensi merupakan gambaran hakikat perilaku seseorang.
Identifikasi kebutuhan pengembangan guru saat ini sudah banyak mendapat perhatian, baik oleh para ahli pendidik maupun oleh para administrator pendidikan dalam berbagai tingkat wewenang dan tanggung jawab dalam sektor pendidikan. Perhatian itu wajar diberikan mengingat pentingnya peranan lembaga pendidikan guru, baik pre-service maupun in-service, dalam rangka mempersiapkan dan menyediakan calon-calon guru. Pemerintah juga memandang bahwa guru merupakan media yang sangat penting artinya dalam kerangka dan pengembangan bangsa. Oleh karena itu, pengembangan diri harus selalu dikembangkan untuk meningkatkan kualitas diri dalam mendidik putra-putri bangsa yang akan menjadi pemimpin negeri.
Guru memiliki peran yang sangat penting dalam menentukan kuantitas dan kualitas pengajaran sehingga pada akhirnya guru berperan dalam meningkatkan mutu pendidikan nasional. Guru berperan sebagai pengelola proses belajar mengajar, bertindak selaku fasilitator yang berusaha menciptakan proses belajar mengajar yang efektif, mengembangkan bahan pelajaran dengan baik dan meningkatkan kemampuan peserta didik untuk menyimak pelajaran dan menguasai tujuan-tujuan pendidikan yang harus mereka capai.
Namun, kenyataan di lapangan kompetensi pedagogik guru sering tidak dipahami dan dimengerti oleh sebagian guru, tidak sedikit guru yang hanya mengajar saja tanpa mau tahu apa itu kompetensi dasar yang harus dimiliki. Sehingga guru tidak maksimal dalam pengorganisasian kelas, pengelolaan kelas, penggunaan metode belajar mengajar, penggunaan teori-teori pembelajaran, strategi belajar mengajar, maupun sikap dan karakteristik guru dalam mengelola proses belajar mengajar. Selain itu, kenyataan yang ada pada saat ini banyak guru yang belum memenuhi kualifikasi dan banyak para guru yang tidak mendapatkan pendidikan, pendampingan serta pelatihan tentang bagaimana teknik kompetensi pedagogik. Akibatnya, dapat menurunkan mutu dan kualitas pembelajaran atau pendidikan, untuk itu guru harus segera mendapatkan berbagai pelatihan maupun pendampingan dengan menganalisis kebutuhan apa saja yang diperlukan guru untuk mengembangkan kompetensi pedagogik itu sendiri.
Selain itu, diperlukan analisis kebutuhan para guru tentang pengembangan kompetensi pedagogik guru yang meliputi kesadaran guru dalam dipahami kompetensi pedagogik guru tentang penguasaan terhadap materi perkembangan peserta didik, teori-teori belajar, pengembangan kurikulum, teknik evaluasi, penguasaan terhadap model-model dan metode pengajaran, adalah perlu, di samping penguasaan terhadap mata pelajaran dan iptek yang berkaitan dengan pengajaran. Untuk mendukung hal tersebut skripsi ini disusun untuk memetakan kebutuhan pengembangan kompetensi pedagogik para guru. Berdasarkan uraian diatas maka peneliti tertarik untuk menyusun skripsi dengan judul : IDENTIFIKASI KEBUTUHAN PENGEMBANGAN KOMPETENSI PEDAGOGIK GURU (STUDI DESKRIPTIF GURU TK).

B. Pembatasan Masalah
Berdasarkan berbagai masalah yang telah dikemukakan. Peneliti tertarik untuk mengadakan penelitian terhadap kebutuhan pengembangan kompetensi pedagogik. Peneliti melakukan batasan masalah, agar pembahasan masalah tidak terlalu luas untuk diteliti.
Batasan masalah dalam skripsi ini yakni pada kebutuhan pengembangan kompetensi pedagogik yang berhubungan dengan guru dalam melaksanakan pembelajaran. Kompetensi pedagogik merupakan kompetensi dasar yang harus dikuasai oleh guru. Oleh karena itu, setiap guru diharapkan mampu mengembangkan kompetensi pedagogik.

C. Penegasan Istilah
Berdasarkan pembahasan diatas, maka perlu adanya pembatasan masalah dalam judul penelitian ini agar tidak terjadi kesalahan dalam pembahasan selanjutnya dijelaskan sebagai berikut : 
1. Kebutuhan
Kebutuhan merupakan hal penting bagi kehidupan manusia untuk mempertahankan hidup serta untuk memperoleh kesejahteraan dan kenyamanan.
2. Kompetensi pedagogik guru
Kompetensi pedagogik guru merupakan kemampuan seorang guru dalam melaksanakan kewajiban secara bertanggung jawab dan layak. Dari pendapat tersebut dapat disimpulkan bahwa kompetensi pedagogik guru merupakan kemampuan guru dalam melaksanakan tugas-tugas sebagai pengajar yang dilakukan secara bertanggung jawab dan layak.

D. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah yang ada dan agar dalam penelitian ini tidak terjadi kerancuan, maka penulis dapat membatasi dan merumuskan permasalahan yang akan di angkat dalam penelitian ini. 
1. Bagaimana gambaran kompetensi pedagogik guru TK di Kecamatan Kota X ?
2. Apakah yang menjadi kebutuhan pengembangan kompetensi pedagogik guru TK di Kecamatan Kota X ?

E. Tujuan Penelitian
Penelitian ini bertujuan untuk : 
1. Mengetahui tentang gambaran kompetensi pedagogik guru TK di Kecamatan Kota X.
2. Mengetahui kebutuhan pengembangan kompetensi pedagogik guru TK di Kecamatan Kota X.

F. Manfaat Penelitian
1. Manfaat Teoritis
Penelitian ini bermanfaat bagi pengembangan konsep dan teori mengenai pengembangan kompetensi pedagogik.
2. Manfaat Praktis
a. Bagi sekolah
Memberikan sumbangan positif dalam mengembangkan kompetensi pedagogik guru untuk meningkatkan pembelajaran yang ada di TK.
b. Bagi guru
Sebagai masukan bagi para guru agar dapat mengembangkan kompetensi pedagogik guru dan disesuaikan dengan kebutuhan dari masing-masing guru.
c. Bagi penulis
Menambah pengalaman, wawasan, dan untuk bekal peneliti sebagai pendidik yang selalu mengamalkan ilmu pengetahuan. Sebagai bahan masukan berupa informasi kepada mahasiswa agar dapat menambah perbendaharaan kepustakaan tentang identifikasi kebutuhan untuk mengembangkan kompetensi pedagogik guru TK supaya diterapkan ketika mengajar nantinya dan mengaplikasikannya pada kehidupannya kelak.

Posted by: Admin Indeks Prestasi Updated at: 17:16:00