Cari Kategori

PENGARUH KEMAMPUAN INDIVIDU TERHADAP PRODUKTIVITAS KERJA KARYAWAN

SKRIPSI PENGARUH KEMAMPUAN INDIVIDU TERHADAP PRODUKTIVITAS KERJA KARYAWAN



BAB I 
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Salah satu masalah nasional yang dihadapi oleh bangsa Indonesia saat ini adalah penanganan rendahnya kualitas sumber daya manusia. Yang mana jumlah SDM yang besar apabila dapat didayagunakan secara optimal akan bermanfaat dalam pergerakan laju pertumbuhan nasional yang berkelanjutan. Sumber daya yang terpenting dalam suatu organisasi adalah sumber daya manusia, yaitu orang-orang yang memberikan tenaga, bakat, kreativitas dan usaha mereka kepada organisasi agar suatu organisasi dapat tetap eksistensinya.
Dewasa ini perkembangan ilmu pengetahuan dan ilmu teknologi begitu cepat meningkat. Cara kerja di setiap organisasi senantiasa mengalami perubahan dan perkembangan semakin canggih. Berbagai cara ditempuh oleh perusahaan-perusahaan agar dapat bertahan dan berkembang dalam proses operasinya. Bagi para pemimpin harus dapat mencari solusi dalam menghadapi berbagai hambatan dan masalah yang pastinya akan muncul seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi tersebut. Ada banyak faktor yang membuat suatu perusahaan dapat terus menjalankan operasinya, yaitu alam, modal, tenaga kerja dan keahlian. Keempat faktor tersebut saling terkait dan tidak berdiri sendiri, melainkan harus saling mendukung demi tercapainya tujuan perusahaan secara efektif dan efisien. Tetapi dari keempat faktor tersebut, faktor tenaga kerja atau manusia lah yang terpenting karena manusia merupakan penggerak segala aktivitas yang ada pada perusahaan.
Marwan (1986 : 6) mengemukakan bahwasanya manusia adalah salah satu unsur yang terpenting di dalam suatu organisasi. Apapun bentuk dan kegiatan suatu organisasi, manusia selalu memainkan peranan penting didalamnya. Padahal manusia mempunyai tujuan atau kepentingan individual yang berbeda satu sama lain. Tujuan individu inilah yang akan dipersatukan menjadi suatu tujuan bersama dengan berorganisasi.
Setiap orang diciptakan berbeda oleh Yang Maha Kuasa. Tetapi, dalam persoalan kemampuan kerja sebagian besar diantara kita terletak dalam kategori rata-rata atau lebih rendah dari itu. Sedikit saja yang menonjol jauh di atas rata-rata, yang termasuk bintang (Professional Stars) dalam bidangnya masing-masing. Meskipun ada ketidaksamaan diantara kita dalam soal kemampuan ini, tidaklah berarti yang satu merasa rendah diri daripada yang lain dalam kehidupan ini (Muchlas, 2005 : 80).
Saat ini kemampuan sumber daya manusia masih rendah baik dilihat dari kemampuan intelektualnya maupun keterampilan teknis yang dimilikinya. Persoalan yang ada adalah bagaimana dapat menciptakan sumber daya manusia yang optimal sehingga tujuan perusahaan dapat tercapai. Manusia adalah unsur utama dalam organisasi, tanpa adanya manusia suatu organisasi tidak akan berjalan. Setiap individu didalamnya mempunyai tujuan dan kepentingan yang berbeda-beda, yang mana pada dasarnya perbedaannya mengarah pada tujuan bersama. Manusia sebagai tenaga kerja yang selalu aktif dan yang paling dominan dalam setiap kegiatan. Karena manusia (tenaga kerja) sebagai perencana, pelaku, dan penentu terwujudnya tujuan perusahaan. Mengatur karyawan sangatlah sulit dan kompleks, karena mereka mempunyai pemikiran, perasaan, status, keinginan dan latar belakang yang heterogen (Handoko, 2000 : 20).
Dalam upaya menjaga kelangsungan hidup organisasi perusahaan, tidak akan terlepas dari faktor "Man Power" nya, karena suatu perusahaan akan berhasil mencapai target dan tujuannya apabila di dukung oleh fasilitas yang cukup. Oleh karena itu kualitas dan kuantitas sumber daya manusia yang memadai, dalam hal ini adalah karyawan perusahaan merupakan unsur penunjang bagi kemajuan dan keberhasilan perusahaan (Handoko, 1999 : 53).
Karena kita mengakui bahwa setiap orang memiliki kekuatan dan kelemahannya masing-masing, dalam hal kemampuan kerja, wajar-wajar saja kalau ada orang yang merasa superior atau inferior terhadap orang lain dalam penampilan pekerjaan-pekerjaan tertentu. Dalam manajemen, yang penting adalah bagaimana caranya memanfaatkan perbedaan kemampuan karyawan pada tugas-tugas yang sesuai agar masing-masing dapat memperlihatkan prestasi maksimalnya (Muchlas, 2005 : 80).
Pada dasarnya permasalahan yang timbul dalam dunia ketenagakerjaan timbul sebagai akibat dari adanya interaksi antara pekerjaan yang akan dikerjakan dengan manusia yang akan mengerjakannya (Marwan, 1986; 11).
Menurut Kusnendi dalam bukunya Ekonomi SDM menjelaskan bahwa konsep produktivitas kerja dapat dilihat dari dua dimensi, yaitu dimensi individu dan dimensi keorganisasian. Dimensi individu melihat produktivitas dalam kaitannya dengan karakteristik-karakteristik kepribadian individu yang muncul dalam bentuk sikap mental dan mengandung makna keinginan dan upaya individu yang selalu berusaha untuk meningkatkan kualitas kehidupannya. Sedangkan dimensi keorganisasian melihat produktivitas dalam kerangka hubungan teknis antara masukan (input) dan keluaran (out put). Oleh karena itu dalam pandangan ini, terjadinya peningkatan produktivitas tidak hanya dilihat dari aspek kuantitas, tetapi juga dapat dilihat dari aspek kualitas. (http://massofa.wordpress. com/2008/04/02/pengertian-dan-faktor-faktor-yang-mempengaruhi-produktivitas-kerja/)
Sebuah perusahaan yang sedang mengalami perkembangan usaha diharapkan akan terus mampu menciptakan produktivitas yang tinggi, karena tingkat produktivitas perusahaan itu sendiri yang akan menentukan tingkat keberhasilan suatu perusahaan. Kontribusi terbesar dalam usaha meningkatkan produktivitas perusahaan adalah dengan kemampuan sumber daya manusia atau tenaga kerjanya. Dengan demikian perusahaan perlu meningkatkan produktivitas kerja karyawan semaksimal mungkin.
Produktivitas kerja merupakan tuntutan utama bagi perusahaan agar kelangsungan hidup atau operasionalnya dapat terjamin. Banyak hal yang dapat mempengaruhi produktivitas kerja, untuk itu perusahaan harus berusaha menjamin agar faktor-faktor yang berkaitan dengan produktivitas kerja dapat dipenuhi secara maksimal. Perilaku individu adalah segala hal yang dilakukan seseorang, baik dipengaruhi secara langsung maupun tidak langsung yang dapat mempengaruhi keberadaannya (prestasi) dan lingkungannya (rekan kerja, pimpinan dan organisasi). Hal ini berarti bahwa setiap tindakan yang dilakukan oleh seseorang akan memberi dampak pada lingkungan sekitar. Perilaku individu dapat bersifat positif (membangun) dan sebaliknya juga dapat bersifat negatif (merugikan).
Perusahaan menyadari pentingnya produktivitas kerja karyawan akan selalu memperhatikan faktor-faktor yang dapat mempengaruhi tingkat produktivitas kerja karyawan salah satunya kemampuan individu manusia.
PG X merupakan salah satu perusahaan gula di Malang dengan produksi gula berskala besar dan mempunyai karyawan yang banyak pula, dalam pabrik tersebut terdapat dua macam bagian karyawan yaitu karyawan staf dan Non staf, serta beberapa level jabatan yang sangat kompleks dengan karakter pekerja yang tentunya berbeda satu sama lain. Mulai dari staf kantor, produksi sampai pekerja kasar, yang mana perbedaan pekerjaan tersebut membutuhkan kemampuan yang berbeda pula. Sebagai perusahaan yang cukup berkembang maka PG X harus menunjukkan eksistensinya dengan tetap mempertahankan kinerja yang baik selama proses produksinya, sehingga produktivitas kerja akan maksimal.
Pada PG X, sumber daya manusia merupakan sarana utama bagi pemimpin untuk mencapai tujuan perusahaan yang diinginkan. Khususnya pada bagian produksi agar tercapai hasil produksi yang maksimal dengan tujuan menjaga kelangsungan hidup perusahaan dan karyawan mampu berprestasi secara optimal dalam bentuk produktivitas kerja. Tingkat produktivitas yang optimal itulah yang penting bagi PG X agar dapat memenuhi permintaan konsumen dengan lebih cepat dan disertai dengan kualitas yang baik pula.
Uraian tadi mendorong peneliti untuk melihat seberapa "PENGARUH FAKTOR KEMAMPUAN INDIVIDU DENGAN PRODUKTIVITAS KERJA KARYAWAN" (STUDI KASUS PADA PT PG X).

B. Rumusan Masalah
1) Apakah faktor kemampuan fisik (x1) dan kemampuan intelektual (x2) berpengaruh signifikan secara parsial terhadap produktivitas kerja karyawan (Y) ?
2) Apakah faktor kemampuan fisik (x1) dan kemampuan intelektual (x2) berpengaruh signifikan secara simultan terhadap produktivitas kerja karyawan (Y) ?
3) Faktor kemampuan individu (X) manakah yang paling dominan pengaruhnya terhadap produktivitas kerja karyawan (Y) ?

C. Tujuan Penelitian dan Manfaat Penelitian
1. Tujuan Penelitian
Dari rumusan masalah diatas dibuat beberapa tujuan penelitian, antara lain : 
1) Untuk mengetahui apakah ada pengaruh signifikan secara parsial antara faktor kemampuan fisik (x1) dan kemampuan intelektual (x2) terhadap produktivitas kerja karyawan (Y).
2) Untuk mengetahui apakah ada pengaruh signifikan secara simultan antara faktor kemampuan fisik (x1) dan kemampuan intelektual (x2) terhadap produktivitas kerja karyawan (Y).
3) Untuk mengetahui faktor kemampuan individu (X) manakah yang paling dominan pengaruhnya terhadap produktivitas kerja karyawan (Y).
2. Manfaat Penelitian
Penelitian ini di harapkan dapat memberikan manfaat bagi pihak-pihak sebagai berikut : 
1) Bagi Peneliti
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan wawasan kepada peneliti mengenai faktor yang mempengaruhi produktivitas kerja karyawan, khususnya yang berkaitan dengan kemampuan individu karyawannya.
2) Bagi Akademisi
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan tambahan informasi dalam perkembangan ilmu pengetahuan serta dapat menambah kepustakaan. Sehingga dapat digunakan sebagai referensi untuk penelitian selanjutnya.
3) Bagi Perusahaan
Penelitian ini diharapkan dapat digunakan perusahaan dalam meningkatkan produktivitas perusahaannya dengan mengembangkan kemampuan karyawan ke arah yang lebih baik.

D. Batasan Masalah
Penelitian di PT. PG X ini, di lakukan pada saat masa tutup giling, sehingga karyawan yang di jadikan responden sebagian besar adalah karyawan tetap, tidak diwakili oleh keseluruhan karyawan, yaitu di dominasi oleh karyawan bagian tata usaha kantor.

Posted by: Admin Indeks Prestasi Updated at: 09:55:00

IMPLEMENTASI LEARNING CYCLE 5E BERORIENTASI CHEMOENTREPRENEURSHIP UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN KIMIA POKOK BAHASAN LARUTAN ASAM DAN BASA

IMPLEMENTASI LEARNING CYCLE 5E BERORIENTASI CHEMOENTREPRENEURSHIP UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN KIMIA POKOK BAHASAN LARUTAN ASAM DAN BASA (KIMIA KELAS XI)



BAB I 
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah
Proses pembelajaran yang terjadi di lingkungan sekolah (pendidikan formal) sangat bergantung pada unsur-unsur yang ada di dalamnya yaitu tujuan, bahan, metode dan alat, serta penilaian. Namun kenyataan di lapangan menunjukkan bahwa unsur-unsur tersebut belum terpenuhi dengan baik. Proses pembelajaran yang dilakukan oleh sebagian guru dalam praktik pendidikan di sekolah selama ini lebih berpusat pada guru dan metode yang digunakan kurang bervariasi.
Ilmu kimia sebagai cabang ilmu pengetahuan alam mestinya mampu memberikan kontribusi yang cukup signifikan dalam meningkatkan kecerdasan siswa. Saat ini masih banyak siswa yang beranggapan bahwa mata pelajaran kimia bersifat abstrak dan sukar dipahami sehingga siswa mengalami kesulitan untuk mempelajarinya.
Larutan asam dan basa merupakan salah satu pokok bahasan dalam mata pelajaran kimia SMA. Dalam pokok bahasan larutan asam dan basa ini banyak konsep-konsep yang sangat dekat dengan kehidupan siswa. Oleh karena itu sangat penting bagi siswa untuk menguasai konsep larutan asam dan basa sehingga dapat mengaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari. Tetapi saat ini masih banyak guru yang kurang mengkaitkan materi dengan obyek nyata atau fenomena yang ada di sekitar siswa. Metode yang digunakan juga masih menggunakan metode ceramah.
Metode ini membuat siswa cenderung pasif dan hanya menerima saja materi -materi yang diajarkan guru sehingga pembelajaran bersifat verbal. Belajar secara verbal kurang membawa hasil bagi siswa. Oleh karena itu perlu dikembangkan suatu model pembelajaran yang dapat mengaktifkan siswa. Belajar sambil melakukan aktivitas lebih banyak mendatangkan hasil bagi siswa sebab kesan yang didapatkan oleh siswa lebih tahan lama tersimpan dalam benak siswa. Beberapa dalil, konsep, atau suatu rumus akan mudah terlupakan apabila tidak dipraktekkan dan dibuktikan melalui perbuatan siswa sendiri.
Berdasarkan wawancara dengan guru kimia dan observasi yang dilaksanakan di kelas XI SMA X, dapat diketahui bahwa hasil belajar, aktivitas dan kreativitas siswa di kelas tersebut masih rendah. Berdasarkan data nilai Ulangan Harian Terprogram, nilai siswa pada mata pelajaran kimia masih kurang dari standar ketuntasan belajar di SMA Ibu Kartini (nilai > 60). Nilai rata-rata kelas 48,04 dengan persen ketuntasan klasikal hanya 24%. Dari hasil wawancara dengan guru mata pelajaran kimia, jumlah siswa yang aktif dalam pembelajaran hanya sekitar 20% dan siswa yang memiliki kreativitas tinggi hanya sekitar 16%.
Ada beberapa faktor yang menyebabkan hasil belajar, aktivitas, dan kreativitas siswa rendah, diantaranya faktor guru, faktor siswa, dan faktor sarana prasarana di sekolah. Siswa menganggap mata pelajaran kimia sulit dipahami, siswa masih malu bertanya, dan hanya mau menjawab pertanyaan jika ditunjuk guru. Guru hanya menyampaikan materi dengan menggunakan metode ceramah dan jarang mengkaitkan materi dengan fenomena yang ada di sekitar siswa sehingga siswa kurang berminat mengikuti kegiatan pembelajaran. Hal ini menyebabkan kegiatan pembelajaran di kelas kurang efektif.
Proses pembelajaran kimia sangat penting untuk meningkatkan kualitas pembelajaran siswa, oleh karena itu perlu adanya perbaikan dalam proses pembelajaran. Guru dituntut untuk dapat merancang kegiatan pembelajaran yang dapat mengaktifkan siswa. Learning Cycle merupakan salah satu model pembelajaran yang dapat membuat siswa belajar secara aktif membangun konsep-konsepnya sendiri dengan cara berinteraksi dengan lingkungan fisik maupun sosial. Siswa mempelajari materi secara bermakna dengan bekerja dan berpikir sehingga pengetahuan dikonstruksi dari pengalaman siswa sendiri. Dengan demikian proses pembelajaran bukan lagi sekedar transfer pengetahuan dari guru ke siswa tetapi merupakan proses pemerolehan konsep yang berorientasi pada keterlibatan siswa secara aktif dan langsung. Proses pembelajaran demikian akan lebih bermakna dan menjadikan skema dalam diri siswa menjadi pengetahuan fungsional yang dapat diaplikasikan oleh siswa untuk menyelesaikan masalah dalam kehidupan sehari-hari.
Hasil penelitian yang pernah dilakukan dengan model pembelajaran Learning Cycle oleh Febriyanti (2006) diketahui bahwa penggunaan model belajar Learning Cycle dapat meningkatkan kreativitas dan hasil belajar siswa pada mata pelajaran fisika di SMP Laboratorium Universitas Negeri Malang. Dalam penelitian Sarjana (2008), model pembelajaran Learning Cycle juga dapat meningkatkan hasil belajar kimia materi kelarutan dan hasil kali kelarutan di SMAN 1. Hasil penelitian Winarno (dalam Rochmah, 2005 : 12) mengemukakan bahwa penggunaan model Learning Cycle dapat mewujudkan keteraturan dalam proses pembelajaran kimia sehingga siswa lebih mudah memahami suatu konsep dan dapat mengembangkan pengetahuan yang diperoleh dengan cara berperan aktif selama pembelajaran. Begitu juga Soebagio (2001 : 52), hasil penelitiannya menunjukkan bahwa pembelajaran dengan model Learning Cycle menjadikan pembelajaran lebih bermakna karena siswa secara langsung mengalami proses perolehan konsep dan memahami aplikasinya dalam kehidupan sehari-hari.

B. Identifikasi Masalah
Berdasarkan hasil observasi awal dan wawancara yang telah dilakukan di kelas XI SMA X, ada beberapa hal yang menyebabkan hasil belajar dan kreativitas siswa rendah diantaranya : 
Kondisi guru : 
1. Guru masih menggunakan pola lama, yaitu menyampaikan materi dengan ceramah.
2. Guru hanya mengajarkan materi yang ada di buku saja dan jarang mengaitkan materi dengan objek nyata/fenomena yang ada di sekitar siswa.
3. Guru jarang mengadakan kegiatan praktikum. Kegiatan praktikum yang dilaksanakan selalu terpaku pada materi bukan aplikasi sehingga belum menuntun siswa untuk berkreasi.
4. Guru hanya menilai hasil belajar siswa berdasarkan aspek kognitif saja sedangkan aspek afektif dan psikomotorik kurang diperhatikan. 
Kondisi siswa kelas XI : 
1. Siswa kurang aktif dalam pembelajaran dan cenderung hanya menerima materi yang diberikan guru.
2. Siswa kurang kreatif dalam pembelajaran, ditandai dengan siswa malu bertanya dan hanya mau menjawab jika ditunjuk guru.
3. Siswa menganggap kimia itu sulit.
4. Sebagian besar siswa berasal dari golongan ekonomi menengah ke bawah. 
Kondisi sarana dan prasarana : 
1. Pemanfaatan laboratorium belum maksimal.
2. Buku-buku kimia yang tersedia di perpustakaan masih kurang.
3. Peralatan dan bahan yang ada di laboratorium masih kurang sehingga tidak semua percobaan dapat dilakukan. Akibatnya pembelajaran kimia di SMA X kurang efektif artinya siswa belum benar-benar memahami materi yang diajarkan guru.
Berdasarkan identifikasi masalah diatas, dapat disimpulkan akar permasalahannya adalah proses pembelajaran yang kurang bervariasi dan kurang melibatkan siswa secara aktif dalam pembelajaran. Oleh karena itu, peneliti bermaksud untuk meningkatkan kualitas pembelajaran kimia pada pokok bahasan larutan asam dan basa siswa kelas XI SMA X dengan mengimplementasikan Learning Cycle 5E berorientasi CEP (Chemo Entrepreneurship). Yang dimaksud dengan kualitas pembelajaran di sini yaitu hasil belajar, aktivitas, dan kreativitas siswa.

C. Permasalahan
Permasalahan penelitian adalah bagaimanakah perencanaan dan pelaksanaan model pembelajaran Learning Cycle 5E berorientasi CEP dapat meningkatkan kualitas pembelajaran kimia di kelas XI SMA X ?

D. Pemecahan Masalah
Berdasarkan permasalahan diatas maka pemecahan masalah yang dipilih adalah dengan cara : 
1. Menganalisis penyebab mengapa para siswa cenderung memiliki hasil belajar rendah, kurang aktif dan kreatif dalam kegiatan pembelajaran. 
2. Menerapkan model pembelajaran Learning Cycle 5E berorientasi CEP (Chemo Entrepreneurship) sebagai strategi untuk mengatasi permasalahan-permasalahan yang ada.

E. Tujuan Penelitian
Tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah : 
1. Tujuan Umum
Meningkatkan kualitas pembelajaran yang ditunjukkan dengan meningkatnya jumlah siswa yang memiliki pemahaman yang lebih baik terhadap konsep larutan asam dan basa.
2. Tujuan Khusus Pada akhir penelitian : 
a. Sekurang-kurangnya 85% siswa mencapai ketuntasan belajar (mendapat nilai > 60).
b. Sekurang-kurangnya 85% siswa mengalami peningkatan aktivitas.
c. Sekurang-kurangnya 85% siswa mengalami peningkatan kreativitas.

F. Manfaat Penelitian
Adapun penelitian ini diharapkan dapat mempunyai manfaat sebagai berikut : 
1. Bagi siswa, dapat meningkatkan hasil belajar, aktivitas, dan kreativitas dalam pembelajaran.
2. Bagi guru, sebagai bahan pertimbangan dan informasi dalam memilih pendekatan pembelajaran yang efektif dan efisien, sehingga dapat meningkatkan aktivitas, kreativitas, dan hasil belajar siswa.
3. Bagi sekolah, memberikan perbaikan kondisi pembelajaran, sehingga dapat membantu menciptakan panduan pembelajaran dan bahan pertimbangan dalam membuat keputusan penggunaan pendekatan yang akan diterapkan.

Posted by: Admin Indeks Prestasi Updated at: 14:07:00

PERUBAHAN POLA MENSTRUASI PADA 9 BULAN PERTAMA KB SUNTIK DMPA DI KLINIK

PERUBAHAN POLA MENSTRUASI PADA 9 BULAN PERTAMA KB SUNTIK DMPA DI KLINIK

A. Latar Belakang
Keluarga Berencana (KB) merupakan salah satu pelayanan kesehatan preventif yang paling dasar dan utama bagi wanita. Meskipun tidak selalu diakui demikian, peningkatan dan perluasan pelayanan Keluarga Berencana merupakan salah satu usaha untuk menurunkan angka kesakitan dan kematian ibu yang sedemikian tinggi akibat kehamilan yang dialami oleh wanita.

Banyak wanita harus menentukan pilihan kontrasepsi yang sulit, tidak hanya karena terbatasnya jumlah metode yang tersedia tetapi juga karena metode-metode tertentu mungkin tidak dapat diterima sehubungan dengan kebijakan Nasional KB, kesehatan individual atau biaya untuk memperoleh kontrasepsi (Maryani, 1998).

Memasuki awal tahun pertama Pembangunan Jangka Panjang Tahap II Pembangunan Gerakan Keluarga Berencana Nasional masih tetap ditujukan terutama untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia. Keluarga sebagai kelompok sumber daya manusia terkecil yang mempunyai ikatan batiniah dan lahiriah. Di mana merupakan pengembangan sasaran dalam mengupayakan terwujudnya visi Keluarga Berencana Nasional yang kini telah diubah visinya menjadi "Keluarga Berkualitas Tahun 2015" keluarga yang berkualitas adalah keluarga yang sejahtera, sehat, maju, mandiri, memiliki jumlah anak yang ideal, berwawasan kedepan, bertanggung jawab, harmonis, dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. Misinya sangat menekankan pentingnya upaya menghormati hak-hak reproduksi, sebagai upaya integral dalam meningkatkan kualitas keluarga. (Sarwono,2003)
Keluarga berencana merupakan tindakan untuk membantu individu atau pasangan suami istri mendapat objek tertentu, menghindari kelahiran yang diinginkan, menghindari interval di antara kehamilan, mengontrol waktu saat kelahiran dan hubungan dengan suami istri, serta menentukan jumlah anak dalam keluarga (Hanafi H. 2004).
Dalam pelaksanaan Keluarga Berencana, pemerintah menganjurkan penggunaan kontrasepsi yang merupakan upaya untuk mencegah terjadinya kehamilan (Sarwono P,2002 hal 902). Seperti yang kita ketahui ada beberapa metode kontrasepsi seperti metode sederhana, kontrasepsi hormonal, alat kontrasepsi dalam rahim (AKDR), dan kontrasepsi mantap.

Salah satu metode kontrasepsi hormonal yang populer di Indonesia adalah metode suntikan. Terdapat dua jenis suntikan yakni sediaan kombinasi dan long action progestin. Kontrasepsi suntikan progestin (long action progestin) terdiri dari dua jenis Depo Medroksi Enatat (Depo Noristat) dan Depo Medroxi Progesteron Asetat (DMPA). DMPA tersedia dalam bentuk mikro cristal yang tersuspensi dalam larutan akuosa dengan dosis kontrasepsi 150 mg, DMPA disuntikan secara intramuskular pada otot gluteal atau deltoid yang diberikan setiap 3 bulan sekali. (Leon Speroff, 2005).

Cara kerja DMPA dengan cara mencegah ovulasi mengentalkan lendir serviks, menjadikan selaput lendir rahim tipis atau atropi, serta menghambat transportasi garnet ke tuba. Keuntungan penggunaan DMPA yakni sangat efektip mencegah kehamilan dalam jangka waktu panjang dan tidak memiliki pengaruh terhadap ASI. Sedangkan keterbatasannya yaitu sering di temukan gangguan haid (terganggunya pola haid diantaranya adalah amenorhoe, menoragia dan muncul bercak (spotting), klien tergantung pada sarana pelayanan, terlambatnya kembali kesuburan setelah penghentian pemakaian, terdapatnya beberapa keluhan seperti di bawah ini seperti nyeri kepala, kekeringan pada Mrs. V, peningkatan berat badan, gangguan emosi, nervositas, jerawat, dan penurunan libido (Sarwono P 2004 hal 41).

Penelitian yang dilakukan oleh Lia Ayu Yuliani (2004) dengan judul Hubungan antara penggunaan alat kontrasepsi Depo Provera dengan siklus menstruasi. Jenis penelitian yang digunakan adalah deskriptif analitik dengan pendekatan cross-sectional dengan analisis statistik yang digunakan adalah uji korelasi non parametris dengan teknik koefisien kontingensi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 44 akseptor (97,8%) mengalami gangguan menstruasi berupa : amenorrhoea 43 kasus (55,3%), menorrhagia 12 kasus (15,4%), metrorrhagia 6 kasus (7,8%) dan spotting 15 kasus (19,3%), serta 1 akseptor (2,2%) tidak mengalami gangguan Menstruasi

Dokumentasi hasil pelayanan terhadap beberapa peserta KB diketahui adanya perubahan pola haid .Dalam rangka aksepbilitas program metode kontrasepsi suntik DMPA dan efek sampingnya maka penulis tertarik untuk mengadakan penelitian tentang "Perubahan Pola Menstruasi Pada 9 Bulan Pertama Dalam Aseptor KB Suntik (DMPA) di. Klinik X"

B. Rumusan Masalah
Belum diketahui perubahan pola menstruasi yang terjadi Pada 9 Bulan Pertama aseptor KB suntik DMPA di Klinik X.

C. Tujuan Penenelitian 
1. Tujuan Umum
Untuk mengidentifikasi Perubahan Pola Menstruasi Pada 9 Bulan Pertama Pemakaian Aseptor KB Suntik DMPA Di Klinik X.
2. Tujuan Khusus
1. Untuk mengidentifikasi yang tidak mengalami haid pada 9 Bulan Pertama Aseptor KB Suntik DMPA di Klinik X.
2. Untuk mengidentifikasi perdarahan berupa bercak /spotting pada 9 Bulan Pertama Aseptor KB Suntik DMPA Di Klinik X.
3. Untuk mengidentifikasi perdarahan di luar siklus menstruasi pada 9 bulan Pertama Aseptor KB Suntik DMPA Di Klinik X.

D. Manfaat Penelitian
1. Bagi Klinik Bersalin
Sebagai sumber informasi untuk pelaksanaan program pelayanan kontrasepsi
2. Bagi institusi dan Pendidikan
Sebagai bahan referensi untuk melakukan penelitian yang sejenis dan lebih mendalam
3. Bagi peneliti
- Menerapkan dan mengembangkan ilmu yang di dapat selama perkuliahan.
- Sebagai bahan masukan dalam memberikan penyuluhan kepada WUS (wanita usia subur)
- Meningkatkan kemampuan berkomunikasi dengan masyarakat.

Posted by: Admin Indeks Prestasi Updated at: 11:50:00

PENGARUH PEMBERIAN INSENTIF TERHADAP KOMITMEN KERJA KARYAWAN

SKRIPSI PENGARUH PEMBERIAN INSENTIF TERHADAP KOMITMEN KERJA KARYAWAN PT. BANK RAKYAT INDONESIA



BAB I 
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Perbankan pada dasarnya merupakan organisasi (badan usaha) yang digerakkan oleh sumber daya manusia untuk mencapai suatu tujuan. Perbankan membutuhkan Sumber Daya Manusia (SDM) yang terampil dan kompeten. Keberhasilan suatu perusahaan atau organisasi sangat ditentukan oleh kegiatan pendayagunaan SDM, yaitu orang-orang yang menyediakan tenaga, bakat kreativitas dan semangat bagi perusahaan serta memegang peranan penting dalam fungsi operasional perusahaan. Sumber daya manusia harus selalu diperhatikan, dijaga, dipertahankan serta dikembangkan oleh organisasi (Killian dan Siagian, 1995 dalam Koeswara dan Santoso, 2008).
Perbankan merupakan dunia bisnis yang melibatkan kepercayaan. Pertumbuhan suatu bank sangat tergantung pada pelayanan para karyawan kepada nasabah dan tingkat komitmen karyawan terhadap perusahaan. Salah satu strategi yang dikembangkan untuk mempertahankan karyawan yang kompeten adalah dengan menciptakan karyawan yang loyal dan berkomitmen pada organisasi.
Karyawan adalah seseorang yang bekerja pada suatu organisasi dengan tenaga (fisik dan pikiran) dan memperoleh balas jasa sesuai dengan peraturan dan perjanjian (Hasibuan, 2005). Karyawan yang sudah terpenuhi segala kebutuhannya maka akan memiliki komitmen terhadap organisasi (Malthis dan Jackson, 2001).
Komitmen karyawan yang tinggi dapat mempengaruhi usaha suatu perusahaan secara positif dan membuat karyawan mendukung semua kegiatan perusahaan secara aktif. Komitmen karyawan diperlukan oleh perusahaan dan merupakan faktor penting bagi perusahaan dalam rangka mempertahankan kinerja perusahaan.
Karyawan dijadikan sebagai komponen penting dalam menghadapi persaingan yang ketat, karena dengan menggunakan karyawan yang loyal dan berkomitmen akan menghasilkan hasil yang positif, yang ditandai dengan meningkatnya produktifitas dan profitabilitas. Karyawan yang berkomitmen juga akan tetap berada dalam perusahaan, melindungi asset perusahaan serta berbagi keyakinan dan tujuan dengan perusahaan (Allen dan Meyer, 1997 dalam Koeswara dan Santoso, 2008).
Pemberian insentif merupakan cara yang tepat untuk memotivasi karyawan, sebab dengan diberikannya insentif yang adil, proporsional, dan bersifat progressive, yang artinya sesuai dengan jenjang karir, maka akan memacu kinerja para karyawan agar selalu optimal. Pimpinan yang adil dan bijaksana, perusahaan tempat kerja yang dihargai masyarakat dan perusahaan yang mempunyai nama baik akan membuat karyawan betah dan memiliki komitmen yang kuat untuk tetap bekerja di perusahaan tersebut.
Bank Rakyat Indonesia cabang X merupakan badan usaha yang bergerak di bidang perbankan. Badan usaha yang pertumbuhannya sangat tergantung pada besarnya dana pihak ketiga yang dihimpun dan disalurkan kembali ke masyarakat. Perusahaan ini berperan penting dalam pertumbuhan ekonomi suatu negara untuk masa yang akan datang, sehingga perusahaan harus terus-menerus meningkatkan pelayanan kepada nasabah, kinerja dan profitabilitas perusahaan agar mampu mempertahankan dan meningkatkan sumbangan bidang perbankan bagi masyarakat dan negara.
Karyawan Bank Rakyat Indonesia cabang X diberikan insentif agar karyawan dapat memberi pelayanan (service) yang baik bagi nasabah dan diharapkan memiliki komitmen kerja terhadap badan usaha.
Berdasarkan pertimbangan di atas, maka penulis tertarik untuk melakukan penelitian dengan judul : "PENGARUH PEMBERIAN INSENTIF TERHADAP KOMITMEN KERJA KARYAWAN PT. BANK RAKYAT INDONESIA CABANG X". 

B. Perumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan sebelumnya, maka penulis merumuskan permasalahan sebagai berikut : "Apakah insentif berpengaruh dan signifikan terhadap komitmen kerja karyawan pada Bank Rakyat Indonesia Cabang X ?".

C. Tujuan Penelitian
Tujuan penulis melakukan penelitian ini adalah untuk mengetahui dan menganalisis pengaruh pemberian insentif terhadap komitmen kerja karyawan PT. Bank Rakyat Indonesia cabang X.

D. Manfaat Penelitian
a. Bagi perusahaan yang diteliti
Penelitian ini dapat mengetahui kendala-kendala yang dihadapi dan berusaha untuk memecahkan masalah-masalah yang berkaitan dengan sistem insentif dan pengaruhnya terhadap komitmen kerja karyawan.
b. Bagi penulis
Penelitian ini dapat digunakan ntuk menambah pengetahuan dan wawasan yang berkaitan dengan sistem insentif serta hubungannya terhadap komitmen karyawan sebagai kajian dalam bidang manajemen.
c. Bagi peneliti lanjutan
Penelitian ini dapat memberikan perbandingan dalam mengadakan penelitian yang terkait dengan insentif terhadap komitmen kerja karyawan.

Posted by: Admin Indeks Prestasi Updated at: 09:58:00

TEACHERS TECHNIQUES IN TEACHING SPEAKING SKILL

TEACHERS TECHNIQUES IN TEACHING SPEAKING SKILL



CHAPTER I 
INTRODUCTION

This chapter describes the general issues related to the introduction of this study. The issues cover background of the study, research questions, the purpose of the research, the significance of the study, the definition of the terms, and thesis organization.

A.. Background of the Study
English has become a lingua franca, a language which is internationally used by people with different first language background (Harmer, 2001), and which is used for communication by more than one billion people around the world (see Johnson, 2001). This makes English an important tool that everyone should master; making it one important school subjects in most schools in the world.
In Indonesia, English has been taught and received serious attention in all levels of study, i.e. Elementary School, Junior High School, and Senior High School. The goal of teaching English in Indonesia, and probably in most schools in the world, is the students' ability to use English for communication through four language skills, i.e. listening, speaking, reading, and writing.
Among other language skills, mastery speaking which is "the basic means of human communication" (Lazarton, 2001 : 103) and English speaking which has become "the most demanding skill" ((Bailey & Savage, 1994 in Lazarton, 2001) is a must. This is due to the fact that most learners often evaluate their success in language learning as well as the effectiveness of their English course on the basis of how much they feel they have improved in their speaking proficiency (Richards, 2008).
Besides the importance of speaking skill, learning speaking in second or foreign language, has a great challenge. Brown (1994 in Lazarton, 2001) mentions a number of features that interact to make speaking as challenging as it is. First, fluent speech contains reduced forms, such as contractions, vowel reduction, and elision, so that learners who are not exposed to or who do not get sufficient practice with reduced speech will retain their rather formal-sounding full forms. Second, students must also acquire the stress, rhythm, and intonation of English. In line with that, Lazarton (2001 cited in Celce-Murcia, 2001 : 103) states that perhaps the most difficult aspect of spoken English is that it is almost always accomplished via interaction with at least one other speaker. This means that a variety of demands are in place at once : monitoring and understanding the other speakers, thinking about one's own contribution, producing that contribution, monitoring its effect, and so on.
To cope with the challenges of teaching speaking, the language teachers are required to be able to create and employ certain techniques in order to achieve the goal of language learning and teaching for speaking skill. By this, it means that the teacher plays an important role in determining what technique can best encourage students' participation in the learning process. This is supported by Celce-Murcia, 1979 who mentions that teacher needs to know the strategies and exercises to ensure that each is getting a relevant practice in speaking English in order to develop his fluency and confidence. In line with that, Rahmawati (2008) proposes that teacher, particularly in speaking instruction, is always expected to provide an engaging-students techniques to make them able to explore their experiences and idea in oral way.
In teaching speaking skill, the teachers are expected to be able to promote students' speaking skill by employing several types of techniques such as discussion, speeches, role plays, conversation, audio taped oral dialogues journal and other accuracy-based activities (Lazarton in Celce-Murcia, 2001 : 106). Thus, it is expected that the strategies will explore the students' speaking performance.
Among other language skills taught in EFL schools, speaking skill has been likely received little concern by investigators since the complexity and impracticality of this skill to be investigated (See Lengkanawati, 2007). Therefore, this study attempts to investigate the teaching of speaking skill particularly the English teacher's techniques in teaching speaking skill. Besides, it also investigates the students' responses to those techniques.

B. Research Questions
Based on the consideration above, this study is focused on the research questions as follows : 
1. What techniques does the teacher use in teaching speaking skill ?
2. What are the students' responses to the teacher's techniques ?

C. Aims of the Study
Related to the research questions above, this study aims to : 
1. investigate the English teachers' techniques in teaching speaking skill,
2. identify the students' responses to the techniques used by the teachers in teaching speaking skill.

D. Significance of the Study
It is expected that the result of this study will be useful for those who participate in teaching English as a foreign language. They are involved : first, the teachers of English; second, the education officers and the school stake holders who hold and facilitate any kinds of teachers training; third, the writer as the researcher would like to meet the magister degree; and fourth, the other researchers who are interested in conducting the same field of study.

E. Thesis Organization
This thesis consists of five chapters. Chapter one is general introduction that relates to the background of the study. Chapter two discusses the literature review as the basic guidelines which underpinning the study. Chapter three presents the methodology of the research. This involves the data collection techniques and instruments used in conducting the research. Chapter four is about data presentation and data analysis in the study. And the last, chapter five presents conclusion and offers some recommendation.

Posted by: Admin Indeks Prestasi Updated at: 09:28:00

THE TEACHING OF ENGLISH LANGUAGE LEARNING TO YOUNG LEARNERS A DESCRIPTIVE STUDY AT THREE KINDERGARTENS

THE TEACHING OF ENGLISH LANGUAGE LEARNING TO YOUNG LEARNERS A DESCRIPTIVE STUDY AT THREE KINDERGARTENS



CHAPTER I
INTRODUCTION

A. Background
English as an International language is needed by all levels of education to be mastered. This has made educators from all levels of education try to facilitate the best way of teaching and learning English. As a result, the teaching and learning English has been placed in a very important position and has been taught in almost all countries in the world.
In Indonesian teaching context, English is a foreign language that becomes a compulsory subject in all schools from lower secondary to upper secondary schools. It is where the department of education and culture number 060/U/1993 includes English into curriculum for the elementary level of education as one of the local content subjects from grade four to grade six (www.depdiknas.go.id). In addition, Suyanto (2008 : 15) states that now English is also introduced to preschool where the students are grouped into very young learners.
In relation to this, many parents send their young learners to schools that offer a good English program. They do this with an assumption that learning foreign language will be much easier at an early age. Hence, young learners have a better chance to be successful in acquiring foreign language. Actually, there are many other factors that will determine the success of language learners such as exposure, support, engagement, teachers' confidence, capabilities and sponsorship (Musthafa, 2008 : 4).
In line with this, Suyanto (2008 : 15) notes that the maturity of students are not simply from the age but also from any other factors, such as environment, cultural, interest, and the influence of parents. Furthermore, Nunan (1999) says that whether or not it's a 'good thing' to begin a foreign language for very young learners (4-5 years old) will depend on many factors including the amount of time the kids are given, the competence of the teachers, the quality of the resources etc.
As mentioned above, in Indonesian teaching context English is included into curriculum for the elementary level of education and many studies have been investigating the process of teaching and learning English to young learners in elementary level. Furthermore, the researcher tries to consider about the process of teaching and learning English to young learners or early childhood education, where the age range of the students is around four to six years old. This study will focus on the process of teaching and learning English to young learners, the process of English language assessment to young learners as well as the effect of these processes. Hopefully the findings of this study will provide an insight of the process of teaching and learning as well as assessment to young learners. It is also expected that this study will contribute some lucid information on how teaching and learning as well as assessment should be carried out. Hence, there will be improvement on the way teachers teach and assess to young learners.
Since in this study there will be a discussion about assessment, there will be a definition about assessment which is related to the study. Assessment is the process of data analysis that teachers use to get evidence about their learner's performance and progress in English (Pinter, 2006 : 131). In terms of purpose, assessment is needed by administrators, teachers, staff developers, students and parents assist in determining appropriate program placements and instructional activities as well as in monitoring students' progress (O'Malley and Pierce, 1996 : 3). More specifically, all teachers need to know how effective their teaching is and all learners are interested in how well they are doing. Since assessment is the teaching and learning process, therefore it is an integral part of teaching and learning and it occurs all the time.

B. Research Questions
Relevant to the main points explained above, the questions in this research are formulated as follows : 
1) What is the process of teaching and learning English language to young learners in some kindergartens in northern part of X ?
2) What is the process of assessment of English language to young learners in these kindergartens ?
3) What is the effect of these processes to young learners in these kindergartens ?

C. Purpose of the Study
In line with the research questions mentioned above, the aims of this research are specified into the following points : 
1) To identify the process of teaching and learning English language to young learners in some kindergartens classroom in northern part of X.
2) To identify the process of assessment of English language to young learners in those kindergartens.
3) To identify the effect of these processes to young learners in these kindergartens.

D. Definition of Terms
- Young learners : children are at preschool or in the first couple of years of schooling (Pinter, 2006 : 2).
- Teaching : work of a teacher, idea or belief that is taught (Oxford Learner's Pocket Dictionary, 1995 : 425)
- Assessment : calculating the value of something (Oxford Learner's Pocket Dictionary, 1995 : 21). According to Pinter (2006 : 131) Assessment is the process of data analysis that teachers use to get evidence about their learner's performance and progress in English.

E. Significance of the Study
This study will provide an insight of how English language learning is conducted in terms of the process of teaching and learning, assessment and the effect of these processes to young learners. Findings of the study will give empirical evidence of the process of teaching and learning, the process of assessment of English language and the effect of these processes to young learners at some kindergartens in northern part of X. The results of this study hopefully make teachers are aware of the crucial things in teaching and assessing English language learning to young learners.

Posted by: Admin Indeks Prestasi Updated at: 09:25:00

IMPROVING STUDENTS READING SKILL THROUGH INTERACTIVE APPROACH

IMPROVING STUDENTS READING SKILL THROUGH INTERACTIVE APPROACH



CHAPTER I 
INTRODUCTION

A. Background of Study
Reading is a crucial skill for students both English as a Second Language (ESL) and English as a Foreign Language (EFL). By reading activities, in the writer's view, the students can get information that is needed and they can broaden their horizons. Moreover, ESL/EFL readers will make greater progress and attain greater development in all academic areas. Besides, indirectly they can communicate and interact with the people who have a different language, social and cultural background.
According to Anderson (1999 : 1), reading is an active, fluent process that involves the reader and the reading material in constructing the meaning. Furthermore, he notes that meaning does not reside on the printed page, nor is it only in the head of the reader. It means that reading can be constructed by combining the words on the printed page with the reader's background knowledge and experiences. Consequently, the teaching of reading should involve activities which connect the ideas on the text to what students already know.
In relation to the objective of teaching of English at senior high schools, the National Curriculum Board of Education (BSNP, 2006) targets the students at the information level. At this level, the students are supposed to understand various genres of English written texts, i.e. procedure, descriptive, recount, narrative, report, news item, analytical exposition, spoof, explanation, discussion, review and public speaking to access knowledge. It means that the teaching of reading will not be successful if the students can only read words without understanding the message being read. In other words, whatever we read should be well understood. Smith and Robinson (1980) argue that comprehension means understanding. This means that reading comprehension is a process of thought where the readers understand the writer's ideas and interpret them into his or her own needs.
In achieving the objective above, English teachers sometimes have many problems on how to improve the students' ability in reading. Based on the researcher's experiences and informal observation, it is found that most students at senior high school level frequently find it hard to understand English texts though the text is simple. It is difficult for them to find the word and sentence meaning contextually, get the main ideas, paragraph, comprehend the ideas' text and find the view of writer.
The difficulty may be due to the students' linguistic deficiencies. The students often lack of vocabulary or they may know a word but with a different meaning. Moreover, the students may be unfamiliar with grammatical structures. These deficiencies may lead students to inaccurate reading, which result in erroneous interpretation (Tamar Feuerstein and Miriam Schcolnik, 1995). In addition, they frequently, in reading English text rely on their language competency more-or bottom- up reading text-and less activate their background knowledge (top-down reading text).
Another difficulty may also be due to insufficient teaching of the skill in a structured way (Yuil & Oakhill, 1991 in Aarnoutse, 1999). Based on the researcher's observation, in many schools, reading instruction seems not to focus on the content of passage. They traditionally teach reading by answering questions based on the text and finding out unfamiliar words in dictionary. The main activities are mostly dominated by reading aloud, translating the texts and answering text-based questions presented in the text book used in teaching. They do not activate the students' background knowledge before reading activities. Consequently, this overemphasis act on decoding sometimes produces students who can decode and pronounce words but fail to comprehend what they read. They even get bored involving in reading instructions.
To overcome the above difficultness and to develop the students' reading skill, interactive approach becomes an alternative solution to be used in teaching. This approach is considered as more comprehensive one since it emphasizes not only on how students decode the text but also how they interpret the text as Eskey (1988) states that good readers are both good decoders and good interpreters of text.
With respect to interactive approach, there are two approaches of reading that become the basic principle of interactive approach. The first one is bottom up processing. This theory emphasizes on developing basic skill, matching sounds to the letters, syllables and words in the text, and the second one is top down processing. It stresses on the reader's background knowledge to comprehend the text. Bottom up approach is associated with teaching methodology called phonics and top down is related to the schema theory. Both of approaches have strength and weakness. Bottom up is more appropriate used to the students in the basic level while top down to the higher level. The third is interactive approach. This approach combines both bottoms up and top down (Elba in Max Koller, (Ed.), and 2006 : 8).
According to Stanovich (1980 in Carell, et.all 1990 : 31) interactive model of reading appear to provide a more accurate conceptualization of reading performance than strictly top down or bottom-up models. From this view, it can be stated that interactive can be best applied in teaching reading both for lower and higher level.
A recent research, conducted by Liu, et.al. (2007), on teaching reading has shown that an interactive model is effective in improving students' reading comprehension due to the importance of both processes. In practice, a reader continually changes from one focus to another. It means that besides a reader needs a top-down to predict meaning, he requires bottom up approach to check whether that is really what the writer said (Nutall, cited in Brown, 2001 : 299).
As an interactive links to bottom up, Eskey (1988) asserts that structure of the language of the text contributes much more to the readers' reconstruction of meaning than strictly top down theorists. Similar to Eskey view, Carell (1988) states that both processes interacting are efficient and effective reading in spite of the fact that top down processing is strongly linked to the teaching of reading.
To examine the effectiveness of interactive approach in teaching reading comprehension, this study involved grammar translation method as applied in control group. This method used in this study as comparison to interactive approach because it has been commonly used in teaching reading at MA X. In teaching reading comprehension, this method emphasizes on translating text from target language to native language. It also focuses on answering comprehension question.
Referring to the phenomena above, this research attempts to investigate the application of interactive approach proposed by Eskey (1988) as one of many reading strategies. This study intends to help students improve their reading skill by practicing both bottom-up and top-down model reading activities. In bottom-up model students are trained to develop their vocabulary and knowledge of structure. In top-down model, students are trained to activate their background knowledge before reading to predict the text. 

B. Statement of the Problem
Reading comprehension is a complex task and a difficult skill for many students. As a result, students' achievement in reading comprehension is still far from being expected. Consequently, teachers need to teach comprehension strategies in order to improve students' comprehension. This phenomenon has become the researcher's starting point in conducting his study. Thus, this study attempts to investigate the effects of the application of interactive approach to develop students' comprehension in reading compared to grammar translation method.

C. Research Questions
Based on the background of study, the research problem can be formulated as follows : 
- Is there a significant difference between students who are trained on applying interactive approach with those are trained with grammar translation one ?

D. Hypothesis
There is no a significant difference between students who are trained on applying interactive approach with those are trained with grammar translation method.

E. The Purpose of the Study
The purpose of the study is to investigate the effects of the application of interactive approach in teaching reading comprehension. The study specifically attempts to find out whether the interactive approach can be used to develop students' ability in reading comprehension.

Posted by: Admin Indeks Prestasi Updated at: 09:22:00