Cari Kategori

MENINGKATKAN KETERAMPILAN SOSIAL ANAK USIA DINI MELALUI PENGGUNAAN METODE BERMAIN PERAN (PGTK)

MENINGKATKAN KETERAMPILAN SOSIAL ANAK USIA DINI MELALUI PENGGUNAAN METODE BERMAIN PERAN (PGTK)



BAB I 
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah
Anak adalah anugerah yang diberikan oleh Allah SWT, dimana anak dibekali dengan berbagai potensi yang dapat dikembangkan melalui pendidikan. Pendidikan anak usia dini adalah suatu pendidikan yang ditujukan kepada anak usia dini yang ditujukan untuk merangsang setiap perkembangan dan pertumbuhan anak untuk persiapan memasuki pendidikan lebih lanjut. Seperti yang dijelaskan dalam Undang-undang Sisdiknas Nomor 20 tahun 2003 Peraturan Pemerintah tentang Pendidikan Anak Usia Dini pasal 1 ayat 1, dinyatakan bahwa : 
"Pendidikan anak usia dini yang selanjutnya disebut PAUD adalah suatu upaya pembinaan yang ditunjukkan kepada anak sejak lahir sampai berusia enam tahun yang dilakukan melalui pemberian rangsangan pendidikan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani agar anak memiliki kesiapan dalam memasuki pendidikan lebih lanjut".
Adapun tujuan dari pendidikan anak usia dini adalah untuk membantu dalam mengembangkan potensi-potensi yang ada pada diri anak. Dalam pendidikan anak usia dini terdapat aspek-aspek yang harus dikembangkan dan ditanamkan dalam diri anak, diantaranya aspek kognitif, bahasa, nilai agama dan moral serta sosial. Sosial mencakup sikap tenggang rasa, peduli, saling menghargai, saling menghormati, bekerjasama, empati dan lain sebagainya.
Mengapa keterampilan sosial anak perlu dikembangkan adalah pada dasarnya setiap anak akan memerlukan bantuan orang lain dan akan hidup menjadi manusia sosial, namun dalam kenyataannya masih banyak anak yang tidak dapat bersosialisasi dengan orang lain. Oleh karena itu anak harus memiliki keterampilan sosial pada dirinya.
Keterampilan sosial merupakan bentuk perilaku, perbuatan dan sikap yang ditampilkan oleh individu ketika berinteraksi dengan orang lain disertai dengan ketepatan dan kecepatan sehingga memberikan kenyamanan bagi orang yang berada di sekitarnya (Chaplin dalam Suhartini, 2004 : 18).
Menurut Septiana (2009) kurangnya seseorang memiliki keterampilan sosial menyebabkan kesulitan perilaku di sekolah, kenakalan, tidak perhatian, penolakan rekan, kesulitan emosional, bullying, kesulitan dalam berteman, agresivitas, masalah dalam hubungan interpersonal, miskin konsep diri, kegagalan akademik, kesulitan konsentrasi, isolasi dari teman sebaya dan depresi.
Kurniati (2005 : 35) bahwa keterampilan sosial adalah kebutuhan primer yang perlu dimiliki anak-anak bagi kemandirian pada jenjang kehidupan selanjutnya, hal ini bermanfaat dalam kehidupan sehari-hari baik di lingkungan keluarga dan lingkungan sekitarnya. Libet dan Lewinsohn (dalam Cartledge dan Milburn, 1995) mengemukakan keterampilan sosial sebagai kemampuan yang kompleks untuk menunjukkan perilaku yang baik dinilai secara positif atau negative oleh lingkungan, dan jika perilaku itu tidak baik akan diberikan punishment oleh lingkungan.
Mengingat keterampilan sosial sangat penting dalam kehidupan sehari-hari sebaiknya keterampilan sosial ditanamkan pada anak sedini mungkin.
Keterampilan sosial pada anak dapat dikembangkan melalui berbagai metode di antaranya, metode bercerita, metode tanya jawab, metode karyawisata, dan metode bermain peran. Salah satu metode yang lebih efektif untuk mengembangkan empati anak yaitu metode bermain peran.
Metode bermain peran adalah suatu proses pembelajaran artinya anak dapat berperan langsung dengan apa yang telah dilihatnya serta dengan melaksanakan metode bermain peran anak dapat menyelami perasaan orang lain tanpa anak ikut larut di dalamnya. Sebagaimana di kemukakan Rachmawati (2007 : 31), bermain peran yaitu permainan yang memerankan tokoh-tokoh atau benda-benda sekitar anak yang akan mengembangkan imajinasi dan penghayatan terhadap bahan kegiatan yang dilaksanakan.
Menurut Moeslichatoen (2004 : 38) bermain pura-pura adalah bermain yang menggunakan daya khayal anak yaitu dengan memakai bahasa atau berpura-pura bertingkah laku seperti benda tertentu, situasi tertentu, atau orang tertentu dan binatang tertentu yang dalam dunia nyata tidak dilakukan.
Bentuk kegiatan bermain pura-pura merupakan cermin budaya masyarakat di sekitarnya dalam kehidupan sehari-hari. Segala sesuatu yang dilihat dan didengar akan terulang dalam kegiatan bermain pura-pura tersebut. Dengan anak melakukan kegiatan pembelajaran dengan menggunakan metode bermain peran atau bermain pura-pura, keterampilan sosial pada anak akan tumbuh dan masuk ke dalam diri anak dan melihat keadaan dari sisi orang lain, seolah-olah ia adalah orang itu.
Kondisi objektif yang ditemukan di TK X ini masih jarang lagi diterapkan metode bermain peran, khususnya untuk mengembangkan keterampilan sosial anak TK X. Aktivitas pembelajaran di TK ini masih monoton, seperti halnya mengisi majalah sekolah, menggambar dan mewarnai gambar. Selain itu, aktivitas pembelajarannya masih banyak ditekankan pada segi akademis dan sering kali menggunakan metode tanya jawab atau ceramah yang dimana guru yang lebih banyak berperan aktif. Sehingga metode bermain peran masih sangat jarang diterapkan pada anak di TK ini. Selain metode pembelajaran yang monoton pada anak pun keterampilan sosial tidak terlihat, seperti yang terlihat disini keterampilan sosial anak belum muncul, anak tidak mau membantu temannya dalam hal meminjamkan alat tulis, tidak mau berbagi pada teman yang tidak membawa makanan, anak yang suka mengejek temannya, anak tidak mau membantu temannya saat merapikan meja, dan saat ada anak yang terjatuh anak lain menertawakan bukan menolong. Oleh karena itu perlu dilakukan suatu penelitian terkait dengan penerapan metode bermain peran untuk meningkatkan keterampilan sosial anak di TK tersebut.
Berdasarkan permasalahan diatas, maka penelitian ini memfokuskan kajian pada "MENINGKATKAN KETERAMPILAN SOSIAL ANAK USIA DINI MELALUI PENGGUNAAN METODE BERMAIN PERAN".

B. Rumusan Masalah
Rumusan masalah dalam penelitian ini dituangkan dalam pertanyaan penelitian sebagai berikut : 
1. Bagaimana kondisi objektif sekolah TK X ?
2. Bagaimana gambaran umum keterampilan sosial anak usia dini di kelompok B TK X ?
3. Bagaimana langkah-langkah metode bermain peran di kelompok B TK X untuk meningkatkan keterampilan sosial anak ?
4. Bagaimana peningkatan keterampilan sosial anak usia dini di kelompok B TK X setelah menggunakan metode bermain peran ?

C. Tujuan Penelitian
Tujuan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut : 
1. Untuk mengetahui kondisi objektif sekolah TK X.
2. Untuk mengetahui gambaran umum keterampilan sosial anak usia dini di kelompok B TK X.
3. Untuk mengetahui langkah-langkah metode bermain peran di kelompok B TK X, dalam rangka meningkatkan keterampilan sosial anak.
4. Untuk mengetahui peningkatan keterampilan sosial anak usia dini di kelompok B TK X setelah menggunakan metode bermain peran.

D. Manfaat Penelitian
Manfaat pada penelitian ini sebagai berikut : 
1. Bagi anak
a. Membantu anak dalam mengembangkan keterampilan sosial di lingkungannya.
b. Di masa akan datang anak akan memiliki keterampilan sosial yang baik.
2. Bagi Guru
a. Memberikan masukan kepada guru dalam menentukan metode pembelajaran yang tepat, yang dapat menjadi alternative lain dalam pembelajaran khususnya pada anak didik.
b. Dapat membantu guru dalam membangun keterampilan sosial anak agar di masa yang akan datang anak dapat diterima dengan baik di lingkungannya.
3. Bagi TK
a. Memberikan masukan kepada pihak sekolah untuk berusaha menciptakan interaksi yang baik dalam lingkungan sekolah antara guru dengan guru, guru dengan anak, maupun anak dengan anak yang meliputi perhatian, kasih sayang, keterbukaan, suasana harmonis sehingga nantinya dapat dijadikan bekal bagi anak dalam membentuk kepribadian dan perilaku sehingga mudah dan dapat diterima dalam pergaulan yang luas baik di sekolah maupun lingkungan sekitar anak.
b. Memberi sumbangan informasi untuk meningkatkan mutu pendidikan Taman Kanak-kanak.

E. Asumsi Penelitian
Asumsi dalam penelitian ini adalah sebagai berikut : 
1. Menurut Rachmawati (2007 : 31), bermain peran yaitu permainan yang memerankan tokoh-tokoh atau benda-benda sekitar anak yang akan mengembangkan imajinasi dan penghayatan terhadap bahan kegiatan yang dilaksanakan.
2. Matson (Gimpel dan Merrel, 1998) mengatakan bahwa keterampilan sosial (Social Skill), baik secara langsung maupun tidak membantu seseorang untuk dapat menyesuaikan diri dengan standar harapan masyarakat dalam norma-norma yang berlaku di sekelilingnya
3. Combs & Slaby (Gimpel dan Merrell, 1998) memberikan pengertian keterampilan sosial (Social Skill) adalah kemampuan berinteraksi dengan orang lain dalam konteks sosial dengan cara-cara yang khusus yang dapat diterima secara social maupun nilai-nilai dan di saat yang sama berguna bagi dirinya dan orang lain.

F. Metode Penelitian
Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini yaitu metode PTK yaitu penelitian yang dilakukan oleh guru bersama dengan orang lain (kolaborasi) dengan melakukan tindakan-tindakan tertentu dalam upaya perbaikan terhadap kegiatan belajar mengajar di kelas berdasarkan permasalahan yang di temui di dalam kelas. Penelitian ini dilakukan sebanyak tiga siklus di Taman Kanak-kanak X. Subjek dalam penelitian ini adalah seluruh anak kelompok B yang berjumlah 12 orang terdiri dari laki-laki : 3 orang dan perempuan : 9 orang.

G. Sistematika Penulisan
Bab 1 pendahuluan yang memaparkan latar belakang, rumusan masalah, tujuan masalah, manfaat penelitian, asumsi penelitian, metode penelitian dan sistematika penulisan.
Bab 2 kajian teoritis yang pertama membahas konsep keterampilan sosial yang berupa definisi keterampilan sosial, faktor-faktor yang mempengaruhi keterampilan sosial, jenis keterampilan sosial dan karakteristik keterampilan sosial, dan yang kedua membahas konsep metode bermain peran berupa definisi bermain peran, langkah-langkah bermain peran, jenis bermain peran, macam-macam bermain peran.
Bab 3 metode penelitian yang memaparkan secara lebih rinci metode yang akan di gunakan dalam penelitian, lokasi dan subjek penelitian, definisi operasional variabel, instrumen penelitian, prosedur penelitian, teknis pengumpulan data dan validasi data.
Bab 4 hasil penelitian dan pembahasan yang memaparkan hasil penelitian dimulai dari observasi awal, siklus 1, siklus 2, siklus 3 serta observasi akhir.
Pembahasan menganalisis data dari hasil penelitian, faktor kendala yang dialami saat penelitian, dan meningkatnya keterampilan sosial setelah dilakukan metode bermain peran.
Bab 5 kesimpulan dan rekomendasi, kesimpulan memaparkan hasil ringkasan dari bab 1 sampai bab 4, dan rekomendasi memberi masukan kepada guru, kepada sekolah dan kepada peneliti selanjutnya agar dapat menjadi lebih baik dalam melakukan penelitian selanjutnya.

Posted by: Admin Indeks Prestasi Updated at: 16:48:00

FUNGSI FITUR TOMBOL ACTION MENU APLIKASI DAPODIKDAS 2014 / 2015

Fitur baru pada aplikasi Dapodikdas 2014 salah satunya adalah adanya penambahan tombol “Action Menu”. Action Menu berfungsi untuk memunculkan data terhapus dan memunculkan data terfilter , salin penugasan dan lanjutkan data periodik.


Pada tombol ini tersedia beberapa pilihan sub menu diantaranya:

Tampilkan data PD terhapus, berfungsi untuk mengembalikan data peserta didik yang sudah terhapus sebelumnya. Dapat digunakan jika sewaktu-waktu terjadi kesalahan dalam menghapus data, dengan mencentang pilihan ini maka data yang terhapus tadi dapat dikembalikan ke dalam tabel utama. Action Menu pada Tabel Peserta Didik lanjutkan data periodik PD untuk menyalin data periodik tahun sebelumnya, sehingga tidak perlu input ulang. Dengan asumsi data periodik tersebut tidak mengalami perubahan.

Lanjutkan Data Periodik PD, berfungsi untuk melanjutkan data periodik peserta didik yang sudah pernah diinputkan di semester sebelumnya. Tombol ini dapat membantu pengguna agar tidak perlu mengisi kembali data periodik peserta didik dari awal. Syarat utama untuk menggunakan pilihan ini, pengguna wajib mengisi data periodik peserta didik di semester sebelumnya.

Action Menu pada Tabel PTK  salin penugasan untuk menyalin penugasan PTK tahun 2013 ke 2014 secara otomatis sehingga tidak perlu input ulang di menu penugasan.

Action Menu  pada Tabel Prasarana dibagi menjadi 2 yaitu : Tampilkan data prasana terhapus dan Lanjutkan data periodik. Lanjutkan data periodik berfungsi untuk menyalin tingkat kerusakan prasarana tahun sebelumnya sehingga tidak perlu input ulang, dengan asumsi bahwa tidak ada perubahan kerusakan ruangan.


Tombol action menu pada tabel Rombel yang pertama adalah point Tampilkan data Rombel terhapus point Lanjutkan semester. Selengkapnya silahkan dipelajari dalam Manual Aplikasi Dapodikdas 2014 versi 3.0.0. Semoga bermanfaat dan terimakasih…

Posted by: Admin Indeks Prestasi Updated at: 02:12:00

MAKALAH PANCASILA - PANCASILA SEBAGAI IDEOLOGI NASIONAL


BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Benarkah pancasila masih bisa dijadikan sebagai ideologi bangsa Indonesia, falsafah atau pandangan hidup? Ataukah hanya sekedar mitos belaka yang kini makin keras mengejawantahkannya dalam kehidupan sehari-hari? Dengan latar belakang diatas sehingga pembahasan in sangat penting untuk di kaji, diketahui dan dipahami oleh khalayak mahasiswa lebih-lebih mahasiswa UAD fakultas ekonomi yang nantinya terjun ke zona publik.

1.2 Rumusan Masalah
- Apa maksud pancasila sebagai ideologi nasional?

1.3 Sistematika Penulis
Dalam penyelesaian penyusunan makalah ini penulis menggunakan study kepustakaan, yaitu penulis mencari buku-buku yang berhubungan dengan Pancasila dan kewarganegaraan.


BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Pancasila
Pancasila adalah ideologi negara indonesia sehingga pancasila begitu di sanjung dan dimonumentalkan dalam rona perjuangan negara yang berbentuk republik ini. Andai saja pancasila bisa tersenyum, tertawa, menangis dan bersedih layaknya manusia pada umumnya maka tak khayal kalau sang pancasila akan menangis histeris. Karna tidak bisa dipungkiri lagi bahwa orang semakin tidak peduli terhadap pancasila. Maksudnya ada atau tidak adanya pancasila bukan menjadi persoalan.

2.2 Keberagaman Tafsir
Bagaimana tafsir pancasila yang bisa mengejawantah dalam ranah perkembangan kekinian. Ini bisa dilihat dari teori mutakhir menurut Coleman dan Fukuyama. Bahwa Pancasila katanya bisa menjadi jaminan untuk saling percaya antar anak bangsa, gotong royong atau solidaritas. Semuanya itu bisa masuk dalam bingkai nilai trust (kebenaran). Semacam resep penggerak kemajuan bangsa menuju kemoderenan sebagaimana yang telah dicapai bangsa yang lebih dulu maju: Jepang, Jerman, USA dan negara-negara maju lainnya

2.3 Pancasila Sebagai Ideologi Nasional
Filsafat merupakan suatu nilai atau kebenaran yang dijadikan keyakinan atau pandangan hidup suatu bangsa. Bagi suatu bangsa, kebenaran ini menjadi dijadikan dasar negara atau ideologi negara.
Ideologi berasal dari kata ideo artinya cita-cita, gagasan, konsep pengertian dasar, cita-cita. dan logy berarti: pengetahuan, ilmu dan paham. Dalam pengertian sehari-hari, idea disamakan artinya dengan “cita-cita”. Cita-cita yang dimaksud adalah cita-cita yang bersifat tetap yang harus dicapai sehingga cita-cita itu sekaligus merupakan dasar atau pandangan/paham. 
Hubungan manusia dan cita-ctanya disebut dengan ideologi. Ideologi berisi seperangkat nilai, dimana nilai-nilai itu menjadi cita-citanya atau manusia bekerja dan bertindak untuk mencapai nilai-nilai tersebut. Ideologi yang pada mulanya berisi seperangkat gagasan, dan cita-cita berkembang secara luas menjadi suatu paham mengenai seperangkat nilai atau pemikiran yang dipegang oleh seseorang atau sekelompok orang untuk menjadi pegangan hidup.
Adapun ideologi negara itu termasuk dalam golongan pengetahuan sosial, dan tepatnya dapat digolongkan ke dalam ilmu politik atau political sciences sebagai anak cabangnya. Bila kita terapkan rumusan ini pada Pancasila dengan definisi-definisi filsafat dapat kita simpulkan, maka Pancasila itu ialah hasil usaha pemikiran manusia untuk mencari kebenaran, kemudian sampai mendekati atau menganggap suatu kesanggupan yang digenggamnya seirama dengan ruang dan waktu. 
Hasil pemikiran manusia Indonesia yang sungguh-sungguh secara sistematis radikal itu kemudian dituangkan dalam suatu rangkaian kalimat yang mengandung satu pemikiran yang bermakna bulat dan utuh untuk dijadikan dasar, asas dan pedoman atau norma hidup dan kehidupan bersama dalam rangka perumusan satu negara Indonesia merdeka, yang diberi nama Pancasila.
Pancasila sebagai dasar negara, maka mengamalkan dan mengamankan Pancasila sebagai dasar negara mempunyai sifat imperative dan memaksa, artinya setiap warga negara Indonesia harus tunduk dan taat kepadanya. Siapa saja yang melanggar Pancasila sebagai dasar negara harus ditindak menurut hukum, yaitu hukum yang berlaku di Indonesia. 
Dengan kata lain pengamalan Pancasila sebagai ideologi, yaitu pelaksanaan Pancasila dalam kehidupan sehari-hari tidak disertai sanksi-sanksi hukum tetapi mempunyai sifat mengikat, artinya setiap manusia Indonesia terkait dengan cita-cita yang terkandung didalamnya untuk mewujudkan dalam hidup dan kehidupannya, sepanjang tidak melanggar peraturan perundang-undangan yang berlaku.
Jadi mengamalkan dan mengamankan Pancasila sebagai dasar negara mempunyai sifat imperative dan memaksa. Sedangkan pengamalan atau pelaksanaan Pancasila sebagai pandangan hidup dalam hidup sehari-hari tidak disertai sanksi-sanksi hukum tetapi punya sifat mengikat.
Pancasila sebagai filsafat bangsa dan negara dihubungkan dengan fungsinya sebagai dasar negara, yang merupakan landasan idiil bangsa Indonesia dan negara Republik Indonesia dapatlah disebut sebagai ideologi nasional atau lebih tepat ideologi negara. Artinya Pancasila merupakan satu ideologi yang dianut oleh negara atau pemerintah dan rakyat Indonesia secara keseluruhan, bukan milik atau monopoli seseorang ataupun sesuatu golongan masyarakat tertentu.
Dalam ideologi terkandung nilai-nilai. Nilai-nilai itu dianggap sebagai nilai yang baik, luhur dan dianggap menguntungkan masyarakat sehingga diterima nilai tersebut. Oleh karena itu, ideologi digambarkan sebagai seperangkat gagasan tentang kebaikan bersama. Seperangkat nilai yang dianggap benar, baik dan adil dan menguntungkan itu dijadikan nilai bersama. Apabila sekelompok masyarakat bangsa menjadikan nilai dalam ideologi sebagai nilai bersama maka ideologi tersebut menjadi ideologi bangsa atau ideologi nasional bangsa yang bersangkutan.
Ada 2 (dua) fungsi utama ideologi dalam masyarakat, Pertama yaitu sebagai tujuan atau cita-cita yang hendak dicapai secara bersama oleh suatu masyarakat. Kedua, sebagai pemersatu masyarakat dan karenanya sebagai prosedur penyelesaian konflik yang terjadi di masyarakat. Dalam kaitannya dengan yang pertama, nilai dalam ideologi menjadi cita-cita atau tujuan dari masyarakat. Tujuan hidup bermasyarakat adalah untu mencapai terwujudnya nila-nilai dalam ideologi itu. Adapun dalam kaitannya yang kedua , nilai dalam ideologi itu merupakan nilai yang disepakati bersama sehingga dapat mempersatukan masyarakat itu, serta nilai bersama tersebut dijadikan acuan bagi penyelesaian suatu masalah yang mungkin timbul dalam kehidupan masyarakat yang bersangkutan.


BAB III
PENUTUP

Karena itu, pancasila sebagai perekat bangsa dan sebuah ideologi, dengan penafsiran terbuka masih mampu sebagai jembatan multikultur. Tentu saja dengan membuat penafsiran baru akan semakin memberi nuansa pemikiran yang bisa mempersatukan dalam perbedaan dan membedakan dalam konteks kebersamaan. Karena itu ideologi pancasila bukan lagi sebagai sesuatu yang patut ditinggalkan karena dia bukan mitos yang semakin atos. Wallahu a’lam.
Berdasarkan uraian di atas kiranya kita dapat menyadari bahwa Pancasila merupakan ideologi bangsa Indonesia, maka kita harus menjunjung tinggi dan mengamalkan sila-sila dari Pancasila tersebut dengan setulus hati dan penuh rasa tanggung jawab.


DAFTAR PUSTAKA

DR. Kaelani, M.S, pendidikan pancasila, cetakan ke delapan, penerbit Offset, Yogyakarta
Sumaatmadja, Nursid, dkk (2007). Konsep Dasar IPS. Penerbit Universitas Terbuka, Jakarta.

Posted by: Admin Indeks Prestasi Updated at: 16:11:00

PERTANYAAN SEPUTAR REGISTRASI SDM-PDSP, VERVAL PD, DAN NISN 2014

Untuk sementara ini, pertanyaan yang sering muncul seputar masalah Registrasi SDM-PDSP dan VervalPD, semoga bermanfaat.


Apakah Operator Sekolah yang akan melakukan vervalPD harus registrasi di SDM-PDSP dengan melamapirkan SK dari lembaga?

Jawab : 

Operator Sekolah yang akan melakukan vervalPD harus registrasi di SDM-PDSP dengan melamapirkan SK dari lembaga untuk di masukan datanya di database Operator pengelola data pendidikan yang di kelola oleh PDSP - Kemdikbud.

Mengapa operator sekolah harus diregistrasi?

Jawab : 

Registrasi Operator dimaksudkan untuk memudahkan koordinasi dan komunikasi antara operator sebagai bagian dari pengelola data pendidikan dengan PDSP sebagai pengelola database pendidikan Nasional.

Berapa lama harus menunggu hasil registrasi sehingga operator bisa login SDM-PDSP dan verval?

Jawab : 

Segera setelah berkas pengajuan operator diperiksa oleh admin SDM-PDSP akan diapprove apabila berkas SK OP sesuai ketentuan dan akan ditolak jika berkas meragukan, tidak lengkap atau tidak valid.

Operator Sekolah sudah registrasi di SDM-PDSP dan baru melakukan VervalPD, apa yang pertama harus dilakukan?

Jawab : 

Unduh panduan VervalPD di http://sdm.data.kemdikbud.go.id pada menu Panduan.

Sudah registrasi di SDM-PDSP dan sudah menerima email dari admin SDM-PDSP, tapi tidak bisa login SDM-PDSP dan vervalPD?

Jawab :

OP Dinas atau Sekolah yang registrasi sebelum tanggal 13 September 2014, default username dan passwordnya adalah email yang di tuliskan di kolom "Email Pribadi" pada saat registrasi SDM-PDSP,

OP Dinas atau Sekolah yang registrasi sesudah tanggal 13 September 2014, Username nya adalah email yang di tuliskan di kolom "Email Pribadi" pada saat registrasi SDM-PDSP dan passwordnya sama dengan password yang di tuliskan pada kolom "Password" dan "Konfirmasi Password".

Kenapa data PD yang sudah di input melalui DAPODIKDAS harus di verifikasi dan Validasi kembali?

Jawab : 

Tujuan Verifikasi dan Vaildasi data PD dimaksudkan untuk mendapatkan data pendidikan yang berkualitas, yaitu data yang valid dan benar serta akuntabel

Bagaimana memperbaiki data ganda di Referensi atau di residu?

Jawab : 

Pilih salah satu data PD yang sudah valid, dan data ganda-nya yang tidak valid di unmatch(data di referensi), atau di biarkan(data di residu).

Bagaimana memperbaiki data Individu PD yang salah dalam menuliskan nama dan tanggal lahir?

Jawab : 

Perbaikan data dilakukan pada menu Edit Data dan pengajuan perbaikan Nama dan tanggal lahir, dengan melampirkan berkas pendukung berupa scan berkas asli atau copy dari Akta kelahiran atau Surat Kenal Lahir, atau Ijazah, atau Kartu Keluarga, atau surat keterangan dari kepala desa setempat.

Kapan sebaiknya melakukan perbaikan dengan edit data?

Jawab : 

Setelah semua data di residu di verifikasi dan di tabel konfirmasi di validasi oleh operator Sekolah.

Mengapa data di pencarian NISN berbeda dengan data di tabel referensi vervalPD? Data mana yang harus digunakan?

Jawab :

Konfirmasi data yang ada di tabel konfirmasi sampai habis.

Proses update dan sinkronisasi data antar server VervalPD dan Dapodikdas masih berlangsung.

Gunakan data yang ada di tabel referensi vervalPD, karena data di tabel referensi vervalPD nantinya akan meng-updatedata :


Data kelas 1/siswa baru yang sudah di inputkan di dapodik belum muncul di vervalPD, sedangkan sekolah lain sudah, padahal sudah sinkron seperti yang dilakukan oleh OPS lain, bagaimana solusinya ?

Jawab : 

Saat ini proses update/sinkronisasi data antar server VervalPD dan Dapodikdas masih berlangsung.

Bagaimana mencari data PD yang sudah lulus pada tahun ajaran sebelumnya?


Operator Sekolah tidak bisa login vervalPTK

Jawab : 

VervalPTK, VervalSP dan Wilayah aksesnya ada di Dinas Pendidikan masing-masing Wilayah, apabila Operator Sekolah menemukan data PTK, SP dan Wilayah yang tidak valid, silahkan berkordinasi dan berkomunikasi dengan Operator Dinas di wilayahnya masing-masing.

Kapan batas akhir VervalPD?

Jawab : 

VervalPD akan berakhir apabila OP Sekolah dan Orang tua/Wali Murid sudah memahami Administrasi Pendataan Peserta didik dengan baik, misalnya, Menginputkan data individu PD di Dapodikdas sesuai dengan berkas yang sah menurut hukum, seperti Akta Kelahiran, Ijazah dll.

Referensi sumber : Bpk. Taufik Lone

Posted by: Admin Indeks Prestasi Updated at: 20:52:00

SYARAT MUATAN LOKAL DIAKUI DAN CARA INPUT JJM DI APLIKASI DAPODIKDAS 2014

Syarat diakuinya Mata pelajaran Muatan Lokal :

SYARAT MUATAN LOKAL DIAKUI DAN CARA INPUT JJM DI APLIKASI DAPODIKDAS 2014

1.   Muatan Lokal yang diajarkan merupakan Muatan Lokal yang telah ditetapkan oleh Pemerintah Daerah masing masing melalui Perda/SK Gubernur/Bupati atau Walikota.

2.   SK tersebut harus diserahkan kepada P2TK Dikdas selambat lambatnya tanggal 15 September 2014.

3.   Sudah ada Rekomendasi dari Pusbangprodik mengenai Mulok yang diakui dan Guru dengan Bidang Studi Sertifikasi apa saja yang dapat mengajar Matapelajaran Muatan Lokal tersebut.

4.   Nama Mata Pelajaran Mulok harus diisi benar benar sesuai dengan Penulisan Nama Mapel Mulok pada SK Gubernur/Bupati/Walikota.

Contoh : Misal tertulis pada SK : Bahasa Sunda, maka Penulisan pada aplikasi Dapodik harus : Bahasa Sunda. Tidak boleh B. Sunda atau Bhs Sunda

Pengisian Mulok (Muatan Lokal) pada aplikasi Dapodikdas 2014 :

1.   Kurikulum KTSP SD (32 jam) : Mulok menjadi salah satu pelajaran Guru Kelas, jika mulok diajarkan oleh guru khusus maka termasuk jam wajib tambahan.

2.   Kurikulum 2013 SD (36 jam): Mulok menjadi salah satu pelajaran Guru Kelas, jika mulok diajarkan oleh guru khusus dapat dimasukkan dalam jam wajib atau jam wajib tambahan (otomatis masuk ke jam wajib jika jam wajib belum mencapai 36 jam).

3.   Kurikulum KTSP SMP (32 jam) : Jam wajib Mulok : 2 jam. Jika ada 2 mapel Mulok, salah satu harus masuk jam wajib tambahan.

4.   Kurikulum 2013 SMP (38 jam) : Mulok dapat merupakan salah satu pelajaran dari pelajaran berikut : Seni dan Budaya, Keterampilan, dan PJOK. Mapel Mulok dapat diisi pada salah satu pelajaran tersebut atau mapel tersendiri (Muatan Lokal) dengan menuliskan Nama Mapel Mulok sesuai dengan SK Gubernur Walikota. Contoh :
     Nama Mata pelajaran : Seni dan Budaya
     Nama Mulok : Pendidikan Seni dan Budaya Jakarta

Posted by: Admin Indeks Prestasi Updated at: 20:49:00

MENINGKATKAN KEMAMPUAN SISWA DALAM MENYELESAIKAN SOAL-SOAL OLIMPIADE MATEMATIKA MELALUI PENDEKATAN KONSTRUKTIVISME

MENINGKATKAN KEMAMPUAN SISWA DALAM MENYELESAIKAN SOAL-SOAL OLIMPIADE MATEMATIKA MELALUI PENDEKATAN KONSTRUKTIVISME (MATEMATIKA KELAS VIII)



BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah
Mutu sumber daya manusia suatu bangsa tergantung pada mutu pendidikan. Dengan berbagai strategi, peningkatan mutu diarahkan untuk meningkatkan mutu siswa dalam penguasaan ilmu pengetahuan dasar, penguasaan bahasa asing, dan penanaman sikap dan perilaku yang mencerminkan budi pekerti.
Era globalisasi memberikan inspirasi positif dalam masyarakat internasional. Sebagai bagian dari masyarakat internasional, masyarakat Indonesia sangat membutuhkan kemampuan kompetitif di kalangan pelajar untuk bersaing secara sehat dalam penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi.
Seperti diketahui bersama bahwa matematika merupakan induk banyak ilmu lain yang berkembang saat ini, mulai dari statistik, fisika, ekonomi, keuangan, teknik, kedokteran, industri, listrik, konstruksi, komputer, teknologi informasi, antariksa sampai kepada desain grafis, dan masih banyak ilmu lain, serta derivatif dan penerapan ilmu tersebut. Dukungan dan peran matematika dalam berbagai ilmu sangat besar, baik dalam eksistensi maupun dalam pengembangan keilmuan. Tidak dapat dipungkiri bahwa tanpa matematika berbagai ilmu akan sulit dikembangkan dan diterapkan (Kurniawan 2004 : 98).
Sudah saatnya proses pembelajaran sebanyak mungkin melibatkan para siswa secara aktif dengan suasana kondusif, berdialog, berdiskusi secara bersama atau kelompok untuk membahas dan mengerjakan perhitungan matematika. Melalui contoh yang nyata dan relevan kehidupan dan keterlibatan para siswa secara aktif akan membuat para siswa merasa nyaman untuk mempelajari sehingga akan meningkatkan mutu pembelajaran. Guru matematika harus selalu menciptakan iklim pembelajaran yang kondusif, nyaman sesuai konsep pembelajaran tertentu secara optimal sehingga siswa tertarik dan menyenangi pelajaran matematika.
Di SMPN X, sarana dan prasarana untuk kegiatan pembelajaran cukup memadai begitu pula prestasi akademik maupun non akademik. Tahun ajaran 2004/2005 sekolah ini mendapat kesempatan dari Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Jawa Tengah membuka kelas imersi. Kesempatan tersebut memacu sekolah untuk semakin berkembang menjadi lebih maju dari tahun ke tahun.
Situasi pembelajaran pada SMPN X adalah pembelajaran cooperative learning. Anggapan tentang matematika adalah pelajaran yang sukar membuat pembelajaran menjadi tidak optimal. Masalah nyata yang terjadi pada siswa kelas VIII tidak seperti yang diharapkan. Siswa pada kelas VIII yang berjumlah 24 siswa terdapat 4 siswa yang ikut dalam siswa teladan. Di setiap pembelajaran yang aktif dalam menerima pelajaran hanya siswa teladan tersebut dan beberapa siswa lainnya yang jumlahnya kurang dari jumlah siswa kelas VIII. Di awal materi pokok baru siswa belum menguasai materi prasyarat. Pada awal pembelajaran guru melakukan tanya jawab materi pelajaran yang telah dipelajari sebelumnya hanya 60% siswa yaitu siswa khusus bimbingan Olimpiade dan beberapa siswa lain yang merespon pertanyaan tersebut. Selain itu, dari diskusi yang dilakukan peneliti dengan salah satu guru matematika kelas VIII SMPN X hasil belajar siswa belum memenuhi KKM yang sudah ditentukan oleh sekolah. Hal ini didasarkan pada nilai ulangan harian dan ujian tengah semester siswa masih dibawah standar yaitu 71 sebanyak 60% padahal KKM yang sudah ditentukan adalah 75.
Realita yang terjadi pada kelas VIII ini menjadikan guru tergugah hati untuk menggunakan lembar kerja siswa dan suatu pendekatan khusus. Penggunaan LKS didalamnya terdapat uraian singkat materi prasyarat yang bisa mengingatkan siswa pada materi sebelumnya. Pendekatan khusus yang cocok untuk menyelesaikan keaktifan siswa adalah pendekatan konstruktivisme. Melalui konstruktivisme ini guru mengolaborasikannya dengan diskusi soal-soal olimpiade. Diskusi soal-soal olimpiade ini dilakukan karena ada beberapa siswa yang mungkin bisa menyelesaikan soal-soal ini dengan membantu siswa lain yang belum mengerti akan karakteristik soal-soal tersebut. Penerapan konstruktivisme dengan membentuk siswa menjadi kelompok-kelompok kecil yang heterogen bisa menyelesaikan soal-soal Olimpiade yang hasil akhir diskusi yaitu presentasi hasil diskusi itu.
Beberapa kemungkinan penyebab terjadinya kegagalan pada aktivitas siswa dan hasil belajar siswa diantaranya : kemampuan siswa terbatas, sehingga hanya siswa dengan kecerdasan tinggi menjadi dominan di kelas; kemauan belajar siswa kurang, sehingga menyebabkan hasil belajar mereka kurang memuaskan; dan siswa yang masih tidak disiplin pada saat pembelajaran berlangsung.
Sesuai masalah nyata yang terjadi di atas maka pemilihan alternatif penyelesaian sebagai tindakan adalah :
a. Dengan penggunaan pendekatan konstruktivisme disertai LKS dan lembar diskusi soal-soal olimpiade yang cara penyelesaiannya siswa dituntun.
b. Dengan penggunaan pendekatan konstruktivisme disertai LKS dan lembar diskusi soal-soal olimpiade yang cara penyelesaiannya siswa tidak dituntun.
c. Dengan penggunaan pendekatan konstruktivisme disertai LKS dan lembar tugas soal-soal olimpiade yang cara penyelesaiannya siswa tidak dituntun.
Permasalahan di atas harus segera diatasi karena hasil belajar yang kurang memuaskan akan memperlambat pembelajaran ke materi berikutnya karena siswa akan sering melakukan remidi. Aktivitas siswa yang kurang memuaskan akan membuat siswa belum bisa memahami dan menerapkan materi yang ada. Sedangkan kurikulum sekolah menuntut guru untuk menyelesaikan materi sesuai dengan waktunya, sehingga guru tidak selalu mengulang materi yang telah diajarkan dan waktu yang diperlukan guru menjadi lebih lama.

B. Perumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan di atas, masalah yang dapat dirumuskan dalam penelitian ini adalah :
Bagaimana cara meningkatkan kemampuan siswa dalam menyelesaikan soal-soal olimpiade matematika SMP kelas VIII di SMPN X bidang geometri melalui pendekatan konstruktivisme ?

C. Tujuan Penelitian
Adapun tujuan yang dapat diambil dari penelitian ini adalah untuk mengetahui apakah melalui pendekatan konstruktivisme dapat meningkatkan kemampuan siswa dalam menyelesaikan soal-soal olimpiade matematika SMP kelas VIII SMPN X bidang geometri.

D. Manfaat Penelitian
Manfaat dari penelitian ini adalah :
1. Bagi Siswa
Meningkatkan bakat dan minat di bidang Matematika dan Sains sehingga dapat berkreasi serta melakukan inovasi sesuai kemampuan serta memperkaya pengetahuan siswa mengenai soal-soal Olimpiade beserta penyelesaiannya.
2. Bagi Guru
a. Memperkaya berbagai jenis soal-soal Olimpiade di bidang Geometri.
b. Mendapat pengetahuan dan pengalaman dalam pelaksanaan pembelajaran melalui konstruktivisme.
c. Meningkatkan kemampuan guru dalam menciptakan strategi pembelajaran yang bervariatif dan inovatif.
3. Bagi Sekolah
Dapat menjadi acuan bagi sekolah dalam menentukan arah kebijakan untuk kemajuan sekolah dan sekolah yang menjadi objek dalam penelitian tindakan kelas akan memperoleh hasil pengembangan ilmu.
4. Bagi Peneliti
Mendapat pengalaman dan dapat mengetahui hasil dari pelaksanaan pembelajaran melalui pendekatan konstruktivisme.

Posted by: Admin Indeks Prestasi Updated at: 11:04:00

PENERAPAN TEKNIK COURSE REVIEW HORAY (CRH) UNTUK MENINGKATKAN MOTIVASI DAN HASIL BELAJAR

PENERAPAN TEKNIK COURSE REVIEW HORAY (CRH) UNTUK MENINGKATKAN MOTIVASI DAN HASIL BELAJAR (EKONOMI KELAS VII)



BAB I
PENDAHULUAN 

A. Latar Belakang Masalah
Pendidikan merupakan usaha yang dijalankan oleh seseorang atau kelompok orang agar menjadi dewasa atau mencapai tingkat hidup atau penghidupan yang lebih tinggi dalam arti mental. Kemajuan suatu bangsa sangat ditentukan oleh kualitas Sumber Daya Manusianya (SDM). Kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) itu tergantung pada kualitas pendidikannya. Peran pendidikan sangat penting untuk menciptakan masyarakat yang cerdas, damai, terbuka dan demokratis. Oleh karena itu, pembaharuan pendidikan harus dilakukan untuk meningkatkan kualitas pendidikan suatu bangsa.
Kemajuan bangsa Indonesia hanya dapat dicapai melalui penataan pendidikan yang baik. Upaya peningkatan mutu pendidikan itu diharapkan dapat menaikkan harkat dan martabat manusia Indonesia. Untuk mencapai itu, pembaharuan pendidikan di Indonesia perlu terus dilakukan untuk menciptakan dunia pendidikan yang peka terhadap perubahan zaman.
Efektifitas pembelajaran oleh guru profesional adalah faktor utama dalam peningkatan mutu pendidikan tersebut. Guru sebagai pendidik professional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai dan mengevaluasi peserta didik membutuhkan peningkatan professional secara terus menerus. Di era kurikulum yang senantiasa mengalami pergeseran atau perubahan ini, penyelenggara pendidikan dan pembelajaran membutuhkan guru yang juga berfungsi sebagai peneliti secara most power full, yakni guru yang mampu melaksanakan tugas dan mengadopsi strategi baru.
Berdasarkan fungsi pendidikan nasional, maka peran guru menjadi kunci keberhasilan dalam misi pendidikan dan pembelajaran di sekolah selain bertanggung jawab untuk mengatur, mengarahkan, dan menciptakan suasana kondusif yang mendorong siswa untuk melakukan pembelajaran di dalam kelas. Permasalahan pendidikan selalu muncul bersamaan dengan berkembang dan meningkatnya kemampuan siswa, situasi, kondisi lingkungannya yang ada, pengaruh informasi dan kebudayaan serta berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi.
Untuk mengatasi masalah tersebut diperlukan suatu bentuk pembelajaran yang efektif dan efisien, antara lain dengan memilih model pembelajaran yang sesuai dengan kemampuan dan kebutuhan siswa serta dapat menciptakan suasana pembelajaran menjadi menyenangkan. Pemilihan model pembelajaran sangat menentukan kualitas pembelajaran. Karena dengan model yang sesuai siswa akan lebih dapat menerima materi pembelajaran, lebih dari itu dengan pemilihan model yang sesuai siswa akan lebih memahami hasil belajar yang akan bertahan dalam waktu yang relatif lama.
SMPN X merupakan sekolah yang sudah maju, hal ini dapat dilihat dari sarana dan prasarana yang cukup lengkap di sekolah tersebut, yaitu antara lain Ruang kelas : 26 termasuk 4 kelas bilingual, Laboratorium IPA, Laboratorium Lab bahasa, Laboratorium Komputer 2 Ruang, Perpustakaan, Ruang Guru, Ruang Kurikulum, Ruang Kepsek, Ruang TU, Ruang OSIS dan UKS, Ruang BP, Kantin, Lapangan Voli, Lapangan Basket, MCK, Koperasi.
Untuk mendukung originalitas penelitian yang akan dilakukan, peneliti mengkaji hasil penelitian dahulu, dari peneliti Seblow Gainau tahun 2010 tentang Peningkatan hasil belajar IPS dengan pembelajaran kooperatif tipe course review horay (CRH) di SDN Rejosalam, dapat disimpulkan bahwa setelah melakukan tindakan dengan menggunakan teknik course review horay (CRH) selama 2 siklus dapat dibuktikan adanya peningkatan hasil belajar siswa dalam pembelajaran. Yang sebelum penelitian ini dilakukan masih banyak siswa yang memperoleh nilai kurang dari standar. Dengan demikian, maka dapat dikatakan bahwa teknik course review horay (CRH) sangat tepat untuk diterapkan dalam proses belajar mengajar.
Di SMPN X khususnya kelas VII masih banyak ditemukan kasus dimana siswa kurang siap dalam mengikuti pelajaran. Siswa datang ke sekolah tanpa bekal pengetahuan tentang materi yang akan dibahas di kelas. Siswa datang ke sekolah dengan motivasi untuk bertemu dengan teman-temannya dan pada saat pelajaran berlangsung siswa hanya berharap pengetahuan tentang materi yang akan diberikan guru di kelas tanpa adanya respon balik dari siswa, dan ketika guru menjelaskan materi mereka lebih senang berbicara sendiri dan bermain dengan temannya sehingga hasil belajar peserta didik masih banyak yang rendah dibandingkan kelas-kelas lain. Apabila kondisi tersebut masih terus dibiarkan, maka kompetensi dasar dan indikator sulit tercapai secara maksimal.
Untuk menimbulkan motivasi yang akan mendorong anak agar dapat berbuat sesuatu dalam mencapai tujuan belajarnya, maka diperlukan adanya peningkatan aktivitas anak. Sedangkan untuk meningkatkan aktivitas belajar anak, maka perlu adanya motivasi-motivasi guru yang sekiranya peserta didik jadi semangat dan giat dalam belajar. Salah satu alternatif yang di gunakan yaitu dengan memilih teknik yang sesuai pada saat kegiatan belajar mengajar berlangsung sehingga hasil pendidikan akan terwujud sesuai dengan harapan kita.
Dengan diterapkan teknik course review horay (CRH) maka akan mengubah anggapan bahwa pelajaran ekonomi menjadi pelajaran yang tidak membosankan. penerapan teknik course review horay (CRH) ini akan peneliti terapkan sebagai alternatif untuk perbaikan pembelajaran yang ada di SMPN X.
Sehubungan dengan itu maka penerapan teknik course review horay (CRH) bisa dilaksanakan karena teknik ini mempunyai ciri selain pengembangan aktifitas berfikir, memotivasikan siswa sehingga tidak bosan dan juga menuntut siswa untuk berpikir kritis seperti halnya siswa-siswa lain. Maka dengan latar belakang masalah tersebut, peneliti ingin mengadakan penelitian yang berjudul PENERAPAN TEKNIK COURSE REVIEW HORAY (CRH) UNTUK MENINGKATKAN MOTIVASI DAN HASIL BELAJAR SISWA PADA MATA PELAJARAN EKONOMI KELAS VII SMPN X.

B. Rumusan Masalah
1. Bagaimana perencanaan teknik course review horay (CRH) dalam meningkatkan motivasi dan hasil belajar siswa pada mata pelajaran ekonomi kelas VII SMPN X ?
2. Bagaimana pelaksanaan teknik course review horay (CRH) dalam upaya meningkatkan motivasi dan hasil belajar siswa pada mata pelajaran ekonomi kelas VII SMPN X ?
3. Bagaimana penilaian teknik course review horay (CRH) dalam upaya meningkatkan motivasi dan hasil belajar siswa pada mata pelajaran ekonomi kelas VII SMPN X ?

C. Tujuan Penelitian
Berdasarkan pada tiga permasalahan di atas, maka peneliti bertujuan untuk :
1. Mendeskripsikan perencanaan teknik course review horay (CRH) dalam meningkatkan motivasi dan hasil belajar siswa pada mata pelajaran ekonomi kelas VII SMPN X.
2. Mendeskripsikan pelaksanaan teknik course review horay (CRH) yang efektif sehingga dapat meningkatkan motivasi dan hasil belajar siswa pada mata pelajaran ekonomi kelas VII SMPN X.
3. Mendeskripsikan penilaian teknik course review horay (CRH) yang efektif sehingga dapat meningkatkan motivasi dan hasil belajar siswa pada mata pelajaran ekonomi kelas VII SMPN X. 

D. Manfaat Penelitian
Hasil dari penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat bagi semua pihak terutama :
1. Bagi Kampus 
Hasil penelitian ini diharapkan menjadi acuan untuk meningkatkan mutu pendidikan ilmu pengetahuan sosial dan kualitas dosen dalam merealisasikan pendidikan ilmu pengetahuan sosial.
2. Bagi Lembaga (Sekolah)
a. Dapat digunakan sebagai masukan dalam mengetahui kondisi kegiatan pembelajaran ekonomi, khususnya dalam meningkatkan motivasi dan hasil belajar siswa.
b. Dapat digunakan sebagai referensi untuk melakukan evaluasi pengajaran sekaligus guna membangun format belajar mengajar yang lebih efektif.
3. Bagi guru
Sebagai bahan pertimbangan bagi guru-guru di sekolah dalam pemilihan metode dan teknik untuk meningkatkan motivasi dan hasil belajar siswa terhadap mata pelajaran ekonomi.
4. Bagi siswa
Diharapkan penelitian ini dapat membuat siswa menjadi semakin tertarik (berminat) dalam mengikuti proses pembelajaran ekonomi dan kemampuan memahami materi mengalami peningkatan signifikan khususnya untuk mata pelajaran ekonomi.
5. Bagi peneliti
Mendapatkan wawasan dan pengalaman praktis di bidang penelitian. Selain itu hasil penelitian ini juga dapat dijadikan sebagai bekal bila sudah menjadi tenaga pendidik.
6. Bagi Peneliti Lanjutan
Sebagai bahan acuan dan tolak ukur jika akan diadakan penelitian acuan. 

Posted by: Admin Indeks Prestasi Updated at: 11:02:00