Cari Kategori

CARA PENGISIAN DATA PTK DAN TAMBAHAN YANG DIAKUI DAPODIKDAS 2014 UNTUK VALIDASI TUNJANGAN SERTIFIKASI GURU

Berikut informasi terbaru tentang Validasi data-data PTK pada aplikasi Dapodikdas 2014 v.3.0.0 oleh Bpk. Asyarudin MT. P2TK Dikdas – Kemdikbud RI

 
1.   Nama : sesuai dengan ijazah, tanpa gelar. Gelar pada kolom tersendiri.
2.   Tgl. Lahir : sesuai dengan akta kelahiran/Ijazah
3.   Nama ibu : tanpa gelar (alm/hj./dll)
4.   Status Kepegawaian harus diisi lengkap.
·       Status CPNS/PNS/GTY/GTT
·       Sumber gaji : Yayasan/APBD/Sekolah
·       Lembaga Pengangkat
·       No SK harus diisi dengan benar
·       NIP Baru (jika sudah ada)

Sekolah Induk

1. Centangan Sekolah Induk Harus diisi jika sekolah tsb adalah sekolah induk/pangkal PTK yang bersangkutan.
2.   Sekolah Induk hanya diperbolehan satu (1) untuk setiap PTK walau mengajar di beberapa sekolah
3. Jika Sekolah Induk tidak dicentang atau lebih dari 1 sekolah induk yang dicentang maka data PTK ybs dianggap TIDAK VALID
4.   Jam mengajar minimal 6 jam pada Sekolah Induk, termasuk Kepala Sekolah.

Tugas Tambahan yang diakui Dapodikdas 2014 :

A.  SD

1.   1 (satu) Kepala Sekolah

B.  SMP

1.   1 Kepala Sekolah
2.   1-3 Wakil Kepala Sekolah
• 1 sd 9 Rombel : 1 Wakasek
• 10 sd 18 Rombel : 2 Wakasek
• >18 Rombel : 3 Wakasek
3.   1 Kepala Laboratorium
4.   1 Kepala Perpustakaan

VALIDASI TUGAS TAMBAHAN DAPODIKDAS 2014

1.   Tanggal Mulai Tugas (TMT) harus diisi dan Valid
2.   Tanggal Selesai Tugas (TST) harus diisi jika sudah tidak menjabat
3.   No SK Harus diisi dengan benar
4.Tugas Tambahan yang diakui adalah Tugas Tambahan pada Sekolah Induk/pangkal.
5.   Jumlah Guru dengan Tugas Tambahan yang sama dalam satu sekolah tidak boleh melebihi ketentuan.
6.   Jika Tugas Tambahan tidak valid maka Jumlah Jam Tugas Tambahan tidak diakui (= 0 jam)

Posted by: Admin Indeks Prestasi Updated at: 12:18:00

ALUR PADAMU NEGERI 2014 PROSES KEAKTIFAN PTK, KEPALA SEKOLAH, DAN PENGAWAS TAHUN 2014

Sehubungan dengan proses keaktifan bagi Pendidikan dan Tenaga Kependidikan pada situs Padamu Negeri Kemdikbud pada semester 1 tahun pelajaran 2014/2015, berikut informasi terkait alur kegiatan Padamu Negeri 2014 yang saya share dari laman Facebook Padamu Negeri Kemdikbud sebagai berikut :

ALUR PADAMU NEGERI 2014 PROSES KEAKTIFAN PTK, KEPALA SEKOLAH, DAN PENGAWAS TAHUN 2014

Mulai 8 September 2014 akan diterapkan alur proses terpadu di sistem Padamu Negeri sebagaimana gambar terlampir sebagai bahan referensi pengguna. Bisnis Proses Padamu Negeri dirancang aturannya saling terkait oleh sistem (Rules by System) agar lebih terjamin integritas aliran datanya.

Padamu Negeri akan selalu berupaya mengembangkan secara kontinue dalam penyediaan sistem yang lebih cepat, nyaman, mudah, akurat, terpadu dan akuntabel. Mari bersama kita tingkatkan Mutu Pendidikan Indonesia secara berkesinambungan mulai saat ini dan masa depan bersama Padamu Negeri.

Salam Padamu Negeri Indonesiaku - Admin Pusat - BPSDMPK-PMP Kemdikbud

Posted by: Admin Indeks Prestasi Updated at: 12:09:00

INPASSING GURU NON PNS TAHUN 2014 (KESETARAAN JABATAN DAN PANGKAT GBPNS)

Berikut informasi tentang kesetaraan jabatan dan pangkat bagi guru bukan PNS (GBPNS) tahun 2014 yang bertugas pada satuan pendidikan dasar (SD, SMP, SLB), dan informasi ini khusus untuk Rekan-rekan guru non/bukan PNS yang belum memiliki SK Inpasing.


Mulai bulan September tahun 2014, penyetaraan jabatan dan pangkat bagi guru bukan PNS (dulu inpassing) telah dibuka Dirjen Dikdas.

Namun pemberkasan tidak seperti tahun-tahun sebelumnya, tetapi dengan pola pemanggilan yang surat pemanggilannya bisa di lihat pada lembar Info PTK pada http://223.27.144.195:8081.

Apabila sudah masuk dalam daftar antrian silahkan download dan print lalu sertakan pada berkas yang sudah di persyaratkan dalam surat panggilan tersebut.

Ingat..! Jangan pernah mengirim berkas apabila tidak terdapat pada daftar panggilan dan proses penyetaraan jabatan dan pangkat bagi guru bukan PNSGRATIS

Referensi artikel : Bpk. Ibnu Aditya Karana

Posted by: Admin Indeks Prestasi Updated at: 11:57:00

CARA CETAK SURAT AKUN LOGIN PADAMU NEGERI 2014 UNTUK PENGISIAN EDS SISWA

Untuk mendapatkan hak akses / login di Padamu Negeri bagi siswa ataupun orang tua / wali untuk mengisi EDS Siswa Padamu Negeri 2014 diperlukan Siswa ID, Password, dan juga Kode Akses Ortu/Wali yang didapatkan dari admin sekolahnya masing-masing berupa Surat Akun Login Siswa.

Berikut cara cetak Surat Akun Login Siswa Padamu Negeri 2014 sebagai berikut :

1.   Login Admin / Operator Sekolah ==> "Padamu Sekolah" .



2.   Klik “Padamu Sekolah” ==> “Siswa & Alumni” ==> “Siswa”, kemudian pada Profil Siswa pilih “Daftar Siswa”.


3.   Pada daftar siswa, silahkan pilih salah satu siswa, klik tanda aksi dropdown lalu pilih “Cetak Tanda Bukti Akun”.


4.   Selesai.

Untuk selanjutnya print out tersebut berupa Surat Akun Login Siswa yang akan digunakan siswa maupun orang tua salah satunya untuk login dan mengisi EDS Siswa Padamu Negeri dengan langkah-langkah menuju EDS Siswa dan Aktivasi akun orang tua / wali. Semoga bermanfaat dan terimakasih...

Posted by: Admin Indeks Prestasi Updated at: 11:50:00

SOLUSI GAGAL AKTIVASI LOGIN OPERATOR SEKOLAH DENGAN EMAIL DI PADAMU NEGERI

Sahabat Operator Sekolah yang kebetulan mendapatkan tugas untuk mengelola data-data sekolahnya di Padamu Negeri 2014. Berikut saya share cara untuk mengatasi gagal dalam menambahkan email walaupun tidak gagal 100%, tapi belum berhasil untuk login pada halaman pengelolaan Padamu Negeri sehingga dapat muncul tampilan-tampilan untuk mengelola Padamu Sekolah :


1.   Login di Padamu Negeri menggunakan Login Admin/Operator Sekolah.
2.   Kelola grup admin lalu tambah Admin.
3.   Jika keluar beberapa peringatan di antaranya :
a.   Email sudah terdaftar.
b.   Aplikasi gagal mengenali Email tersebut, dan
c.   Aplikasi telah menemukan Admin Sekolah dengan Email tersebut.
d.   Dan sebagainya.

Oke langsung saja, berikut solusinya :

Daftarkan email dan lengkapi data diri yang akan digunakan untuk login sebagai operator sekolah di sini https://paspor.siap-online.com/registrasis.d. tuntas.

1.   Buka tautan untuk kode aktifasi di kotak masuk email Anda.


2.   Sign out / keluar dari halaman tersebut.
3.   Login ke Padamu Negeri dengan login Admin / Operator Sekolah.
4.   Klik pada “Kelola Akun Institusi”.


5.   Kelola Grup Admin, lalu klik icon tambah (“+”).
6.   Masukkan email yang sudah didaftarkan berhasil pada no. 1 di atas.
7.   Copy Kode Aktivasi yang ada pada “Surat Pemberitahuan Akses Layanan” atau Form S01c yang didapatkan setelah tambah email Admin yang baru tadi berhasil.


8.   Sign Out, lalu paste login Admin / Operator Sekolah menggunakan email tersebut dengan password yang baru Anda daftarkan pada no. 1 di atas.
9.   Setelah masuk ke halaman kelola sekolah, klik pada “Padamu Sekolah”, setelah masuk di kelola sekolah, Anda akan diminta Token aktivasi, paste kode pada no. 8 di atas di kolom tersebut.


10. Selesai.

Selamat bertugas dan terimakasih…

Posted by: Admin Indeks Prestasi Updated at: 11:44:00

THE EFFECTIVENESS OF USING SIMULATION IN IMPROVING STUDENTS SPEAKING SKILL

THE EFFECTIVENESS OF USING SIMULATION IN IMPROVING STUDENTS SPEAKING SKILL



CHAPTER I 
INTRODUCTION

This chapter is divided into seven subsections. They are background of the study, reasons for choosing the topic, statement of problems, objectives of the study, hypothesis, significance of the study, and outline of the report.

A. Background of the Study
The globalization era that demands man power with sufficient competency and professionalism has made Vocational High School so important. This phenomenon is reflected in that many students leaving Junior High Schools enter Vocational Schools.
It goes without saying that Vocational High School has some special qualities. Firstly, the alumni that leave from this institution could meet the job requirements in industry or company because they have certificate of Uji Kemampuan Kompetensi. With this certificate they would have a chance to get a job easily. Secondly, the alumni could continue their study if they are qualified; adjusted to their vocations.
Hence, the teaching and learning process in Vocational High School needs special techniques in order to achieve the necessary competencies for the students. That demand increases when there is free market in this era that makes manpower exchange takes place rapidly. So that, the students need to master the subjects and skills suitable with their vocations. They also have to be good in English as an international language, which also used both in industry and business nowadays.
However, according to my observation and interview before doing this final project, the English subject in Vocational High School is still conventional, monotonous and boring for the students. The teachers' successful orientation is still how to deliver all materials from the occupied literature (Suyatno, 2004 : 2). It potentially becomes one of the problems for them to reach the goal of the learning process.
Moreover, the situation becomes worse when the teachers rarely update the necessary skills in teaching according to the education progress. They have a drawback to evolve teaching techniques and strategies. The result is teaching and learning process operated in an old way that generates alumni without any sufficient competences.
Another cause is the very limited chance for the teachers to join in seminar, discussion, and training. It makes instructional processes become less innovative. This condition is usually complained especially by those who teach in remote areas.
The phenomena above are contrary to the spirit of the new curriculum (KTSP) which suggests that teachers should be able to enhance their teaching strategies for the sake of the student's competence development (KTSP 2007) (http://id.wikipedia.org/wiki/Kurikulum_Tingkat_Satuan_Pendidikan).
Beside the above demand of the curriculum, the teacher's techniques and the students' learning styles should be in line. Teaching and learning process should be able to accommodate the different and unique characteristics of the students.
Based on the above arguments, simulation would be an effective technique to solve those problems for Vocational High School. This technique would give supporting environment for the students to elaborate themselves with their own learning styles. I focused on improving students' speaking skill for Vocational High School. Here, the subject of my study will be THE EFFECTIVENESS OF USING SIMULATION IN IMPROVING STUDENTS' SPEAKING SKILL FOR VOCATIONAL HIGH SCHOOL.

B. Reasons for Choosing the Topic
There are some reasons in choosing this topic. The first one is because the topic has not been examined yet by many researchers. Most of the them investigated the area of teaching and learning process in Junior or Senior High School in the terms of methods, strategy, and the interaction among the students or between teacher and students in the English class. There are still a few who conducted researches about teaching and learning techniques, especially simulation, for Vocational High School.
The second one is the topic will promise a valuable contribution for English teaching and learning process especially for Vocational High School that is being improved constantly by the government. The simulation technique adapts the students' learning styles and also uses Contextual Teaching and Learning that is needed in vocational classes as demanded by the curriculum. So that, this technique would be an alternative solution for education problem.
The third, the topic would be useful for language development because the simulation technique concerns on speaking skill. Therefore, by analyzing this matter, I hope that the second language learner could get knowledge and information in using English through simulation. This technique uses English as a means of communication not merely studying the language itself.
The last one is the topic gives an advantage for the students in improving their speaking skill and elaborating their learning styles. All the teaching and learning processes held in the context of situation according to the students' vocations. It would give much information for them in using English as the means of communication on their fields.

C. Statement of Problems
The problems that are discussed in this study are : 
1. How is the speaking test achievement for students taught using simulation technique ?
2. How is the speaking test achievement for students taught without using simulation technique ?
3. Is there any significant difference in students' speaking test achievement between those taught by using simulation technique and those taught without using simulation technique ?

D. Objectives of the Study
The purposes of this study are : 
1. to find out the speaking test achievement for students taught using simulation technique
2. to find out the speaking test achievement for students taught without using simulation technique
3. to find out whether there is significant difference in students' speaking test achievement between those taught by using simulation technique and those taught without using simulation technique.

Posted by: Admin Indeks Prestasi Updated at: 08:52:00

PENINGKATAN HASIL BELAJAR PKN MATERI BERPERILAKU MULIA SESUAI PANCASILA MELALUI MODEL PEMBELAJARAN VCT PERCONTOHAN

PENINGKATAN HASIL BELAJAR PKN MATERI BERPERILAKU MULIA SESUAI PANCASILA MELALUI MODEL PEMBELAJARAN VCT PERCONTOHAN (PKN KELAS II)-L



BAB I 
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah
Sistem pendidikan nasional harus mampu menjamin pemerataan pendidikan, peningkatan mutu serta relevansi dan efisiensi manajemen pendidikan untuk menghadapi tantangan sesuai dengan tuntutan perubahan kehidupan lokal, nasional, dan global, sehingga perlu dilakukan pembaharuan pendidikan secara terencana, terarah, dan berkesinambungan. Pengertian pendidikan, pendidikan nasional dan sistem pendidikan nasional dapat dijumpai dalam Undang-undang Nomor. 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Pendidikan nasional didefinisikan sebagai "pendidikan yang berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 yang berakar pada nilai-nilai agama, kebudayaan nasional Indonesia dan pendidikan nasional adalah "keseluruhan komponen pendidikan yang saling terkait secara terpadu untuk mencapai tujuan pendidikan nasional.
Dalam pandangan Demokratis, Pendidikan Kewarganegaraan adalah suatu pendidikan yang bertujuan untuk mendidik para generasi muda dan mahasiswa agar mampu menjadi warga negara yang demokratis dan partisipatif dalam pembelaan negara. Dalam hal ini pendidikan kewarganegaraan merupakan suatu alat pasif untuk membangun dan memajukan sistem demokrasi suatu bangsa. Tujuan Pendidikan Kewarganegaraan Berdasarkan Keputusan. Dirjen Dikti No. 267/Dikti/2000, mencakup Tujuan Umum, untuk memberikan pengetahuan dan kemampuan dasar kepada siswa mengenai hubungan antara warga negara agar menjadi warga negara yang diandalkan oleh bangsa dan negara. Tujuan Khusus, Agar siswa dapat memahami dan melaksanakan hak dan kewajiban secara santun, jujur, dan demokratis serta ikhlas sebagai warga Negara Indonesia yang terdidik dan bertanggung jawab, Agar siswa menguasai dan memahami berbagai masalah dasar dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara, serta dapat mengatasinya dengan pemikiran kritis dan bertanggung jawab yang berlandaskan Pancasila, Wawasan Nusantara, dan Ketahanan Nasional, Agar siswa memiliki sikap dan perilaku yang sesuai dengan nilai-nilai kejuangan, cinta tanah air, serta rela berkorban bagi nusa dan bangsa (Born : 2008).
Pendidikan Kewarganegaraan (PKn) merupakan salah satu pendidikan yang penting dan dibutuhkan siswa untuk membentuk watak dan tingkah laku manusia sebagai warga negara Indonesia. Tujuan PKn pada dasarnya adalah menjadikan warga negara yang cerdas dan baik serta mampu mendukung keberlangsungan bangsa dan negara (Hidayat dan Azra dalam Ubaidillah, 2008 : 4).
Dalam perkembangannya, Pendidikan Kewarganegaraan mengalami perubahan-perubahan yang bertujuan untuk memperbaiki isi dan tujuan dari Pendidikan Kewarganegaraan itu sendiri. Pada awalnya Pendidikan Kewarganegaraan muncul dengan istilah Pendidikan Kewiraan yang mulai berlaku pada tahun ajaran 1973/1974. Kemudian terus mengalami perubahan hingga berubah menjadi Pendidikan Kewarganegaraan. Pendidikan Kewarganegaraan juga memiliki keterkaitan kurikulum dengan Pendidikan Pancasila, Pendidikan Moral Pancasila dan cabang Pendidikan lainnya. Pendidikan Kewarganegaraan sudah diajarkan pada tingkat sekolah dasar sampai sekolah menengah atas sejak tahun 1969 dengan sebutan kewargaan negara. Kemudian pada tahun 1975 sampai 1984 mengalami perubahan dengan nama Pendidikan Moral Pancasila. Pada tingkat Perguruan Tinggi berganti nama dengan istilah Pendidikan Kewiraan. Pada tingkat sekolah dasar dan sekolah menengah berganti nama dengan nama PPKN (Born, 2008).
Pada tahun 2000, setelah Indonesia masuk dalam era reformasi maka bidang pendidikan pun mengalami perubahan. Adanya tuntutan bahwa pengetahuan yang didapatkan di sekolah harus bisa menopang kebutuhan skill yang terus bertambah maka lahirlah Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK). Tahun 2000 ini mengalami perubahan menjadi mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan (PKn). Tahun 2004 kurikulum PKn SD diintegrasikan dengan mata pelajaran IPS menjadi PKPS (Pendidikan Kewarganegaraan dan Pengetahuan Sosial) Dalam KBK, sementara di tingkat SMP dan SMA merupakan mata pelajaran yang berdiri sendiri. KBK Kewarganegaraan tampak telah mengarah pada tiga komponen PKn yang bermutu, seperti yang diajukan oleh Centre for Civic Education pada tahun 1999 dalam National Standard for Civics and Government. Ketiga komponen tersebut yaitu civic knowledge (Pengetahuan kewarganegaraan), civic skills (ketrampilan kewarganegaraan) dan civic disposition (karakter kewarganegaraan). Tahun 2006, perubahan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan, PKn tidak lagi terintegrasi dengan mata pelajaran IPS, melainkan berdiri sendiri menjadi mata pelajaran PKn (Fathurochman dan Wuryandari, 2011 : 7).
Paradigma baru PKn adalah suatu model atau kerangka berpikir yang digunakan dalam proses Pendidikan Kewarganegaraan di Indonesia. Sejalan dengan dinamika perkembangan kehidupan berbangsa dan bernegara yang ditandai oleh semakin terbukanya persaingan antar bangsa yang semakin ketat, maka bangsa Indonesia mulai memasuki era reformasi di berbagai bidang menuju kehidupan masyarakat yang lebih demokratis (Fathurrohman, 2011 : 9). Tugas PKn sebagai paradigma baru yaitu mengembangkan tiga fungsi pokok, yakni mengembang civic intelligence(mengembangkan kecerdasan warga negara), civic responsibility (membina tanggung jawab warga Negara), civic participation (mendorong partisipasi warga Negara) (Fathurrohman, 2011 : 10). Model pembelajaran PKn dengan paradigma baru memiliki karakteristik yaitu membelajarkan dan melatih siswa berpikir kritis dan membawa siswa mengenal, memilih dan memecahkan masalah (Fathurrohman 2011 : 11).
Menurut Winataputra, (2006 : 5.44), bahwa Ciri utama PKn adalah tidak lagi menekankan pada mengajar tentang PKn, tetapi lebih berorientasi pada membelajarkan PKn atau pada upaya-upaya guru untuk melaksanakan PKn. Oleh karena itu, dalam pembelajaran PKn siswa dibina/dibimbing untuk membiasakan atau melakoni isi pesan materi PKn. Jadi, sekali lagi dalam proses pembelajaran tekanannya diarahkan pada bagaimana belajar. Dengan demikian, alangkah baiknya apabila guru memahami tipe-tipe belajar.
Jacwues Delors dalam Winataputra, (2006 : 44), mengemukakan empat tipe dasar belajar yaitu Learning to know, Learning to do, Learning to live together, dan Learning to be. Pembelajaran PKn akan berjalan dengan baik jika seorang guru PKn menjadi teladan dalam meningkatkan aspek afektif dan aspek psikomotor dengan menunjukkan contoh-contoh perilaku yang diharapkan ditiru dan dilaksanakan siswa dalam kehidupan di sekolah dan kehidupan sehari-hari di masyarakat.
PKn adalah mata pelajaran yang menekankan pada sikap dan mental Siswa. Karakteristik siswa SD berada pada tahap operasional konkrit, atau siswa masih kesulitan memahami hal-hal yang bersifat abstrak. Oleh sebab itu materi yang bersifat abstrak dapat menggunakan contoh dalam bentuk gambar dan foto.
Model pembelajaran afektif atau biasa disebut model Value Clarification Technique (VCT) adalah strategi pendidikan afektif yang memang berbeda dengan strategi pembelajaran kognitif dan psikomotor. Pembelajaran Afektif berhubungan dengan nilai yang sulit di ukur dikarenakan berkaitan erat dengan kesadaran seseorang yang tumbuh dari dalam dirinya.
Pola pembelajaran VCT menurut A. Kosasih Djahri dalam Udin, S. dkk, (2006 : 5.45) dianggap unggul untuk pembelajaran afektif (sikap) karena : Pertama, mampu membina dan mempribadikan nilai moral, Kedua, mampu mengklarifikasikan dan mengungkapkan isi pesan nilai moral yang disampaikan. Ketiga, mampu mengklarifikasikan dan menilai kualitas nilai-nilai moral diri siswa dan nilai moral dalam kehidupan nyata. Keempat, mampu mengundang, melibatkan, membina dan mengembangkan potensi diri siswa terutama potensi afektualnya. Kelima, memberikan pengalaman belajar bagi kehidupan. Keenam, mampu menangkal, meniadakan, berbagai nilai moral yang tidak baik dalam nilai moral diri siswa. Model pembelajaran VCT meliputi : (1) Percontohan, (2) Analisis nilai, (3) VCT daftar, (4) VCT kartu keyakinan, (5) VCT teknik wawancara (6) VCT yurisprudensi, (7) VCT inquiry dan (8) VCT role playing. Untuk VCT Percontohan yaitu model pembelajaran khusus yang diterapkan untuk kelas I sampai dengan kelas III karena disesuaikan dengan karakteristik siswa yang masih perlu menggunakan contoh-contoh dalam bentuk nyata seperti gambar atau foto untuk memahami hal-hal yang bersifat tidak nyata.
Dalam pembelajaran PKn, penggunaan model pembelajaran harus disesuaikan dengan karakteristik tujuan pembelajaran, materi, perkembangan belajar siswa dan lingkungan belajarnya. Ketidakmampuan dalam menggunakan model pembelajaran akan mengakibatkan kegagalan dalam mencapai tujuan pembelajaran.
Selama ini model pembelajaran PKn yang sering digunakan adalah model pembelajaran yang hanya menggunakan metode ceramah, sehingga guru lebih dominan. Hal ini dapat berakibat siswa tidak semangat atau pasif dalam mengikuti pembelajaran, pemahaman siswa terhadap materi pembelajaran kurang dan hasil belajar siswa menjadi rendah.
Terbukti pada tema Berperilaku Mulia Sesuai Pancasila kelas II SDN X yang hasil belajar siswanya masih rendah. Dari keseluruhan siswa kelas II yang berjumlah 43 siswa, hanya 13 siswa atau 30,23% yang memperoleh nilai baik dan 30 siswa atau 69,76% yang memperoleh nilai dibawah nilai KKM 64.
Berdasarkan hasil belajar siswa dan pengamatan di SDN X maka guru dituntut memiliki kemampuan untuk mengembangkan model pembelajaran yang tepat, sehingga kualitas hasil belajar siswa meningkat, baik aspek afektif, kognitif dan psikomotor. Melihat kelebihan yang ada pada pola pembelajaran VCT maka peneliti mengadakan penelitian dengan judul "PENINGKATAN HASIL BELAJAR PKN MELALUI PEMBELAJARAN VCT PERCONTOHAN PADA MATERI BERPERILAKU MULIA SESUAI PANCASILA PADA SISWA KELAS II SDN X".

B. Perumusan Masalah dan Pemecahan Masalah
1. Perumusan Masalah
Berdasarkan pada pengamatan di SDN X, masalah utama pembelajaran PKn adalah masih rendahnya kemampuan guru dalam menggunakan model pembelajaran, model VCT akan sangat berpengaruh terhadap keberhasilan belajar siswa, maupun keberhasilan belajar siswa dalam aspek kognitif, afektif dan psikomotornya. Pemilihan model pembelajaran juga harus disesuaikan dengan karakteristik siswa. Dikarenakan siswa kelas rendah, khususnya kelas II masih sangat memerlukan contoh-contoh yang divisualisasikan dalam bentuk gambar dan foto untuk memahami hal-hal yang bersifat abstrak atau tidak nyata.
Dari uraian di atas maka yang menjadi permasalahan adalah "Bagaimanakah meningkatkan hasil belajar PKn siswa kelas II SDN X melalui model pembelajaran VCT percontohan ?"
2. Pemecahan Masalah
Untuk dapat memecahkan masalah yang terjadi, maka yang menjadi fokus dalam penelitian ini adalah "Meningkatkan hasil belajar PKn siswa kelas II SDN X melalui model pembelajaran VCT Percontohan".

C. Tujuan Penelitian
1. Tujuan Khusus
a. Meningkatkan kualitas belajar siswa pada mata pelajaran PKn baik aspek kognitif, afektif dan psikomotor agar dapat diterapkan di dalam kehidupan sehari-hari.
b. Membantu guru dalam menganalisis kinerjanya supaya mampu memperbaiki model pembelajaran di kelas, sehingga pembelajaran dapat lebih berkualitas.
2. Tujuan Umum
a. Meningkatkan aktivitas siswa.
b. Meningkatkan hasil belajar siswa dan meningkatkan performansi guru.

D. Manfaat Penelitian
Hasil penelitian ini akan memberikan manfaat baik bagi siswa, guru dan sekolah
1. Bagi Siswa
Dapat meningkatkan kualitas belajar dalam pembelajaran PKn, sehingga dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. 
2. Bagi Guru
Dapat meningkatkan profesionalisme guru dan juga dapat mengoptimalkan dalam pembelajaran PKn. 
3. Bagi Sekolah
Meningkatkan mutu sekolah di mata masyarakat dengan meningkatnya kualitas belajar siswa.

Posted by: Admin Indeks Prestasi Updated at: 09:48:00