Cari Kategori

SKRIPSI PTK PENINGKATAN KETERAMPILAN MENULIS NARASI PADA SISWA KELAS VII B SMP X MENGGUNAKAN MEDIA CERITA BERGAMBAR

(KODE PTK-0027) : SKRIPSI PTK PENINGKATAN KETERAMPILAN MENULIS NARASI PADA SISWA KELAS VII B SMP X MENGGUNAKAN MEDIA CERITA BERGAMBAR (MATA PELAJARAN : BAHASA INDONESIA)



BAB I
PENDAHULUAN


A. Latar Belakang Masalah
Salah satu permasalahan pendidikan yang dihadapi oleh bangsa Indonesia adalah rendahnya mutu pendidikan pada setiap jenjang dan satuan pendidikan. Berbagai usaha telah dilakukan untuk meningkatkan mutu pendidikan, antara lain: melalui berbagai pelatihan dan peningkatan kompetensi guru, pengadaan buku dan alat pelajaran, perbaikan sarana dan prasarana pendidikan, peningkatan mutu manajemen sekolah. serta peningkatan kualitas tenaga pengajar. Upaya tersebut diharapkan membawa dampak positif terhadap dunia pendidikan di Indonesia.
Guru sebagai tenaga profesional harus memiliki sejumlah kemampuan, seperti: mengaplikasikan berbagai teori belajar di bidang pengajaran; kemampuan memilih dan menerapkan metode pengajaran yang efektif dan efisien; kemampuan melibatkan siswa berpartisipasi aktif; dan kemampuan menciptakan suasana belajar yang menunjang tercapainya tujuan pendidikan. Di dalam proses belajar-mengajar guru memegang peran sebagai sutradara sekaligus aktor. Artinya, guru memegang tugas dan tanggung jawab merencanakan serta melaksanakan pengajaran di sekolah. Guru harus dapat memberikan rangsangan untuk menimbulkan proses berpikir siswa. Guru harus mampu menyediakan fasilitas agar terjadi interaksi antara siswa dan siswa, serta antara siswa dan konsep-konsep yang dipelajarinya sehingga proses berpikir terbina.
Upaya meningkatkan mutu penggunaan bahasa Indonesia, telah ditanamkan sejak jenjang pendidikan terbawah. Pembelajaran bahasa Indonesia diarahkan untuk meningkatkan kemampuan siswa dalam berkomunikasi dengan bahasa Indonesia. Penguasaan bahasa Indonesia yang baik dapat diketahui dari standar kompetensi yang meliputi, membaca, menulis, berbicara, dan mendengarkan (menyimak).
Tujuan yang diharapkan dalam pembelajaran menulis adalah agar siswa mampu mengungkapkan gagasan, pendapat, dan perasaan kepada pihak lain dengan melalui bahasa tulis. Secara umum tujuan pembelajaran keterampilan menulis, yaitu siswa mampu mengkomunikasikan ide atau gagasan/pendapat secara tertulis ataupun sebagai kegiatan mengekspresikan ilmu pengetahuan, pengalaman hidup, ide, imaji, aspirasi dan lain-lain (Yant Mujiyanto, dkk., 2000:70). Sejalan dengan tujuan tersebut, peran budaya menulis semakin menempati kedudukan yang sentral di dalam kehidupan modern. Tanpa budaya menulis, arus komunikasi dan informasi akan terputus sehingga manusia akan terkungkung dalam keterbelakangan dan kebodohan. Hal itu disebabkan terputusnya perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.
Kesulitan siswa melakukan aktivitas menulis di sekolah maupun kekurangtepatan guru memilih strategi pembelajaran menulis menjadi faktor penyebab ketidakberhasilan sekolah menjadikan menulis sebagai suatu budaya/tradisi baik bagi siswa ataupun guru tersebut. Merupakan hal sangat mungkin apabila pelajaran menulis menjadi kegiatan yang membosankan bagi siswa. Indikasi hal ini terlihat juga di SMP X. Nilai rata-rata pelajaran menulis siswa kelas VII B menduduki peringkat terbawah dari kelima aspek penilaian berbahasa dan bersastra Indonesia. Standar nilai kelulusan mata pelajaran bahasa Indonesia di sekolah tersebut adalah 60. Nilai tersebut dapat dijelaskan pada Tabel 1 berikut.

* Tabel sengaja tidak ditampilkan *

Data di atas diperoleh peneliti dari nilai rapor tengah semester genap siswa kelas VII B SMP X. Berdasarkan wawancara antara peneliti dan guru, didapat gambaran mengenai kesulitan kegiatan menulis siswa, yaitu salah satunya kosakata yang dimiliki siswa terbatas mengingat mereka masih menduduki tingkat pertama pendididikan menengah pertama. Berdasarkan hasil survei pratindakan, diperoleh gambaran awal kondisi pembelajaran di kelas VII B yang menunjukkan bahwa 20 atau siswa kurang antusisas mengikuti pelajaran menulis. Pada saat mengikuti pelajaran, siswa menunjukkan sikap acuh tak acuh dan tidak memperhatikan pelajaran sepenuhnya.
Menurut siswa pembelajaran menulis itu tidak menyenangkan karena mereka merasa kesulitan merangkaikan kata. Di lain pihak, guru mengatakan pelajaran menulis keterampilan berbahasa adalah pelajaran yang paling tidak dikuasai siswa. Pembelajaran menulis adalah momok dalam pelajaran bahasa Indonesia bagi siswa karena mereka harus berpikir dan menuangkan pikirannya dalam bahasa tulis sekaligus. Keterbatasan kosakata siswa cukup memengaruhi minat siswa dalam mengembangkan idenya untuk dituangkan menjadi tulisan. Akibatnya mereka jadi enggan dan mengikuti pelajaran menulis.
Guru kesulitan menemukan teknik yang tepat untuk mengajarkan materi menulis narasi. Selama ini dalam mengajarkan materi menulis narasi, guru menggunakan metode ceramah dan tugas. Pada awal kegiatan belajar-mengajar, guru menerapkan pembekalan materi mengenai pengertian menulis narasi sambil memberi pertanyaan-pertanyaan sederhana tentang tulisan narasi. Kemudian guru mengajarkan kepada siswa materi menulis narasi, bagaimana membedakan tulisan narasi, argumentasi, deskripsi, eksposisi, dan persuasi. Selanjutnya, siswa diminta membuat tulisan narasi sesuai dengan penjelasan guru. Siswa masih mengalami kesulitan membuat tulisan narasi yang baik, terbukti hasil pekerjaan menulis narasi siswa belum maksimal. Kesulitan yang banyak dialami siswa adalah cara mengembangkan ide dan mengatur ide tersebut agar dapat ditulis secara runtut.
Ada beberapa pemasalahan berkaitan dengan sarana prasarana yang berupa belum maksimalnya pemanfaatan fasilitas pembelajaran. Guru belum memanfaatkan fasilitas yang disediakan sekolah untuk menunjang proses pembelajaran. Ketersediaan laboratorium, dan perpustakaan tidak diaplikasikan dalam proses belajar-mengajar. Guru hanya terpaku pada satu suasana pembelajaran di dalam kelas. Seharusnya fasilitas yang disediakan sekolah dapat bermanfaat bila dikelola

dan digunakan dengan baik oleh guru. Selain itu materi ajar yang digunakan belum variatif. Selama proses pembelajaran guru hanya menggunakan satu buku acuan saja. Buku tersebut berjudul "Pintar Berbahasa Indonesia" karangan J. S. Badudu. Guru belum berusaha mengembangkan peman-faatan materi ajar dari sumber lain.
Berbagai hal yang muncul tersebut terkait tentang kesulitan yang dihadapi dalam pelajaran menulis, memerlukan penerapan suatu media pembelajaran yang efektif dan dapat menunjang kegiatan pembelajaran. Media pembelajaran yang bermacam-macam menyebabkan guru harus selektif memilih penggunaan media pembelajaran. Media yang efektif untuk pengajaran materi tertentu belum tentu efektif untuk mengajarkan materi lainnya. Setiap materi mempunyai karakteristik dan turut menentukan pula media yang digunakan untuk menyampaikan materi tersebut. Begitu pula dalam pembelajaran menulis, guru harus bisa memilih dan menggunakan media sesuai dengan materi yang akan disampaikan sehingga nantinya mampu mencapai tujuan pembelajaran.
Sudarwan Danim (1994:7) mengemukakan bahwa media dalam pembelajaran merupakan seperangkat alat bantu atau pelengkap yang digunakan oleh guru dalam rangka memperlancar penyampaian materi pada peserta didik. Media pembelajaran mempunyai peranan penting dalam proses belajar-mengajar. Selama penerapan pembelajaran, guru dapat menciptakan suasana belajar yang menarik perhatian dengan memanfaatkan media pembelajaran yang kreatif, inovatif ,dan variatif.
Masataka (2002:2) berpendapat bahwa membuat seorang anak mengingat berbagai jenis informasi, kata-kata, dan tulisan yang sedemikian banyak, bukan merupakan cara efektif untuk mengembangkan memorinya. Kunci pengembangan memori anak-anak adalah dengan mendorong mereka menyusun sebuah kisah dan merangkai sejumlah kata-kata yang mereka miliki. Aen Trisnawati (2005:1) juga berpendapat bahwa fantasi merupakan unsur paling menarik dalam kehidupan anak-anak. Fantasi sangat mendominasi kehidupan mereka karena merupakan unsur yang mendukung kreativitas. Anak-anak bisa memandang hal-hal yang tidak mungkin menjadi hal yang mungkin dengan fantasinya.
Aen Trisnawati (2005:1) berpendapat bahwa cerita bergambar ataupun komik merupakan buku cerita yang banyak disukai anak-anak dibandingkan buku cerita lainnya. Nilai lebih komik terletak pada unsur fantasi yang menghibur dan adanya unsur visual. Unsur visual inilah yang menarik minat baca anak-anak. Karena unsur visual ini, anak-anak dapat dengan mudah mengikuti jalan cerita di samping dapat membedakan peran-peran tokoh dalam cerita tersebut. Di dalam cergam atau komik pun, latar kejadian/tempat tokoh-tokoh berperan tersaji jelas.
Secara umum, penggunaan media cergam sebagai media pembelajaran dapat meningkatkan kemampuan menulis karangan narasi siswa. Ari Wijayanti (2006:4) mengungkapkan manfaat penggunaan cergam sebagai media dapat meningkatkan kemampuan siswa dalam: (1) menyusun cerita berdasarkan rangkaian gambar secara urut sehingga menjadi karangan narasi yang utuh, (2) memadukan kalimat menjadi karangan narasi yang padu dengan menggunakan kata sambung yang tepat, dan (3) menggunakan ejaan dan tanda baca secara benar dalam karangan narasi.
Penelitian tentang peningkatan keterampilan menulis narasi dengan media cergam belum pernah diteliti oleh orang lain di SMP X. Selain itu, pembelajaran menulis narasi yang berlangsung di sana hanya berkisar tentang pemberian materi berdasarkan cerita nongambar yang menuntut siswa mengembangkan kreativitas menulis narasi tanpa media apapun. Atas dasar itu, maka peneliti merasa perlu melakukan penelitian terhadap permasalahan di atas. Mengingat berbagai nilai posiif yang terkandung dalam cergam, wajar rasanya apabila media tersebut digunakan dalam pembelajaran menulis narasi. Penelitian ini diharapakan membawa dampak positif bagi guru dan siswa dalam rangka peningkatan kualitas proses dan hasil pembelajaran menulis narasi di sekolah tersebut.

B. Perumusan Masalah
Perumusan masalah yang ingin dijawab pada penelitian ini adalah:
1. Bagaimanakah proses peningkatan keterampilan menulis narasi menggunakan media cergam pada siswa kelas VII B SMP X?
2. Bagaimanakah hasil peningkatan keterampilan menulis narasi menggunakan media cergam pada siswa kelas VII B SMP X?
3. Apa saja kendala-kendala yang dihadapi dalam upaya peningkatan keterampilan menulis narasi menggunakan media cergam pada siswa kelas VII B SMP X?

C. Tujuan Penelitian
Sesuai dengan rumusan masalah di atas, tujuan penelitian ini untuk mendeskripsikan:
a. Proses pembelajaran keterampilan menulis narasi menggunakan media cergam.
b. Hasil peningkatan keterampilan menulis narasi menggunakan media cergam.
c. Kendala-kendala yang dihadapi dalam upaya peningkatan keterampilan menulis narasi menggunakan media cergam.

D. Manfaat Penelitian
1. Manfaat Teoretis
Penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat untuk memperkaya khazanah ilmu pengetahuan kebahasaan, terutama dalam kegiatan menulis narasi.
2. Manfaat Praktis
a. Bagi guru:
1) menawarkan inovasi terhadap pembelajaran menulis narasi;
2) memberi solusi pada kesulitan pelaksanaan pembelajaran menulis narasi;
3) meningkatkan kualitas mata pelajaran bahasa Indonesia.
b. Bagi siswa:
1) membantu mengatasi kesulitan pembelajaran menulis narasi dengan memanfaatkan media cergam;
2) melatih siswa untuk terampil menulis narasi.

Posted by: Admin Indeks Prestasi Updated at: 12:25:00

SKRIPSI PTK PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TEKNIK TWO STAY TWO STRAY SEBAGAI UPAYA UNTUK MENINGKATKAN KETERAMPILAN BERDISKUSI SISWA KELAS IX A SMPN X

(KODE PTK-0026) : SKRIPSI PTK PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TEKNIK TWO STAY TWO STRAY SEBAGAI UPAYA UNTUK MENINGKATKAN KETERAMPILAN BERDISKUSI SISWA KELAS IX A SMPN X (MATA PELAJARAN : BAHASA INDONESIA)




BAB I
PENDAHULUAN


A. Latar Belakang Masalah
Guru memegang peran sebagai sutradara sekaligus aktor dalam pengajaran atau proses belajar mengajar. Artinya, pada gurulah tugas dan tanggung jawab merencanakan dan melaksanakan pengajaran di sekolah. Lubis (2006: 1) menyatakan bahwa guru sebagai tenaga profesional harus memiliki sejumlah kemampuan mengaplikasikan berbagai teori belajar dalam bidang pengajaran, kemampuan memilih, menerapkan metode pengajaran yang efektif dan efisien, kemampuan melibatkan siswa berpartisipasi aktif, dan kemampuan membuat suasana belajar yang menunjang tercapainya tujuan pendidikan.
Zanikhan (XXXX: 1), guru bahasa Indonesia Sekolah Menengah Pertama (SMP), mengakui bahwa pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia di SMP belum berlangsung seperti yang diharapkan. Guru cenderung menggunakan teknik pembelajaran yang bercorak teoretis dan hafalan sehingga kegiatan pembelajaran berlangsung kaku, monoton, dan membosankan. Hal ini menyebabkan siswa tidak termotivasi, sering malas mengikuti pelajaran bahasa Indonesia dan bersikap menyepelekan pelajaran ini.
Pembelajaran bahasa Indonesia diarahkan untuk meningkatkan kemampuan siswa dalam berkomunikasi dengan baik dan benar, baik secara lisan maupun tulis. Oleh sebab itu, pada kurikulum saat ini, silabus mata pelajaran bahasa Indonesia sudah memilah pembelajaran bahasa Indonesia dalam empat aspek keterampilan berbahasa, yaitu menyimak, berbicara, membaca, dan menulis.
Berbicara merupakan salah satu keterampilan berbahasa yang harus dikuasai oleh siswa kelas IX SMP. Salah satu keterampilan berbicara yang harus dikuasai siswa adalah keterampilan menyampaikan pendapat secara lisan melalui diskusi. Standar kompetensi yang harus dicapai siswa di semester II ini adalah siswa dapat mengungkapkan pikiran, perasaan, dan informasi melalui kegiatan diskusi dan protokoler. Ada dua kompetensi dasar yang harus dicapai siswa kelas IX SMP pada pembelajaran berbicara semester genap ini yaitu (1) berpidato/berceramah/berkhotbah dengan intonasi yang tepat dan artikulasi serta volume suara yang jelas; dan (2) menerapkan prinsip-prinsip diskusi.
Berdasarkan hasil pengamatan penulis terhadap kegiatan mengajar di kelas, penilaian guru terhadap keterampilan berbicara siswa, dan diskusi antara guru Bahasa Indonesia dan peneliti dapat dikemukakan bahwa keterampilan berbicara khususnya berdiskusi siswa kelas IX A SMP N X tahun ajaran XXXX/XXXX masih kurang. Hal ini tampak dari tiga kali tugas untuk berbicara yakni melalui wawancara, diskusi, dan presentasi laporan yang dilakukan siswa kelas IX A SMP N X. Pada umumnya siswa malu dan tidak percaya diri ketika berbicara di depan kelas. Selain itu, cara penyampaian siswa juga kurang baik, suara kurang jelas, dan pilihan kata yang digunakan juga masih kurang variatif. Demikian juga ketika siswa diminta mendiskusikan suatu topik, hanya ada beberapa siswa saja yang mau mengemukakan pendapat. Ketika berdiskusi, hanya siswa yang aktif saja yang berbicara dan menyampaikan pendapat. Siswa yang lain hanya sebagai pendengar saja.
Berdasarkan hasil wawancara dengan guru dan observasi peneliti, ditemukan beberapa fakta yang menyebabkan keterampilan berbicara, khususnya berdiskusi siswa kelas IXA masih belum memadai. Hal ini teridentifikasi dari deskripsi nilai dalam diskusi tersebut adalah ada 26 siswa masih belum tuntas, masih memperoleh nilai kurang dari 65. Ada 2 siswa mendapat nilai 40, 2 siswa juga memperoleh nilai 45, 1 siswa mendapat nilai 49, 2 siswa mendapat nilai 50, 4 siswa yang mendapat nilai 55, dan 2 siswa mendapat nilai 58. Lebih lanjut, ada 12 siswa yang mendapat nilai 60 dan ada 1 siswa yang memperoleh nilai 62. Siswa yang tuntas dalam pembelajaran diskusi ini ada 8 siswa. Perincian nilai siswa yang tuntas adalah ada 5 siswa yang mendapat nilai 65, ada 2 siswa mendapat nilai 68, dan 1 siswa mendapat nilai 70. Dengan demikian, nilai terendah pada pembelajaran diskusi ini adalah 40 sebanyak 2 siswa. Nilai tertinggi pembelajaran diskusi ini adalah 70 yang berhasil diperoleh oleh 1 siswa. Rata-rata nilai berdiskusi ini adalah 59, dengan persentase ketuntasan adalah 23,5%.
Siswa yang lain hanya berbicara ketika ditunjuk guru untuk berbicara saja. Bahkan banyak yang masih malu dan tidak percaya diri untuk mengungkapkan pendapat dalam diskusi. Indikator lain yang menunjukkan bahwa keterampilan berbicara siswa dalam diskusi masih rendah adalah kelancaran siswa dalam berbicara masih kurang, struktur kalimat dan kosakata yang digunakan juga kurang tepat. Ada beberapa siswa mengungkapkan pendapat dengan bahasa Jawa dan Indonesia.
Berdasarkan observasi yang dilakukan peneliti, permasalahan tentang keterampilan berdiskusi timbul karena: (1) siswa takut mengungkapkan ide kepada teman-teman; (2) siswa kurang percaya diri terhadap kemampuan berbicaranya; (3) guru belum menggunakan strategi pembelajaran yang tepat dalam menyampaikan materi pelajaran; dan (4) guru kurang memberikan motivasi kepada siswa.
Selain hal-hal diatas, keterampilan berdiskusi siswa yang rendah ini juga disebabkan pembelajaran berdiskusi secara praktik langsung sangat jarang dilakukan. Guru lebih sering menjelaskan tentang teori diskusi daripada praktik diskusi. Guru juga lebih sering meminta siswa untuk praktik menulis atau membaca dari pada praktik berbicara. Guru lebih suka menilai tulisan siswa daripada menilai keterampilan berbicara siswa, misalnya diskusi secara langsung. Hal tersebut dipengaruhi waktu pelajaran yang hanya 80 menit sekali pertemuan. Waktu yang tersedia hanya satu kali pertemuan karena masih ada materi lain yang harus segera diselesaikan. Hal demikian mengakibatkan siswa kurang terlatih untuk berbicara atau mengungkapkan ide dan gagasannya di depan orang lain.
Fakta-fakta di atas menunjukkan kualitas proses dan hasil pembelajaran keterampilan berdiskusi masih kurang optimal. Oleh karena itu diperlukan perbaikan yang dapat mendorong seluruh siswa untuk aktif dalam menyampaikan pendapat atau pikiran dan perasaan secara lisan. Pembelajaran akan lebih optimal jika pendekatan atau metode yang digunakan tepat. Untuk mengoptimalkan hasil belajar, terutama keterampilan berdiskusi, diperlukan pendekatan yang lebih menekankan kerjasama siswa, keaktifan, dan kreativitas siswa serta ada kesempatan untuk mengolah informasi dan meningkatkan informasi.
Anita Lie (2008: 6) mengungkapkan bahwa strategi pembelajaran yang paling sering digunakan untuk mengaktifkan siswa adalah melibatkan siswa dalam diskusi dengan seluruh kelas. Akan tetapi, strategi ini tidak terlalu efektif walaupun guru sudah berusaha dan mendorong siswa untuk berpartisipasi. Sebagian besar siswa hanya sebagai penonton saja, sedangkan yang menguasai kelas hanya beberapa siswa. Upaya yang dilakukan untuk meningkatkan kualitas pembelajaran seperti itu adalah dengan pembelajaran kooperatif. Anita Lie (2008: 17) juga menyatakan bahwa pembelajaran kooperatif sering disebut sistem pengajaran gotong-royong.
Melalui pembelajaran kooperatif, siswa akan bekerja bersama dalam kelompoknya, kemudian berdiskusi tentang suatu informasi, dan mengungkapkannya kepada kelompok lain. Hal tersebut diperkuat oleh pendapat Neo (2005: 12) dalam penelitian yang berjudul "Engaging Students in Group-based Co-operative Learning-A Malaysian Perspective" menjelaskan bahwa "As students worked together in groups, they shared information and came to each other's aid. They were a team whose players worked together to achieve group goals successfully". Hasil penelitian Neo menunjukkan bahwa setelah pembelajaran kooperatif diterapkan, ada reaksi positif dari siswa yang ditunjukkan dengan motivasi belajar yang meningkat.
Salah satu teknik yang ada dalam metode pembelajaran kooperatif adalah Two Stay Two Stray. Melalui metode kooperatif teknik Two Stay Two Stray diharapkan siswa akan berani mengungkapkan pendapatnya dalam kelompoknya sendiri, kemudian dalam kelompok lain. Sejalan dengan hal tersebut, Anita Lie (2008: 61) juga mengungkapkan bahwa dalam struktur Two Stay Two Stray memberi kesempatan kepada kelompok untuk membagikan hasil dan informasi dengan kelompok lain. Melalui teknik Two Stay Two Stray ini, siswa dibagi menjadi beberapa kelompok heterogen, masing-masing kelompok 4 siswa. Mereka berdiskusi atau bekerja sama membuat laporan suatu peristiwa dengan tema tertentu yang disampaikan guru. Setelah selesai, dua siswa dari masing-masing kelompok akan bertamu ke kelompok lain. Dua siswa yang tinggal dikelompoknya bertugas membagi hasil kerja atau menyampaikan informasi kepada tamu mereka. Siswa yang menjadi tamu mohon diri dan kembali ke kelompok mereka sendiri. Mereka melaporkan hal yang didapat dari kelompok lain. Kemudian siswa membuat laporan tentang hasil diskusi tersebut.
Melalui penerapan metode ini, banyak hal positif yang bisa diperoleh. Salah satunya guru dapat mengefektifkan waktu pembelajaran karena dua siswa (sebagai tuan rumah) diminta tampil berbicara yaitu melaporkan secara lisan hasil diskusi kepada kelompok lain. Dua siswa lain (sebagai tamu) juga pergi ke kelompok lain untuk mendengarkan presentasi kelompok lain dan berdiskusi disana. Hal tersebut tentunya sangat berbeda ketika siswa atau kelompok maju satu per satu ke depan kelas. Waktu yang diperlukan untuk hal tersebut tentu lebih lama.
Melalui metode kooperatif Two Stay Two Stray ini, siswa akan bekerja secara berkelompok. Ketika melaporkan ke kelompok lain juga secara berpasangan (2 orang) sehingga diharapkan siswa tidak merasa takut dan grogi ketika mengungkapkan hasil diskusi kepada kelompok lain. Hal ini juga menambah kekompakan dan rasa percaya diri siswa.
Keunggulan lain adalah melalui teknik Two Stay Two Stray tersebut, siswa dikondisikan aktif mempelajari bahan diskusi atau hal yang akan dilaporkan, karena setiap siswa memiliki peran dan tanggung jawab untuk mempelajari bahan tersebut bersama kelompok ketika menjadi 'tamu' maupun 'tuan rumah'. Dengan demikian, pengetahuan dan wawasan siswa berkembang, siswa lebih menguasai topik diskusi itu sehingga kemampuan berbicara siswa dapat ditingkatkan.
Berdasarkan uraian di atas, peneliti terdorong untuk melaksanakan penelitian tindakan kelas sebagai usaha perbaikan kualitas proses dan hasil pembelajaran keterampilan berdiskusi dengan judul: "Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif Teknik Two Stay Two Stray Sebagai Upaya Untuk Meningkatkan Keterampilan Berdiskusi Siswa Kelas IX A SMP Negeri X Kabupaten X Tahun Ajaran XXXX/XXXX".

B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah di atas dapat dirumuskan masalah sebagai berikut:
1. Apakah penerapan model pembelajaran kooperatif teknik Two Stay Two Stray dapat meningkatkan kualitas proses pembelajaran keterampilan berdiskusi siswa kelas IX A SMP Negeri X Kabupaten X Tahun Ajaran XXXX/XXXX?
2. Apakah penerapan model pembelajaran kooperatif teknik Two Stay Two Stray dapat meningkatkan kualitas hasil pembelajaran keterampilan berdiskusi siswa kelas IX A SMP Negeri X Kabupaten X Tahun Ajaran XXXX/XXXX?

C. Tujuan Penelitian
Sejalan dengan permasalahan di atas, tujuan penelitian tindakan kelas ini adalah untuk meningkatkan:
1. Kualitas proses pembelajaran keterampilan berdiskusi siswa kelas IX A SMP Negeri X Kabupaten X Tahun Ajaran XXXX/XXXX; dan
2. Kualitas hasil pembelajaran keterampilan berdiskusi siswa kelas IX A SMP Negeri X Kabupaten X Tahun Ajaran XXXX/XXXX.

D. Manfaat Penelitian
Adapun manfaat penelitian adalah sebagai berikut:
1. Manfaat Teoretis
Hasil penelitian ini diharapkan dapat dimanfaatkan untuk memperkaya khasanah pengetahuan bahasa dan memperluas wawasan tentang pembelajaran bahasa Indonesia di sekolah menengah, terutama pembelajaran keterampilan berdiskusi dengan menerapkan model pembelajaran kooperatif teknik Two Stay Two Stray.
2. Manfaat Praktis
a. Bagi Siswa
1. Siswa termotivasi dalam pembelajaran keterampilan berdiskusi.
2. Dengan diterapkan model pembelajaran kooperatif teknik Two Stay Two Stray pada pembelajaran berdiskusi, siswa SMP akan dilatih dan dibiasakan bekerja sama serta menjaga kekompakan kelompok.
3. Penerapan model pembelajaran kooperatif teknik Two Stay Two Stray memungkinkan dapat meningkatkan keterampilan berdiskusi siswa.
b. Bagi Guru
1. Upaya menawarkan inovasi dalam metode pembelajaran keterampilan berdiskusi.
2. Menciptakan pembelajaran yang inovatif dan menyenangkan sehingga dapat menarik perhatian siswa.
3. Sarana bagi guru untuk meningkatkan minat dan motivasi siswa dalam pembelajaran yang inovatif.
4. Meningkatkan kinerja guru karena dengan metode ini dapat mengefektifkan waktu pembelajaran berdiskusi.
c. Bagi Peneliti
1. Memperluas wawasan dan pengetahuan peneliti tentang pembelajaran bahasa dan sastra Indonesia khususnya tentang keterampilan berdiskusi.
2. Mendapatkan fakta bahwa dengan menerapkan model pembelajaran kooperatif teknik Two Stay Two Stray dapat meningkatkan keterampilan berdiskusi siswa.
d. Bagi Sekolah
1. Sebagai inovasi pembelaj aran yang dilaksanakan guru.
2. Memberikan pengalaman pada guru lain untuk menerapkan proses pembelajaran yang menyenangkan bagi siswa dengan model pembelajaran kooperatif teknik Two Stay Two Stray.

Posted by: Admin Indeks Prestasi Updated at: 12:23:00

SKRIPSI PTK PEMANFAATAN MULTIMEDIA POWER POINT UTK MENINGKATKAN MOTIVASI DAN HASIL BELAJAR SISWA PADA KONSEP SISTEM SARAF DI SMP X

(KODE PTK-0025) : SKRIPSI PTK PEMANFAATAN MULTIMEDIA POWER POINT UTK MENINGKATKAN MOTIVASI DAN HASIL BELAJAR SISWA PADA KONSEP SISTEM SARAF DI SMP X (MATA PELAJARAN : BIOLOGI)




BAB I
PENDAHULUAN


A. Latar Belakang
Dalam proses pembelajaran, terdapat beberapa komponen, dua diantaranya adalah guru dan siswa. Agar proses pembelajaran berhasil, guru harus aktif diantaranya dalam hal mendorong siswa untuk aktif belajar dan memberikan pengalaman belajar yang memadai kepada siswa.
Menurut Winkel (1987), pembelajaran berlangsung di dalam kelas, dapat ditemukan beberapa komponen yang bersama-sama mewujudkan proses tersebut. Komponen-komponen tersebut antara lain prosedur didaktif, media pembelajaran, pengelompokan siswa dan materi pelajaran. Peranan dalam membimbing pada dasarnya ikut dalam prosedur didaktif.
Prosedur didaktif menunjuk pada kegiatan-kegiatan guru dalam mengelola pembelajaran di dalam kelas. Untuk mencapai keberhasilan tersebut, disamping harus memahami sepenuhnya materi yang diajarkan guru juga dituntut untuk mengetahui secara tepat posisi pengetahuan siswa sebelum mengikuti pelajaran tertentu.
Observasi awal yang telah dilakukan diketahui bahwa SMP X ini merupakan SMP swasta yang setaraf dengan SMP lainnya. Dengan beberapa perbedaan dalam hal mata pelajaran tambahan dan alokasi waktunya. Lokasi SMP ini berada di pinggiran kota, terletak disekitar pondok pesantren dan kantor yayasan yang menaunginya. Sekolah ini tergolong masih baru, yaitu masih 5 tahun. Fasilitas di SMP ini tidak jauh beda dengan SMP swasta pada umumnya.
Siswa SMP ini umumnya berasal dari pondok pesantren Yayasan X, anak-anak panti asuhan X dan juga dari masyarakat sekitar sekolah ini.
Mata pelajaran Biologi di sekolah ini diajarkan dengan satu metode yaitu ceramah dengan guru menjelaskan dan siswa cenderung hanya mendengar tanpa ada variasi seperti pemanfaatan media dan sebagainya. Alasan dari kegiatan belajar mengajar yang monoton ini adalah kurangnya peralatan laboratorium dan fasilitas yang lainnya menyebabkan kegiatan seperti praktikum sangat sukar diterapkan.
Siswa yang terdapat di SMP ini pada umumnya mempunyai prestasi belajar rendah, meskipun ada beberapa yang berprestasi sangat menonjol, hal ini mengakibatkan kurang adanya semangat belajar (motivasi) untuk saling bersaing dalam memperoleh nilai.
Berdasarkan informasi dari guru Biologi, nilai rata-rata ulangan harian pada sistem pencernaan adalah 6,3 dengan ketuntasan 56 %. Kondisi ini menggambarkan bahwa pemahaman siswa dalam proses pembelajaran masih rendah sehingga menyebabkan hasil belajar siswa cenderung rendah. Begitu pula dari wawancara dengan siswa diperoleh hasil bahwa siswa mengalami kesulitan mempelajari sistem saraf karena banyaknya konsep yang sulit dipahami oleh siswa serta sulit dihafal, dan siswa memerlukan media pembelajaran yang dapat membantu meningkatkan motivasi dan hasil belajar siswa.
Hasil analisis penyebab rendahnya kompetensi siswa dalam mempelajari sistem saraf dapat dijabarkan seperti Gambar 1.

* Gambar sengaja tidak ditampilkan *

Analisis pada pohon masalah di atas menunjukkan bahwa kurangnya variasi model pembelajaran. Pembelajaran monoton, serta siswa tidak dilibatkan secara aktif dalam pembelajaran merupakan akar masalah rendahnya kompetensi siswa dalam materi pokok sistem saraf. Kurangnya variasi dalam pembelajaran disebabkan karena guru kurang dalam memilih media dan alat bantu yang dapat menarik minat siswa dalam pembelajaran Biologi. Oleh karena itu perlu disusun pohon sasaran seperti pada Gambar 2.

* Gambar sengaja tidak ditampilkan *

Permasalahan di SMP X tampaknya disebabkan oleh kurangnya guru memberikan variasi dalam pembelajaran sehingga pembelajaran hanya satu arah dan siswa tidak dilibatkan secara aktif. Sarana pembelajaran yang kurang memadai serta materi sistem saraf yang sulit, ketiga faktor tersebut mempengaruhi rendahnya kompetensi siswa.
Permasalahan di atas memerlukan upaya penyelesaian agar siswa menjadi termotivasi untuk mempelajari sistem saraf sehingga meningkatnya kompetensi tercapai. Alternatif untuk memecahkan masalah tersebut di atas adalah dengan menggunakan media yang dapat menarik minat siswa untuk belajar biologi. Media tersebut yaitu komputer dan diharapkan siswa menjadi termotivasi sehingga hasil belajar biologi dapat meningkat yang berdampak pada meningkatnya kompetensi siswa. Ada beberapa alasan mengapa media pembelajaran dengan komputer dikembangkan antara lain sebagai variasi dalam pembelajaran, modern dan menarik, dapat menayangkan proses-proses yang sulit, belum banyak digunakan di sekolah-sekolah.

B. Rumusan Masalah
Dari uraian di atas timbul rumusan masalah sebagai berikut :
1. Adakah peningkatan motivasi siswa pada pembelajaran konsep sistem saraf dengan menggunakan media pembelajaran multimedia komputer bentuk power point di SMP X ?
2. Adakah peningkatan hasil belajar siswa pada pembelajaran konsep sistem saraf dengan mengunakan media pembelajaran multimedia komputer bentuk power point di SMP X?

C. Tujuan Dan Manfaat Penelitian
a. Tujuan Penelitian
1. Meningkatkan motivasi dan hasil belajar siswa pada pembelajaran konsep sistem saraf
2. Sebagai upaya untuk sosialisasi media pembelajaran kepada guru mata pelajaran di sekolah
b. Manfaat Penelitian
Hasil dari pelaksanaan penelitian tindakan kelas ini akan memberikan manfaat yang berarti bagi perorangan atau institusi di bawah ini :
1. Bagi siswa
Hasil penelitian ini diharapkan bermanfaat dalam memahami konsep sistem saraf pada manusia di kelas II SMP X yang mengalami kesulitan dalam belajar dan motivasi rendah, sehingga diharapkan motivasi dan hasil belajarnya akan lebih optimal.
2. Bagi guru
Guru biologi memperoleh pengalaman langsung dalam merancang model pembelajaran dengan menggunakan komputer sebagai media pembelajaran.
3. Bagi sekolah
Memberikan sumbangan yang baik bagi sekolah, dalam rangkan perbaikan proses pembelajaran sehingga dapat memotivasi dan meningkatkan hasil belajar siswa.

Posted by: Admin Indeks Prestasi Updated at: 12:17:00

SKRIPSI PTK UPAYA PENINGKATAN MOTIVASI DAN PRESTASI BELAJAR SISWA MELALUI PENGGUNAAN PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE STUDENT TEAMS ACHIEVEMENT DIVISION (STAD) DENGAN LKS MATA DIKLAT KOMPETENSI KEJURUAN 1 PADA KLS XI TAV-C

(KODE PTK-0024) : SKRIPSI PTK UPAYA PENINGKATAN MOTIVASI DAN PRESTASI BELAJAR SISWA MELALUI PENGGUNAAN PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE STUDENT TEAMS ACHIEVEMENT DIVISION (STAD) DENGAN LKS MATA DIKLAT KOMPETENSI KEJURUAN 1 PADA KLS XI TAV-C (MATA DIKLAT : KOMPETENSI KEJURUAN 1)




BAB I
PENDAHULUAN


A. Latar Belakang Masalah
Dalam rangka pembangunan ekonomi yang berkelanjutan, kita tidak lagi dapat mengandalkan pada tersedianya tenaga kerja yang banyak dan murah, yang dikenal seperti yang selama ini telah dianggap sebagai suatu keuntungan kompetitif. Tenaga kerja yang diperlukan dalam era perubahan ini adalah mereka yang terdidik dan terlatih dengan baik, serta menguasai informasi (Well Educated, Well Trained and Informed). Perubahan organisasi untuk menyesuaikan diri dengan perubahan lingkungan merupakan asas dari suatu organisasi belajar.
Salah satu sarana penyiapan tenaga kerja di masa depan adalah pemanfaatan teknologi pembelajaran, karena aspek ini masih banyak dipandang sebagai suatu bidang yang mendukung pendidikan. Untuk itu teknologi pembelajaran perlu mendapat perhatian dari para guru atau tenaga kependidikan lain dalam lingkungan pendidikan formal, sebab teknologi pembelajaran telah berkembang sebagai suatu teori dan praktek dimana proses, sumber dan sistem belajar pada manusia, baik perorangan maupun dalam suatu ikatan organisasi dapat dirancang, dikembangkan, dimanfaatkan, dikelola dan dinilai.
SMKN X yang merupakan sekolah kejuruan yang menyiapkan tenaga kerja profesional dan handal dalam bidangnya berusaha untuk selalu meningkatkan mutu pembelajaran terutama kompetensi kejuruan, tetapi kenyataan yang terjadi saat ini prestasi belajar untuk kompetensi produktif masih sangat rendah. Hal ini terbukti bahwa pada kelas XI TAV-C (Teknik Audio Video) yang diampu peneliti masih rendah. Diduga salah satu penyebabnya adalah karena proses belajar mengajar hanya berpusat pada guru, sehingga siswa tidak ikut terlibat secara aktif dalam proses belajar mengajar tersebut. Hal lain yang menjadi permasalahan dalam proses belajar mengajar adalah siswa kurang aktif di kelas dan cenderung tidak pernah mengajukan pertanyaan dalam pembelajaran. Oleh karena itu dibutuhkan peran guru untuk memberikan motivasi agar siswa tertarik dalam pembelajaran produktif.
Ada dua faktor yang mempengaruhi keberhasilan belajar siswa, yaitu faktor eksternal dan faktor internal. Metode pembelajaran merupakan salah satu faktor eksternal yang menunjang keberhasilan belajar siswa. Untuk itu para guru, khususnya di sini guru produktif harus mempunyai kreativitas dan inovasi untuk mengembangkan metode mengajarnya guna menciptakan pembelajaran yang menarik bagi siswa.
Metode mengajar yang baik adalah metode yang disesuaikan dengan materi yang di sampaikan, kondisi siswa, sarana yang tersedia serta penguasaan kompetensi. Oleh karena itu, diperlukan suatu bentuk pembelajaran yang tidak hanya mampu secara materi saja tetapi juga mempunyai kemampuan yang bersifat formal, sehingga selain diharapkan mampu meningkatkan prestasi belajar siswa dan metode pembelajaran yang diterapkan juga dapat membuat siswa aktif terlibat dalam proses belajar mengajar secara maksimal mungkin. Dengan cara siswa menerapkan pengetahuannya, belajar memecahkan masala dengan teman-temannya mempunyai keberanian menyampaikan ide atau gagasan dan mempunyai tanggung jawab terhadap tugasnya. Selama ini dalam kegiatan belajar individual cenderung mementingkan pribadi dan tidak memperhatikan lingkungan sekitar.
Pembelajaran kooperatif seperti tipe STAD (Student Team Achievement Divison)/(Pencapaian Pembelajaran Tim Siswa) merupakan salah satu strategi dari teori belajar kontruktivisme yang sesuai diterapkan pada mata diklat Kompetensi Kejuruan 1 di kelas XI TAV-C kompetensi menguasai elektronika dasar terapan. Dalam pembelajaran tipe STAD ini, siswa dengan berbagai latar belakang yang berbeda dan dengan kemampuan awal yang berbeda akan bekerja sama dalam kelompok-kelompok kecil untuk mempelajari materikompetensi produktif dan ketarampilan kooperatif antar siswa. Anggota-anggota kelompok bertanggung jawab atas keberhasilan tugas-tugas kelompok dalam mempelajari materi produktif dan menutup kesenjangan dalam pemahaman masing-masing.
Pembelajaran kooperatif dicirikan oleh struktur tugas, tujuan dan penghargaan kooperatif. Siswa bekerja dalam situasi semangat kooperatif dan membutuhkan kerjasama untuk mencapai tujuan bersama serta mereka harus mengkoordinasikan belajarnya untuk menyelesaikan tugas-tugas dalam materi kompetensi produktif. Atas hal itulah metode pembelajaran kooperatif tipe STAD dengan Lembar Kerja Siswa sangat cocok diterapkan dalam pembelajaran produktif di kelas XI TAV-C.

B. Identifikasi Masalah
Berdasarkan pada latar belakang di atas, maka berbagai permasalahan dapat diidentifikasi adalah sebagai berikut:
1. Prestasi belajar kompetensi produktif pada kelas XI TAV-C SMKN X sangat rendah.
2. Dibutuhkan kreatifitas dan inovasi dari guru untuk menciptakan pembelajaran yang menarik siswa.
3. Pembelajaran kooperatif tipe STAD dengan Lembar Kerja Siswa diduga dapat meningkatkan prestasi belajar siswa.
4. Motivasi belajar siswa perlu ditingkatkan dengan menggunakan metode pembelajaran kooperatif tipe STAD dengan Lembar Kerja Siswa.

C. Pembatasan Masalah
Agar dalam penelitian dapat mencapai sasaran yang utama maka perlu adanya pembatasan masalah, yaitu:
1. Permasalahan dibatasi pada bagaimana upaya meningkatkan motivasi belajar dan prestasi belajar dengan menggunakan metode Pembelajaran kooperatif tipe STAD dengan menggunakan Lembar Kerja Siswa.
2. Penelitian tindakan kelas dilaksanakan pada siswa kelas XI TAV-C SMKN X Semester II Tahun Pelajaran XXXX/XXXX
3. Tindakan kelas dilaksanakan pada tahun diklat XXXX/XXXX
a. Pra tindakan dilaksanakan bulan Desember XXXX.
b. Siklus 1 dilaksanakan pada bulan Februari XXXX.
c. Siklus 2 dilaksanakan pada bulan Maret XXXX.

D. Perumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah dan identifikasi masalah tersebut, maka dapat dirumuskan permasalahan sebagai berikut :
1. Apakah melalui metode pembelajaran kooperatif tipe STAD dengan lembar kerja dapat meningkatkan motivasi belajar siswa bagi kelas XI TAV-C pada mata diklat Kompetensi Kejuruan satu kompetensi menguasai elektronika dasar terapan Semester II SMKN X pada Tahun Pelajaran XXXX/XXXX ?
2. Apakah melalui metode pembelajaran kooperatif tipe STAD dengan Lembar Kerja Siswa dapat meningkatkan prestasi belajar siswa bagi kelas XI TAV-C pada mata diklat Kompetensi Kejuruan satu kompetensi menguasai elektronika dasar terapan semester II SMKN X pada Tahun Pelajaran XXXX/XXXX?

E. Tujuan Penelitian
Tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah:
1. Tujuan Penelitian
Untuk mengetahui peningkatan motivasi belajar dan prestasi belajar pada mata diklat Kompetensi Kejuruan 1 pada kompetensi menguasai elektronika dasar terapan dengan menggunakan metode pembelajaran kooperatif tipe STAD dengan Lembar Kerja Siswa.
2. Tujuan Khusus
Untuk mengetahui peningkatan motivasi belajar dan prestasi belajar pada mata diklat Kompetensi Kejuruan 1 pada kompetensi menguasai elektronika dasar terapan melalui Metode pembelajaran kooperatif tipe STAD dengan Lembar Kerja Siswa pada siswa kelas XI TAVC SMKN X pada tahun pelajaran XXXX/XXXX.

F. Manfaat Penelitian
Manfaat yang dapat dipetik dari penelitian ini terbagi menjadi 2 yaitu:
1. Manfaat Penelitian
Menberikan masukan bagi para pendidik yang memilih strategi pembelajaran khususnya pada pembelajaran dengan metode pembelajaran kooperatif tipe STAD dengan menggunakan Lembar Kerja Siswa.
2. Manfaat Praktis
a. Bagi Siswa.
Siswa lebih mudah memahami mata diklat Kompetensi Kejuruan 1 sehingga motivasi belajar dan prestasi belajar meningkat.
b. Bagi Guru.
Menambah wawasan bagi para pendidik dalam menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe STAD dengan Lembar Kerja Siswa dalam rangka meningkatkan motivasi belajar siswa dan prestasi belajar siswa.

Posted by: Admin Indeks Prestasi Updated at: 12:16:00

TESIS PTK IMPLEMENTASI PEMBELAJARAN KOOPERATIF MODEL JIGSAW UNTUK MENINGKATKAN BELAJAR MANDIRI SISWA DAN HASIL BELAJAR IPS

(KODE PTK-0023X) : TESIS PTK IMPLEMENTASI PEMBELAJARAN KOOPERATIF MODEL JIGSAW UNTUK MENINGKATKAN BELAJAR MANDIRI SISWA DAN HASIL BELAJAR IPS (MATA PELAJARAN : IPS)




BAB I
PENDAHULUAN


A. Latar Belakang
Pembelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) memiliki tujuan utama yaitu agar setiap peserta didik menjadi warga negara yang baik, melatih peserta didik memiliki kemampuan berpikir matang untuk menghadapi dan memecahkan masalah sosial, dan agar peserta didik dapat mewarisi dan melanjutkan budaya bangsanya.
Hasil wawancara dengan siswa diperoleh jawaban bahwa sebagian besar siswa menganggap IPS merupakan mata pelajaran yang sulit. Kesulitan yang dialami siswa ini disebabkan tidak adanya kesadaran dari diri siswa itu sendiri untuk belajar mandiri, mengingat mata pelajaran IPS materinya sangat banyak dan berkaitan dengan kehidupan sehari-hari sehingga siswa harus banyak membaca buku ajar, buku referensi, majalah, surat kabar dan jika perlu siswa menggunakan media lain seperti internet. Hal ini dimaksudkan agar wawasan siswa bertambah luas dan siswa mampu mengkaitkan pengetahuan yang telah dimiliki dengan pelajaran yang dimiliki oleh guru.
Berdasarkan pengamatan dokumen nilai IPS di kelas VII A, diperoleh data sebagai berikut: 1) Rata-rata nilai ulangan harian (UH) siswa pada mata pelajaran IPS rendah yaitu hanya mencapai 58,95%. 2) Siswa yang mencapai ketuntasan belajar diatas 68 hanya 19 orang atau 47,50%.
Rendahnya hasil belajar IPS pada siswa disebabkan oleh beberapa faktor dari guru itu sendiri seperti : 1) guru kurang menguasai materi pelajaran 2) guru kurang tepat menentukan model pembelajaran yang sesuai dengan materi, 3) guru kurang bervariasi dalam menerapkan metode pembelajaran, 4) guru kurang terampil memilih alat peraga yang tepat dan sesuai dengan kompetensi dasar yang akan disajikan, 5) guru kurang dapat memotivasi siswa untuk berpartisipasi aktif dalam pembelajaran, dan 6) guru kurang mendorong siswa untuk belajar mandiri.
Beberapa siswa mengaku jika keesokan harinya ada pelajaran IPS, dia kadang-kadang belajar dan kadang-kadang tidak belajar, bahkan tugas di rumah pun banyak dikerjakan disekolah sebelum guru masuk kelas. Sebagian siswa juga merasakan bahwa pelajaran IPS membosankan dan banyak hapalan.
Permasalahan rendahnya kemampuan belajar mandiri dan hasil belajar IPS pada siswa jika tidak diatasi akan menyebabkan rendahnya kemampuan menyelesaikan soal, rendahnya penguasaan kompetensi mata pelajaran IPS, sehingga nilai ulangan harian IPS rendah, akibatnya hasil belajar IPS secara umum rendah. Salah satu cara untuk mengatasi permasalahan tersebut guru dapat melakukan penelitian tindakan kelas (PTK). Hopkins ( 1993 : 44) menjelaskan, "Actions research combines as substantive act with a research procedure, it is action disciplined by enquiry a personel attempt at understanding while engaged in process of improvement and reform ".
(Penelitian tindakan kelas adalah penelitian yang mengkombinasikan prosedur penelitian degan tindakan substantif, sebagai tindakan yang dilakukan secara inkuiri, merupakan usaha seseorang untuk memahami apa yang sedang terjadi, sambil terlibat dalam sebuah proses perbaikan dan pembahasan).
Pembelajaran kooperatif model jigsaw merupakan salah satu alternatif dalam upaya meningkatkan kemampuan belajar mandiri siswa dan hasil belajar IPS. Melalui model pembelajaran ini diharapkan siswa mampu bertanggung jawab atas belajar mereka sendiri dan berusaha menemukan informasi untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan yang dihadapkan pada mereka. Di dalam pembelajaran kooperatif model jigsaw ini prinsip belajar aktif diterapkan.
Belajar mandiri merupakan sikap atau perbuatan yang dilakukan oleh individu yang tumbuh dari dalam diri berupa tumbuhnya kesadaran akan pentingnya belajar. Dalam belajar mandiri seorang memiliki keyakinan apa yang dipelajari akan bermanfaat bagi kehidupannya. Pembelajaran yang demokratis dan menghargai perubahan sekecil apapun yang akan dicapai akan membuat anak percaya diri. Rasa percaya diri akan memunculkan motivasi untuk selalu ingin tahu, dan berusaha mencari makna dari hal-hal yang dipelajari.

B. Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian latar belakang masalah yang diuraikan diatas, dan agar hasil penelitian ini lebih terfokus maka dapat dirumuskan permasalahan penelitian sebagai berikut :
1. Bagaimana implementasi pembelajaran kooperatif model jigsaw untuk meningkatkan belajar mandiri siswa ?
2. Bagaimana imlementasi pembelajaran kooperatif model jigsaw untuk meningkatkan hasil belajar IPS ?

C. Tujuan Penelitian
Tujuan Penelitian Tindakan Kelas ini ada dua yaitu tujuan umum dan tujuan khusus.
1. Tujuan Umum
Tujuan umum dari penelitian tindakan kelas ini adalah :
a. Mengimplementasikan pembelajaran kooperatif model jigsaw untuk meningkatkan belajar mandiri siswa.
b. Mengimplementasikan pembelajaran kooperatif model jigsaw untuk meningkatkan hasil belajar IPS
2. Tujuan Khusus
Tujuan khusus penelitian tindakan kelas ini adalah :
a. Mendiskripsikan dan menjelaskan implementasi pembelajaran koperatif model jigsaw untuk meningkatkan belajar mandiri siswa dan hasil belajar IPS.
b. Mendeskripsikan dan menjelaskan peningkatan belajar mandiri siswa melalui pembelajaran kooperatif model jigsaw bagi siswa kelas VII A di SMPN X pada semester 1 tahun pelajaran XXXX/XXXX
c. Mendeskripsikan dan menjelaskan peningkatan hasil belajar IPS
melalui pembelajaran kooperatif model jigsaw bagi siswa kelas VII A di SMPN X semester 1 tahun pelajaran XXXX/XXXX

D. Manfaat Penelitian
1. Manfaat Teoretis
a. Sebagai bahan pengembangan teori pembelajaran dalam meningkatkan belajar mandiri siswa
b. Sebagai bahan pengembangan teori pembelajaran dalam meningkatkan hasil belajar IPS.
c. Digunakan sebagai bahan referensi bagi peneliti lain dalam upaya melakukan penelitian lebih lanjut.
2. Manfaat Praktis
a. Bagi siswa, pembelajaran kooperatif model jigsaw sangat bermanfaat karena siswa akan mampu bertanggung jawab atas belajar mereka sendiri dan berusaha menemukan informasi untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan yang dihadapkan pada mereka.
b. Bagi guru, hasil penelitian ini akan digunakan sebagai acuan dalam melaksanakan pembelajaran yang berpusat pada siswa. Guru akan berusaha menerapkan strategi dan pendekatan yang sesuai untuk pembelajaran di era yang menuntut siswa yang mandiri, aktif dan cerdas.
c. Bagi penentu kebijakan baik sekolah maupun dinas terkait, penelitian ini dapat menjadi masukan dalam upaya peningkatan perbaikan pembelajaran IPS di Sekolah Menengah Pertama (SMP).

Posted by: Admin Indeks Prestasi Updated at: 12:14:00

TESIS PTK PENERAPAN STRATEGI PEMBELAJARAN STUDENT TEAMS ACHIEVEMENT DIVISION (STAD) UNTUK MENINGKATKAN KETERAMPILAN MENULIS DESKRIPSI PADA SISWA KELAS X SMKN X

(KODE PTK-0022X) : TESIS PTK PENERAPAN STRATEGI PEMBELAJARAN STUDENT TEAMS ACHIEVEMENT DIVISION (STAD) UNTUK MENINGKATKAN KETERAMPILAN MENULIS DESKRIPSI PADA SISWA KELAS X SMKN X (MATA PELAJARAN : BAHASA INDONESIA)




BAB I
PENDAHULUAN


A. Latar Belakang Masalah
Dalam konteks pengajaran bahasa, menulis merupakan kegiatan yang kompleks. Menulis sulit dipelajari siswa dan sulit diajarkan oleh guru (Farris, 1993: 180). Alasannya, menulis memerlukan sejumlah keterampilan, yakni keterampilan membuat perencanaan, menyeleksi topik, menata dan mengorganisasikan gagasan, dan mempertimbangkan bentuk tulisan sesuai dengan calon pembacanya. Untuk menghasilkan tulisan yang baik, menulis juga memerlukan keterampilan menyajikan isi tulisan secara teratur, menggunakan diksi, kalimat secara efektif, dan menggunakan ejaan secara tepat.
Salah satu tujuan program pengajaran Bahasa Indonesia (BI) adalah meningkatkan kemampuan siswa dalam berkomunikasi, baik secara lisan maupun tulis. Keterampilan menulis sebagai salah satu keterampilan berbahasa perlu dimiliki oleh siswa agar mampu berkomunikasi secara tertulis. Tujuan berkomunikasi berupa pengungkapan pikiran, ide, gagasan, pendapat, persetujuan, keinginan, dan penyampaian informasi tentang suatu peristiwa. Hal tersebut disampaikan dalam aspek kebahasaan berupa kata, kalimat, paragraf, ejaan, dan tanda baca dalam bahasa tulis (Puskur, 2002:2).
Agar tujuan tersebut dapat tercapai seperti yang diharapkan, salah satu upaya yang dapat dilakukan adalah melaksanakan pembelajaran menulis yang menarik, bermakna, dan sesuai dengan dunia siswa sehingga potensi menulis siswa dapat berkembang secara optimal.
Dikemukakan oleh Tompkins (1991: 227), bahwa pembelajaran menulis hendaknya ditekankan pada proses menulis. Pada pembelajaran model ini peran guru bergeser dari sebagai pemberi tugas ke sebagai teman kerja siswa. Pembelajaran model ini mengarah pada pembelajaran secara kolaboratif antara siswa dan siswa serta siswa dan guru sebagai cara untuk meningkatkan motivasi siswa terhadap menulis. Hal itu sesuai dengan konsep pendekatan proses yang memusatkan pada aktivitas siswa (Burn dan Ross, 1996: 385). Sejalan dengan uraian di atas, Culkins (dalam Stewis dan Sabesta, 1989; 77) mengemukakan bahwa dalam pembelajaran menulis siswa idealnya menjadi partisipan aktif dalam keseluruhan proses menulis.
Bentuk tulisan yang dipilih untuk diteliti dalam penelitian ini yakni bentuk deskripsi. Dengan menulis deskripsi diharapkan siswa mampu melukiskan suatu objek dengan kata-kata. Hal itu sesuai dengan pernyataan Tompkins (1994:108) yang mengatakan bahwa tulisan deskripsi diajarkan agar siswa dapat melukiskan sesuatu dengan kata-kata yang jelas dan multi-sensoris. Berkenaan dengan itu, Semi (1990:42) juga berpendapat bahwa deskripsi adalah tulisan yang bertujuan memberikan rincian suatu objek tulisan. Hal tersebut juga sejalan dengan Ellis dkk (1987:175) yang mengemukakan bahwa mendeskripsikan suatu objek berarti melatih penulis pemula mengamati objek yang dikenal, mengumpulkan berbagai detail, mengorganisasikan, dan menyeleksi ide-ide.
Deskripsi merupakan unsur penting dalam menulis. Penulis yang baik biasanya memiliki kemampuan mengamati yang baik terhadap dunia sekitarnya. Mereka memiliki indera penglihatan, penciuman, perasaan, dan pengecapan yang sensitif dan perseptif (Rubin, 1995:249). Hal yang sama juga ditegaskan oleh Ellis dkk (1989:175) bahwa deskripsi merupakan suatu cara penggambaran objek melalui pengamatan untuk memulai mengarang.
Untuk meningkatkan keterampilan menulis deskripsi sebagai salah satu bentuk tulisan yang harus dipahami dan dikuasai siswa, dapat dipilih, dan digunakan strategi Student Teams Achievement Division (STAD). STAD merupakan satu si stem belajar kelompok yang di dalamnya siswa dibentuk ke dalam kelompok yang terdiri dari 6-7 orang secara heterogen. Dalam melaksanakan belajar kooperatif model STAD, ada lima tahap yang penting dilaksanakan, yakni (1) presentasi kelas, (2) kegiatan kelompok, (3) pemberian tes, (4) peningkatan nilai individu, dan (5) penghargaan terhadap usaha kelompok.
Relevansi penggunaan strategi belajar kooperatif model STAD terhadap peningkatan kemampuan menulis terletak pada aktivitas pembelajaran yang berpusat pada siswa. Ciri yang menonjol dari belajar kooperatif model STAD terletak pada pola belajarnya yang bersifat imitatif, interaksi berbahasa dalam konteks masyarakat yang luas dimodifikasikan dalam kelompok-kelompok yang kecil. Dalam kelompok kecil itu, siswa dituntut saling ketergantungan positif, saling komunikasi, saling bekerja sama, dan bertanggungjawab. Suasana itu menciptakan saling bertanya dan merespons pertanyaan di antara siswa secara langsung. Lewat bertanya dan merespons pertanyaan, menjadi perangsang bagi siswa untuk menggunakan pengetahuan kebahasaannya dalam berbagai kombinasi untuk mengungkapkan pikirannya (Hardjono, 1988:42).
Berdasarkan pengamatan, juga ditemukan bahwa para siswa belum dapat menulis dengan metode yang benar. Hal ini didasarkan pada fakta bahwa sebagian besar siswa menulis dengan metode yang kurang efektif dan efisien. Hal ini ditandai dengan : (1) sebagian besar siswa masih lambat mengawali menulis, (2) menentukan tema, dan (3) merangkai dari beberapa tema.
Masalah rendahnya kompetensi menulis pada siswa tersebut perlu diberi pemecahan berupa usaha untuk meningkatkan kompetensi menulis tersebut. Namun, sebelum upaya itu dilakukan perlu diketahui terlebih dahulu permasalahan utama yang menjadi kendala dalam kompetensi menulis selama ini.
Pemilihan strategi belajar mengajar harus didasarkan pada pertimbangan menempatkan siswa sebagai subjek belajar, yang tidak hanya menerima secara pasif apa yang diberikan oleh guru saja. Guru harus menempatkan siswa sebagai insan yang secara alami memiliki pengalaman, keinginan, pikiran, dan pengetahuan yang dapat berfungsi untuk belajar, baik secara individu maupun secara kelompok. Strategi yang dipilih oleh guru hendaknya yang dapat membuat siswa memiliki keyakinan dalam dirinya, mampu belajar dan memanfaatkan potensi-potensi seluas-luasnya.
Strategi pembelajaran kooperatif memberikan suatu kemungkinan guru-siswa dan antar siswa berinteraksi dalam situasi yang kondusif, strategi ini dapat mendorong siswa memanfaatkan informasi, pemikiran, pengalaman, atau gagasan yang dimilikinya untuk memecahkan permasalahan yang dihadapinya. Selain itu, strategi ini dapat membantu siswa bekerja sama secara efektif untuk memecahkan persoalan yang dihadapi oleh kelompok.
Strategi pembelajaran kooperatif memberikan solusi yang positif bagi penyelesaian persoalan yang dihadapi oleh pengajaran menulis deskripsi. Dengan strategi belajar ini diharapkan hubungan antar siswa lebih cair, kegiatan belajar siswa di dalam kelas akan lebih variatif, dan yang lebih penting pengalaman, pengetahuan dan kreatifitas siswa dapat dimaksimalkan untuk menyelesaikan tugas-tugas pembelajaran, baik di dalam maupun di luar kelas.
Penelitian ini mengkhususkan pada penelitian keterampilan menulis deskripsi dengan strategi pembelajaran kooperatif, sehingga pada pembahasan selanjutnya terbatas pada keterampilan menulis deskripsi.
Dengan adanya beberapa faktor hambatan antara harapan dan kenyataan seperti yang telah dipaparkan, selanjutnya perlu dilakukan penelitian tentang strategi pembelajaran kooperatif dalam pelaksanaan pembelajaran menulis deskripsi tersebut. Pembelajaran menulis deskripsi adalah melukiskan keadaan suatu objek yang dapat berupa bentuk atau wujud sifat maupun keadaan. Dalam pembelajaran menulis deskripsi di SMKN X, pengajar belum melibatkan aktivitas siswa secara maksimal, sehingga hasil pembelajaran menulis belum memenuhi harapan. Selain itu, sikap siswa yang kurang positif dan maksimal terhadap pembelajaran ini, hal ini tampak bahwa siswa belum menunjukkan motivasi belajar yang tinggi. Selain itu faktor guru yang sering menggunakan metode ceramah, sehingga dalam pembelajaran terlihat sangat membosankan, maka diharapkan peran serta guru untuk meningkatkan kreativitasnya dalam menerapkan strategi pembelajaran.
Berpijak dari uraian di atas, penelitian tentang penerapan pembelajaran kompetensi menulis paragraf deskripsi dengan metode Student Teams Achievement Division (STAD) pada siswa ini perlu segera dilaksanakan. Terkait dengan hal tersebut perlu diperhatikan rumusan masalahnya.

B. Perumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah tersebut di atas, perumusan masalah dalam penelitian ini sebagai berikut.
1. Bagaimanakah pelaksanaan kualitas pembelajaran menulis deskripsi dengan strategi pembelajaran Student Teams Achievement Division (STAD) ?
2. Apakah penerapan strategi pembelajaran Student Teams Achievement Division (STAD) dapat meningkatkan keterampilan menulis deskripsi pada siswa kelas X SMKN X?

C. Tujuan Penelitian
1. Mendeskripsikan dan menjelaskan kualitas pelaksanaan pembelajaran menulis deskripsi dengan strategi pembelajaran Student Teams Achievement Division (STAD).
2. Meningkatkan keterampilan menulis deskripsi pada siswa kelas X SMKN X dengan strategi pembelajaran Student Teams Achievement Division (STAD).

D. Manfaat Penelitian
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberi dua manfaat, yakni manfaat teoretis dan praktis.
1. Manfaat Teoritis
Hasil penelitian ini diharapkan mampu menghasilkan manfaat teoritis, yaitu dapat memberikan sumbangan pemikiran dan tolok ukur kajian pada penelitian lebih lanjut yaitu berupa alternatif yang dapat dipertimbangkan dalam usaha memperbaiki mutu pendidikan dan mempertinggi interaksi belajar mengajar, khususnya dalam pembelajaran menulis paragraf deskripsi. Manfaat teoritis lainnya adalah menambah khazanah pengembangan pengetahuan mengenai pembelajaran menulis paragraf deskripsi. Selain itu, juga mengembangkan teori pembelajaran menulis paragraf deskripsi dengan menggunakan teknik objek gambar. yang pada akhirnya menjadi pilihan strategi pembelajaran menulis deskripsi di SMKN X.
2. Manfaat Praktis
Secara praktis manfaat yang dapat diperoleh dari penelitian ini dibagi menjadi tiga yaitu: bagi siswa, guru, dan lembaga.
a. Manfaat bagi siswa
Secara praktis, hasil penelitian ini bermanfaat bagi siswa untuk mengetahui peningkatan keterampilan menulis deskripsi. Dengan mengetahui kondisi potensi siswa, mereka dapat mengukur seberapa baik kemampuan yang dimiliki sehingga diharapkan mereka mampu meningkatkannya bila dirasa masih kurang.
b. Manfaat bagi guru
Untuk memperkaya khazanah metode dan strategi dalam pembelajaran menulis, untuk dapat memperbaiki metode mengajar yang selama ini digunakan, agar dapat menciptakan kegiatan belajar mengajar yang menarik, tidak membosankan, dan dapat mengembangkan keterampilan guru Bahasa Indonesia khususnya dalam menerapkan pembelajaran menulis paragraf deskripsi dengan menggunakan teknik objek gambar.
c. Manfaat bagi lembaga
Segi praktis yang dapat dijadikan bahan pertimbangan dalam rangka memajukan dan meningkatkan prestasi sekolah adalah sebagai bahan masukan atau informasi awal mengenai kondisi nyata pengajaran keterampilan menulis deskripsi di SMKN X. Melalui informasi ini, diharapkan pengelola pendidikan dapat menggunakan atau memilih model-model pembelajaran yang tepat sebagai bahan pencapaian hasil belajar yang maksimal.

Posted by: Admin Indeks Prestasi Updated at: 12:13:00

TESIS PTK PENINGKATAN KEMAMPUAN BERBAHASA DALAM PEMBELAJARAN BAHASA INDONESIA DENGAN PENDEKATAN INTEGRATIF SISWA KELAS VIII SMPN

(KODE PTK-0021X) : TESIS PTK PENINGKATAN KEMAMPUAN BERBAHASA DALAM PEMBELAJARAN BAHASA INDONESIA DENGAN PENDEKATAN INTEGRATIF SISWA KELAS VIII SMPN (MATA PELAJARAN : BAHASA INDONESIA)




BAB I
PENDAHULUAN


A. Latar Belakang Masalah
Sebagai salah satu mata pelajaran yang diujikan secara nasional, kualitas pembelajaran bahasa Indonesia di SMPN X belumlah menggembirakan. Setidaknya itu tercermin dalam hasil tes tengah semester dan tes akhir semester kelas VIII masih di bawah memuaskan, terutama kelas VIII A yang nilai reratanya selalu berada di bawah nilai rerata kelas lain. Ini dapat dilihat dari tabel berikut :
Tabel 1: Rerata Nilai Tengah Semester dan Nilai Akhir Semester Gasal Mata Pelajaran Bahasa Indonesia Kelas VIII Tahun Pelajaran XXXX/XXXX

* Tabel sengaja tidak ditampilkan *

Data di atas menunjukkan bahwa rerata nilai mata pelajaran bahasa Indonesia kelas VIII A selalu berada di bawah rerata nilai kelas lain bahkan nilai rerata tersebut masih berada di bawah nilai Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) sekolah ini yaitu 66.
Rendahnya kemampuan siswa dalam mata pelajaran bahasa Indonesia diakui oleh guru kelas mata pelajaran bahasa Indonesia karena siswa di kelas ini mengalami kesulitan dalam memahami aspek kemampuan berbahasa, mengakibatkan proses pembelajaran bahasa Indonesia di kelas tidak berjalan secara optimal. Bahkan guru menilai proses pembelajaran masih jauh dari tujuan akhir pembelajaran mata pelajaran bahasa Indonesia.
Siswa yang memiliki kemampuan berbahasa Indonesia rendah pada kelas VIII A, oleh guru kelas diidentifikasikan salah satu penyebabnya adalah kurangnya kemampuan siswa dalam mengintegrasikan aspek-aspek kebahasaan yang ada seperti yang diharapkan dalam Kurikulum Bahasa Indonesia 2004. Berdasar pada Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan mata pelajaran Bahasa Indonesia di Sekolah Menengah Pertama, ada empat aspek kebahasaan yang harus dicapai nilai ketuntasan pembelajarannya. Empat aspek itu meliputi aspek: (1) mendengarkan, (2) berbicara, (3) membaca dan (4) menulis. Dari empat aspek kebahasaan ini tidak dapat dipisahkan satu dengan yang lain, ada keterkaitan yang erat antara keempat aspek tersebut.
Ruang lingkup mata pelajaran bahasa Indonesia mencakup komponen-komponen kemampuan berbahasa dan bersastra yang meliputi aspek-aspek sebagai berikut: (1) mendengarkan, (2) berbicara, (3) membaca dan (4) menulis. Keempat aspek kebahasaan ini tidak bisa dipisahkan satu sama lain, ada keterkaitan yang erat antara keempat aspek tersebut (Henry Guntur Tarigan, 1994: 1).
Pendapat senada disampaikan oleh Brown dalam Joko Nurkamto yang mengatakan bahwa proses belajar-mengajar bahasa Indonesia dalam praktiknya, empat kemampuan berbahasa yang ada tidak digunakan satu persatu secara terpisah tetapi digunakan secara simultan dan terpadu. Kegiatan berbicara misalnya, mengimplikasikan perlunya kegiatan menyimak, demikian juga kegiatan menulis mengimplikasikan perlunya kegiatan membaca (2000: 3)
Berdasar pada karakteristik empat aspek tersebut, proses pembelajaran dengan pendekatan integratif antaraspek kemampuan berbahasa merupakan cara yang tepat untuk mencapai tujuan pembelajaran bahasa Indonesia. Pendekatan integratif dapat diartikan sebagai penyatuan berbagai aspek ke dalam satu keutuhan yang padu. Salah satu pendekatan yang digunakan untuk melaksanakan kegiatan belajar-mengajar bahasa Indonesia dalam Kurikulum Bahasa Indonesia adalah pendekatan integratif (Imam Syafi'ie, Mam'ur Saadie, Roekhan. 2001: 2.19)
Berdasar pada pandangan di atas, peneliti dan guru bidang studi mengadakan sharing ideas untuk menemukan solusi yang tepat dalam mengatasi masalah lemahnya kemampuan berbahasa pada siswa kelas VIII A, sehingga kemampuan berbahasa siswa meningkat. Berdasar sharing ideas yang dilakukan ditemukan alternatif pemecahan, dalam proses belajar-mengajar guru diharapkan lebih menfokuskan pada pendekatan integratif antaraspek kemampuan berbahasa yang variatif sehingga dalam proses pembelajaran yang dilakukan lebih menarik dan mudah diterima oleh siswa.
Peningkatan kemampuan berbahasa dalam pembelajaran bahasa Indonesia pada siswa kelas VIII A SMPN X dapat dilakukan dengan pendekatan integratif yaitu dengan memadukan antaraspek berbahasa dalam sebuah pembelajaran. Misalnya meningkatkan kemampuan menulis siswa dengan memadukan kemampuan berbahasa yang lain seperti mendengarkan dan membaca atau meningkatkan kemampuan menulis dengan memadukan kemampuan membaca dan berbicara. Pembelajaran bahasa dengan pendekatan integratif ini selain meningkatkan kemampuan menulis siswa akan mempengaruhi pula peningkatan kemampuan berbahasa lainnya. Pengintegrasian yang lain misalnya dalam mengukur kemampuan membaca siswa akan melibatkan aspek kemampuan mendengarkan, berbicara dan menulis.
Pembelajaran bahasa Indonesia dengan pendekatan integratif dapat dilakukan dengan beberapa metode. Metode yang dilakukan dapat dengan melalui ceramah, tanya jawab, diskusi dan inkuiri yang berhubungan dengan aspek kemampuan berbahasa. Seperti diungkapkan White (1997: 14) metode pembelajaran bahasa dapat dilakukan dengan audio lingualisme. Pembelajaran bahasa yang menggunakan metode ini akan menempatkan kegiatan berbicara (speaking) sebagai pembelajaran bahasa yang paling utama (speaking practice), sementara sebagai pendukung bahasa yang sudah dipraktikkan melalui berbicara diberikan membaca (reading) dan menulis (writing).
Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa guru dalam proses pembelajaran mempunyai kebebasan untuk menentukan alternatif yang tepat dalam pembelajaran bahasa secara terintegratif yang disesuaikan dengan kemampuan dan kondisi yang ada. Konsep dasar dalam pembelajaran bahasa adalah guru melakukan kegiatan perencanaan pembelajaran, pelaksanaan pembelajaran dan melakukan evaluasi pembelajaran untuk mengetahui tingkat keberhasilan pembelajaran yang telah dilakukan.
Dalam pembelajaran terpadu, agar pembelajaran efektif dan berjalan sesuai dengan harapan, ada persyaratan yang harus dimiliki, yaitu (a) kejelian profesional para guru dalam mengantisipasi pemanfaatan berbagai kemungkinan arahan pengait yang harus dikerjakan para siswa untuk menggiring terwujudnya kaitan-kaitan konseptual intra dan antar mata bidang studi dan (b) penguasaan material terhadap bidang-bidang studi yang perlu dikaitkan. Dalam pelaksanaan pembelajaran integratif dapat dilakukan dengan dua cara, (1) yaitu pembelajaran integratif dengan cara memadukan antar aspek yang ada dalam satu bidang studi, dan (2) adalah pembelajaran integratif antar bidang studi, yaitu memadukan dua bidang studi dalam satu kajian misalnya bidang bahasa dengan sejarah, atau bidang studi lainnya. http://www.depdiknas.go.id/Jurnal/36/implementasi pendidikan budi pek.htm.
Integratif dalam proses pembelajaran bahasa dapat dikatakan sebagai rancangan kebijakan pengajaran bahasa dengan menyajikan bahan-bahan pelajaran secara terpadu, yaitu dengan menyatukan, menghubungkan atau mengaitkan bahan pelajaran, sehingga tidak ada yang berdiri sendiri atau terpisah. Pendekatan integratif dalam pembelajaran bahasa ada dua macam:
(1) Integratif internal; keterkaitan yang terjadi antara bahan pelajaran itu sendiri, misalnya pada mata pelajaran bahasa dengan fokus menulis, kita bisa mengaitkan dengan membaca dan mendengarkan.
(2) Integratif eksternal; keterkaitan antara bidang studi yang satu dengan bidang studi yang lain, misalnya: bidang studi bahasa dengan sains dengan tema lingkungan maka kita bisa meminta siswa membuat karangan atau puisi tentang banjir untuk pelajaran bahasanya sedang untuk pelajaran sainsnya kita bisa menghubungkan dengan reboisasi atau bisa juga pencemaran sungai.
(http://www.scribd.com/doc/3294575/Pendekatan-terpadu-Imron-Nurdiansyah)
Sebuah proses pembelajaran dikatakan berhasil atau tidak setelah dilakukan evaluasi terhadap pembelajaran tersebut. Evaluasi yang paling tepat dalam menilai kemampuan berbahasa Indonesia siswa adalah evaluasi proses dengan memadukan antaraspek kebahasaan yang ada. Evaluasi proses merupakan evaluasi sulit dan membutuhkan kegiatan ekstra dari guru bidang studi. Jumlah siswa yang banyak dan karakter yang berbeda pula menjadi kendala dalam pelaksanaan evaluasi ini bagi seorang guru. Kendala-kendala apa saja yang akan dihadapi guru dalam melakukan proses pembelajaran bahasa Indonesia dalam melakukan peningkatan kemampuan berbahasa Indonesia dengan pendekatan integratif akan terlihat dalam pelaksanaan tindakan kelas nanti.

B. Perumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah di atas, masalah penelitian ini dirumuskan sebagai berikut:
1. Bagaimana proses pembelajaran bahasa Indonesia dengan pendekatan integratif guna meningkatkan kemampuan berbahasa Indonesia siswa kelas VIII A SMPN X tahun pelajaran XXXX/XXXX?
2. Apakah penerapan pendekatan integratif dalam proses pembelajaran bahasa Indonesia dapat meningkatkan kemampuan berbahasa Indonesia siswa kelas VIII A SMPN X tahun pelajaran XXXX/XXXX ?


C. Tujuan Penelitian
Secara umum penelitian ini bertujuan untuk menanamkan konsep-konsep tentang pembelajaran bahasa Indonesia dengan melakukan pendekatan integratif dan mendeskripsikan tentang peningkatan kemampuan menulis siswa kelas VIII A dengan pendekatan integratif yang dilakukan dalam proses pembelajaran mata pelajaran bahasa Indonesia.
Tujuan khusus penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Untuk mendeskripsikan dan menjelaskan proses pembelajaran bahasa Indonesia dengan pendekatan integratif guna meningkatkan kemampuan berbahasa Indonesia siswa kelas VIII A SMPN X tahun pelajaran XXXX/XXXX?
2. Meningkatkan kemampuan berbahasa Indonesia siswa kelas VIII A SMPN X tahun pelajaran XXXX/XXXX ?

D. Manfaat Penelitian
Penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat secara teoritis maupun praktis dalam peningkatan mutu pendidikan.
Manfaat teoritis, dalam penelitian ini dapat menambah khasanah ilmu pengetahuan bidang kebahasaan. Penelitian ini khusus mengkaji tentang kemampuan berbahasa Indonesia siswa dengan mengambil setting SMPN X.
Manfaat praktis, bahwa penelitian ini dapat memberikan pemahaman kepada guru dan siswa. Manfaat praktis penelitian ini diharapkan bermanfaat untuk :
1. Guru
Meningkatkan kemampuan guru dalam mengajar mata pelajaran bahasa Indonesia dengan pendekatan integratif.
2. Siswa
Meningkatkan kemampuan siswa dalam pembelajaran bahasa Indonesia dengan pendekatan integratif.

Posted by: Admin Indeks Prestasi Updated at: 12:11:00