Cari Kategori

Pembelajaran Fisika Menggunakan Pendekatan Ketrampilan Proses Ditinjau Dari Kemampuan Pemahaman Konsep Terhadap Kemampuan Kognitif Siswa

Pembelajaran Fisika Menggunakan Pendekatan Ketrampilan Proses Ditinjau Dari Kemampuan Pemahaman Konsep Terhadap Kemampuan Kognitif Siswa Pada Pokok Bahasan Kinematika Gerak Lurus SMA Tahun Ajaran X

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah
Pendidikan merupakan suatu kegiatan yang universal dalam kehidupan manusia. Pendidikan bagi manusia adalah proses, menemukan, menjadi dan memperkembangkan diri sendiri dalam keseluruhan dimensi kepribadian. Dalam dunia pendidikan formal tidak lepas dari proses pendidikan yaitu proses belajar mengajar. Pokok dari proses pendidikan adalah siswa yang belajar. “Adapun fungsi pendidikan adalah untuk membimbing anak kearah suatu tujuan yang bernilai tinggi yaitu agar anak tersebut bertambah pengetahuan dan ketrampilannya serta memiliki sikap yang benar” (Tabrani, 1989:15).
Pendidikan yang baik adalah usaha yang berhasil membawa semua anak didik kepada tujuan yang diharapkan. Untuk itulah guru dituntut untuk merencanakan dan melaksanakan proses belajar mengajar berdasarkan GBPP kurikulum SMA Mata Pelajaran Fisika. Untuk menjalankan fungsi tersebut beberapa unsur pokok GBPP yakni konsep dan subkonsep, tujuan pembelajaran menjadi titik tolak pengembangan kegiatan belajar mengajar dan dalam aplikasinya untuk pemilihan buku pegangan siswa yang relevan. Unsur yang tercakup dalam pendidikan sekolah (pengajaran), meliputi subyek didik (guru, siswa dan tenaga kependidikan non guru), tujuan, bahan, pendekatan, metode-strategi teknik, peralatan, penilaian, administrasi, dan pengaruh lingkungan yang perlu dijalin dalam tata hubungan yang serasi, saling mempengaruhi serta saling tergantung, yang kesemuanya berorientasi dan hendaknya berdampak positif bagi pembentukan diri siswa (Pendekatan sistem). Bahan pengajaran sebagai salah satu unsur yang tercakup dalam komponen pendidikan, dalam usaha untuk meningkatkan mutu kualitas pengajaran maka bahan pengajaran perlu ditingkatkan dalam proses penyampaian dan penyusunannya dalam pengajaran. Bahan yang disampaikan dalam pengajaran fisika haruslah menyesuaikan dengan kurikulum. Pendidikan fisika menekankan pada pemberian pengalaman secara langsung dalam arti bekerja ilmiah sebagai lingkup proses.
Dalam hal ini siswa perlu dibantu untuk mengembangkan sejumlah ketrampilan proses untuk memahami perilaku atau gejala alam. Ketrampilan proses ini meliputi ketrampilan mengamati dengan indera, ketrampilan menggunakan alat dan bahan, merencanakan eksperimen, mengajukan pertanyaan, menggolongkan, menafsirkan data dan mengkomunikasikan hasil temuan untuk menguji gagasan-gagasan atau memecahkan masalah. Berdasarkan hal itu maka seseorang guru harus mampu melaksanakan pembelajaran secara efektif dan efisien. Disamping itu, guru dituntut untuk memiliki kemampuan melibatkan siswa secara aktif selama kegiatan pembelajaran berlangsung dan kemampuan untuk menciptakan suasana yang menunjang tercapainya tujuan pembelajaran. Proses belajar mengajar (PBM) merupakan salah satu aktivitas pendukung bagi seorang pendidik yang sadar akan tujuan pembelajaran atau instruksional disamping tujuan kurikuler yang dapat dirumuskan dan ditetapkan sebelum berlangsungnya proses belajar mengajar yang termuat dengan jelas dan tegas pada Satuan Acara Pembelajaran (SAP). Namun demikian, masih banyak proses belajar mengajar belum dapat mencapai hasil optimal dalam keseluruhan tujuan tersebut. Umpamanya pada setiap ujian komprehensif masih ada sebagaian siswa yang mengalami kesulitan dalam menjawab pertanyaan-pertanyaan penguji yang menghendaki jawaban yang aplikatif atau demonstratif, seperti praktikum laboratorium. Kondisi tersebut menuntut lembaga pendidikan untuk melakukan pembaharuan dalam metode pengajarannya. Konsep metodologi pengajaran yang baik adalah multimethod, terutama adalah penggunaan metode demonstrasi dan tanya jawab yang berkesinambungan dan menyeluruh sebagai upaya pencapaian tujuan instruksional, yaitu unsur kognitif.
Metode merupakan salah satu faktor penting dalam proses belajar mengajar guna mencapai tujuan pengajaran. Tujuan pengajaran itu terdiri atas unsur kognitif, unsur afektif dan unsur psikomotorik. Variasi metode juga sangat mempengaruhi model mengajar seorang pendidik. Berfungsinya metode demonstrasi dalam proses belajar mengajar memungkinkan tercapainya tujuan pengajaran unsur kognitif. Sedangkan penerapan pembelajaran metode diskusi informasi dapat dilaksanakan baik dalam kegiatan pembelajaran tatap muka maupun pembelajaran yang dimediakan. Metode pembelajaran diskusi informasi juga dapat diterapkan pada berbagai bidang studi. Dapat dilakukan pula antara guru dengan seluruh kelas, guru dengan sekelompok siswa, siswa dengan siswa dalam kelompok, dan siswa dengan siswa dalam kelas. Dengan demikian, yang dapat menjadi pemimpin diskusi tidak hanya guru, tetapi lebih baik jika guru memimbing siswa agar mampu memimpin diskusi. Kalau demikian guru dikatakan berhasil.
Tiga kategori kognitif pertama termasuk dalam tingkatan kognitif rendah dan ketiga kategori terakhir termasuk dalam tingkatan kognitif tinggi sedangkan pertanyaan yang berkaitan dengan ketrampilan berpikir siswa yaitu pertanyaan yang diajukan oleh guru selama pembelajaran yang dapat memacu siswa untuk berpikir, sehingga siswa tersebut dapat mengetahui, memahami, menerapkan, menganalisis, mensintesis, mengevaluasi materi pelajaran atau informasi sehingga akhirnya menemukan kemungkinan-kemungkinan jawaban yang tepat berkaitan dengan permasalahan yang dihadapi. Pada akhirnya, pendekatan ketrampilan proses melalui metode demonstrasi dan diskusi diharapkan dapat tercapainya prestasi belajar yang tinggi dan tercapainya tujuan pembelajaran secara efektif. Sehubungan dengan hal tersebut, penulis terdorong untuk melakukan penelitian dengan judul : “PEMBELAJARAN FISIKA MENGGUNAKAN PENDEKATAN KETRAMPILAN PROSES DITINJAU DARI KEMAMPUAN PEMAHAMAN KONSEP TERHADAP KEMAMPUAN KOGNITIF SISWA PADA POKOK BAHASAN KINEMATIKA GERAK LURUS SMA TAHUN AJARAN XXXX/XXXX”

B. Identifikasi Masalah
Berdasarkan apa yang telah diuraikan dalam latar belakang masalah maka dapat diidentifikasi permasalahannya sebagai berikut :
1. Pendidikan bagi manusia adalah proses, menemukan, menjadi dan memperkembangkan diri sendiri dalam keseluruhan dimensi kepribadian.
2. Unsur yang tercakup dalam pendidikan sekolah meliputi subjek didik guru, siswa, dan tenaga pendidikan non guru), tujuan, bahan, pendekatan, metode-teknik, peralatan, penilaian, administrasi dan pengaruh lingkungan.
3. Pendidikan fisika menekankan pada pemberian pengalaman secara langsung dalam arti bekerja ilmiah sebagai lingkup proses.
4. Metode merupakan salah satu faktor penting dalam proses belajar mengajar guna mencapai tujuan pengajaran.

C. Pembatasan Masalah
Masalah pada penelitian dibatasi pada hal sebagai berikut :
1. Aspek pemahaman konsep merupakan aspek yang mengacu pada kemampuan makna materi yang dipelajari.
2. Pendekatan dalam pengajaran yang digunakan adalah ketrampilan proses dan dalam menyampaikan materi pelajaran menggunakan metode demonstrasi dan metode diskusi.
3. Prestasi belajar yang dibatasi pada pencapaian peningkatan kemampuan kognitif siswa melalui seperangkat tes tentang kinematika gerak lurus.
4. Materi yang disampaikan dalam penelitian ini yaitu pokok bahasan kinematika gerak lurus.

D. Perumusan Masalah
Masalah dalam penelitian penulis rumuskan sebagai berikut :
1. Adakah perbedaan pengaruh antara siswa yang mempunyai tingkat kemampuan pemahaman konsep tinggi dan rendah terhadap kemampuan kognitif siswa ?
2. Adakah perbedaan pengaruh pendekatan ketrampilan proses metode diskusi dan metode demonstrasi terhadap kemampuan kognitif siswa ?
3. Adakah interaksi pengaruh antara tingkat kemampuan pemahaman konsep dengan pendekatan ketrampilan proses terhadap kemampuan kognitif siswa ?

E. Tujuan Penelitian
Penelitian bertujuan umtuk mengetahui :
1. Ada tidaknya perbedaan pengaruh antara siswa yang mempunyai tingkat kemampuan pemahaman konsep tinggi dan rendah terhadap kemampuan kognitif siswa.
2. Ada tidaknya perbedaan pengaruh pendekatan ketrampilan proses metode diskusi dan metode demonstrasi terhadap kemampuan kognitif siswa.
3. Ada tidaknya interaksi pengaruh antara tingkat kemampuan pemahaman konsep dengan pendekatan ketrampilan proses terhadap kemampuan kognitif siswa.

F. Kegunaan Penelitian
Adapun kegunaan penelitian adalah :
1. Menambah wawasan penulis
2. Memberi gambaran tentang pentingnya penerapan pendekatan dalam pengajaran yang tepat dengan metode demonstrasi dan diskusi informasi sehingga mampu meningkatkan kemampuan kognitif siswa.
3. Sebagai masukan dalam meningkatkan mutu proses belajar mengajar di SMA khususnya dalam pengajaran fisika pada pokok bahasan kinematika gerak lurus.

Posted by: Admin Indeks Prestasi Updated at: 22:34:00

SKRIPSI PTK UPAYA MENINGKATKAN HASIL BELAJAR SISWA PADA KONSEP REPRODUKSI ORGANISME MELALUI PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE STAD

UPAYA MENINGKATKAN HASIL BELAJAR SISWA PADA KONSEP REPRODUKSI ORGANISME MELALUI PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE STAD (BIOLOGI KELAS IX) 



BAB I 
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah
Memasuki era globalisasi yang ditandai dengan cepatnya arus informasi di segala aspek dan sistem kehidupan manusia, bangsa Indonesia sebagai bangsa yang besar tidak hanya sebagai konsumen teknologi, melainkan berperan sebagai produsen teknologi. Hal ini sangat bergantung pada upaya kita menyiapkan sumber daya manusia yang berkualitas. Peran ilmu dan teknologi dalam pembangunan sangat besar, sehingga jalur utama untuk meningkatkan sumber daya manusia adalah melalui pendidikan.
Prestasi yang diukur dengan NEM (Nilai Ebtanas Murni), rata-rata hasil belajar siswa yang berkaitan dengan IPTEK masih belum memuaskan walaupun ada sebagian kecil yang berprestasi sangat baik. Dunia pendidikan kurang menyentuh sumber daya manusia yang memiliki daya saing memadai, terampil, berpengetahuan, dan berakhlak mulia. Dunia pendidikan harus berusaha agar prestasi belajar siswa terus meningkat terutama untuk mata pelajaran yang erat hubungannya dengan IPTEK, sehingga diharapkan mereka menjadi tenaga-tenaga ahli yang mampu bersaing dengan tenaga asing (Sukardi, 2005).
Guru merupakan salah satu komponen sistem yang menempati posisi sentral pada sistem pendidikan. Betapapun baiknya program pendidikan yang dikembangkan oleh para ahli, apabila guru tidak dapat melakukan tugasnya dengan baik, maka pelaksanaan dan hasil belajarnya menyimpang dari tujuan. Menurut Washton dan Klopfer (Rustaman, N. et al., 2005) banyak faktor yang mempengaruhi pelajaran Sains seperti guru, jumlah siswa dalam kelas, peralatan laboratorium, dan staf administrasi, ternyata guru yang merupakan faktor utama untuk keberhasilan pembelajaran Sains, bagaimana pun Sains diajarkan guru lah yang terutama menentukan apa yang dipelajari siswa.
Pendidikan di Indonesia diharapkan mampu membentuk manusia Indonesia seutuhnya, sehingga sekolah seharusnya benar-benar menjadi tempat peserta didik mengaktualisasikan semua potensi yang dimilikinya. Undang-undang Nomor 20 tahun 2003 tentang Sisdiknas Pasal 1 ayat (1) mengamanahkan bahwa pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual, keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan Negara (Depdiknas, 2003).
Rendahnya mutu pendidikan lebih banyak disebabkan karena belum efektifnya proses pembelajaran di kelas. Berdasarkan pengalaman dan pengamatan, pembelajaran yang dilakukan guru lebih berorientasi pada penguasaan materi pelajaran sehingga guru cenderung 'mengajar' dan bukan membantu siswa 'belajar' (Marjani, 2000). Pembelajaran cenderung berpusat pada guru (teacher centered), dengan demikian tidak tercipta suasana pembelajaran yang bermakna, menyenangkan, kreatif, dinamis dan dialogis. Selanjutnya akan berpengaruh terhadap proses belajar mengajar, sehingga berlangsung secara kaku, kurang mendukung pengembangan pengetahuan, sikap dan keterampilan siswa. Hal tersebut sangat berpengaruh terhadap hasil belajar siswa yang berupa UAS (Ujian Akhir Sekolah) khususnya IPA rata-rata masih belum memuaskan.
Penyebabnya rendahnya hasil belajar adalah pelaksanaan kurikulum yang belum optimal, khususnya KBM. Maka diperlukan berbagai upaya yang dapat menunjang proses belajar IPA sehingga dapat mencapai ketuntasan materi secara maksimal sesuai dengan tuntutan kurikulum. Dalam proses pembelajaran, persiapan materi merupakan kemampuan utama yang harus dimiliki oleh seorang guru agar mampu mengelola kegiatan pembelajaran secara kreatif dan inovatif.
Pembelajaran inovatif yang relevan dengan kondisi sekarang adalah teknik pembelajaran yang berpusat pada siswa (student centered), yaitu pembelajaran yang menekankan pada siswa untuk membangun pengetahuannya sendiri. Guru harus merancang kegiatan pembelajaran untuk meningkatkan pengetahuan awal siswa (Marjani, 2000). Ausubel dalam Dahar (1989) menyatakan, bahwa faktor paling penting yang mempengaruhi belajar ialah apa yang telah diketahui siswa, yaitu agar terjadi proses belajar yang bermakna telah ada dalam struktur kognitif siswa.
Dalam merancang kegiatan belajar IPA sebaiknya guru memperhatikan pengetahuan awal siswa tentang konsep IPA. Salah satu pendekatan yang bertolak dad pengetahuan awal siswa adalah pendekatan konstruktivisme. Model pembelajaran yang berlandaskan rujukan belajar konstruktivisme ialah model pembelajaran kooperatif (Slavin, 1995).
Untuk menciptakan suasana belajar yang kondusif dan konstruktif, demokratis dan kolaboratif perlu diadakan perbaikan dalam pembelajaran, sehingga suasana interaksi dalam kelas dapat berkembang dengan baik untuk kelangsungan proses belajar mengajar. Peran guru harus lebih dikembangkan sebagai fasilitator atau mediator dalam belajar, sehingga akan tumbuh cara-cara belajar kerjasama melakukan kegiatan belajar mengajar secara gotong royong yang disebut pembelajaran kooperatif.
Sebagian guru tidak menerapkan sistem kerja kelompok dalam pembelajaran karena beberapa alasan, salah satunya adalah penilaian yang dianggap kurang adil. Siswa yang tekun dan pandai merasa dirugikan karena temannya yang kurang mampu dan kurang berusaha hanya tergantung pada hasil jerih payah mereka. Siswa yang kurang mampu, merasa seperti 'benalu' (Lie, 2002). Ketidakadilan ini sebenarnya tidak perlu terjadi dalam kerja kelompok jika guru benar-benar menerapkan prosedur sistem pengajaran kooperatif.
Cooperative Learning merupakan suatu model pengajaran yaitu siswa belajar dalam kelompok-kelompok kecil yang memiliki tingkat kemampuan berbeda. Dalam menyelesaikan tugas kelompok, setiap anggota saling bekerja sama dan membantu untuk memahami suatu bahan pembelajaran. Belajar belum selesai jika salah satu teman dalam kelompok belum menguasai bahan pembelajaran. Melalui Cooperative Learning dapat mendukung hasil belajar siswa.
Pembelajaran kooperatif sebagai model pembelajaran kreatif dan inovatif merupakan solusi yang efektif. Dalam pembelajaran kooperatif siswa terlibat aktif, sehingga memberikan dampak positif terhadap kualitas interaksi dan komunikasi diantara siswa. Interaksi dan komunikasi yang berkualitas dapat memotivasi belajar siswa sehingga dapat meningkatkan hasil belajarnya. Meningkatnya hasil belajar siswa dikarenakan pada pembelajaran kooperatif setiap kelompok dituntut untuk bertanggung jawab atas keberhasilan belajarnya baik secara individu maupun kelompok.
Terdapat beberapa tipe pembelajaran kooperatif, diantaranya : Student Team Achievement Divisions (STAD), Teams Games Tournament (TGT), Jigsaw, Think Pair Share (TPS), dan Number Head Together (NHT).
Dari beberapa tipe pembelajaran kooperatif yang paling mudah diimplementasikan yaitu tipe STAD. Keunggulan STAD adalah salah satu tipe pembelajaran kooperatif yang paling sederhana dan paling langsung dari model pembelajaran kooperatif, sehingga dapat digunakan oleh guru yang akan mulai menerapkan pembelajaran kooperatif (Fauziah, 2005). Para siswa di dalam kelas di bagi menjadi beberapa kelompok, tiap kelompok memiliki anggota yang heterogen, baik jenis kelamin, maupun kemampuannya. Para guru menggunakan metode STAD untuk mengajarkan informasi akademik baru pada siswa setiap minggu, baik melalui penyajian verbal maupun tertulis. Tipe pembelajaran ini dapat digunakan untuk menangani hal-hal yang berkaitan dengan pembelajaran konsep yang sulit antara lain konsep reproduksi organisme.
Konsep reproduksi organisme merupakan konsep yang perlu dikuasai untuk konsep biologi selanjutnya. Akan tetapi konsep reproduksi organisme dianggap sulit, terutama konsep reproduksi pada tumbuhan.
Berdasarkan uraian di atas, perlu kiranya dilakukan penelitian tentang penerapan model pembelajaran kooperatif tipe STAD terutama untuk meningkatkan hasil belajar siswa dan keaktifan siswa pada konsep reproduksi organisme. Pembelajaran kooperatif tipe STAD dipilih berdasarkan pertimbangan bahwa tipe STAD yang paling sederhana diantara tipe-tipe pembelajaran kooperatif yang lain, sehingga dapat digunakan oleh guru yang baru mulai menerapkan pembelajaran kooperatif. 

B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah diatas maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah : 
"Bagaimana upaya meningkatkan hasil belajar siswa melalui penerapan model pembelajaran kooperatif tipe STAD pada konsep reproduksi organisme ?"
Secara lebih khusus, untuk mempermudah penyelesaian permasalahan penelitian dirumuskan ke dalam pertanyaan penelitian sebagai berikut : 
a. Bagaimana menerapkan model pembelajaran kooperatif pada konsep reproduksi organisme ?
b. Bagaimana hasil belajar siswa setelah menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe STAD ?
c. Bagaimana aktifitas siswa selama bekerja dalam kelompok ?
d. Bagaimana aktifitas guru selama pembelajaran berlangsung ?
e. Bagaimana respon siswa terhadap model pembelajaran kooperatif tipe STAD pada konsep reproduksi organisme ?

C. Batasan Masalah
Agar penelitian ini lebih terarah dan tidak meluas, masalah penelitian ini dibatasi sebagai berikut : 
a) Penerapan pembelajaran kooperatif tipe STAD.
b) Konsep yang dipelajari adalah reproduksi organisme, sub konsep reproduksi vegetatif dan generatif pada tumbuhan, reproduksi vegetatif dan generatif pada hewan serta reproduksi manusia.
c) Data hasil belajar dari hasil kognitif dan afektif.

D. Tujuan Penelitian
Berdasarkan rumusan masalah yang telah dikemukakan maka tujuan penelitian ini adalah : 
a. Menerapkan salah satu model pembelajaran kooperatif tipe STAD dalam upaya perbaikan pembelajaran.
b. Mengetahui peningkatan hasil belajar siswa setelah penerapan pembelajaran kooperatif tipe STAD pada konsep reproduksi organisme.
c. Mendapat gambaran tentang aktifitas guru dan siswa selama pembelajaran kooperatif tipe STAD.
d. Memperoleh informasi mengenai respon siswa selama mengikuti pembelajaran kooperatif tipe STAD pada konsep reproduksi tumbuhan, hewan dan manusia.

E. Manfaat Hasil Penelitian
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi tentang cara penerapan model pembelajaran kooperatif tipe STAD kepada guru IPA, terutama guru IPA kelas IX di SMPN X. Meningkatnya kemampuan guru mengajar, maka mutu pembelajaran di sekolah dan hasil belajar siswa akan meningkat.
Bagi siswa diharapkan dapat meningkatkan hasil belajar, keaktifan siswa dalam belajar kelompok dan pembelajaran lebih berpusat pada siswa (Student Centered).
Bagi guru diharapkan dapat meningkatkan kreatifitas dan aktifitas dalam melaksanakan tugas pembelajarannya, memberikan alternatif strategi pembelajaran yang tepat untuk mengatasi permasalahan pembelajaran yang dihadapi.

Posted by: Admin Indeks Prestasi Updated at: 11:32:00

UPAYA MENINGKATKAN HASIL BELAJAR DAN MOTIVASI SISWA PADA KONSEP SISTEM DALAM KEHIDUPAN TUMBUHAN MENGGUNAKAN MULTIMEDIA INTERAKTIF

UPAYA MENINGKATKAN HASIL BELAJAR DAN MOTIVASI SISWA PADA KONSEP SISTEM DALAM KEHIDUPAN TUMBUHAN MENGGUNAKAN MULTIMEDIA INTERAKTIF (BIOLOGI KELAS VIII) 



BAB I 
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah
Belajar merupakan sebuah proses yang sangat penting dan diperlukan dalam sepanjang perjalanan kehidupan manusia. Menurut Gange, belajar dapat didefinisikan sebagai suatu proses dimana suatu organisme berubah perilakunya sebagai akibat pengalaman (Dahar 1989). Dikatakan pula oleh Uno (2010), belajar adalah perubahan tingkah laku secara permanen dan secara potensial terjadi sebagai hasil dari praktik atau penguatan (reinforced practice) yang dilandasi tujuan tertentu. Penelitian Frederick Herzberg menunjukkan bahwa motivasi dapat menimbulkan rasa senang, dimana rasa senang ini berkaitan erat dengan prestasi atau hasil belajar (Davies, 1991 : 216). Dengan demikian, suatu proses belajar sebaiknya merupakan pengalaman yang menyenangkan yang dapat diingat, sehingga mampu mendorong individu tersebut untuk merubah perilakunya menjadi lebih baik.
Berdasarkan observasi di kelas VIII SMPN X, analisis hasil belajar menunjukkan rata-rata hasil belajar siswa pada mata pelajaran Biologi menunjukkan angka 66,73 dengan hanya sebanyak 6,67% siswa yang berhasil mencapai atau melampaui nilai 80. Angka 80 merupakan nilai Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) pada pembelajaran biologi di kelas VIII sekolah tersebut. Kelulusan kelas dapat dicapai ketika jumlah siswa yang mencapai atau melampaui KKM sebanyak 75%.
Selain itu, dilakukan pula observasi terhadap motivasi siswa dalam pembelajaran biologi. Observasi ini dilakukan dengan model ARCS yang mengandung empat komponen, yaitu : atensi siswa, relevansi pembelajaran, kepercayaan diri siswa, dan kepuasan siswa terhadap hasil yang dicapai. Berdasarkan observasi awal hasil pengukuran motivasi menunjukkan sebanyak 50% siswa termotivasi dengan baik untuk mengikuti pembelajaran biologi. Sebuah kelas dinyatakan berhasil apabila 75% siswanya mencapai ketuntasan minimal (BSNP, 2006). Oleh karena itu, kriteria kelulusan motivasi kelas dicapai minimal ketika siswa termotivasi dengan baik, dan persentase minimal jumlahnya sebanyak 75%.
Hasil observasi lain melalui kuesioner dan wawancara informal di SMP tersebut pada siswa kelas VIII, hampir seluruh siswa menyukai pelajaran biologi. Namun, dalam pembelajaran seringkali siswa mengalami kesulitan karena beberapa alasan, diantaranya menurut siswa : 
1. Biologi mengandung banyak teks hafalan, terutama jika itu merupakan deskripsi sebuah proses.
2. Biologi juga seringkali menggunakan istilah ilmiah dan serangkaian bahasa yang rumit.
Kesulitan-kesulitan tersebut mengarah pada hakikat biologi yang seringkali abstrak bagi siswa. Hal tersebut dapat menjadi alasan mereka tidak termotivasi untuk mempelajari biologi. Selain itu, kadang pembelajaran yang berlangsung hanya berupa latihan soal saja. Meskipun kadang digunakan pula media Microsoft Power Point, namun proses pembelajaran banyak dikendalikan guru. Karena itu, siswa seringkali menjadi terfokus pada kegiatan mereka berinteraksi dengan personal notebook tanpa terkendali oleh guru.
Fasilitas yang tersedia di sekolah tersebut sangat memadai. Selain ruang multimedia, laboratorium biologi, sekolah ini juga telah memiliki LCD Proyektor di setiap kelasnya. Meskipun demikian, sebagian besar siswa merasakan pengalaman pembelajaran biologi dengan media yang ada di sekolah belum dimanfaatkan secara optimal, padahal fasilitas yang tersedia sudah sangat baik. Berdasarkan observasi juga diketahui bahwa seluruh siswa di kelas tersebut telah terampil menggunakan komputer. Bahkan, seluruh siswa telah terbiasa menggunakan personal notebook (laptop) pada setiap pembelajaran yang berlangsung di kelas.
Berdasarkan analisis hasil observasi tersebut, diketahui bahwa proses pembelajaran masih memerlukan perbaikan dan pengembangan agar lebih memberikan pengalaman yang menyenangkan dan dapat memotivasi siswa dalam belajar biologi. Selain itu, pembelajaran tersebut juga perlu diupayakan agar dapat membuat siswa mengalami proses belajar yang bermakna dan dekat dengan keseharian mereka. Sehingga, siswa diharapkan mendapatkan motivasi diri yang lebih baik untuk mengikuti pelajaran dengan antusias. Dengan adanya motivasi diri yang tinggi, hasil belajar siswa juga dapat dengan mudah ditingkatkan. Selain itu, pengetahuan yang didapatkan dari proses belajar tersebut dapat dengan mudah diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari, serta membentuk perilaku siswa menjadi pribadi yang lebih baik.
Biologi merupakan disiplin ilmu yang meliputi banyak konsep dan proses peristiwa yang abstrak. Dalam hal ini tentu dibutuhkan upaya yang lebih untuk menjelaskan proses tersebut sehingga dapat dipahami oleh siswa. Untuk menimbulkan perhatian dan motivasi salah satunya guru dapat menggunakan alat bantu mengajar (Abimanyu, 1985). Alat bantu mengajar atau media pembelajaran dapat disesuaikan dengan kebutuhan pembelajaran. Pelajaran biologi membutuhkan media visualisasi yang dapat memperjelas suatu konsep yang abstrak. Lebih dari itu, media visualisasi dapat membantu siswa memahami suatu mekanisme proses yang tidak dapat diamati secara langsung dalam kehidupan sehari-hari.
Konsep biologi yang abstrak membutuhkan media visualisasi, dan pembelajaran di sekolah tersebut kurang memberikan pengalaman yang dapat meningkatkan motivasi belajar siswa. Selain itu, terdapat pemanfaatan fasilitas kelas dan sekolah yang belum optimal pada proses pembelajaran biologi di kelas tersebut. Karena itu, perlu dilakukan pengembangan media sebagai alat bantu meningkatkan motivasi belajar siswa yang kemudian menjadi upaya dalam meningkatkan hasil belajar siswa.
Perkembangan zaman telah membawa kehidupan manusia pada kemudahan dan kepraktisan dengan bantuan teknologi. Tentu saja, untuk dapat bertahan di tengah kompetisi kehidupan, adalah penting mengikuti perkembangan teknologi. Teknologi dalam dunia pendidikan sekarang ini seringkali memanfaatkan multimedia sebagai alat bantu pembelajaran. Multimedia adalah media yang menggabungkan dua unsur atau lebih media yang terdiri dari teks, grafts, gambar, foto, audio, video dan animasi secara terintegrasi (Ariasdi, 2008).
Salah satu multimedia yang mungkin dapat digunakan dalam upaya meningkatkan hasil belajar siswa adalah multimedia interaktif. Menurut Ariasdi (2008), multimedia interaktif adalah suatu multimedia yang dilengkapi dengan alat pengontrol yang dapat dioperasikan oleh pengguna, sehingga pengguna dapat memilih apa yang dikehendaki untuk proses selanjutnya. Selain itu, multimedia interaktif juga dapat membantu pengguna untuk mengukur sendiri kemampuan dirinya. Sehingga, pengguna dapat mengetahui bagian-bagian yang perlu dipelajari lebih dalam sesuai dengan kebutuhan dirinya. Contoh multimedia interaktif adalah : multimedia pembelajaran interaktif berbagai model dan aplikasi game.
Berdasarkan hal diatas, maka perlu dilakukan upaya untuk memecahkan permasalahan yang ada, yaitu meningkatkan hasil belajar dan motivasi siswa terhadap pembelajaran biologi di kelas. Khususnya pada materi yang sedang ditempuh kelas tersebut pada semester genap, sistem dalam kehidupan tumbuhan. Konsep sistem dalam kehidupan tumbuhan merupakan sebuah konsep yang seringkali berupa proses peristiwa dan fenomena alam yang terjadi dalam skala mikro yang sulit untuk diamati secara langsung oleh indra. Dengan menggunakan multimedia interaktif diharapkan dapat membantu meningkatkan hasil belajar pada konsep dan proses yang abstrak, serta pembelajaran yang menyenangkan dapat meningkatkan motivasi belajar siswa ketika melalui proses pembelajaran biologi.
Dengan demikian, perlu dilakukan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang berjudul : UPAYA MENINGKATKAN HASIL BELAJAR DAN MOTIVASI SISWA KELAS VIII PADA KONSEP SISTEM DALAM KEHIDUPAN TUMBUHAN MENGGUNAKAN MULTIMEDIA INTERAKTIF. Melalui penelitian ini diupayakan permasalahan yang timbul dalam proses pembelajaran dapat diatasi, sehingga pembelajaran dapat diperbaiki dan kualitasnya juga dapat ditingkatkan.

B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah tersebut, maka yang dijadikan fokus masalah penelitian adalah : 
"Bagaimana upaya meningkatkan hasil belajar dan motivasi siswa pada konsep sistem dalam kehidupan tumbuhan di kelas VIII dengan menggunakan multimedia interaktif ?"

C. Pertanyaan Penelitian
Sejalan dengan rumusan masalah yang telah ditentukan, berikut merupakan pertanyaan penelitian dari rumusan masalah tersebut : 
1. Bagaimanakah peningkatan hasil belajar siswa pada pembelajaran konsep sistem dalam kehidupan tumbuhan dengan menggunakan multimedia interaktif ?
2. Bagaimanakah peningkatan motivasi siswa pada pembelajaran konsep sistem dalam kehidupan tumbuhan dengan menggunakan multimedia interaktif ?
3. Bagaimanakah respon siswa setelah dilakukan upaya peningkatan pada pembelajaran konsep sistem dalam kehidupan tumbuhan dengan menggunakan multimedia interaktif ?

D. Batasan Masalah
Agar permasalahan di dalam penelitian tidak meluas, permasalahan dibatasi sebagai berikut : 
1. Hasil belajar yang dimaksud dalam penelitian ini adalah kemampuan kognitif yang dijaring melalui tes tertulis dalam bentuk pilihan ganda dan uraian.
Sesuai dengan standar kompetensi yang digunakan, kemampuan kognitif ini dibatasi pada C2 taksonomi bloom revisi, yaitu memahami.
2. Motivasi yang dimaksud adalah dorongan bagi siswa dalam belajar yang dijaring melalui angket motivasi. Angket motivasi yang digunakan adalah angket ARCS (Attention, Relevance, Confidence, Satisfaction), yaitu angket motivasi yang sesuai untuk pembelajaran computer-based training (Baker, 2007). Angket motivasi ini mengandung empat komponen : atensi siswa, relevansi pembelajaran, kepercayaan diri siswa, dan kepuasan siswa terhadap hasil yang dicapai.
3. Multimedia interaktif yang digunakan pada penelitian ini adalah media pembelajaran berupa software yang dirancang menggunakan macromedia flash dengan memadukan beberapa unsur media didalamnya mengenai pokok materi yang sesuai, yaitu sistem dalam kehidupan tumbuhan.
4. Materi sistem dalam kehidupan tumbuhan yang digunakan dalam penelitian ini dibatasi pada kompetensi dasar : mendeskripsikan proses perolehan nutrisi dan transformasi energi pada tumbuhan hijau, dan mengidentifikasi hama dan penyakit pada organ tumbuhan yang dijumpai dalam kehidupan sehari-hari.

E. Tujuan Penelitian
Sejalan dengan rumusan masalah yang telah ditentukan, maka tujuan penelitian ini diantaranya sebagai berikut : 
1. Untuk mengetahui hasil belajar siswa setelah dilakukan upaya peningkatan pada pembelajaran konsep sistem dalam kehidupan tumbuhan dengan menggunakan multimedia interaktif.
2. Untuk mengetahui motivasi siswa setelah dilakukan upaya peningkatan pada pembelajaran konsep sistem dalam kehidupan tumbuhan dengan menggunakan multimedia interaktif.
3. Untuk mengetahui respon siswa setelah dilakukan upaya peningkatan pada pembelajaran konsep sistem dalam kehidupan tumbuhan dengan menggunakan multimedia interaktif.

F. Manfaat Penelitian
Penelitian ini diharapkan mampu memberikan kontribusi yang baik bagi perkembangan dan peningkatan kualitas pembelajaran di kelas. Salah satunya membantu sekolah dalam upaya meningkatkan kualitas pembelajaran biologi. Selain itu, sesuai visi sekolah juga diharapkan mampu meningkatkan kesadaran tuntutan zaman akan adaptasi teknologi yang tinggi dalam proses pembelajaran serta mengaplikasikannya, seperti meningkatkan pemanfaatan sarana teknologi yang disediakan di sekolah.
Melalui penelitian ini juga diharapkan siswa dapat memperoleh keuntungan, seperti : memperoleh pengalaman belajar biologi yang menyenangkan dengan menggunakan multimedia interaktif, meningkatkan hasil belajar dalam pembelajaran biologi, meningkatkan motivasi dalam pembelajaran biologi.
Sedangkan bagi guru, penelitian ini diharapkan dapat membantu mengatasi permasalahan dalam kelas pada pembelajaran biologi, seperti pada konsep sistem dalam kehidupan tumbuhan. Selain itu, penelitian ini juga diharapkan dapat memberikan memotivasi guru untuk lebih menguasai fasilitas teknologi dan menerapkannya dalam pembelajaran biologi di kelas.

Posted by: Admin Indeks Prestasi Updated at: 11:31:00

PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN QUANTUM TEACHING UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR MATERI SISTEM SARAF

PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN QUANTUM TEACHING UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR MATERI SISTEM SARAF (BIOLOGI KELAS IX) 



BAB I 
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah
Pendidikan diselenggarakan untuk menyiapkan peserta didik menjadi pribadi-pribadi anggota masyarakat yang mandiri. Pribadi yang mandiri adalah pribadi yang secara mandiri mampu berpikir, menemukan dan menciptakan sesuatu yang baru, melihat permasalahan serta menemukan cara pemecahan baru yang bernalar dan lebih dapat dipertanggungjawabkan. Dengan kata lain pendidikan dapat dimaknai sebagai proses mengubah tingkah laku anak didik agar menjadi manusia dewasa yang mampu hidup mandiri dan sebagai anggota masyarakat dalam lingkungan alam sekitar dimana individu itu berada, serta mampu melakukan perubahan dan menciptakan sesuatu yang baru.
Pencapaian pendidikan sebagian besar ditentukan oleh keberhasilan proses belajar mengajar di kelas. Keberhasilan proses belajar mengajar di kelas dipengaruhi oleh berbagai faktor. Salah satu faktornya adalah interaksi guru dan peserta didik dalam pembelajaran. Guru adalah subjek yang sangat berperan dalam membelajarkan dan mendidik peserta didik sedangkan peserta didik merupakan subjek yang menjadi sasaran pendidikan.
Sejalan dengan pikiran di atas, maka tugas guru biologi adalah membimbing peserta didik memiliki pengetahuan dan nilai biologi, serta menumbuhkan rasa senang dan cinta belajar biologi di kalangan peserta didik. Namun selama ini biologi masih dianggap sebagai pelajaran yang identik dengan hafalan semata. Padahal sesungguhnya biologi mempelajari tentang diri dan makhluk hidup lain yang melekat dengan kehidupan sehari-hari. Untuk itu maka pembelajaran biologi perlu dikemas sedemikian rupa, sehingga membuat peserta didik menyukai pelajaran biologi. Salah satu materi yang dianggap sulit dan tidak di sukai oleh peserta didik adalah materi sistem saraf pada manusia.
Materi sistem saraf pada manusia merupakan materi yang tergolong abstrak dan memiliki isi materi yang banyak, hal ini dikarenakan materi tersebut mempelajari tentang mekanisme proses kerja organ yang ada di dalam tubuh yang tidak dapat diamati secara langsung. Dalam mempelajari materi ini dibutuhkan pemahaman konsep yang memadai, sehingga dapat menjelaskan keabstrakannya. Penyelesaian masalah yang dibutuhkan pada materi ini adalah peserta didik memiliki gambaran dalam benaknya mengenai mekanisme proses kerja organ tersebut.
Berdasarkan hasil wawancara dengan guru IPA Terpadu kelas IX MTSN X menjelaskan bahwa guru mengalami beberapa kendala dalam mengajarkan materi pokok sistem saraf pada manusia antara lain : 
1. Peserta didik masih sulit mendeskripsikan struktur sel saraf serta fungsinya.
2. Peserta didik mengalami kesulitan dalam membedakan sel saraf berdasar fungsinya
3. Peserta didik mengalami kesulitan dalam membedakan mekanisme gerak refleks dan gerak biasa.
4. Peserta didik mengalami kesulitan dalam menyebutkan bagian-bagian sistem saraf beserta fungsinya.
Sehingga nilai peserta didik di sekolah itu masih banyak yang dibawah Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) yaitu 63. Ketuntasan klasikal 43% dan rata-rata kelas 47.
Kendala-kendala yang dialami peserta didik di atas dikarenakan peserta didik kurang mempunyai pemahaman konsep dalam mempelajari materi sistem saraf pada manusia. Untuk mencapai pemahaman di atas dirasa akan mudah tercapai dengan proses pembelajaran yang interaktif, menyenangkan. Interaktif disini diartikan sebagai proses pembelajaran yang berusaha memberdayakan peserta didik dan memperhatikan serta mempengaruhi emosi peserta didik. Hal ini agar materi sistem saraf yang banyak dapat dipelajari dengan mudah dan tidak jenuh. Peserta didik diberi keleluasaan untuk mengkonstruksikan pengetahuannya mereka dengan cara menjalani proses pencarian sendiri. Salah satunya adalah menggunakan model pembelajaran kuantum (quantum teaching).
Model pembelajaran kuantum (quantum teaching) merupakan salah satu model pembelajaran yang mengembangkan lingkungan belajar yang saling memberdayakan, menghargai dan senantiasa menjaga motivasi belajar. Dalam pembelajaran ini menghendaki peserta didik dapat terlibat langsung dalam memahami konsep dan mengkonstruksikan pengetahuan mereka untuk menyelesaikan masalah sehingga tercapai pemahaman konsep yang memadai. Dalam kerangka pembelajaran kuantum yaitu dalam akronim TANDUR (tumbuhkan, alami, namai, demonstrasikan, ulangi dan rayakan). 
Pembelajaran kuantum (quantum teaching) mengkondisikan agar peserta didik terlibat aktif dalam proses belajar yaitu dengan mengalami dan mendapatkan pengetahuannya sendiri. Selain itu, peserta didik juga mendapat pengakuan dalam belajar, hal ini karena dalam pembelajaran peserta didik memperoleh kesempatan mengungkapkan pengetahuan yang telah diperoleh-nya dan memberikan umpan balik berupa perayaan dan penghargaan atas prestasi yang diperoleh selama proses pembelajaran. Model tersebut memberikan situasi yang interaktif dan menyenangkan serta melibatkan kondisi emosional peserta didik Sehingga mereka akan lebih termotivasi dalam belajar. Dengan model pembelajaran kuantum (quantum teaching) diharapkan peserta didik dalam pembelajaran mendapatkan pemahaman konsep yang memadai dengan cara yang menyenangkan untuk memahami materi sistem saraf pada manusia.
Dengan demikian peneliti merasa perlu untuk melakukan penelitian dengan judul ’’PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KUANTUM (QUANTUM TEACHING) UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR MATERI SISTEM SARAF PADA MANUSIA KELAS IX MTSN X".

B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang tersebut di atas maka timbul permasalahan sebagai berikut : 
1. Bagaimana proses pelaksanaan pembelajaran materi sistem saraf pada manusia melalui model pembelajaran kuantum (quantum teaching) di kelas IX MTSN X ?
2. Apakah hasil belajar Biologi peserta didik kelas IX MTSN X materi sistem saraf pada manusia dapat ditingkatkan melalui model pembelajaran kuantum (quantum teaching) ?

C. Tujuan Penelitian
Berdasar rumusan masalah tersebut di atas, penelitian ini bertujuan untuk : 
1. Mengetahui proses pelaksanaan pembelajaran materi sistem saraf pada manusia melalui model pembelajaran kuantum (quantum teaching) di kelas IX MTSN X.
2. Meningkatkan hasil belajar peserta didik kelas IX MTSN X materi sistem saraf pada manusia melalui penerapan model pembelajaran kuantum (quantum teaching).

D. Manfaat Penelitian
Dari hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat, antara lain : 
1. Bagi Sekolah
Sebagai masukan dalam rangka memperbaiki kegiatan pembelajaran dan hasil belajar Biologi di sekolah.
2. Bagi Guru
Diharapkan dapat sebagai masukan bagi guru mengenai model pembelajaran yang menyenangkan, memudahkan peserta didik, dan dapat meningkatkan hasil belajar peserta didik dalam proses pembelajaran.
3. Bagi Peserta Didik
Diharapkan peserta didik akan termotivasi dalam proses pembelajaran Biologi, memudahkan dalam memahami materi pelajaran, serta mengenal-kan kepada peserta didik bagaimana cara belajar dan memahami suatu materi pelajaran dengan menyenangkan sehingga berdampak pada peningkatan hasil belajar peserta didik.
4. Bagi Penulis
Penelitian ini dapat menambah pengalaman yang baru baik dalam bidang model pembelajaran maupun dalam penguasaan kelas dan penguasaan materi yang dapat digunakan dalam proses belajar mengajar di masa mendatang.

Posted by: Admin Indeks Prestasi Updated at: 11:31:00

MENINGKATKAN KECERDASAN NATURALIS ANAK TAMAN KANAK-KANAK MELALUI METODE KARYAWISATA

MENINGKATKAN KECERDASAN NATURALIS ANAK TAMAN KANAK-KANAK MELALUI METODE KARYAWISATA (PGTK)




BAB I 

PENDAHULUAN


A. Latar Belakang Masalah
Pendidikan sebagai suatu usaha yang bersifat sadar tujuan dengan sistematis dan terarah pada perubahan tingkah laku anak, berfungsi membimbing perkembangan yang harus dijalani. Adapun ciri dari perubahan tingkah laku hasil pendidikan antara lain; adanya perubahan yang disadari, bersifat kontinyu dan fungsional, bersifat positif dan aktif, bersifat temporer dan bukan karena proses kematangan pertumbuhan, dengan kata lain perkembangan tersebut bertujuan dan terarah.
Menurut Syaodih, (1999 : 67) dalam Muslihudin, Mubiar A. (2008 : 5) bahwa pendidikan anak usia dini adalah salah satu pendidikan awal bagi anak untuk mengembangkan berbagai potensi kecerdasan yang juga merupakan pendidikan kedua yang cukup penting bagi perkembangan anak setelah keluarga. Pendidikan anak usia dini bertujuan untuk membantu anak meletakan dasar ke arah pengembangan sikap, pengetahuan, keterampilan dan daya cipta yang diperlukan anak dalam menyesuaikan diri dengan lingkungannya dan untuk pertumbuhan serta perkembangan selanjutnya (PP No. 27/1990 pasal 3).
Pendidikan anak usia dini atau TK pada hakekatnya adalah pendidikan untuk memfasilitasi pertumbuhan dan perkembangan anak secara menyeluruh atau menekankan pada pengembangan seluruh dimensi perkembangan anak yang meliputi kognitif, sosial, emosi, fisik dan motorik. Secara psikologis anak berkembang secara holistik atau menyeluruh, artinya terdapat kaitan yang sangat erat antara aspek perkembangan yang satu dengan yang lainnya, aspek perkembangan yang satu mempengaruhi oleh aspek perkembangan lainnya. (Kurikulum 2004 : 2)
Isi program anak usia dini difokuskan untuk mendorong pengembangan seluruh potensi anak yang meliputi aspek perkembangan moral dan nilai-nilai agama, sosial, emosional dan kemandirian. Kemampuan bahasa, kognitif, fisik motorik dan seni. (Depdiknas, 2004 : 5 ). Dalam kaitannya dan karakteristik perkembangan anak maka kurikulum TK harus direncanakan sesuai dengan kebutuhan-kebutuhan dan perkembangan anak.
Tujuan diatas mengandung arti bahwa pendidikan Taman Kanak-kanak memfokuskan pada upaya mengembangkan seluruh dimensi kecerdasan anak. Adapun yang menjadi penekanannya adalah pada pengembangan aspek-aspek perkembangan pribadi yang diperlukan untuk proses perkembangan anak pada saat ini dan selanjutnya. (Solehuddin, 1997 : 36)
Untuk tercapainya suatu pembelajaran yang baik, maka pembelajaran di Taman Kanak-kanak harus terlaksana dengan baik pula. Dengan demikian, prinsip pembelajaran di Taman kanak-kanak sejatinya bersifat kolaboratif yang tidak hanya menitikberatkan pengembangan pada satu aspek, akan tetapi berorientasi pada pengembangan seluruh aspek perkembangan anak {holistic). Konsekwensinya dalam proses pembelajaran, guru seyogyanya memberikan kebebasan kepada anak dalam melakukan aktivitas belajar dan menstimulasi anak untuk mengembangkan salah satu atau beberapa kecerdasan tertentu (kecerdasan jamak) supaya lebih cakap dan terampil.
Berbagai potensi kecerdasan tersebut sering dikenal dengan multiple intelligences atau kecerdasan jamak. Menurut tokoh Howard Gardner kecerdasan jamak adalah kemampuan menyelesaikan masalah atau menghasilkan produk yang dibuat dalam satu atau beberapa budaya. (Musfiroh, 2004 : 24). Kecerdasan ini menjelaskan bagaimana individu menggunakan kecerdasannya untuk memecahkan masalah dan menghasilkan sesuatu. Pendekatan ini merupakan suatu alat yang digunakan untuk melihat pikiran manusia mengoperasikan lingkungannya, baik yang berhubungan dengan benda-benda konkret maupun abstrak. Lebih lanjut lagi, bagi Gardner ada anak bodoh, ada anak yang menonjol pada satu atau beberapa jenis kecerdasan. (Rachmani, 2003 : 18)
Penulis tertarik untuk mengangkat permasalahan yang terjadi dengan kecerdasan naturalis di TK X karena masih kurang bervariasinya pembelajaran atau metode yang diterapkan di TK tersebut. Pada umumnya, guru di TK tersebut masih menggunakan metode yang berpusat pada guru atau ekspositori (exposition) yang berarti guru hanya memberikan informasi yang berupa teori generalisasi, hukum atau dalil beserta bukti-bukti yang mendukung. Anak hanya menerima saja informasi yang diberikan oleh guru. Pengajaran telah diolah oleh guru sehingga siap disampaikan kepada anak dan anak diharapkan belajar dari informasi yang diterimanya itu. Pembelajaran seperti ini hampir tidak ada unsur discovery (penemuan) pada anak usia TK, sehingga pembelajaran akan menjadi sesuatu yang menjenuhkan dan membosankan.
Upaya guru dalam melakukan aktivitas pembelajaran yang berorientasi pada pengembangan potensi kecerdasan jamak tersebut dapat dilakukan dengan membuat suatu program layanan bimbingan. Penerapan layanan bimbingan yang tepat di Taman Kanak-kanak akan sangat berpengaruh terhadap aktivitas anak. Kondisi ini dipandang wajar karena anak pada usia dini sedang berada pada masa yang ideal untuk mempelajari sikap, keterampilan, dan kecerdasan tertentu, baik itu kecerdasan berbahasa, motorik, sosial, emosi, dan moral. (Syaodih, 1999 : 68)
Dalam pemilihan suatu model pengajaran adalah guru harus benar-benar mengetahui kelemahan dan kelebihan dari model pengajaran yang dipergunakan. Terdapat lima prinsip dalam memilih metode pengajaran, seperti yang diungkapkan oleh Engkoswasa yang dikutip dari Bachtiar Rivai (1988 : 46) mengemukakan bahwa :
"Asas maju berkelanjutan yang artinya memberi kemungkinan kepada peserta didik untuk mempelajari sesuatu sesuai dengan kemampuannya, penekanan kepada belajar mandiri, bekerja secara tim, multidisipliner, dan fleksibel".
Kecerdasan naturalis merupakan kecerdasan dalam memahami alam, yang meliputi kemampuan untuk mengidentifikasi dan mengklasifikasikan perbedaan maupun persamaan ciri-ciri diantara spesies baik flora maupun fauna. Disadari bahwa tiap anak memiliki potensi kecerdasan yang tidak sama.
Mereka mempunyai kemampuan, talenta, dan kebutuhan yang berbeda sesuai dengan perkembangan usianya. Namun jelas potensi kecerdasan anak dipengaruhi oleh faktor genetika dan lingkungan, oleh karenanya perlu dan penting memberi kesempatan pada anak didik untuk bersentuhan dengan alam mengingat alam dapat merangsang kecerdasan naturalisnya.
Pengembangan kecerdasan naturalis tidak berbeda dengan pengembangan potensi kecerdasan di bidang lainnya. Untuk itu akan kian terasah jika anak-anak diberi rangsangan yang tepat serta dipadukan dengan pola dan arah pelaksanaan yang tepat pula. Kecerdasan naturalis berkaitan dengan seluruh yang terdapat di alam dunia ini maka sangat sensitif untuk disimulasikan dengan semua aspek alam, mencakup bertanam, binatang, cuaca, dan gambaran fisik dan bumi, keterampilan mengenali berbagai kategori dan varietas dari binatang, serangga, tanaman dan bunga, serta mencakup kemampuan menanam sesuatu, memelihara dan melihat binatang. Kecerdasan naturalis juga mencakup kepekaan untuk dan mencintai bumi, sebagaimana keinginan untuk memeliharanya dan melindungi sumber-sumber alam yang ada.
Untuk memenuhi dorongan ingin memahami lingkungannya anak TK seringkali berbicara sendiri, bertanya kepada teman atau orang yang ditemuinya. Anak ingin berbagi informasi, ingin bertukar pendapat, ingin menanyakan sesuatu. Pembicaraan anak biasanya berpusat pada kejadian-kejadian keluarga, hewan peliharaan, kakak adik, alat permainan (Hildebrand, 1986 : 291). Karena itu, kita dapat memanfaatkan topik-topik tersebut dapat dimanfaatkan bagi guru sebagai daya tarik dalam melaksanakan kegiatan sehari-hari. Disamping itu, kita juga dapat mencari topik-topik lain yang bisa dijadikan bahan pemecahan masalah yang menarik bagi anak.
Bagi anak TK karyawisata berarti memperoleh kesempatan untuk mengobservasi, memperoleh informasi, atau mengkaji segala sesuatu secara langsung (Hildebrand, 1986 : 149). Karyawisata juga berarti membawa anak TK ke objek-objek tertentu sebagai pengayaan pengajaran, pemberian pengalaman belajar yang tidak mungkin diperoleh anak di dalam kelas (Welton & Mallon, 1981 : 414) , dan juga memberi kesempatan anak untuk mengobservasi dan mengalami sendiri dari dekat (Foster & Headley's, 1959 : 149).
Penulis memilih suatu metode pembelajaran dengan menggunakan metode karyawisata. Karena metode karyawisata merupakan contoh teknik penyampaian materi pelajaran dengan membawa peserta didik ke lapangan. Seperti halnya model pengajaran yang lain, metode karyawisata memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Metode pengajaran dengan mempergunakan model karyawisata berperan untuk melatih proses belajar yang mandiri, proses berpikir kognitif, proses afektif (pengembangan sikap dan nilai) dan mengembangkan proses psikomotor (pengembangan keterampilan). Pemilihan model karyawisata memerlukan keterampilan guru dalam proses pembelajaran dengan mempersiapkan alat dan bahan yang akan mendukung proses pembelajaran di lapangan.
Sehubungan dengan paparan di atas maka peneliti ini memfokuskan pada judul "MENINGKATKAN KECERDASAN NATURALIS ANAK TAMAN KANAK-KANAK MELALUI METODE KARYAWISATA".

B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah yang telah dikemukakan di atas, maka masalah utama dalam penelitian ini dirumuskan sebagai berikut : "Meningkatkan kecerdasan naturalis anak Taman Kanak-kanak melalui metode karyawisata"
Identifikasi masalah pada penelitian ini sebagai berikut :
1. Bagaimana kondisi objektif kecerdasan naturalis anak sebelum diterapkan metode karyawisata di TK X ?
2. Bagaimana penerapan kegiatan metode karyawisata untuk meningkatkan kecerdasan naturalis anak di TK X ?
3. Bagaimana kecerdasan naturalis anak sesudah diterapkannya metode karyawisata di TK X ?

C. Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian terdiri atas dua bagian, yaitu tujuan umum dan tujuan khusus.
1. Tujuan Umum
Secara umum penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran objektif kecerdasan naturalis anak melalui metode karyawisata di TK X.
2. Tujuan Khusus
Adapun tujuan khusus dari penelitian ini adalah untuk memperoleh data dan gambaran objektif tentang :
a. Untuk memperoleh gambaran objektif tentang kecerdasan naturalis anak sebelum diterapkan metode karyawisata di TK X.
b. Untuk mengetahui bagaimana penerapan metode karyawisata untuk meningkatkan kecerdasan naturalis anak di TK X.
c. Untuk mengetahui bagaimana kecerdasan naturalis anak sesudah diterapkannya metode karyawisata di TK X.

D. Manfaat Penelitian
Adapun manfaat yang diharapkan penulis dari penelitian ini adalah :
1. Secara Teoritis
Berdasarkan hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangan ilmu pengetahuan yang dapat mempertajam dan memperkaya khazanah pemikiran dalam rangka meningkatkan kecerdasan naturalis anak melalui penerapan metode karyawisata.
2. Secara Praktis
a. Bagi Penulis, khususnya dapat mengetahui lebih jauh mengenai manfaat dan penerapan metode karyawisata pada anak Taman Kanak-kanak.
b. Bagi Guru, hasil penelitian diharapkan dapat mendorong dan memotivasi untuk meningkatkan kemampuan dan keterampilan dalam meningkatkan kecerdasan naturalis anak Taman Kanak-kanak melalui metode karyawisata. Kegiatan ini akan menambah wawasan guru dalam membantu proses pembelajaran anak Taman Kanak-kanak. Dalam meningkatkan kecerdasan naturalis anak melalui metode karyawisata.
c. Bagi Lembaga Pendidikan, hasil penelitian ini diharapkan dapat menambah referensi perpustakaan untuk dijadikan bahan acuan dalam meningkatkan wawasan mahasiswa. Khususnya mampu menjadi bahan pembinaan pada guru dalam meningkatkan kecerdasan naturalis anak melalui metode karyawisata anak Taman Kanak-kanak.

Posted by: Admin Indeks Prestasi Updated at: 11:30:00

MENINGKATKAN KEMAMPUAN MEMBACA AL-QURAN ANAK USIA DINI MELALUI PENERAPAN METODE IQRO

MENINGKATKAN KEMAMPUAN MEMBACA AL-QURAN ANAK USIA DINI MELALUI PENERAPAN METODE IQRO (PGTK)



BAB I 
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah
Pendidikan agama merupakan bagian yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan manusia tidak terkecuali Anak Usia Dini. Oleh karena itu menjadi kewajiban orangtua untuk memenuhi kebutuhan pendidikan agama anak. Hal tersebut merupakan kebutuhan rohaniah anak yang sama pentingnya dengan kebutuhan jasmaninya.
Penanaman nilai-nilai agama pada usia ini memiliki beberapa kelebihan yang tidak dapat dimiliki pada masa sesudahnya. Pada masa itu jiwa anak masih bersih dengan fitrah Allah. Anak terlahir dalam keadaan suci, sehingga pengaruh apapun yang ditanamkan dalam jiwa anak akan bisa tumbuh dengan suburnya.
Rasulullah Saw bersabda tentang penciptaan manusia, yang diriwayatkan oleh Bukhori dan Muslim : 
Artinya : 
"Setiap anak yang dilahirkan ke dunia adalah suci, ibu bapaknya lah yang menjadikannya Yahudi, Nasrani atau Majusi".
Hadits tersebut menjelaskan bahwa faktor lingkungan terutama orang tua sangat berperan dalam mempengaruhi perkembangan fitrah keberagamaan anak. Penanaman nilai-nilai keagamaan, dalam arti pembinaan kepribadian, sebenarnya telah dimulai sejak anak lahir bahkan sejak dalam kandungan. Ketika anak dalam kandungan, keadaan orang tua akan mempengaruhi jiwa anak yang akan lahir nanti.
Pendidikan agama pada usia ini dapat diberikan melalui berbagai pengalaman belajar anak baik melalui ucapan yang didengar, perbuatan, maupun perlakuan dari orang tua sehari-hari, oleh karena itu keadaan orang tua dalam kehidupan sehari-hari mempunyai pengaruh yang sangat besar dalam pembinaan kepribadian anak. Orang tua menjadi pusat kehidupan rohani anak dan penyebab berkenalannya dengan dunia luar, maka semua sikap prilaku dan pemikiran anak merupakan cermin dari pendidikan yang diberikan oleh orang tuanya.
Usia prasekolah merupakan usia yang paling subur untuk menanamkan rasa keagamaan pada anak, usia penumbuhan kebiasaan-kebiasaan yang sesuai dengan ajaran agama Islam yang salah satunya adalah melalui pembelajaran tentang Al-Qur'an. Pembelajaran Al-Qur'an diberikan kepada anak agar mereka bisa tumbuh sesuai dengan fitrahnya dan hati mereka pun bisa dikuasai oleh cahaya hikmah, sebelum dikuasai oleh hawa nafsu dengan berbagai nodanya yang terbentuk melalui kemaksiatan, sebagaimana yang dituntunkan di dalam Al-Qur'an.
Rasulullah Saw melalui hadits yang diriwayatkan oleh Usman bin Affan bersabda : 
Yang artinya : " Orang paling baik diantara kalian adalah orang yang mempelajari Al-Qur'an dan mengajarkannya " (H.R. Bukhari).
Berdasarkan hadits tersebut, mengajarkan Al-Qur'an dapat memberikan sifat-sifat yang terpuji kepada manusia. Pendidikan dan pengajaran Al-Qur'an ini sebaiknya dimulai dari kehidupan keluarga. Jika pengajaran Al-Qur'an ini terlaksana dengan baik, maka anak-anak pun akan dapat mencintai Al Qur'an.
Pengajaran yang sesuai dengan dasar-dasar yang benar, akan membuat anak-anak mencintai Al-Qur'an, sekaligus memperkuat ingatan dan pemahaman mereka menghafal Al-Qur'an atau sebagian ayat dari Al-Qur'an akan menjadi yang terpenting dan terbaik bagi anak-anak. Menghafal Al-Qur'an harus dimulai dari mencintai Al-Qur'an, karena menghafal Al-Qur'an tanpa mencintainya adalah sia-sia dan akan kurang bermanfaat, sebaliknya mencintai Al-Qur'an dengan disertai menghafal ayat-ayat yang mudah untuk dihafalkan, akan memberikan banyak manfaat kepada mereka, berupa nilai-nilai, moralitas, dan sifat-sifat yang terpuji.
Usia 3-6 tahun merupakan usia yang paling penting dalam menanamkan fanatisme dalam diri manusia. Anak yang mampu menghafal Al-Qur'an pada masa-masa awal kehidupannya, maka dia akan mampu memahami maknanya ketika dia sudah dewasa. Ini bisa terjadi jika lidahnya sudah fasih membaca Al-Qur'an, sehingga dia akan memasuki usia remaja dalam keadaan telah mempelajari banyak etika.
Membuat anak mempelajari atau menghafal Al-Qur'an tidak dapat dilakukan dengan mudah, salah satu cara untuk mencapai tujuan tersebut adalah dengan pembiasaan dan pelatihan yang rutin. Untuk menanamkan rasa cinta pada Al-Qur'an, orang tua dan pendidik harus memahami terlebih dahulu tentang beberapa langkah yang harus ditempuh yaitu, memberikan pembekalan kepada anak dengan kisah yang dapat membuat mencintai Allah dan Al-Qur'anul Karim, bersabar terhadap anak, khususnya terhadap anak berusia 3-6 tahun, menciptakan metode baru dalam memberikan pelajaran kepada anak, harus memperhatikan perbedaan-perbedaan (keberagaman) pada diri anak.
Untuk mengajarkan Al-Qur'an pada anak, para ahli Al-Qur'an di Indonesia memberikan berbagai pilihan metode. Metode-metode itu dipilih oleh para pengajar Al-Qur'an yang sesuai dengan apa yang diharapkan dari anak didiknya. Namun ada yang mencoba beberapa metode untuk mendapatkan hasil yang lebih baik. Ada juga yang menggabungkan satu dengan metode yang lainnya. Metode-metode itu diantaranya adalah : Metode Tradisional (Baghdadiyah) , Metode A-ba-ta, Metode Al-Barqi, Metode Q-lat, Metode Bil-Hikmah dan Metode Iqro.
Namun dalam kenyataannya di Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) X (berdasarkan hasil wawancara dengan gurunya) menuturkan bahwa : (1) Anak belum bisa membaca dan mengucapkan secara fasih sesuai dengan makhrojnya huruf-huruf tunggal berharokat fathah.(2) anak belum bisa membedakan secara tepat bunyi huruf-huruf tunggal yang memiliki makhroj berdekatan, seperti antara a dan a', sa dan sya, sa dengan tsa. (3) Anak belum bisa membedakan antara bacaan pendek dan panjang dalam membaca huruf-huruf hijaiyah. (4) Anak belum mengenal bacaan kasroh, dhommah, serta bacaan fathah, kasroh dan dhommah yang dipanjangkan atau menurut ilmu tajwidnya dinamakan mad Thobii. (5) Guru belum membuat program secara khusus untuk pembelajaran Al-Qur'an bagi anak-anaknya.
Alasan menggunakan Metode Iqro, karena metode ini dipandang memiliki berbagai kelebihan dalam membekali kemampuan awal anak dalam mempelajari Al-Qur'an. Kelebihan-kelebihan tersebut antara lain : mengaktifkan anak, komunikatif, pelayanan individual bersifat lebih intensif dalam hal pengajarannya, pengajaran buku Iqro dilengkapi dengan pelajaran tajwid. Berdasarkan permasalahan di atas, maka penelitian ini memfokuskan kajian pada UPAYA MENINGKATKAN KEMAMPUAN MEMBACA AL-QUR'AN ANAK USIA DINI DI PENDIDIKAN ANAK USIA DINI (PAUD) X.

B. Rumusan Masalah
Secara umum, permasalahan dalam makalah ini bagaimana upaya guru meningkatkan kemampuan membaca Al-Qur'an anak Pendidikan anak Usia Dini (PAUD) melalui penerapan Metode Iqro. Selanjutnya secara khusus, permasalahan tersebut dirumuskan sebagai berikut : 
1. Bagaimana pelaksanaan pembelajaran Al-Qur'an kelompok B di Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) X pada saat ini ?
2. Bagaimana pelaksanaan pembelajaran Al-Qur'an kelompok B di Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) X dengan menggunakan Metode Iqro ?
3. Bagaimana kemampuan membaca Al-Qur'an kelompok B anak Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) X setelah digunakan Metode Iqro ?

C. Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian ini adalah : 
1. Secara umum meningkatkan kemampuan membaca Al-Qur'an anak kelompok B di Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) X
2. Adapun tujuan khususnya adalah : 
a. Mengetahui lebih dalam tentang pelaksanaan pembelajaran Al-Qur'an kelompok B di Pendidikan Anak Usia Dini X saat ini
b. Mendeskripsikan bagaimana pelaksanaan pembelajaran Al-Qur'an dengan menggunakan Metode Iqro diberikan kepada anak kelompok B di Pendidikan Anak Usia Dini X
c. Mengetahui kemampuan membaca Al-Qur'an kelompok B Pendidikan Anak Usia Dini X setelah menggunakan Metode Iqro

D. Manfaat Penelitian
Manfaat yang diperoleh dari penelitian ini terdiri dari manfaat teoretis dan manfaat Praktis
1. Secara teoretis
Menambah khasanah kajian tentang pembelajaran Al-Qur'an di Pendidikan Anak Usia Dini terutama Metode Iqro
2. Secara Praktis
a. Bagi anak
1) Bisa membaca dan mengucapkan secara fasih sesuai dengan makhrojnya huruf-huruf hijaiyah tunggal berharokat fathah, kasroh dan dhommah.
2) Bisa membedakan secara tepat bunyi huruf-huruf yang memiliki makhroj berdekatan, seperti antara a dengan a', sa dengan sya, sa dengan tsa
3) Dengan belajar Metode Iqro anak akan senang dan lebih tertarik dalam membaca Al-Qur'an
b. Bagi guru dengan menggunakan Metode Iqro : 
1) dapat dijadikan sebagai pedoman utuh dalam mengajarkan membaca Al-Qur'an pada anak.
2) dapat dijadikan sebagai panduan dalam membimbing anak agar dapat membaca Al-Qur'an secara optimal.
3) dengan menggunakan Metode Iqro menambah pengetahuan dan wawasan khusus di dalam mempelajari cara membaca Al-Qur'an bagi anak.
c. Bagi Lembaga Pendidikan Anak Usia Dini dengan metode Iqro ini 
1) Dapat dijadikan sebagai bahan pertimbangan dalam mengembangkan program pembelajaran Al-Qur'an di Pendidikan Anak Usia Dini.
2) Menambah wawasan dan pengetahuan dalam memilih dan menggunakan metode yang paling tepat untuk memperbaiki pembelajaran Al-Qur'an diberikan kepada anak. 
d. Bagi peneliti
Dengan membuat makalah ini dapat menambah pengetahuan dan wawasan khusus di dalam mempelajari cara membaca Al-Qur'an dengan menggunakan Metode Iqro.

Posted by: Admin Indeks Prestasi Updated at: 11:30:00

MENINGKATKAN KEMAMPUAN MENYIMAK PADA ANAK TAMAN KANAK-KANAK MELALUI METODE MENDONGENG

MENINGKATKAN KEMAMPUAN MENYIMAK PADA ANAK TAMAN KANAK-KANAK MELALUI METODE MENDONGENG (PGTK)



BAB I 
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah
Bahasa merupakan alat komunikasi manusia yang digunakan untuk berinteraksi dalam kehidupan sehari-hari. Dengan bahasa setidaknya setiap orang akan mempunyai kemampuan untuk mengungkapkan aktivitas berpikir dan perasaannya yang dapat dipahami dan dimaknai bersama oleh orang yang mendengarkannya (Yusuf, 2000) 
Pengembangan bahasa merupakan salah satu kemampuan dasar yang harus dimiliki anak, sesuai dengan usia dan karakteristik perkembangannya, mengingat bahasa merupakan pusat dari pengembangan aspek-aspek lainnya (Dhieni dkk, 2005).
Pendidikan bahasa untuk anak merupakan upaya sadar dalam meningkatkan kemampuan bahasa bagi anak, agar anak mampu berkomunikasi secara lisan dengan lingkungannya (Somantri, 2000). Santrock (2002) mengemukakan bahwa masa anak-anak merupakan periode yang sangat penting untuk belajar bahasa, jika pengenalan bahasa tidak dilakukan sebelum masa remaja maka seumur hidup anak akan mengalami ketidakmampuan dalam menggunakan tata bahasa yang baik. Untuk itu pengenalan bahasa pada anak sejak usia dini dapat membantu anak untuk memperoleh keterampilan bahasa yang lebih baik. (Adamson; Schegloff dalam Santrock, 2002).
Perkembangan bahasa pada anak usia dini meliputi keterampilan mendengar atau menyimak, berbicara, membaca dan menulis sebagaimana yang terdapat di dalam kurikulum TK tahun 2004. Sedangkan menyimak merupakan awal dari keterampilan bahasa lainnya, karena di dalam kompetensi hasil belajar anak harus terlebih dahulu mampu mendengar sebelum berkomunikasi secara lisan dengan lingkungannya.
Sutanto (2001) menandaskan juga bahwa kemampuan bahasa dipelajari dan diperoleh anak usia dini secara alamiah untuk beradaptasi dengan lingkungannya, sebagai alat sosialisasi. Sutanto (2001) menjelaskan bahasa merupakan suatu cara merespons orang lain sehingga keterampilan berbahasa dengan cara menyimak sangat dibutuhkan untuk anak-anak taman kanak-kanak. Karena pada anak-anak usia dini ini, bila kemampuan menyimaknya sudah baik dan benar, merupakan modal bagi mereka dalam mengembangkan ilmu pengetahuan yang akan didapatinya kelak di kemudian hari.
Agustin (2008 : 74) berpendapat bahwa kecerdasan bahasa merupakan kecerdasan manusia pertama yang sangat diperlukan untuk bermasyarakat, baik dalam bentuk berbicara, membaca maupun menulis. Di dalam berbicara memungkinkan anak menyebutkan objek nyata yang ada di sekitarnya, biasanya terhadap perkembangan jiwa sesuai dengan pengalaman hidup dan kecerdasan anak (Abdul Azis, 2005 : 35).
Musfiroh (Agustin 2008 : 35) , berpendapat bahwa anak yang cerdas dalam linguistik memiliki keterampilan menyimak yang baik, cepat menangkap informasi melalui bahasa, serta mudah menghafal pesan, kata-kata lirik, bahkan sampai hal terkecil seperti nama, tempat dan tanggal. Menyimak sebagai salah satu sarana penting penerimaan komunikasi.
Keterampilan menyimak merupakan kegiatan komunikasi dua arah yang langsung, dan merupakan komunikasi tatap muka menurut Brooks; 1964 (Henry G. Tarigan, 1986 : 3). Menyimak adalah suatu proses kegiatan mendengar lambang-lambang lisan dengan penuh perhatian, pemahaman, apresiasi serta interpretasi untuk memperoleh informasi, menangkap isi serta memahami makna komunikasi yang tidak disampaikan oleh si pembicara melalui ujaran atau bahasa lisan (Sutanto, 2001).
Menurut Subyakto (2005 : 21) , proses menyimak dari anak usia dini memerlukan sejumlah kemampuan sebagai berikut : 
"Setiap anak yang terlibat dalam proses menyimak harus menggunakan sejumlah kemampuan. Pada saat menyimak menangkap bunyi bahasa, anak harus menggunakan kemampuan memusatkan perhatian, bunyi yang ditangkap perlu di identifikasi. Di sini diperlukan kemampuan linguistik, bunyi yang sudah di identifikasi itu, harus di identifikasi dan di pahami maknanya, dalam hal ini anak harus menggunakan kemampuan linguistik dan non linguistik , makna yang sudah di identifikasi dan dipahami harus pula ditelaah, dikaji, dipertimbangkan dan di kaitkan dengan pengalaman serta pengetahuan yang dimiliki anak. Pada situasi ini diperlukan kemampuan mengevaluasi, melalui kegiatan menilai ini, maka si penyimak sampai pada tahap mengambil keputusan apakah dia menerima, meragukan, atau menolak isi bahan simakan. Kecermatan menanggapi isi bahan simakan membutuhkan kemampuan mereaksi atau menanggapi"
Proses kegiatan belajar mengajar, anak harus banyak terlibat langsung dalam proses menyimak dan berusaha untuk memahami apa yang mereka simak, kemampuan menyimak anak bervariasi, dan guru hendaklah mampu memilih kegiatan yang sesuai dengan kemampuan mereka.
Usaha yang dilakukan untuk meningkatkan kemampuan menyimak, anak harus sering mengikuti aktivitas berbahasa lisan dan sering berlatih menyimak dalam berbagai macam situasi. Kemampuan memusatkan perhatian sangat penting dalam menyimak, baik sebelum, sedang maupun setelah proses menyimak berlangsung (Subyakto, 2005 : 21). Artinya kemampuan memusatkan perhatian selalu diperlukan dalam setiap fase menyimak. Memusatkan perhatian pada sesuatu berarti yang bersangkutan memusatkan pikiran dan perasaannya pada objek itu. Disamping kemampuan memusatkan perhatian, masih ada satu kemampuan lagi yang diperlukan dalam setiap fase menyimak, yakni kemampuan mengingat. Kemampuan mengingat digunakan untuk hal-hal yang akan disampaikan, pada saat menyimak berlangsung kemampuan mengingat digunakan untuk mengingat bunyi yang sudah didengar untuk mengidentifikasi dan menafsirkan makna bunyi bahasa.
Kendala yang ada dalam proses kegiatan menyimak di taman kanak-kanak, dikarenakan selama ini guru belum menguasai teknik yang menarik dan efektif dalam pembelajaran menyimak. Guru berperan sangat besar dalam meningkatkan kemampuan menyimak, tanpa guru sadari bahwa pembelajaran saat ini lebih menekankan kepada keterampilan membaca dan menulis saja, semua ini tuntutan dari para orang tua yang menginginkan anaknya menjadi orang yang pandai. Dalam hal ini orang tua mengabaikan kemampuan menyimak, padahal kemampuan menyimak merupakan landasan kemampuan membaca dan menulis.
Mendongeng sebagai salah satu dari pembelajaran bahasa tidak bisa lepas dari dunia anak-anak. Di Taman Kanak-kanak mendongeng dijadikan sebagai kegiatan pembelajaran sehari-hari atau kegiatan terencana, yang dalam kegiatan sehari-harinya mendongeng dapat dilakukan secara spontan/berdasarkan keinginan anak, sesuai dengan rencana pembelajaran atau sebagai media evaluasi bagi anak, yang mana anak memperoleh pengalaman atau pengetahuan mengenai hal yang telah anak dengar dari isi dongeng tersebut.
Sarana dalam mengekspresikan, ide, gagasan dan pengalaman-pengalaman yang telah dialami, kegiatan mendongeng memiliki peranan yang sangat penting untuk perbendaharaan kosa kata anak, sehingga perbendaharaan kosa kata anak bertambah melalui dongeng yang dibacakan oleh guru atau orang tua. Hal tersebut di dukung oleh Dawson dalam Tarigan (1980) dalam penelitiannya, bahwa "Kosa kata mengenai bahan bacaan haruslah diajarkan secara langsung, seandainya muncul kata-kata yang baru dalam buku bacaan atau dongeng siswa, maka guru menjelaskan kepada anak agar anak memahami arti dari kata tersebut"
Berdasarkan hasil observasi yang dilakukan di TK X, terlihat bahwa masih terdapat masalah yang berkaitan dengan rendahnya keterampilan menyimak anak di Taman Kanak-kanak tersebut. Hal ini terlihat dari beberapa indikasi berikut : Masih kurangnya minat anak dalam pembelajaran di bidang pengembangan bahasa terutama menyimak, kurangnya perhatian anak terhadap pelajaran yang disampaikan oleh gurunya, hal ini terlihat dari beberapa anak tidak dapat menjawab pertanyaan dari guru setelah pembelajaran selesai dan belum dapat mengingat pesan atau pelajaran yang disampaikan gurunya.
Menyimak adalah proses penerimaan, maka sangatlah sulit bagi guru untuk mengetahui apa yang sedang dialami anak didiknya (Tarigan 1986). Guru terkadang menemukan kesulitan untuk menciptakan suasana kelas di mana anak-anak dapat memperoleh hasil yang maksimal dari kemampuan menyimak mereka. Jika guru-guru beranggapan bahwa tugas mereka adalah untuk mengendalikan tingkah laku anak-anak, maka para guru akan menemukan kesulitan dalam menciptakan suasana informal yang penting bagi anak-anak berbicara dan mendengarkan sesamanya. Dalam hal ini guru mencoba menggunakan atau menerapkan metode mendongeng untuk meningkatkan kemampuan menyimak pada anak, sehingga anak tidak bosan atau jenuh dengan penyampaian materi dalam bidang pengembangan bahasa dengan berlatih berbicara serta menyimak secara aktif.

B. Rumusan Masalah
Permasalahan utama dalam penelitian ini difokuskan pada pembahasan "bagaimana meningkatkan kemampuan menyimak pada anak Taman Kanak-kanak melalui metode mendongeng ?". 
Permasalahan tersebut diuraikan dalam bentuk rincian pertanyaan penelitian sebagai berikut : 
1. Bagaimana kondisi awal kemampuan menyimak anak di TK X ?
2. Bagaimana pelaksanaan pembelajaran bahasa dengan menggunakan metode mendongeng untuk meningkatkan kemampuan menyimak anak ?
3. Bagaimana kemampuan menyimak pada anak di TK X setelah menggunakan metode mendongeng ?

C. Tujuan Penelitian
Tujuan utama dari penelitian ini adalah untuk memperoleh gambaran mengenai peranan aktivitas mendongeng dalam meningkatkan kemampuan menyimak anak. Adapun secara lebih khusus penelitian ini bertujuan sebagai berikut : 
1. Mengetahui kondisi awal kemampuan menyimak anak di TK X.
2. Mengetahui langkah-langkah pembelajaran bahasa dengan menggunakan metode mendongeng terhadap peningkatan kemampuan menyimak anak TK X.
3. Mengetahui dan memperbaiki kemampuan menyimak/mendengar anak setelah pelaksanaan pembelajaran metode mendongeng di terapkan di TK tersebut.

D. Manfaat Penelitian
1. Manfaat Teoritis
Secara teoritis, hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi rujukan atau acuan untuk menyusun langkah-langkah yang efektif dalam meningkatkan kemampuan menyimak anak melalui metode mendongeng dalam pengembangan bahasa, khususnya untuk anak usia TK.
2. Manfaat Praktis
Secara praktis, hasil penelitian ini di harapkan dapat memberikan manfaat bagi pihak-pihak : 
a. Guru Taman Kanak-kanak. Hasil penelitian ini di harapkan dapat menjadi inovasi terhadap upaya-upaya peningkatan kualitas pengembangan kemampuan berbahasa khususnya dalam menyimak pada anak TK. Dan juga lebih memperhatikan kebutuhan anak dalam menyampaikan materi pembelajaran yang akan disampaikan.
b. Bagi anak. Hasil penelitian ini diharapkan dapat meningkatkan keterampilan menyimak dalam belajar, dapat berpikir kritis serta melatih keterampilan belajar dan juga dapat menerima isi atau pesan yang tersirat dalam proses pembelajaran. 
c. Pihak Sekolah. Hasil penelitian ini di harapkan dapat menjadi bahan masukan dalam pengadaan fasilitas sarana, prasarana, media, dan sumber belajar yang belum tersedia.
d. Orang Tua. Hasil penelitian ini di harapkan dapat memberikan informasi dan masukan bahwa dengan sering membacakan dongeng atau cerita kepada anak dapat meningkatkan keterampilan berbahasa khususnya mendengar, sehingga anak lebih cepat dan lebih baik lagi dalam meningkatkan kemampuan berbicara.

Posted by: Admin Indeks Prestasi Updated at: 11:30:00